Saya sedang ada tugas di Jakarta hari ini dan harus ke Binjai lusa dan karena tidak ingin tidur sore-sore di hotel (yang secara kebetulan diupgrade ke Suite Room yang wuenak tenan) maka saya sempatkan
jalan-jalan ke Plaza Semanggi yang hanya berjarak kurang dari sepuluh ribu rupiah ongkos taksi. Dulu rasanya saya pernah masuk ke plaza ini ketika masih baru berdiri. Tapi saya jadi tercengang (saya selalu
kesulitan untuk menerjemahkan secara tepat kata ’surprised’) karena pengunjungnya ternyata padat. Mungkin karena besok week-end maka orang-orang pada keluar rumah dan salah satu tujuan ’wisata’ mereka adalah Plaza. Tujuan saya adalah cari agenda dan buku jadi saya langsung ’njujug’ ke Gramedia di lantai 1.
Saat itu ada beberapa buku baru yang menarik perhatian saya dan saya terdorong untuk membelinya. Bahkan buku biografi ”Ahmadinejad : David Diantara Angkara Murka Goliath Dunia” yang kapan hari habis ternyata sudah muncul lagi dengan tambahan logo ”Best Seller”! Seperti yang saya duga harga buku di Gramedia Jakarta jauh lebih murah daripada di Balikpapan. Disini harganya hanya Rp.34.500,- sedangkan di Balikpapan Rp.44.000,-. Bedanya hampir sepuluh ribu rupiah untuk satu buku. Gile cing!
Meski berniat untuk membeli buku ”Ahmadinejad” beberapa untuk saya bagikan ke teman-teman, saya tidak membelinya saat itu. Saya sedang dalam perjalanan ke Binjai lusa dan saya paling tidak suka membawa tambahan beban yang tidak perlu. Saya hanya perlu buku bacaan untuk menemani saya di ruang tunggu bandara dan selama penerbangan. Should not be more than 400 pages or saya akan kesulitan untuk menjejalkannya ke koper kecil saya. Sering bepergian membuat saya sangat praktis dan
tidak ingin bawa bagasi. Begitu mendarat langsung cabut. I enjoy it that way.
Tapi melihat beberapa buku baru saya jadi tergoda. Apalagi mengingat bahwa harga buku di Jakarta jauh lebih murah daripada di Balikpapan. Konsekuensinya adalah saya harus membawa bagasi karena tidak mungkin masuk ke koper kecil saya yang hanya muat pakaian 2-3 hari perjalanan.
Tapi akal sehat saya akhirnya menang dan saya memutuskan untuk memilih satu saja buku yang paling menarik untuk bekal selama perjalanan. Dan pilihan saya jatuh pada buku dengan judul ”Aku Beriman Maka Aku Bertanya”.
Buku tersebut adalah buku terbaru tulisan DR. Jeffrey Lang, seorang Guru Besar Matematika di Universitas Kansas, Lawrence, Amerika Serikat. Ini buku pertama dari buku ketiganya, Losing My Religion: A Call for Help (2004), yang dalam edisi Indonesianya sengaja dibagi dua demi
kemudahan membacanya. Dua buku pertamanya adalah “Bahkan Malaikat pun Bertanya” (2002) dan “Berjuang untuk Berserah” (2003) diterbitkan oleh penerbit Serambi. Buku-buku tersebut sangat laris dan Jeffrey Lang langsung masuk sebagai salah satu penulis favorit saya. Artinya, saya
membeli hampir semua buku-bukunya.
Jeffrey Lang adalah seorang muallaf asal Amerika yang masuk Islam karena membaca Al-Qur’an secara autodidak, tanpa sengaja lagi! Sebagai seorang intelektual yang ateis ia membaca dan mengenal Islam secara sangat kritis dan pada mulanya sangat skeptis. Tetapi pengalamannya dalam membaca AlQur’an ternyata menjadi sangat personal dan meruntuhkan satu demi persatu sikap skeptisnya tersebut. Ini membuatnya seperti tertantang dan kemudian ia pada akhirnya memang terus menggali pemahaman tentang Islam. Pengalaman yang ia tuangkan dalam buku-bukunya sangat menarik, terutama bagi saya yang punya ’banyak pertanyaan dalam kepala’ tentang Islam. Saya menemukan beberapa jawaban dari pertanyaan pribadi saya tentang berbagai hal dalam ajaran Islam dan ketuhanan justru dari bukunya Lang.
Seperti juga Lang, saya juga berpendapat bahwa seseorang harus mengenal Tuhan secara pribadi, dan bukan hanya mengenalNya seperti apa yang dikatakan oleh orang lain atau buku-buku agama, meskipun itu orang tua atau guru agama kita sendiri. Kita tidak akan pernah benar-benar percaya pada Tuhan sampai kita benar-benar mengenalnya secara pribadi. Lang mengenal Tuhan lewat AlQur’an, sesuatu yang mengejutkan (’surprising’ juga bahasa Inggrisnya) mengingat Lang adalah seorang
ateis mulanya. Di sini saya lantas meneteskan air mata mengingat kebenaran ayat Tuhan yang menyatakan bahwa Ia membukakan hati siapa yang Ia kehendaki dan menutup hati siapa yang Ia kehendaki. Bagaimana mungkin Lang yang ateis dan skeptis dapat ’berkenalan’ dengan Tuhan langsung secara pribadi sedangkan begitu banyak orang yang membaca AlQuran berulang-ulang di ’rumah’Nya, dan bergaul dengan para muballigh dan da’i, justru tidak benar-benar mengenal Tuhan dan apa yang dikehendakiNya? Sebagai orang yang sering membaca (recite) AlQur’an dan sering mendapatkan pemahaman yang personal saya mengaku bahwa pengalaman Lang sangatlah personal, original, dan luar biasa indah. Seandainya saja saya bisa memiliki ’perjumpaan’ yang begitu personal dengan Tuhan seperti Lang maka saya tentu akan memiliki keyakinan yang lebih kuat. Saya iri pada keimanan yang dimiliki Lang.
Mengapa pengalaman Lang sangat istimewa bagi saya? Karena Lang berangkat dari pertanyaan-pertanyaan pribadinya tentang Tuhan dan segala hal yang dianggapnya tidak sesuai dengan logikanya sebagai intelektual dan tradisi lingkungan Amerika yang serba rasional. Meski saya menganut agama karena tradisi, karena orang tua saya adalah muslim, tapi pemahaman saya tentang Islam justru tumbuh melalui pertanyaan-pertanyaan kritis yang muncul dan harus terus-menerus saya cari jawabannya. Saya sudah memutuskan untuk tidak menggantungkan jawaban dari orang tua maupun para guru agama saya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul karena saya sadar bahwa pertanyaan-pertanyaan saya terkadang jauh lebih kompleks dan tidak mudah untuk dipuaskan dengan jawaban-jawaban dogmatisyang sering mereka berikan. Saya tumbuh dengan mengandalkan logika dan rasio (karena kebanyakan membaca) sehingga jawaban-jawaban yang dogmatis hanya membuat saya ’senewen’. Sikap orang tua maupun pemuka agama yang menuntut saya untuk pokoknya ’sami’na wa ato’na’ justru membuat saya tambah ’mbanggel’. Saya punya masalah bawaan dengan otoritas. Secara
tanpa sadar muncul ketetapan dalam diri saya bahwa saya akan ’sami’na wa ato’na’ hanya kalau saya sendiri yang memutuskan. Nobody can force me to accept or believe anything unless I decide so. Ini membuat saya tumbuh menjadi ‘a rebel’ di mana-mana, meski lebih sering hanya muncul dalam pikiran-pikiran saya. Ini membuat saya sering tidak ‘populer’ dan jadi ’alien’ di lingkungan. Saya menyadarinya dan bisa menerimanya.
Satu hal yang membuat saya bertahan adalah karena dengan demikian saya menjadi orang merdeka yang tidak mudah diintimidasi oleh siapapun. Fair enough! Saya lebih berani tampil dengan pendapat yang berbeda dalam berbagai forum. Dan yang terpenting saya bertanggung jawab sepenuhnya atas semua keputusan-keputusan dan pendapat-pendapat saya, termasuk dalam hal apa yang saya imani dan apa yang tidak. Saya langsung berhubungan dengan Tuhan dalam hal ini, dan tidak melalui perantara-perantara guru-guru agama, kyai, atau tokoh spiritual tertentu.
Saya tahu banyak orang yang tidak berani untuk mengambil sikap ’bertanggungjawab sepenuhnya’ terhadap keputusan-keputusan dan pendapat-pendapat mereka dan menyerahkan kepada guru-guru agama, kyai, tokoh spiritual, orang-orang ’pintar’, dan bahkan dukun untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, bahkan untuk masalah yang paling remeh sekalipun. Mereka terlalu ’takut’ untuk mengambil resiko kalau-kalau keputusan mereka itu salah dan mereka harus menanggung resiko ’masuk neraka’ atau minimal dianggap ’kafir’. Takut dicap kafir membuat kebanyakan kita ’sami’na wa ato’na’ begitu saja pada apa kata orang atau lembaga keagamaan yang kita anggap lebih tahu daripada kita. Jadi lebih baik serahkan semua jawaban kepada mereka yang ’lebih tahu’ dari kita. Much easier and ’safer’.
Sebaliknya, saya sering takut untuk menyerahkan keputusan-keputusan, bahkan yang seringkali dianggap remeh sekalipun, pada otoritas tertentu. Harus saya sendiri yang memutuskan karena saya sendiri yang
akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Mau dianggap ’kafir’, ’sesat’, ’liberalis’ ya monggo lha wong saya ndak menyerahkan masalah keimanan saya pada siapapun kok. Itu urusan saya sepenuhnya dengan
Tuhan yang Mahamengetahui dan Maha Bijaksana. Saya tidak boleh menyerahkan tanggung jawab saya pada orang lain. Saya terpesona dengan cerita tentang Umar bin Chattab yang memanggul sendiri
karung berisi gandum ke rumah rakyatnya, seorang janda dengan beberapa anaknya yang kelaparan, karena merasa bertanggung jawab sebagai seorang khalifah. Dengan susah payah ia memanggul karung gandum tersebut sendiri dan tidak mau menyerahkan kepada anak buahnya yang mau membantunya karena merasa itu tanggungjawabnya dan memanggul sekarung gandum jauh lebih ringan ketimbang pertanggungjawaban yang harus ia berikan kelak di akhirat karena ada rakyatnya yang kelaparan tanpa ia,
sebagai pemimpin, mengetahuinya. Ini aplikasi keimanan tingkat tinggi yang bikin saya ’ngiler’ menginginkannya. Kalau kelak saya masuk surga saya mau ketemu dengan beliau dan minta beliau menceritakan pengalaman tersebut pada saya secara langsung. It’s so beautiful!
Ketika buku pertama Lang terbit empat tahun yang lalu, saya langsung kesengsem dengan judulnya, ”Bahkan Malaikat pun Bertanya”. Ya, benar! Bahkan malaikat, mahluk yang paling patuh terhadap Tuhan pun mempertanyakan keputusan Tuhan untuk menciptakan manusia Adam sebagai khalifah di bumi, yang menurut pada malaikat kerjanya hanya membuat kerusakan saja (They are right!). Kenapa para malaikat, yang mengklaim dirinya ’senantiasa bertasbih dengan memuji dan menyucikan Tuhan’, itu tidak ’sami’na wa ato’na’ aja ketika Tuhan memutuskan untuk mengangkat Adam sebagai khalifah di bumi? Kok berani-beraninya mereka mempertanyakan ’kebijakan’ Tuhan tersebut! (Kowe iku sopo, heh!)
Bukankah mereka mengklaim diri mereka sebagai mahluk ’the best’ karena patuhnya pada ’atasan’? Lha kok malah ndak percaya?! Ingat, malaikat disini bukan hanya ’bertanya’ tapi lebih daripada itu, mereka
’mempertanyakan’ keputusan Tuhan tersebut. Ada unsur ’protes’ disitu. Tapi Tuhan tidak marah. Karena memang Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Maha Mengerti, Maha Mengetahui, dan segala Maha lainnya. Ia lalu menjelaskan secara jelas apa tujuanNya menjadikan Adam sebagai khalifah. Ia meminta Adam untuk mendemonstrasikan apa kelebihannya sehingga ia dipilih untuk menjadi khalifah di muka bumi. Barulah setelah itu para malaikat menerima keputusan tersebut.
Nah, dalam kehidupan sehari-hari, meski telah ada contoh yang begitu bagus dalam AlQuran, banyak guru agama dan kyai tidak mau belajar darinya. Pokoknya kalau mereka sudah ’bersabda’ pada santrinya maka ’no question allowed’. Setiap orang harus ‘sami’na wa ato’na’ tanpa reserve. Mereka mengadopsi tradisi militer! Akhirnya yang terjadi adalah munculnya penganut-penganut agama yang ‘tahu tapi tidak paham’. Fanatik buta tanpa makna. Berani mati untuk sesuatu yang tak berarti. Tahu bahwa ‘kebersihan adalah sebagian adalah iman’ tapi tidak tahu bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tahu bahwa waktu sangat penting tapi menyia-nyiakannya. Tahu bahwa perintah Tuhan yang pertama bagi umat Islam adalah ‘Membaca’ dan bukannya sholat, ngaji, atau zakat, tapi tidak pernah melakukannya.
Tahu bahwa Rasulullah adalah orang yang paling lemah lembut terhadap siapapun tapi paling tegas dalam prinsip, tapi justru menampilkan sikap garang terhadap orang yang dianggap bukan kelompoknya dan tidak punya prinsip, dst..dst… .
Jadi begitu membaca judul buku Lang yang pertama saya langsung jatuh cinta begitu saja. Kok ya pas betul dengan argumentasi yang saya butuhkan gitu lho! Selama ini saya sering dicibir karena sering
mempertanyakan hal-hal yang tidak boleh ditanyakan lagi karena dianggap sudah ’final’. Final apane? Lha wong malaikat, mahluk yang paling patuh, aja boleh kok mempertanyakan keputusan Tuhan! Opo keputusan Tuhan itu gak final tah? Itu saja dipertanyakan oleh malaikat je! Buku Lang pertama langsung menjadi pemuas dahaga intelektual saya dan saya sungguh berterima kasih pada Lang karena banyak
pertanyaan-pertanyaan saya terjawab oleh pengalaman-pengalaman dan pemahaman-pemahamannya. Thanks, Mr. Lang!, karena telah membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dan membuat hidup saya menjadi lebih ringan karenanya. Semoga Allah melimpahimu dengan berkah dan karunia yang tak henti-hentinya.
Buku keduanya ”Berjuang untuk Berserah” juga memuaskan saya karena persis dengan jalan hidup saya. Saya mesti berjuang untuk menemukan jawaban-jawaban tentang pertanyaan saya baru saya bisa berserah (surrender) alias beriman pada Tuhan. Seperti juga para malaikat yang tidak terima begitu saja penjelasan Tuhan ”Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (Q.S. 2:30) dan baru mengatakan ”Mahasuci Engkau. Tak ada yang kami ketahui melainkan apa yang telah Engkau ajarkan
kepada kami; sesungguhnya Engkaulah yang Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.”(Q.S. 2:32) setelah Adam diminta untuk menunjukkan kelebihan-kelebihannya yang tidak dimiliki oleh para malaikat. Baru
setelah para malakat tersebut mendapatkan jawaban yang memuaskan rasa penasaran mereka barulah mereka ’surrender’.
Jadi mempertanyakan ’kebijakan’ Allah itu OK-OK saja kok! Bahkan malaikat saja boleh. Mosok kita ndak boleh! Kita kan manusia biasa. Justru dengan bertanya itulah kita akan mendapatkan jawaban-jawaban
yang membuat kita beriman pada Tuhan karena Tuhan memang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Justru para guru agama dan kyai yang ’tidak mengetahui dan tidak bijaksana’lah yang membuat orang-orang yang bertanya menjadi tidak beriman. Buku ketiga ini menegaskan bahwa justru karena ”Aku Beriman, maka Aku Bertanya” sebagaimana sikap para malaikat. Sebaliknya, iblis tidak bertanya tapi ketika diminta untuk sujud pada Adam mereka langsung menolak dan menyombongkan diri sehingga mereka dikutuk. ”Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat ”Sujudlah kamu kepada Adam,” Mereka pun sujud kecuali iblis; Ia menolak dan menyombongkan diri; dan ia termasuk golongan yang tidak beriman.” (Q.S. 2:34).
Jadi bedanya iblis dengan malaikat itu adalah iblis tidak bertanya tapi langsung menganggap bahwa keputusan Tuhan itu salah. Dan mereka langsung menolak tanpa merasa perlu bertanya lagi. ”Manusia itu apa sih? Lha wong hanya terbuat dari tanah aja kok dianggap hebat, lebih hebat dari saya yang terbuat dari api, materi yang lebih unggul” .Itu adalah ciri kesombongan. Dan itulah yang membuat iblis masuk neraka. Mestinya iblis itu kan tahu bahwa Tuhan itu Mahamengetahui lagi Maha Bijaksana. Lha wong ia diciptakan lebih awal dari manusia dan waktu itu masih termasuk mahluk yang patuh. Tapi begitu diminta sujud pada Adam ’ego’nya langsung muncul. Tanpa tanya dulu apa maunya Tuhan dengan ’kebijakan’ tersebut tapi langsung menolak. Apa namanya itu kalau bukan sombong, alias menolak kebenaran? Tuhan itu Mahamengetahui dan Maha Bijaksana dan iblis tahu itu. Itu adalah kebenaran. Tapi ia menolaknya.
Maka itu ia disebut sombong (anak-anak muda sering memlesetkan menjadi ’somsek’). Itu cirinya iblis.
Buku ketiga Lang ini terdiri atas 9 Bab, yaitu :
Bab 1 : Dari Ateis Menuju Islam,
Bab 2 : Mempertanyakan AlQur’an
Bab 3 : Mengapa Manusia Tidak Menggunakan Akalnya?
Bab 4.: Makna Penderitaan, Amal Saleh dan Spiritualitas
Bab 5 : Tiada Alasan untuk Menolak Tuhan
Bab 6 : Pertanyaan-pertanyaan Teologis
Bab 7 : Soal Pernikahan Nabi dan Pemindahan Kiblat.
Bab 8 : Menjawab Gugatan terhadap Agamaku
Bab 9 : Kegelisahan Saudara-saudaraku.
Saya bahkan belum menyelesaikan Bab I tapi saya sudah tidak tahan untuk tidak menulis dan menyampaikan betapa menariknya buku ini. Saya menganjurkan Anda untuk membacanya. Belilah buku ini kalau punya uang berlebih. Harganya di Gramedia Semanggi Rp. 49.900,- Kalau terlalu mahal untuk kocek Anda cobalah cari di perpustakaan terdekat. Mudah-mudahan ada. Jika Anda seorang ateis ataupun agnostik (diam-diam ataupun terang-terangan), maka buku ini akan dapat memberikan perspektif baru
tentang bagaimana seorang ateis dapat menjadi seorang teis. Jika Anda telah beriman, apapun keimanan Anda, buku ini dapat memberikan telaah kritis tentang keimanan kita pada Tuhan yang Mahaesa. Buy back guarantee. Kalau ternyata setelah Anda beli dan baca ternyata Anda tidak suka pada buku itu, Anda boleh kirim pada saya untuk saya ganti harganya. Berlaku terbatas, terbatas pada konco-konco dewe. Hehehe…
Selamat menikmati.
Satria Dharma
Jakarta, 11/11/06




Wah thanks buat ‘Resensi’ dan komentnya untuk buku-2 Jeffrey Lang, saya memang lagi mau beli (kasihan ya telat).
Oleh: Choiron on Februari 24, 2007
at 6:14 am
Pak Satria, kemarin saya jalan2 ke Gramedia, menemukan bukunya Jeffrey Lang. Sebelum saya membelinya saya search dulu ke Google untuk Lang, dan akhirnya menemukan Blog Anda.
Saya Muslim yang lagi bingung. Rasanya saya memiliki pengalaman spiritual yang mirip dan bahkan mungkin lebih ekstrem dengan Anda. Saya ingin berbagi dengan Anda. Pertanyaan yang selalu mengganjal adalah: apa buktinya kalau Muhammad adalah Nabi? Saya rasa ini amat penting untuk keimanan saya. Saya sangat senang bila Anda bisa berbagi. Langsung ke Email saya aja Pak. Thanks a lot.
Oleh: Dino on Februari 27, 2007
at 5:47 am
ternyata saya ndak sendiri…..masih banyak orang-orang yang berfikir seperti kita…..dan mungkin ini yang disebut golongan yang kecil “itu”…dan saya pun tanpa sengaja menemukan buku itu di toko buku dan awalnya saya ragu tuk membelinya…. saya ragu apakah buku ini bisa menjawab pertanyaan 2x saya atau sebaliknya kecewa terhadap jawaban 2x yang saya inginkan, karena saya sudah banyak membeli beberapa buku, tapi belum mendapat jawaban seperti jawaban mr.Lang yang memang rasional…dan akhir saya membeli buku ini tanpa sengaja alias spontan saja waktu saya pulang kerja….mungkin ini sudah jalan yang Tuhan berikan pada saya
Oleh: rizal on Maret 1, 2007
at 6:57 am
terima kasih sekali atas resensinya. wah..nggak sabar pengen baca nih
Oleh: Maisya on September 10, 2007
at 11:19 am
Well….. Saya baru aja beli bukunya Lang yang ketiga sesi 1 terbitan serambi. Baru baca pengantarnya aja sih, tp memang tertarik sekali dengan profile penulisnya. Dari hasil gogling, sampailah ke resensi anda. Jadi pingin baca dr bukunya sesuai sekuel deh….
Ada yang mau pinjemin bukunya Lang yang 1 & 2 ga ya…???
Oleh: dian on Oktober 1, 2007
at 7:49 am
boleh tahu tahun terbit buku Berjuang untuk Berserah? saya perlu untuk bibliografi, makasih…
Oleh: anna farida on Maret 5, 2008
at 4:37 am
saya jugamerasakan hal yang sama ” jatuh cinta pada pandangan pertama” sama buku tersebut.
Oleh: naufal on November 30, 2008
at 2:54 pm
buat pak dino dan pak rizal, benar juga pak. ayat yang pertama kali turun aja, ‘iqro. Dan malaikat pun mengulangi sampai 3x baru calon rasulullah tersebut mengikuti. Mungkin jika kita yang ‘dibisiki’ malaikat juga akan bingung. Sebelum bertemu makhluk itupun, calon rasul ini juga diliputi perasaan bimbang akan ‘agama’ masyarakat sekitar yang ‘kurang cocok’ dengan hati nurani beliau yang biasa jujur. Maka mempertanyakan ‘islam’ itu sendiri termasuk rasulullah, bukanlah sebuah dosa. Lha wong rasul aja sebelum jadi rasul juga menyendiri di gua dan bingung waktu pertama kali berjumpa ’sang penyampai kabar’. Ini kabar benar atau bohong ( ingat bahwa ‘iqra diucapkan oleh makhluk yang belum pernah beliau temui selama hidup ). Dan kata ‘iqra pun memiliki arti yang luas. ‘iqra = bacalah. Nah apa yang mau dibaca ( pikir rasulullah waktu pertama kali dengar kata ini ), sampai jibril mengulang 3x. ooo ternyata cuma menirukan kata ‘iqro ( rasulullah baru paham maksud dari jibril ). Dilanjutkan dengan ‘dengan nama Tuhanmu’ ( Tuhan yang mana ? pikir rasulullah waktu itu ). Jawabnya ada di ayat selanjutnya… dan seterusnya sampai ayat yang terakhir selama 22 tahun 22 bulan. ( bukan seperti kita yang inginnya dalam hitungan menit paham ttg islam), Rasulullah saja butuh waktu 22 tahun. Butuh perjuangan dan pengorbanan ( setidaknya pengorbanan waktu ).
Nah kita yang jauh di zaman tersebut (500 an Masehi) cuma bisa menduga, beranalisis dan berargumen. Jika Muhammad adalah Rasulullah = penyampai berita dari Allah ( Tuhan ) adalah benar, maka saya ikut ( pikir kita dalam hati ). Tapi jika Muhammad bukanlah Rasulullah seperti pengakuannya, maka saya akan menolak agama ini ( pikir kita ).
Nampaknya masalah ’sepele’ ini rumit juga, karena melibatkan ‘orang-orang’ yang apakah memang jujur dan mengatakan kebenaran dari zaman ke zaman seperti apa yang dikatakan dan dikerjakan Muhammad. Kita hanya bisa mengajukan variabel atau indikator sebuah kebenaran. Misalnya, untuk mengetahui seseorang itu jujur atau berbohong, maka bisa didengar dan dilihat dari cara bicaranya, gerakan matanya, gerakan tangan, degup jantung dan sebagainya.
Kadang kita berharap akan ‘bukti’ atau ‘fakta’ yang lengkap. Namun banyak fakta yang datangnya sepotong-sepotong alias kurang lengkap. Kita mengharapkan (misalnya) informasi tentang sebuah mobil, namun yang didapat adalah sebuah ban dalam. Dari informasi ini kita ragu, apakah ini ban dari mobil daihatsu (misal) atau kijang. Atau jangan-jangan bukan keduanya. Atau sebenarnya juga malahan bukan ban. Sampai tingkatan ini kita bingung, dan bagi orang tertentu (bisa disamakan dengan yang diberi hidayah), membuat keputusan sementara adalah penting. Namun bukan itu yang terpenting, karena proses pencarian wujud selengkapnya lah yang patut diperjuangkan dan dijalani dengan sabar. Ia dapat bertanya kepada yang pernah melihat barang tersebut (ban). Menanyakan asalnya, pemiliknya, harganya, dll. Dan pada penelusurannya yang mungkin ke sekian kali dan ke sekian orang, mungkin ditemukan jawaban yang tepat, atau mungkin tidak sesuai dengan harapan semula.
Sama seperti, apakah Muhammad itu benar utusan Tuhan. Dan jika ditarik ke garis lain juga akan bertanya, apakah Tuhan mengutus Muhammad . Bagaimana cara Tuhan menunjuk Muhammad sebagai utusannya. Apakah dengan cara itu Tuhan mengutus Muhammad. Dan banyak pertanyaan yang sama seperti kisah tentang ban tadi.
Ini artinya, kita sendiri lah yang perlu berusaha menganalisis dan menyimpulkan dari keterbatasan yang ada. Dan hasilnya, dipasrahkan pada Allah ( atau sesuatu yang kita sebut Tuhan ). Ya apapun resikonya. Berresiko terhadap gengsi kita, jabatan kita harta kita, dll. Namun banyak dari kita, jika sudah terbentur masalah ini, lebih memilih hal-hal yang lebih riil seperti mempertahankan gengsi. Daripada membenarkan ‘berita jujur apa adanya’ yang disampaikan orang lain yang belum kita kenal.
Lain kisah Rasulullah di gua hira, lain pula kisah sahabat rasulullah yang bernama Salman Al Farisi. Beliau berasal dari persia ( yang jelas jauh dari Arab dan bahasanya pun berbeda ). Beliau untuk sampai pada rasulullah, ditakdirkan ‘melalui’ banyak orang soleh terlebih dahulu. Pindah dari orang soleh yang satu ke yang lain ( bukan karena beliau melarikan diri, tapi memang orang soleh yang beliau ikut belajar, meninggal dunia ). Terhitung sampai lebih dari 3 kali dan tempatnya berjauhan. Setelah proses yang bertahun-tahun beliau baru dipertemukan dengan Rasulullah.
Nah tinggal kita…
Oleh: ronym on Desember 16, 2008
at 6:22 pm
Paman rasulullah saja ( Abu Tholib ) bukannya tidak percaya terhadap kejujuran dan integritas Rasulullah. Namun beliau ragu terhadap ‘implikasi / akibat yang terjadi jika membenarkan ucapan Rasulullah’.
Oleh: ronym on Desember 16, 2008
at 6:28 pm