Pagi ini ada acara silaturrahmi orang tua siswa sekolah anak kami dan salah satu acaranya adalah ceramah tentang pendidikan yang disampaikan oleh Prof Suharyadi dari UI. Ceramahnya disampaikan dengan sangat menarik karena beliau pandai berkomunikasi dan suka humor.
Tapi ada hal yang disampaikan beliau yang mengganjal pikiran saya. Sebetulnya saya pingin berdiskusi dengan beliau tapi beliau terburu-buru ada acara lain sehingga pertanyaan saya ini terpaksa saya lemparkan ke milis ini. Saya berharap bisa memperoleh jawaban.
Pada ceramahnya beliau mengatakan bahwa batas usia masuk SD yang ideal adalah 7 tahun. Yang menjadi pertanyaan saya adalah : Apa dasar penentuan usia tujuh tahun tersebut? There should be argument behind this. Sebenarnya pertanyaan ini sudah lama menggoda saya tapi belum pernah dapat jawaban yang memuaskan. Tentunya penentuan batas usia tersebut tidak muncul begitu saja tapi memiliki argumen di belakangnya. Mungkin ada teman milis yang bisa menjawabnya. Terus terang pada saat ceramah argumennya tidak muncul sehingga pertanyan ini kembali menggoda saya.
Selain itu ada pernyataan beliau yang juga menggoda saya. Beliau mengatakan bahwa jika ada anak yang sampai usia tujuh tahun belum bisa membaca maka para orang tua semestinya berbahagia karena itu yang benar. Pernyataan ini tentu saja sangat provokatif dan mungkin bertujuan untuk ‘menenangkan’ sebagian orang tua yang mungkin anaknya belum juga bisa membaca meski sudah berusia tujuh tahun. Saya sulit menebak kemana arah dari pernyataan tersebut dengan Sayang sekali bahwa tidak terjadi diskusi mengenai hal ini setelah ceramah tersebut.
Pernyataan lain yang juga saya anggap ‘provokatif’ adalah bahwa sebelum usia tujuh tahun anak jangan diajarkan untuk membaca karena akan membuat otak anak justru tidak bisa berkembang dengan optimal. Saya tentu tidak meragukan kemampuan intelektual beliau apalagi beliau adalah dosen UI dengan gelar professor tapi pernyataan semacam ini tentunya membutuhkan argumen yang bersifat akademis, yang sayangnya tidak muncul karena memang bukan forumnya. Saya terus terang jadi penasaran.
Penelitian tentang kecerdasan anak belakangan ini semakin lama semakin meneguhkan adanya masa ‘usia emas 1 s/d 5 tahun’ bagi perkembangan otak anak, baik otak belakang-muka, kiri maupun kanan dan orang tua yang meyia-nyiakan masa usia emas tersebut dianggap akan merugikan perkembangan mental anak di masa-masa berikutnya. Tentu saja pro dan kontra tentang ini sangat riuh-rendah dan banyak diantara kita yang bersifat ‘wait and see’ dan banyak yang bersikap ambil aman daripada terjadi apa-apa nantinya. Tetapi pernyataan bahwa anak baru siap dididik pada usia tujuh tahun bagi saya adalah ‘out of date’ dan patut dipertanyakan argumentasinya.
Pernyataan ini mungkin dipicu oleh keprihatinan dalam melihat betapa sekolah sebagai tempat belajar secara formal ternyata telah menjadikan proses belajar menjauh dari proses bermain yang sebenarnya merupakan sumber inspirasi dalam belajar bagi anak-anak. Anak-anak telah dipisahkan dari proses bermain yang merupakan wahana bagi mereka dalam belajar dan meningkatkan kecerdasan. Dengan menekankan rasionalitas dan logika semata dalam proses belajar , terutama pada anak-anak, memang akan mengerdilkan kemampuan anak dalam belajar. Anak-anak di Taman Kanak-kanak (Kindergarten) belajar melalui bermain. Bermain bukanlah konsep yang terpisah dengan belajar.
Pernyataan beliau bahwa otak belakanglah yang menentukan kecerdasan seseorang juga perlu dipertanyakan. Kecerdasan nampaknya lebih ditentukan oleh otak bagian depan, yang kita kenal dengan otak kiri dan otak kanan. Otak bagian belakang ‘cuma’ berperanan penting dalam mengatur pernapasan dan koordinasi gerakan tubuh, atau yang disebut dengan ‘kegiatan vegetatif’ (“Revolusi IQ/EQ/SQ : Antara Neurosains dan Al-Qur’an. Taufiq Pasiak hal 72). Menurut ‘Tiga Otak’ Paul McLean otak belakang termasuk dalam Otak Reptil (Batang Otak) yang memiliki fungsi motorik sensoris, kelangsungan hidup(makan, minum,reproduksi, tempat tingal), dan respon lawan atau lari (ibid. hal 134).
Mungkin yang dimaksudkan oleh beliau adalah bahwa keberhasilan dalam pemikiran dan akal dikemudian hari ditentukan pada tahap perkembangan motorik yang banyak ditentukan oleh otak belakang ini. Tahap perkembangan motorik memang memiliki pengaruh yang sangat besar dalam tahapan perkembangan dalam berbicara, membaca, atau pemikiran logis lainnya.
Satu hal lagi yang menjadi pertanyaan saya adalah ketidaksetujuan beliau terhadap anak TK yang belajar membaca. Meski ini bukan hal yang aneh tapi tidak jelas apa yang menjadi keberatan beliau. Apakah karena materi belajar membaca (mengenal huruf sampai bisa membaca kalimat dan paragraf) dianggap belum mampu untuk dicerna oleh intelektualitas anak sehingga dikuatirkan akan dapat membuat otak anak menjadi terforsir dan dapat menjadikannya kelelahan (fatigue) dan memperngaruhi perkembangan intelektualitas mereka kelak, ataukah proses dalam belajar membaca tersebut dikuatirkan akan menjadi begitu formal dan terstruktur sehingga seolah tercerabut dari dunia anak yang semestinya lebih kepada bermain, suatu proses yang ‘memaksa dan’membebani’ anak secara mental? Kita mesti jelas dalam hal ini agar kita tidak salah dalam menganalisa permasalahan. Sekedar mengingatkan, otak kita telah berkembang 80% pada usia 5 tahun dan dianggap telah mencapai sempurna 100% pada usia 8 tahun sehingga menunggu otak berkembang sampai sempurna dulu baru dilatih tentu merupakan hal yang mubazir.
Satu hal yang paling ‘mengganggu’ saya adalah pernyataan bahwa ada peraturan yang menyatakan bahwa anak TK TIDAK BOLEH diajar untuk membaca. Sayang sekali tidak jelas peraturan tersebut tercantum dimana karena tentu saja peraturan tersebut patut dipertanyakan. Apakah memang benar ada peraturan tersebut dan dimana kita bisa melihatnya?
Sekedar untuk menutup ‘uneg-uneg’ saya perlu saya sampaikan bahwa Prof. DR. Dedi Supriadi, Guru Besar Universtas Pendidikan Bandung, dengan tegas menjawab bahwa anak usia dini dapat diajari membaca, menulis, dan berhitung ketika ditanya pendapatnya tentang kontroversi bisa tidaknya anak usia dini diberikan materi pelajaran. Bahkan menurutnya anak usia dini dapat diajar tentang sejarah, geografi, dan lain-lainnya. Pertanyaannya bukan lagi apakah seorang balita bisa diajar membaca atau tidak tapi BAGAIMANA MENGAJAR ANAK BALITA MEMBACA. Di Jepang dan negara-negara maju lainnya anak-anak telah diperkenalkan untuk membaca sejak mereka masih Pra-TK dan kita yakin bahwa bangsa Jepang tentu tidak ingin ‘mengorbankan’ anak-anak mereka jika mereka tahu bahwa belajar membaca tersebut akan berakibat buruk bagi anak-anak mereka di masa depan.
Wallahu alam bissawab.
Komentar dan pendapat teman-teman saya harapkan.
Wassalam
SD
Feb 16, 2007 @ 15:50:22
anak saya belajar membaca umur 4-5 tahun, sebelum masuk TK. Pingin sendiri, ayah dan ibunya juga “bosan” terus harus membacakan cerita untuk anaknya. TK umur 5 tahun sudah mulai bisa baca. Lha, anak saya kok nggak bodo-bodo amat. Kemarin ikutan test pra toefl sih di lembaga penyelenggara. hasilnya lumayan, dapat 643, padahal nggak pernah ikut kursus bahasa. Bapaknya nggak bisa ngajarin, karena cuma bisa basa medok daerah saja. Jadi, kesimpulan saya, biarkan anak memilih yang disukainya. Belajar membaca karena suka dan menikmatinya….
Feb 24, 2007 @ 19:09:03
Mungkin saja pak prof itu menyoroti pend. Tk yang kini kelewat batas, karena banyak TK yang membebani anak dengan ‘bacaan’ tak bermakna minus gambar ditambah diberi PR hitungan dan menulis sampai harus rapi banget…Coba aja tengok anak-anak TK sekarang. Sibuknya sudah kayak anak SD. Tapi…kalau pernyataan pak prof itu ditafsirkan langsung seperti apa adanya, saya juga ga setuju. Saya pernah baca, bahwa sejak dini..malah dari sejak bayi harus dikenalkan dengan bacaan. Tentu bukan membaca huruf..tapi diberi gambar-gambar menarik yang sesuai dg dunia mereka. Efek pengenalan itulah yang membuat mereka merasa perlu bisa baca sendiri. Jadi tak ada paksaan dan target tertentu. Yang terjadi skrg ..banyak SD yg ga mau nerima kalau lulusan TK belum bisa baca. Mgkn itu yang bikin pa prof buat pernyataan kontroversial.
Feb 25, 2007 @ 23:02:16
sekarang sudah ada cara mengajar balita membaca dan berhitung sambil bermain. orang tua pun hanya perlu waktu kurang dari 10 menit sehari untuk melakukan aktifitas ini. Cara yang fun dan membuat anak lebih cerdas dengan metode sangat sederhana. Silakan mampir ke kartupintar.blogspot.com
Feb 27, 2007 @ 19:54:42
Saya tinggal di Switzerland dan anak saya waktu ditaman kanak-kanak mendapat peraturan seperti itu, orang tua tidak diperbolehkan mengajar anak membaca atau menulis dan itu peraturan pemerintah loh. Tetapi anak saya sangat berkeinginan dan mencoba mengenal huruf dimasa taman kanak-kanak karena sejak umur setahun kami selalu membacakan buku untuknya dan juga pada usia 4 tahun kami membacakan buku cerita anak sebelum tidur. Di sini anak masuk kelas satu pada usia 7 tahun dan anak-anak yg memulai tanpa mengenal huruf dan angka sebagian besar menjadi masalah karena terlalu berat untuk anak tsb karena di TK hanya bermain. untuk sementara menjadi topik oleh pemerintah untuk mengenal huruf dan menulis sejak taman kanak-kanak. Pendapat saya sebagai ibu kita tidak boleh memaksa anak untuk belajar tetapi kita dapat mengarahkan anak untuk mengenal huruf dan angka serta belajar sambil bermain sehingga anak itu tidak merasa terpaksa, dimana paksaan atau tekanan menyebabkan anak menjadi pasif atau tidak kreatif. Pada saat disekolah mereka tidak dapat belajar berdiri sendiri sehingga selalu harus dibantu oleh orang tua, yang sebenarnya anak itu dapat belajar dengan sendirinya. Dan setiap anak mempunyai kepandaian yg berbeda beda karena antara aktif di otak kiri atau di otak kanan ada juga kedua-duanya. Bila anak semasa satu sampai lima tahun kita sebagai orang tua tidak boleh terlalu mengkritik atau melarang didalam hal yang positif. karena dapat membuat anak tersebut tidak termotifasi dan tidak kreatif. kita dapat mengarahkan anak untuk senang membaca dan menyukai masuk sekolah. apabila kita menyiapkan dan mengarahkan tanpa memaksa anak untuk belajar menghitung atau membaca anak akan termotifasi untuk bertanya akan keingintahuan dan anak tidak merasa terpaksa untuk mempelajari sesuatu. tanpa pengarahan juga membuat anak hanya bermain sampai usia 7 tahun ada efeknya anak tersebut tidak dapat duduk diam konsentrasi dan tidak tertarik terhadap sekolah dan merasa terbeban untuk belajar membaca, menulis dan menghitung. anak tersebut menjadi nakal dan motorik juga terlambat. pengertian didlm komunikasi juga terhambat. dan anak diusia satu sampai lima sangatlah berperan jangan dimanja denga materi atau kasih sayang yg berlebihan. anak diusia ini masa untuk memberikan kelembutan rasa nyaman, perhatian dan batas-batas dimana sebagai usia tersebut untuk belajar apakah diperbolehkan atau tidak, berbahaya atau tidak pada usia inilah sangat diperlukan dan banyak menjelaskan atau menerangkan karena anak dapat belajar tanpa dipukul atau dibentak. kemanjaan hanya membuat anak tidak hormat pada orang tua atau pada orang lain hanya membuat egois dan lemah. Sekian pengalaman saya sebagai ibu dg dua anak. Di eropa byk org tua yg tidak punya waktu untuk anak dan banyak anak yg dimanja dengan materi dan pada usia 1-5 tahun tanpa batas akibatnya banyak anak yang kurang ajar dan tidak hormat pada orang tua dan guru.
dan banyak juga orang tua yang membirkan anak menonton TV dan Main Nitendo itu juga mempunyai efek sampingan tidak mempunyai perasaan/ rasa simpati. banyaknya kebrutalan pada usia remaja. menurut saya kunci untuk membuat anak lebih cerdas berilah perhatian dan kasih sayang lahir dan batin bukan dengan harta benda serta waktu untuk bersama-sama dan bukanlah orang tua yang berkuasa tetapi menjadi pantun untuk sianak.
Feb 27, 2007 @ 22:32:12
Sayang sekali tidak dijelaskan alasan akademis mengapa anak TK tidak boleh diajari membaca di Switzerland. Saya juga bertanya-tanya bagaimana orang tua kok DILARANG mengajar anaknya yang masih TK (dibawah 7 tahun) untuk membaca. Mana mungkin ada peraturan yang membatasi seperti itu? Mungkin yang dimaksudkan adalah agar orang tua tidak memaksakan anaknya untuk membaca. It makes more sense.
Mar 29, 2007 @ 17:11:14
saya seorang mahasiswa tingkat akhir yang saat ini kebetulan sedang melakukan brbagai macam penelitian untuk tugas akhir yang kebetulan memiliki tema yang sama.
saya sangat setuju sekali apa yang pa prof utarakan. apa yang beliau katakan semua tedapat di dalam beberapa buku psikologi perkembangan yang merupakan hasil pemikiran dari tokoh tokoh-tokoh besar psikologi perkembangan anak seperti plato, piagiet, jhon amus commenius dan masih angat banyak tokoh tokoh terkenal lainya.
jadi menurut saya anda sbaiknya mencoba membaca beberapa buku psikologi sbagai refeensi shingga unek-unek selama ini bisa terjawab.
-terima kasih-
Apr 04, 2007 @ 08:28:20
Sebetulnya di Indonesia ini semua serba dilematis, disatu sisi tidak boleh, tapi disisi lain SD menuntut lulusan TK harus bisa membaca. Kebetulan saya mengajar di sebuah TK, dan itu terjadi di TK saya. banyak orang tua bingung Kebetulan TK saya tidak menekankan siswanya utk bisa membaca, tetapi ada yg perlu digaris bawahi bahwa TK saya memberi rangsangan kepada semua anak tentang huruf dan suku kata-suku kata, label atau logo dan hurufnya. kemudian memberitahukan mereka apa sich manfaat membaca, ketika anak sudah terstimulus, otaknya mulai terbuka sehingga dapat mudah menerima pemahaman akan perbedaan bunyi. Jadi mengapa di LN dilarang diajarkan membaca, karena membaca berkaitan dengan pemahaman logika, dan ini baru dimiliki oleh anak usia 6 s/d 12 thn. Tapi kita boleh memberi rangsangan dengan melalui tahapan2 sehingga anak tidak “belajar” tapi “bermain” tanpa sadar mereka akan paham perbedaan bunyi tersebut, yg merupakan gerbang awal utk membaca. Lebih bagus lagi kalau anak mulai diajarkan membaca iqro, karena disitu juga diajarkan perbedaan bunyi. Berdasarkan pengalaman, jika anak pemahamn iqronya bagus, maka membaca akan mudah dilakukan. Alhamdulillah di TK saya semua naka yg masuk jenjang TK B tanpoa sadar mereka sudah bisa membaca. Jadi kesimpulan saya kita sebagai ortu harus banyak memberi rangsangan tanpa anak merasa terbebani sampai mereka menyenangi dan paham bahwa membaca itu menyenangkan. selamat mencoba
Agu 24, 2007 @ 04:22:15
Assalaamu’alaikum
Sebenanya sih sejak umu 1,5 tahun anak sudah bisa diajar membaca. Anakku umur 1tahun 10 bulan sudah tahu mana gambar kelinci, pepaya, nanas, sapi dll. Artinya anak sudah bisa membaca lambang. Huruf kan juga sebuah lambang to.
Kami sedang mengembangkan metode pengajaran membaca (huruf latin) yang cocok untuk anak usia dini. Sebenarnya sih sudah diterapkan di paud dan tk temen, tetapi disini ada perubahan-perubahan.
Intinya pengenalan bukan huruf per huruf, tetapi suku kata
Salah satu contoh : a da ma ta
namun di awal kita jangan langsung memaksa anak membaca kata. Tunjukkan dengan kartu atau board a, da, ma, ta. Di bolak-balik urutannya. Sehari cukup 5 sampai 10 menit (klasikal). Selanjutnya dikenalkan melalui permainan-permainan terintegrasi dengan kegiatan pengajaran di tk. Contoh, melompat. Buat 5 kotak di lantai dan ditulis suku kata a, da, ma, ta. anak duduk di kotak tengah, kemudian diberi aba-aba “lompat ke da, a dst.
Dari pengalaman kami dan dalam waktu 3 bulan anak sudah bisa diberi bacaan (sesuai suku kata yang sudah dikenalkan). Ingat 3 bulan pertama tidak kita kenalkan ke buku, hanya lewat permainan-permainan.
Alham dulillah buku panduan sudah hampir selesai disusun. Insya Allah akan kita cetak dan dipublikasikan supaya bermanfaat bagi orang banya
Wassalaamu’alaium ww.
Mas Djo
Agu 24, 2007 @ 04:24:07
email ku ingin tahu lebih banyak : kirim ke agrodjo@yahoo.com
Mei 13, 2008 @ 12:39:23
saya diajarkan membaca oleh ibu saya, saat saya dan adik saya berumur 5 dan 4 thn. kami sudah membaca saat usia tersebut. mungkin tujuan orang tua kami saat itu, (thn 1973 di Kal-Sel), adalah supaya kami bisa mendapatkan hiburan melalui membaca selain bermain bersama teman. dan itu berhasil.
ibu saya memakai metode alm.Ibu Pakasi dari IKIP Malang, dan metode itupun saya terapkan ke anak2 saya, dan sekarang ke murid-murid di TK saya. (metodenya seperti yang Mas Djo utarakan). Buku beliau memang tidak dipublished. Yang saya tau TK Lab UM (Universitas Negeri Malang) masih menggunakan metode itu sampai sekarang.
memang tuntutan orang tua dan SD sekarang adalah sudah bisa membaca sebelum masuk SD, tapi menurut saya, saat ini yang lebih penting adalah bagaimana membuat anak menjadi gemar membaca daripada hanya sekedar bisa membaca. 2 hal yang sangat berbeda.
mungkin yang lebih penting adalah membuat buku-buku bacaan anak TK yang memiliki huruf yang besar, hanya terdiri dari 1 atau 2 kalimat dan gambarnya pun menarik..terus terang, saya kesulitan menemukan buku cerita yang ditujukan untuk anak yang baru bisa belajar membaca.
saya sebagai guru TK, agak ‘iri’ dengan guru TK di ‘AS’ yang memiliki begitu banyak buku cerita sebagai referensi sesuai tema-tema yang ada dan enaknya lagi, buku cerita itu turun temurun dan terus ada.
insya Alloh, setelah ini ada yang berminat membuat buku cerita yang saya maksud..amiiin.
Jul 15, 2008 @ 05:16:41
anak saya bisa baca umur 5 th saat kelas A membaca kalimat sempurna, penjumlahan dan pengurangan sampai 100 menggunakan alat bantu, membaca jam dengan benar. sekarang awal masuk tk B , anak saya sudah bisa mengerjakan sebagian soal2 anak sd klas 1. soal belajar biasa aja tp memang anaknya suka sekali dengan buku soal latihan atau buku buku lainnya. setiap pegang/belajar buku baru langung dikerjakan sampai lupa waktu tidak mau berhenti.salahkah anak saya ……??? Salah atau benar saya bangga pada anak saya.
Jul 18, 2008 @ 13:35:32
kunjungi blog saya juga ya
Agu 20, 2008 @ 08:11:05
Saya pernah membaca artikel kalau tidak salah judulnya cepat matang cepat layu, disitu dijelaskan banyak anak-anak yang begitu briliannya di masa anak-anak ternyata tidak sukses di masa dewasanya, berbeda dengan anak-anak yang dianggap bodoh seperti einstein yang baru bisa membaca di kelas 3 SD ternyata adalah seorang jenius. Jadi menurut saya seorang anak yang dijejali begitu banyak ilmu di masa kecilnya mungkin lebih cepat mengalami kejenuhan pada saat dewasanya. Setelah membaca artikel itu saya yang semula begitu bersemangat merangsang otak anak saya yang pertama laki-laki sekarang usianya hampir 9, dia masuk SD umur 5,5 tahun karena memang sebelum umur 4 tahun sudah bisa membaca lancar, menjadi melakukan hal yang berbeda untuk adiknya dengan lebih santai karena saya menganggap anak akan belajar dengan sendirinya karena ternyata adiknya perempuan tanpa saya rangsangpun dia akhirnya bisa membaca lancar pada umur 5,5 tahun. Perbedaan antara dua anak ini adiknya lebih mandiri dan percaya diri dibanding kakaknya, Saya tidak ingin berbuat salah lagi, saya tidak ingin membuat mereka seperti yang saya inginkan sebagai anak tetapi berusaha memahami keinginan mereka, sehingga setelah saya membaca artikel itu saya berusaha untuk membiarkan mereka melakukan sesuatu yang mereka sukai tapi yang positif, contohnya kakak lebih suka membaca komik, sedangkan adik lebih suka menulis-nulis. saya tidak mengikutkan mereka les pelajaran dan tidak mengharuskan mereka mendapat nilai yang bagus, yang terpenting bagi saya mereka tidak stress dan menikmati masa mereka sebagai anak-anak, saya tidak ingin membebani mereka. Saya anggap bahwa setiap anak memiliki jalannya masing-masing, saya tidak bisa memastikan bahwa mungkin si kakak yang lebih pintar (mungkin) akan lebih sukses dibanding adiknya, yang terpenting adalah mereka menjadi anak yang baik. Saya bangga dengan mereka apa adanya
Nov 13, 2008 @ 04:15:24
wah telat niy komentarnya. aku pernah baca di buku karya Jim Trelease judulnya Read Aloud Handbook. dan sepertinya anjuran tidak mengajarkan membaca hingga usia 7 tahun terkait dengan kebijakan Findlandia. senada dengan ibu Fatimah. tidak mengajarkan membaca bukan berarti tidak dibacakan sama orangtua loh ya.. justru itu yg penting. perihal itu anak jadi kepengen baca sendiri itu lain masalah. karena yg matter itu menumbuhkan MINAT baca bukan MAMPU membaca. mereka yang minat baca akan lebih bertahan di sekolah ketimbang yang ga..
Nov 11, 2011 @ 17:49:51
setuju2.. dengan menumbuhkan minat baca anak otomatis anak lebih kuat keinginan untuk membaca di banding mereka yg “dipaksa” untuk bisa membaca
Nov 17, 2008 @ 08:25:16
Memang secara teori, mengajarkan anak TK membaca tidak lah dianjurkan. pendidikan PAUD di Amerika tidak menekankan pada pembelajaran membacanya, tetapi pada pengembangan kemampuan berpikir dan kemampuan motorik anak. Namun karena sistem pendidikan di Indonesia yang salah kaprah, yang mengharuskan anak kelas satu SD sudah harus bisa membaca, maka mau tidak mau para guru TK mengajarkan membaca kepada anak didiknya. Saya juga tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar dalam hal ini……
Jan 03, 2009 @ 22:52:44
wah ini artikel bagus..krn komen2 yg masuk bermanfaat banget buat saya..
saya termasuk yg sepakat bhw anak usia di bwh 7 th tdk boleh diajar membaca.. di Jerman ini sdh masuk undang2..kalo ortu/guru ngajar baca di bwh 7 thn, dia akan dikenal pasal kekerasan pada anak. Coba dialog dg mahsiswi Indo di Jerman: http://vitasarasi.multiply.com
Dilemanya, kalo umur 7 blm bisa baca, masuk SD bisa kalang-kabut, kurikulum SD kan berat, kls 1 SD aja ujiannya membaca dan pake multiple choice..
Pak Satria, blog Anda saya link ke blog saya boleh?
Okt 29, 2009 @ 12:16:46
saya guru TK, sebenarnya saya berat mengajarkan membaca pada anak didik saya, karena kalau saya perhatikan mereka terlihat agak bosan jika diminta belajar membaca,walaupun hanya meng’eja suku kata,tetapi karena anak butuh bisa untuk bekal masuk ke SD akhirnya saya siasati waktu pengajarannya dan cara penyampaiannya,lewat permainan sesuai tema yang di ajarkan
Jan 03, 2009 @ 23:16:41
Thanks atas kunjungannya Mbak Dina. I enjoy your writing on Iran. Silakan link blog saya. It’s an honour.
Kalau boleh saya ingin tahu isi dari UU di jerman yang melarang mengajar anak membaca sebelum usia 7 tahun tersebut, Mbak.
Salam
Satria
Jan 20, 2009 @ 10:15:17
Saya sependapat dengan mbak Dina bahwa anak di bawah umur 7 thn sebaiknya tdk diajari membaca. Ini merupakan perampasan hak asasi anak yang nota bene masih senang bermain. Hal ini terjadi pada pengalaman pribadi anak saya. Menjelang masuk SD saya memaksa anak saya untuk membaca dan berhitung untuk persiapan masuk SD. Akhirnya sekarang meskipun sdh SMP masih senang bermain dan prosentase belajarnya minta ampun….
Feb 05, 2009 @ 01:40:53
“berarti boleh donk bernanya”
ajarkanlah anakmu sholat umur 7 tahun, dan jika sudah 10 tahun tidak sholat, “pukullah”.
walaupun rasul sendiri tidak pernah memukul (CMIIW).
apa dasar ilmiahnya rasul membuat hadist tersebut, 7 tahun, 10 tahun…..?
Feb 17, 2009 @ 00:50:33
Boleh dan tidak tergantung kondisi.
Anak saya sekarang (7 Feb 2009) genap berumur 3 tahun dan tepat hari ultahnya dia sudah selesai Iqro’ 1. Saya sendiri yang mengajarinya bersama 12 orang temannya. Dia juga sudah hafal semua huruf-huruf baik yang capital maupun non capital. Bundanya yang mengajari. Semua atas permintaan anak saya sendiri. Yang jelas saya dan istri melakukannya dengan bermain dan humor. Jadi dia tidak merasa terpaksa atau dipaksa. Bahkan sering belajar sendiri sambil bermain. Dia lebih senang belajar dengan saya daripada bundanya karena saya lebih lucu dan variatif metodenya. Kalau bisa consistent, nanti ketika masuk SD 3 tahun lagi saya yakin dia sudah bisa membaca Alqur’an dan membaca bacaan-bacaan ringan dengan baik.
Pengalaman lain, adik saya (sekarang sudah kuliah semester 6 di Unibraw) tidak pernah play group maupun Tk. Maklum tinggal di desa di kaki Gunung Semeru. Dia sudah bisa membaca dengan lancar ketika sebelum masuk SD. Saya sendiri dan orang tua tidak tahu kalau adik saya sudah bisa membaca huruf latin dan arab dengan cukup lancar. Konon guru mengajinya (teman SD saya) yang mulai mengajarinya sejak usia 3,5 tahun ketika mengajari Iqro sekaligus diberi huruf latinnya di buku Iqro tersebut. Alhamdulillah tidak pernah mengalami lelah belajar dsb. Kalau tidak salah dia tetap Ranking 1 sejak SD kelas 1 sampai Kuliah di Jurusan Teknik Elektro Unibraw saat ini.
Konon Imam Madzhab Muhammad Bin Idris Asysyafi’i (Iman Syafi’i) sudah hafal Alqur’an pada usia 7 tahun dan masih banyak lagi ulama-ulama hebat nusantara maupun dunia yang sudah hafal dan hebat dalam membaca kitab-kitab tebal ketika usianya baru 7 tahun. Artinya mereka belajar membaca jelas sebelum usia 7 tahun.
Wallohu A’lam
Mar 23, 2009 @ 02:02:54
kenapa anak TK kok ga boleh diajari membaca ?
kalau memang anak tersebut bisa membaca gimana ?
Apr 07, 2009 @ 12:53:29
interest……..it’S a curious case, but there something inside this argument
Apr 17, 2009 @ 17:29:50
saya tinggal di arab saudi.anak saya pertama
saya masukan tpa umur 3,5 tahun.waktu itu saya
hanya ingin agar dia punya teman dan bisa bermain dgn teman2nya.tapi dia ga mau masuk kelas, apalagi untuk belajar.tapi kalau udah pulang ke rumah,dia banyak bertanya,apa ini, apa kata ibu guru tadi. terus saya jelasin,saya ajarin. sekarang dia 4,3tahun.udah hafal huruf abc dan huruf hijaiyah. sekolah indonesia di saudi arabia tidak di terima masuk sd ,kalau belum bisa membaca.
Mei 19, 2009 @ 02:50:43
saya seorang guru TK, terkadang susuah memang untuk mengajarkan anak TK bisa membaca, karena maunya main terus terkadang timbul dalam pikiran apa metode saya yang salah….(saat ini saya lagi belajar bagaimana menjadi guru yang bisa memotivasi anak agar minat bacanya timbul dengan sendiri). Walaupun alhamdululah saat ini mereka sudah bisa membaca semua dan berhitung…lagi2 karena persiapan masuk SD…
Mei 27, 2009 @ 07:53:07
waduh jadi kesimpulannya gimana pak?
klu menurut saya sih… umur tidak jadi patokan… tk dan tidak tk juga buka patokan, buat anak-anak, belajar adalah bermain, bermain adalah belajar.
patokannya (menurut saya lagi) adalah keingintahuan anak. apakah kita biarkan mengambang begitu saja? tentu tidak, keingintahuan bisa dirangsang dengan menunjukkan bahwa belajar bisa fun… (termasuk membaca)
maaf, in my opinion, anak bisa “rangking” di sekolahan juga bukan patokan, meski bukan alasan untuk malas belajar. yang paling penting bagaimana merangsang kreatifitas, sehingga anak menjadi “ingin tahu”.
kebetulan anak saya masih TK sih…. (ntar lagi SD), tapi disekolah (TK) malah sudah diajari komputer. saya liat anak saya juga pengen tahu seklai, yaw udah ikuti aja “kurikulum” TK …
begini ceritanya:
http://ekojuli.wordpress.com/2009/04/14/tk-jaman-sekarang-juga-diajari-komputer/
Des 16, 2009 @ 13:06:52
wah menarik sekali artikel ini sehingga banyak pemerhati yang menanggapinya,,,]
Kalau saya sih mau umur kurang atau lebih dari 7 tahun untuk belajar membaca boleh -boleh saja. YAng penting Akhlaqul karimahnya jangan sampai tidak diajarkan mulai sejak dini………..
Perkembangan zaman.. telah menunjukkan adanya perbedaan tahap pemikiran dan daya tangkap anak,, kalau zamannya ibuku dulu,, mungkin mengajarkan cara membaca dimulai dari SD, tappi sekarang sudah umur 7 tahun belum dikenalkan bacaan2,, Wah,, bisa bisa anak kita diolok-olok temen2nya…
Adik saya umur 1 tahun,sudah bisa memegang HP, umur 2 tahun sudah bisa bermain GAme, umur 3 tahun dah bisa SMS an sama ibu, umur 4 tahun dah bisa buat cerita bergambar, umur 5 tahun masuk TK dah pandai menulis cerita pendek,,,,,,sampai umur 7 tahun, adik saya dah menguasai pelajaran kelas 3 SD….
YAng jelas kalau dari para psikolog ada yang berpendapat adalah perampasan hak apabila mengajarkan membaca bagi usia kurang dari 7 tahun,,, itu boleh2 saja, tapi yang perlu dikaji ulang kita juga jangan menafikkan perkembangan zaman sekarang yang semuanya serba zaman komputeriasasi………
Terima kasih/…….
Jan 19, 2011 @ 03:30:08
semua komentar sih bagus-bagus aja ……tpi ada yang kita lupa kita takut klo anak kita tidak bisa membaca karna dikira bodoh dan sebalik nya kita akan bangga apabila anak kita pandai dalam membaca karna dianggap pintar ,,,namun kenapa kita tidak takut /khawatir anak atau adik kita tidak bisa membaca AL’QURAN sejak dini pahal ini adalah sumber methode anak cerdas bukan pintar…..TRIMS
Jun 25, 2009 @ 10:40:03
tapi dgn anak yg blm bisa balistung malah tidak bisa masuk sd karena syarat msk sd hrs bisa balistung, jd pernyataan ini perlu diketahui oleh para bapak yth dilingkungan mendiknas terutama yg menangani pendidikan dasar supaya qta sbg ortu ga bingung n bisa menentukan sikap yg terbaik buat putra putrinya
Jul 28, 2009 @ 12:50:38
mungkin pernyatan MENGAJARKAN membaca bsa diganti dengan mengenalkan. agar kesanya tidak terlalu mengerikan untuk anak usia TK. pda dsrnya stimulus untuk perkembangan anak menurut saya hrs diberikan sedini mgkin. dengan tujuan hanya untuk merangsang perkembangan yang sedang berkembang pda anak.
Agu 03, 2009 @ 11:38:00
menurut saya itu gak perlu diberika argumentasi karena pernyataan tersebut adanya karena.
1. Belajar membaca dapat diajarakan nanti ketika sudah masuk SD, dan belajar membaca adalah pelajaran otodidak yang dapat diajarakan nanti
2.Perkembangan fisik lebih diutamakan,karena dengan pertumbuan fisik yang normal akan sangat membatu kecerdasan otak tidak untuk sekedar belajar membaca melainkan mempelajari apa yang telah dipelajari.
Okt 02, 2009 @ 05:07:52
KALAU SAYA SETUJU SEKALI BAHWASANYA SEORANG ANAK ITU SEBAIKNYA TIDAK DIAJARKAN MEMBACA SEBELUM 7 TAHUN, BAHKAN YG PERNAH SAYA DENGAR SEBAIKNYA DI USIA 8 THN ITU YG WAJAR. ANAK SAYA PUN SUDAH 6 THN BLM BISA MBACA DAN SAYA PD KRN MRASA TDK MFORSIRNYA DAN MRASA BRKEMBANG ALAMIAH. BNYAK SAYA ANALISA ORTU MRASA BANGGA ANAKNYA SDH BSA MBACA PADAHAL BARU BERUSIA 4 THN MISALNYA, TPI MUNGKIN ANAKNYA SDH STRESS.
Okt 24, 2009 @ 10:54:17
saya adlh salah satu guru TK yang dilembaga saya mengajar, ada selingan waktu untuk anak2 membaca tanpa tekanan. awalnya memang sayang melatih mereka yang sebenarnya bnayak wktu untk bermain tetapi dibebani membaca yang kadangkala membuat otak mereka berpikir dan efeknya pada usia 9 th mereka cnderung jenuh dengan materi belajar di sekolah. tetapi, tuntutan sekolah dasar mengakibatkan kami harus mengajarkan metode membaca dengan cepat mulai dari sekolah dasar. tes masuk sekolah dasar menuntut anak untuk bisa bercerita secara pasif dan aktif, bahkan ada yang menggunakan metode gambar lalu anak disuruh mengarang. Jika murid2 kami tidak boleh diajari membaca, akan diterima di sekolah dasar mana???
Nov 19, 2009 @ 13:26:20
kebetulan saya punya 3 pengalaman yang berbeda:
1. Pengalaman masa kecil saya: tidak diajari membaca di bangku TK.
2. Pengalaman anak anak saya hingga tahun 2008: TK favorit para orang tua secara jelas menjadikan pelajaran membaca yang dulu saya peroleh mulai di bangku SD menjadi kurikulum di TK.
3. Pengalaman menyekolahkan anak anak saya di SD di Kanada sejak september 2008: pelajaran membaca dimulai di SD; bukan di TK.
Bukan hanya itu saja, berikut sebagian gambaran sekolah di kanada yang membuat anak anak saya senang pergi ke sekolah:
1. Tidak ada ujian. Sekali lagi, tidak ada ujian. Ujian hanya dilakukan dua kali, di kelas 3 dan kelas 6, dua mata pelajaran: bahasa dan matematika. Ujian itu untuk memonitor pencapain kurikulum tingkat provinsi.
2. Tidak ada “tinggal kelas”. Semua anak pasti naik kelas, dan semua anak pasti lulus.
3. Tidak ada ranking. Ada rapor perkembangan belajar anak setiap akhir catur wulan, tetapi tidak meranking siswa. Rapor siswa dibandingkan dengan ekpektasi kurikulum.
4. Yang menarik, “bermain” menjadi bagian dari kurikulum. Ada buku panduan bagi guru tentang berbagai jenis permainan yang bisa diajarkan di jam istirahat siswa. Sekilas, permianan permainan itu mengajarkan bagaimana anak anak membangun skill individu dan teamwork, menghormati dan menaati aturan permainan, dan tetap sadar bahwa semua itu hanya permainan, alias having fun.
Dengan hal hal seperti yang saya tulis tersebut, dan masih ada hal hal lain yang semisal, maka bisa saya sepakat dengan ungkapan: anak sekolah mulai stress setelah lulus sekolah dan masuk ke perguruan tinggi. Mengapa? karena pendidkan di universitas di sini betul betul menuntut mhs untuk 110% mencurahkan waktu, tenaga dan fikiran untuk belajar dan ada ujiannya.
Sebaliknya, di Indonesia anak anak sekolah justru lepas dari stress setelah lulus sekolah. Begitu saatnya menjadi dewasa, justru yang terjadi malah seperti kanak kanak. Konon begitu yang terjadi pada anggota *** yang terhormat di negeri kita yang notabene adalah representasi rakyat.
Des 26, 2009 @ 10:38:51
bismillah.yang utama adalah membangun ahlakul karimah pada anak2 kita.pintar tapi juga berbudi luhur.boleh kita ajari anak dalam hal positif dan sekali lagi hindari kesan memaksa.tumbuhkan minat baca baru kita ajari mereka membaca.walau masih dbwh 7 th, tapi kl sdh ada minat ,tak ada salahnya kita ajari membaca,yang pasti tidak ada syariat yang melarang.yang nggak boleh itu klo dg kekerasan. justru dgn lebih awal kita mengajarkan baca.nantinya anak tidak terburu2 u mengejar pas msk sd dah bs baca,jadi si anak percaya diri.wallahu a’lam
Feb 04, 2010 @ 15:51:06
Pk, kebetulN Sy juga guru TK YIMI Gresik, dimana TK saya malah mengadakan Extra CALISTUNG (membaca, menulis, brhtung), dan di materi sehari – hari juga ada peljarn mengenal huruf.Alhamdulillah, lulusan TK saya 96% sdh bisa baca dengan lancar, bahkan baca buku atau koran pun sudah bisa. Saya rasa bukan materinya yang di sorot, melainkan cara/gaya pengajaran guru tersebut. Insyallah kalo di sajikan dengan menyenangkan, ank2 akan sangat tertarik dan cepat masuk ke memori otaknya. Yang saya tau usia golden age, dimana ank mampu meyerap materi dan menghafal metri dengan cepat, karena kekuatan daya pikir mereka. Justru saat – saat skrglah saat terindah mengajari anak bahasa termasuk membaca, ASAL dengan FUN. Sering saya dengar kalo di TK tidk boleh di ajar membaca agar anak bisa emnikmati masa kecil, dan indahnya sekolah TK. Namun sangat ironis, pada saat PSB di sekolah2 negri favo, tes masuknyaa adalh kognitif termasuk baca tulisa hitung. Bila siswa tersebut tidak lulus, maka akan di anggap bodoh dan terlebih para TK asal anak tersebut akan di anggap tidak profesional atau semacamnya. Nah, kalo sudah begini, bagmna dong????
Feb 06, 2010 @ 08:46:43
Kalau saya setuju di TK sudah di tanamkan membaca sejak dini, kalau memang anaknya aktif dan memang ingin tahu, antara boleh dan tidak diajari membaca, pertama tergantung dari anak itu sendiri. Kebetulan saya mengajar extrdrama di TK dan SD, juga mengajarkan tellingstory/mendongeng untuk usia 1,5 tahun – 12 tahun. Dan seringkali mendapat respon yang penuh tanda tanya dari guru maupun orang tua?, setidaknya anak-anak mengetahui simbol, atau hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Salahkah memang kalau misalnya kita menanamkan cara membaca sejak dini kepada anat KB/TK.
Mar 25, 2010 @ 05:39:49
mungkin yg dimaksudkan tidak boleh diajari membaca adalah jika anak tidak mau atau tidak boleh memaksa anak untuk belajar membaca. karena setahu saya, TK adalah pra-sekolah jd anak hanya dipersiapkan atau dikenalkan pada lingkungan sekolah, sedangkan untuk benar-benar anak siap belajar adalah ketika anak masuk SD dimana usia anak sudah lebih matang/siap secara emosional, kognisi, dan afeksinya. tetapi tidak ada salahnya jika anak mulai dikenalkan dengan buku cerita/cerita bergambar sejak dini karena hal ini dapat digunakan untuk menumbuhkan minat baca pada anak. apalagi sekarang di Indonesia sedang gencar-gencarnya digalakkan pendidikan usia dini, karena memang menurut para ahli psikologi anak usia 0-5 tahun adalah masa dimana otak anak sedang mengalami perkembangan yg sangat pesat atau sering disebut Golden Age. jadi tidak ada salahnya memberikan stimulus dini pada anak khususnya stimulus gemar membaca selama itu tidak dipaksakan, atau karena memang anak berminat atau menyukainya. seperti kata pepatah bahwa Buku adalah jendela Dunia, jd tidak hanya dengan mengelilinginya kita akan tahu Dunia tetapi dengan membaca kita juga akan tahu Dunia.
Apr 30, 2010 @ 16:04:59
ini pengalaman pribadi saya,saya sudah bisa membaca di usia 4 th,bukan diajarkan secara paksa tapi karena keinginan saya sendiri,sedangkan suami saya di usia 7 tahun baru bisa membaca dengan lancar, tapi pada usia dewasa sampai sekarang suami saya lebih bisa memecahkan suatu masalah di bidang pekerjaannya dibandingkan saya,jadi ini kesimpulan saya menurut pengalaman kecerdasan seseorang bukan ditentukan oleh cepat atau lambatnya seseorang bisa membaca,mungkin untuk para ahli bisa jadi acuan,walaupun sampai sekarang saya sangat senang membaca.juga saya pernah membaca tentang ilmuwan terkenal albert einstein juga bisa membaca pada usia 7th,mungkin yang jadi pertanyaan saya sebenarnya bagaimana caranya mengembangkan logika anak biar di usia dewasa kelak bisa memecahkan atau paling tidak menghadapi suatu masalah
Jun 04, 2011 @ 23:20:06
setuju.
Mei 05, 2010 @ 13:40:18
Membaca bukan segala-galanya, banyak shahabat Nabi Muhammad hafal Al Quran dengan tanpa membaca.
Jul 05, 2010 @ 11:29:32
Sangat terlambat apabila anak tk mulai diajarkan membaca. membaca dapat dimulai saat anak masih dalam kandungan ia membaca situasi, ia membaca suara – suara di luar perut sang ibu, dan ketika terlahir menurut glen doman anak bayi sudah dapat diajarkan membaca dengan bentuk dan ukuran tulisan tertentu, dan usia tk anak dapat diajarkan membaca tentu dalam kerangka bermain dan tentu juga sesuai minat anak ia hendak membaca apa yang ia ingin ketahui bukan apa yang orang dewasa inginkan.
Jul 14, 2010 @ 03:15:03
saya dari malaysia..seorang guru sekolah menengah…
anak saya baru 11bln…
tetapi saya sudah sibuk cari buku yg sesuai utk bayi…
tiba2 ada seorang rakan guru mengatakan biar kan anak2 bermain dan jangan ajarkan membaca…
salah kah saya?
saya terus membuat search di google dan terjumpa blog yg mmbincangkan isu ini dengan panjang lebar..
terima kasih
Okt 25, 2010 @ 01:34:07
dear Ibu Wannie yang perhatian pada anak, Saya hanya memberi masukan, rekan ibu tidak salah dengan mengatakan itu tapi harus di tambahkan bahwa perlu bagi kita MENGENALKAN kata dan kalimat pada anak, tapi tidak dalam bentuk harfiah, jauh lebih baik dalam bentuk cerita, hal ini selain menstimulus otak anak juga akan membuat ANAK MENCINTAI BUKU sehingga TUMBUH MINAT BACA pada anak, jika sudah tumbuh minat baca anak saya yakin anak akan mencoba(dengan berbagai cara anak) membaca secara harfiah. Setiap ANAK ADALAH PEMBELAJAR ALAMI, kita harus bisa menjadi FASILITATOR BAGI KEHAUSAN ANAK AKAN ILMU.
Semoga bermanfaat.
Jika ingin konsul lebih lanjut bisa via FB saya di : Hiradati Des shinta
Agu 05, 2010 @ 19:29:37
anak saya kelas 1 SD, sekarang pelajaran SD kok susah2 ya? beda dengan jaman saya doeloe. sekarang ada bahasa inggris nya juga …
Okt 25, 2010 @ 01:37:13
jika kita berfikir tentang nilai, akhirnya kita akan terpaku pada kesulitan-kesulitan pembelajaran. saya coba memberi masukan, coba telusuri POTENSI anak dan GAYA BELAJAR anak, setelah dapat cobalah ajak anak BELAJAR SESUAI DENGAN GAYA BELAJAR nya.
Semoga bermanfaat
Info lebih lanjut bisa via FB : Hiradati Des Shinta
Okt 24, 2010 @ 12:17:30
yang saya tau, pendidikan harus dimulai sejak dini
sesuai ajaran Islam, tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat!!!
Okt 25, 2010 @ 01:38:32
Setuju banget
Okt 25, 2010 @ 01:27:40
By. Hiradati (Konsultan Pendidikan Sanggar Qur’ani, Penggagas Sharing Community)
Bismillah, mudah-mudahan tulisan ini dapat membantu kita semua dan jika ada kesalahan mohon maaf.
Saya mencoba menanggapi problematika yang ada, yang mungkin menjadi uneg-uneg kita semua, problem mengenai anak boleh masuk SD saat usia 7 tahun, menurut ahli psikologi memang pada usia ini anak sudah matang secara emosi-sosial dan siap untuk menerima hal-hal yang kognitif dan sesuatu yang lebih abstrak. Tapi secara pribadi, saya tetap melihat bahwa perkembangan tiap anak berbeda tergantung pada lingkungan dan stimulus yang di terima sejak masa kandungan, karena itu penting bagi kita menanamkan hal-hal yang PRINSIP DAN KONSEP sejak anak dalam kandungan.
Masalah larangan membaca usia pra-sekolah, saya mencoba untuk tidak membahas dari sudut pro-kontra tapi saya pribaddi selalu menekankan pada orangtua murid bahwa saya TIDAK AKAN PERNAH MENGAJARKAN MEMBACA KATA-KALIMAT KEPADA AUD SECARA LANGSUNG, yang lebih saya lakukan terhadap AUD adalah “MENUMBUHAN MINAT BACA AUD” , karena bagi saya saat AUD MEMILIKI MINAT BACA TINGGI DENGAN SENDIRINYA IA AKAN BERUSAHA UNTUK MEMBACA (dengan caranya), saya yakin karena saya SANGAT PERCAYA ALLAH memberikan kita semua RASA INGIN TAHU YANG SANGAT TINGGI (siapapun kita dan dengan usia berapapun). Saya selalu berrpegang pada firman Allah SWT yang artinya:”Bacalah, dengan menyebut nama Rabbmu yang menciptakan.” (Q.S. Al Alaq:1), dimana saya berprinsip perintah ini tidak hanya memerintahkan kita untuk membaca secara harfiah (membaca kata-kalilmat saja) tetapi juga membaca apa yang ada di alam semesta ini dengan berbagai CARA, SARANA, PRASARANA. Membaca juga merupakan kemampuan ALAMIAH yang di miliki setiap individu, karena membaca merupakan FUNGSI OTAK MANUSIA TERTINGGI (karena makhluk Allah yang lain tidak memiliki kemampuan ini). dan saya selalu menyakini bahwa ANAK ADALAH PEMBELAJAR ALAMI YANG BERPOTENSI MENJADI JENIUS KECIL.
Yang harus diingat, BELAJAR adalah tempat yang mengalir, dinamis, penuh resiko dan menggairahkan. Belum ada kata “AKU TAHU” disana. KESALAHAN, KREATIVITAS, POTENSI DAN KETAKJUBAN mengisi tempat tersebut.
Mudah-mudahan ini membantu, jika ingin bertanya atau konsultasi lebih lanjut, silahkan via FB @ Hiradati Des Shinta.
Okt 30, 2010 @ 11:56:38
kalau menurut saya sih boleh saja mengenalkan kepada anak mengenai huruf tapi hanya sekedar mengenalkan tapi bukan berarti memaksa anak untuk belajar membaca. kalau menurut saya untuk usia 1-6 adalah bagaimana melatih motorik mereka, karena nantinya motorik juga berpengaruh ketika anak memasuki sekolah usia dasar.
Soal membaca, saya punya pengalama, ketika usia 5 tahun saya sudah bisa membaca dengan sendiri tanpa paksaan, tapi ketika memasuki usia sekolah dasaar seya jadi jenuh karena guru mengajari satu-satu.
Nov 04, 2010 @ 12:45:16
saya guru kelas 1SD mengajarkan membaca pada anak TK khususnya kls o besar boleh saja cuma bagaimana kita guru atau orang tua mengajarkannya .hars pakai cara yang sesuai dengan umur mereka jangan paksa anak untuk ikut kamauan kita justru kita yang harus ikut kemauan mereka supaya tidak membosankan bagi anak malah membuat anak lebih menyukai untuk membaca dan menyediakan media2 yang dekat dengan dunia anak dan tentunya tidk bosan bosan untuk mendampingi mereka
Mar 09, 2011 @ 21:46:11
artikelnya sangat bagus sekali. sy guru tk, kalau menurut sy mengajari ank tk membaca sy lihat kalo anak2 lagi ngak jenuh bete, ya pelan2 kita ajari dgn metode belajar sambil bermain. thx
Mar 25, 2011 @ 09:36:15
so idealnya pada usia berapa qt harus mengajarkan anak membaca?coz sekolah d tiap2 negara mempunyai aturan yang berbeda-beda.
Apr 01, 2011 @ 08:03:12
makasih nih infonya, sangat bermanfaat
Baju Bali Murah
Apr 23, 2011 @ 10:59:28
intinya: tidak boleh mengajarkan anak membaca di bawah usia 7 tahun = tidak boleh mengajarkan anak IQRO sebelum 7 tahun…. what a waste of time! Pak Satria…saya juga sedang mencari2 narasumber ASLI yg menyatakan tidak boleh mengajarkan anak membaca di bawah usia 7 tahun. Sepertinya….sudah trll banyak distorsi dari ‘pemikiran’ ASLINYA…..yang namanya STIMULAN….terbaik diberikan SEDINI mungkin pada anak…. yang tidak boleh itu memaksa anak “MENGUASAI” KETERAMPILAN MEMBACA pada waktu yang seragam. karena kecerdasan linguistik masing2 anak…berbeda. Sampai sekarang pun saya belum menemukan hadis yg menyiratkan dan atau menyuratkan anjuran mengajarkan anak membaca di usia 7 tahun.
Mei 29, 2011 @ 04:49:07
Saya guru TK, banyak sekali TK – TK di seluruh indonesia yang mengajarkan membaca…..
boleh-boleh aja di TK mengenalkan huruf dan angka dengan gambar…..
atau media video visual….
hidup ini indah,jgn di bersulit…………..
Jun 04, 2011 @ 23:18:27
SAY tidak setuju…tdk boleh diatjarkan…lihat semua buku kelas satu sd..menuntut untuk bisa baca!
Jun 13, 2011 @ 15:33:35
Saya udah tinggal lama di jepang.. 6 tahun lebih, sepengetahuan saya. membaca menulis n berhitung tdk diajarkan sejak pra TK bahkan pas TK pun tdk diajarkan. Pas TK lebih diajarkan ttg kemampuan dasar dlm kehidupan sehari-hari, buka pakaian, masuk rumah, cara makan, moral, tata krama n nilai2 dan tentunya bermain, diperkenalkan seni dll. Bahkan ini berlanjut sampai permulaan SD. Pendidikan dasar di Jepang lebih menitikberatkan moral, nilai2 dan tata krama.
Jul 04, 2011 @ 21:17:50
Ass. Maaf pak berkenaan dengan yang disampaikan oleh Prof Suharyadi, dan apa yang berlaku di Switzerland tidaklah sesuatu yang mengada-ada. Banyak negara di dunia ini yang baik sistem pendidikannya dan mereka tidak mendukung program pengajaran membaca sebelum usia sekolah.
Saya sarankan pihak yang pro mengajar membaca di bawah usia 7 tahun untuk lebih banyak membaca mengenai psikologi perkembangan, fisiologi otak untuk mengetahui alasan para pakar yang tidak menyarankan membaca di usia sebelum 7 tahun…(maaf pak supaya tidak muncul persangkaan)
Sedikit saya mulai pada usia 7 tahun diketahui dari studi yang cukup panjang mengenai neuroanatomi bahwa mielinisasi sel otak lengkap terjadi pada usia demikian. Dari batas itulah rata2 pendidikan dasar di dunia ini dimulai.
Pertanyaan selanjutnya, apakah kita harus menunggu sampai mielinisasi otak/7 tahun baru diberikan pendidikan? Ternyata dari studi diketahui neuroplastisitas otak sangat baik pada golden period /kurang dari usia 5 tahun. Tentunya sayang sekali bila masa ini tidak dipergunakan. Namun khusus untuk masalah membaca ada kekhususan.
Mengapa?
Karena ada hubungannya dengan proses membaca itu sendiri. Di otak, membaca merupakan kerjasama dari berbagai bagian otak yang spesifik. Pertama, korteks visual primer yang akan menjadi sangat aktif ketika menerima simbol2 abjad. Kedua area bahasa broca dan wernicke, di mana kata2 diubah menjadi phonem yang dimengerti oleh area ketiga yaitu girus angularis. Setelah itu ada proses memori di mana terjadi proses belajar yang memungkinkan kita membaca cepat hanya sepersekian detik bahkan sebelum input visual benar2 diterima, kita dapat membaca dan mengenali kata yang sebelumnya kita telah kita kenal.
Menimbang alasan di atas, saya lebih setuju bila masa golden period digunakan untuk proses pematangan, lebih pada pemberian rangsang yang baik. Berikan rangsangan yang sebesar besarnya pada anak usia golden period. Caranya bagaimana? Dengan bermain, bereksplorasi dengan lingkungan. Begitulah cara manusia selama berabad-abad belajar di permulaan awal kehidupan. Masa golden period sangat berharga tidak bisa berulang kembali.
Lebih baik otak pada masa emas digunakan untuk mempelajari hal2 yang secara fungsi di otak lebih menyebar. Contoh budi pekerti, hal2 yang tersurat di balik pernyataan tersirat, berteman, berkooperasi. Jangan sampai kita mengorbankan hal2 demikian, dan lebih mengacu pada kemampuan akademik. Ingat arah pendidikan selama berabad-abad diarahkan oleh keinginan dunia industri…dan kadang2 terlalu mengikutinya sangat berbahaya. Pada beberapa hal kita perlu berprinsip.
Lagipula pertanyaan yang menggelitik saya adalah seberapa pentingnya sih kita mempercepat anak membaca? Jika ingin membudayakan membaca ya, lingkungan mencintai budaya membaca itu yang perlu dibangun.
Semoga lebih kurang dapat menjadi masukan dari sisi yang lain:)
Jul 15, 2011 @ 14:21:17
Saya setuju dg pendapat mbak Media Yuni..klo tujuan pendidikan di TK hnya menekankan agar anak cepat bisa calistung tdk usah masuk TK..kursus sj di rumah panggil guru privat tdk sampe 3 bln bisa lancar calistung..selesai! Tapi apakah itu yg dibutuhkan oleh anak pd tumbuh kembang usia emasnya? Saya Kepala TK sering mendapat keluhan dari masyarakat tentang presatasi anaknya yg menurun drastis ketika masuk kelas 4 SD padahal di SD kelas awal (1,2,3) meraka selalu dapat ranking…itulah hasil dari anak2 yang digegas sejak dini sehingga pada akhirnya ketika mereka saatnya harus berpikir logic sudah mencapai puncak kejenuhan dan berpengaruh pada prestasi akademik di sekolahnya. Anak saya 2 thn di Play Group 2 thn di TK..sy biarkan dia mengikuti alur perkembangannya sehingga pada saat minat bacanya muncul tanpa diajari dan dipaksa ia saat ini sangat lancar bacanya (usia kini 6/,7 thn). Tugas kita bukan mengajarkan membaca pada anak tapi lebih pada bagaimana kita menumbuhkan minat bacanya dengan rangsangan yang menyenangkan..yang harus dibenahi adalah sitem pendidikan di SD…karena pada dasarnya anak usia kelas awal di SD (1,2,3 ) mereka masih dikategorikan sebagai anak usia dini….wallahu a’lam bishowwab
Agu 31, 2011 @ 18:07:55
Sekedar berbagi, buat Ayahnda/Ibunda sekalian…
Anak kami saat usia 2 tahunan sudah bisa membaca dan menginjak umur 3 tahun Alhamdulillah sudah lancar membaca buku cerita kesukaannya…
Nampaknya perlu dipertegas definisi antara “mengajari” anak membaca dan “mengajak BERMAIN” dengan permainan yang merangsang daya baca.
Kami mempelajari sendiri metode untuk mengajak anak BERMAIN dengan “flash card”, dan hanya berlangsung beberapa menit per permainan.
Jelas, TIDAK ada PAKSAAN sama sekali, dan tidak ada alokasi waktu berlebihan, karena inti permainan ini justru ada pada minat anak untuk BERMAIN. Setiap pemaksaan tidak akan memberi hasil maksimal, bahkan dikhawatirkan akan mematikan minat anak.
Kalau yang dimaksud dengan “MENGAJARI” anak membaca adalah memberi metode yang mengedepankan HAPALAN dan “PAKSAAN”, dengan memakan “WAKTU” yang bertele-tele, tentu kami tidak akan membiarkan anak kami terenggut masa emasnya dengan hal seperti itu.
Namun, sekali lagi, sekedar berbagi, dan mudah-mudahan bisa menjadi bahan rujukan:
—bahwa “mengajari” anak membaca tidaklah dengan memberi beban “akademis”, tetapi, dengan membuat “PERMAINAN” yang sederhana, ringkas, dan tidak memakan waktu lama—
(Metode BERMAIN flash card ini tentunya menggugurkan anggapan bahwa mengajari anak adalah proses “akademis” yang ‘menyiksa’ dan ‘menyita’ waktu emas anak)
Selamat memfasilitasi masa-masa emas putra-putri tercinta Ayahnda/Ibunda sekalian! Sukses!
Nov 18, 2011 @ 23:38:51
Hi, saya Ibu dgn 2 anak…yg 1 normal sdh 4 thn (TK A) yg satu Down Syndrome usia 22 bln. Anak yg kecilan (Naomi) sdh sy “perkenalkan” pada kata-kata (bukan huruf bukan suku kata) sejak usianya baru bbrp bulan yg otomatis kakaknya yg normal ikutan klo dia berkenan
disamping itu sy kasi lihat gambar2 juga, saya kasi lihat konsep matematika juga melalui pengenalan kuantitas bukan simbol angka. Saya juga doyan bacain buku…dan anak2 saya bisa menjadi demanding klo soal buku…4aking sukanya kdg mereka “memaksa” saya membaca setumpuk buku…my god, pemersasan anak kepada saya hashahaha

jd bukan totaly nerd
…..nah, kuliahnya yg bosenin, sy ambil teknik informatika, tp sy g suka dan takut pindah jurusan, jadilah kuliah ngasal
….tapi begitu ketemu bidang lain yg saya minati semangat belajar saya kembali, ini barusan aja sy lulus diploma tata rias wajah (loh dr komputer k makeup jauh ya?)…krn distimulasi dgn kegiatan yg sy sukai, semangat belajar tumbuh lagi….plus punya anak DS buat sy belajar banyak jg ttg perkembangan otak khususnya anak DS
…jadi g mesti siy anak yg belajar/g sengaja jadi belajar usia dini bakal doomed gedenya….
Semua kegiatan tadi dilakukan sambil having fun. Klo sama yg baby sambil senyum dengan intonasi yg dimainkan, klo sm kknya sambil kejar2an kadang2…klo kknya g mau ya saya g maksa, krn g ada gunanya maksa, malah discourage anak buat ngikutin. Saya jg g pernah ngetest anak…I just give give and give everything I can…baru2 ini sy minta feedback ke adiknya untuk assesment perkembangan aja, eeeeeehhhh adiknya yg 22 bln sdh tau dan ngenalin kata-kata, ngenalin kuantitas juga bisa….pdhal saya mainnya g sering2, cm 3x sehari @1-5 menit.
Saya rasa klo soal “minat baca” mereka “sangat rakus” yaaa…sampe nodong saya baca banyak2…dan kasi lihat kata/gambar yg merupakan simbol2 itu harmless secara anak bisa belajar mendecode dan membaca itu sbnrnya proses decoding di otak, yaitu decode symbol (visual) ke bahasa sama halnya dgn mendengar itu decode suara (auditory) ke bahasa. As long as kita have fun dengan anak, g mungkin salah….klo kita merasa g have fun ya stop it, g ada gunanya….itulah yg sy terapkan, klo fun n anak2 fun saya go on, klo g fun then we stop
Jadi, eventhough banyak pro dan contra krn saya having fun dan anak2 jg having fun, trus hasilnya positif saya go on ajaaaa
Oh ya, saya sendiri masuk SD 5,5thn dan terus terang saya kecanduan belajar dari SD sampe SMA krn entah knp, ortu saya sukses kali nanamkan minat belajar….saya bahkan g mau klo disuruh izin dari sekolah krn takut miss bbrp hal dalam pelajaran. Meskipun demikian, saya jg tetap hang out dengan teman2
Salam,
Jan 09, 2012 @ 13:25:14
saya mempunyai seorang putra usianya baru menginjak 5 th dan alhamdulillah sekarang sdh masuk TK…dan pelajaran membaca termasuk pelajaran wajib di sekolahnya..tetapi sy dan suami merasa kesulitan untuk mengajari anak sy membaca karena setiap mendengar kata “mas ayo belajar membaca” bukannya wajah ceria tp malah cemberut terus keringat dingin mulai keluar dan akhirnya menangis…jadi gimana…padahal sekarang masuk SD aja dites baca tulis..aduh jadi pusing sendiri tp klo terlalu memeksakan ke anak jadi kasihan si anaknya..minta saran dong klo ada yg pengalaman seperti aku dan suami alami.
Jan 26, 2012 @ 21:45:02
Kasian anak Si Prof jangan2 sampe SD masih blom bisa baca yah? Kalo anakku umur 3 Tahun udah mengenal huruf dan angka, umur 4 Tahun belajar mengeja dan mengurutkan angka dan sekarang 5 Tahun telah mulai lancar membaca dan menambah angka, mengurangi dan membagi angka belum bisa. Krn blom saya ajarkan. Tak perlu banyak istilah tak perlu banyak mikir kalo memang anak sudah siap kenapa kita harus halangi. Bayangkan perasaan anak kalo disekolah semua teman nya dah bisa baca dia sendiri masih blom bisa pasti akan ada perasaan kurang percaya diri pada si anak tersebut. Jadi jangan pernah menghalangi keinginan maupun kreativitas anak asalkan itu tidak negatif. Terimakasih.
Mei 12, 2012 @ 03:54:19
Pengalaman pribadi, saya & istri punya latar belakang yang berbeda seperti ilustrasi di atas. Saya masuk SD umur 7 tahun & blm bisa membaca (meskipun nantinya ketika naik kelas 2 dpt rangking 1) sedangkan istri saya masuk SD umur 5 thn & ketika TK sdh bisa mebaca dengan lancar, kebetulan istri sy juga pintar. Sekarang kami sama2 ber karir dan sama2 sudah lulus Master. Entah karena pribadi masing2 atau lingkungan, tp dari pengalaman menunjukkan, untuk anak kami, kami memutuskan untuk tidak buru2 memasukkan SD & rasanya memang lebih tepat ketika umur sekitar 6-7 tahun, meskipun anak kami mempunyai kemampuan intelektual yang bagus, namun kematangan emosionalnya yang belum sesuai untuk masuk SD. Masalah kemampuan bisa berhitung & membaca, kami tidak pernah memaksa anak, kami hanya menyediakan saran, buku, CD, komputer & biarkan anak berkembang sendiri.
Jun 02, 2012 @ 03:17:11
Aku minta ajari anak SD Kelas 1 biar bisa baca cepat, tapi anak itu susah banget untuk ngomongnya . gimana yah…
Jun 11, 2012 @ 16:26:47
berdasarkan pengalaman,,, dihubungkan dg teori,,, dan dilihat dilapangan,,, dengan mengaitkan Undang-Undang SIKDIKNAS di INDONESIA,,, serta KURIKULUM YANG ADA DILUAR NEGERI,,, saya setuju dg semua pendapat diATAS,,, karena pasti semua melihat sesuai kondisi dilapangan dan keadaan yang ada,,,,, NAMUN IBARAT SAKIT TENTU BANYAK JENIS DAN DIOBATI DENGAN OBAT BERBEDA SESUAI SAKITNYA,,, bgt jg baju yg qt pakai tentu berbeda ukuran,,, prof tdk salah, ibu bapak tdk salah, ibu guru jg tdk salah,,, yg membuat bingung itu adalah UU SIKDIKNAS INDONESIA yg ABU–ABU,,, SEHINGGA PENDIDIKAN KITA JG ABU-ABU,,, WAJAR JIKA HASIILNYA JG ABU-ABU,,, SURVEI MEMBUKTIKAN BEGITU BANYAK PENGANGURAN INTELEKTUAL,, karena mereka adalah korban dr SISTEM PENDIDIKAN YANG TIDAK JELAS GANTI MENTERI GANTI ATURAN,,, PENDIDIKAN INDONESIA LEBIH BANYAK PENDIDIKAN PERCOBAAN YANG SEMUA CUKUP ADA DI RUANG “TAHU” DALAM ILMU,,,, tdk sampai mengeri secara dalam, menjadi ahli, dibidang masing-masing namun jiwa2 penakut yg mengejar kesempurnaan yg hakekatnya kepalsuan,,,, tdk perlu jauh-jauh UN banyaklah pembodohan bukan menuju INDONESIA SEMAKIN CERDAS,,, alangkah indahnya jika dana untuk UN diberikan untuk memperbaiki PAUD beserta para guru-guru,,, agar lebih berkualitas,,, karena awal emas itu sesungguhnya di PAUD,,, DI INDONESIA ADDAKAH PROFESOL MMASUK KELAS MENGAJARI ANAK-ANAK PAUD???,,, mana ada,,, padahal AWAL EMAS PENDIDIKAN ITU DI PAUD…. Karena akan membekas sampai anak-anak dewasa,,, dan membentuk paradigma mereka berpikir tentang pendidikan.,,, mereka cinta ilmu tanpa paksaan,,, sehingga akan melahirkan karakter yang suka membaca dan belajar dengan cinta,,, jikA SEMUA DENGAN CINTA DAN KESADARAN SEMUA AKAN MUDAH DAN MENYENANGKAN,,,,
Des 05, 2012 @ 13:23:49
Ikutan ya…!!! Saya guru TK selama 20 tahun. Dan masalah ini sudah menjadi persoalan yang saya ketahui sejak saya mengajar sampai sekarang. Menurut saya; kalau kita mengajarkan anak membaca itu sesuai dengan kemampuan anak tidak persoalan dan cara kita mengajarkannya dengan cara bermain sambil belajar, baik dengan menggunakan lambang dan alat peraga yang menarik dan disukai anak itu tidak masalah…..
Dan persoalan pandai membaca ini menjadi dilema bagi TK. Sebab orang tua mengharapkan anak yang kita tamatkan ya… pandai membaca sebab menjadi sarat untuk di terima di SD Negeri ataupun SD favorit. Dengan katalain Anak yang mampu membaca apa lagi ditambah dengan mampu membaca
Al-Qur an maka nilai jual TK tersebut akan tinggi…dan murid tahun berikutnya akan meningkat walaupun biaya yang ditawarkan lebihtinggi. Inilah yang menyebabkan TK melakukan upaya agar anak yang ditamatkannya mampu membaca dan setidaknya mengenal huruf…..
Kalau di tempat saya anak bukan hanya mampu membaca malah sudah pandai membaca Al-Qur an malah Asmaul husna juga hafal itu kami ajarkan dengan metode bernyanyi … dan bertepuk tangan dengan berpariasi. Alham dulillah anak kami ada yang mampu. Bagi yang tidak itu menjadi tugas kita untuk memberikan pengertian kepada orang tua… agar mereka mengerti dan maklum…..
Feb 17, 2013 @ 14:24:49
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Saya setuju dengan komentar ibu ELIZA FINANSIH. Pada intinya sistem pendidikan di Indonesia masih TANGGUNG. Ganti Menteri ganti kurikulum. Saya sendiri lebih setuju anak2 diajari membaca sejak dini, tp tidak harus ditarget masuk SD hrs bisa membaca. Kemampuan masing2 anak berbeda.
Kalo memakai Einstein sebagai perbandingan, menurut saya tidak pas. Orang seperti Einstein tidak bisa digeneralisir/diterapkan kepada semua orang. Kalo memakai perbandingan seperti Einstein, kenapa tidak memakai Bob Sadino saja. Toh orangnya masih hidup. Tidak perlu sekolah tinggi, tetapi juga sukses (secara duniawi…)
Sebagai orang Islam, seharusnya memakai standart para ulama2 & cendekiawan muslim yang sudah terkenal dan diakui oleh seluruh dunia, seperti imam Ahmad, Imam Syafi’i, Al khawarismi, Ibnu Sina dll. Mereka bisa menghafal al Qur’an sewaktu masih kecil (belum berumur 10 tahun) bahkan sudah hafal sebelum umur 7 tahun. Tus, mana mungkin bisa hafal lebih 6000 ayat kalo tidak mengenal huruf arab/hijaiyah sama sekali… So pasti mereka sudah dikenalkan angka/huruf sewaktu masih balita.
Ada pepatah, belajar waktu kecil seperti menulis di atas batu, belajar waktu dewasa seperti menulis diatas air. Maksudnya ilmu yang dipelajari sewaktu kecil akan lebih lama bertahan di memori otak kita dari pada ilmu yang kita dapatkan setelah dewasa.
Larangan tentang tes calistung (baca-tulis-hitung) pada waktu masuk SD membuktikan ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola pendidikan sekolah dasar negeri. Sekarang banyak SD negeri yang tutup. Banyak orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di SDIT/SD swasta yang kemampuan outputnya bagus. Padahal untuk masuk SD swasta yang berkualitas harus lolos tes Calistung. Sedangkan SD negeri tidak menerapkan tes calistung. Otomatis, sama2 kelas 1 SD, kemampuan SD negeri dan swasta sdh ada perbedaan yang cukup jauh. Maaf, sebagai contoh anak2 lulusan TKIT (anak sy jg sekolah di TKIT) kemampuannya hampir sama dengan anak tetangga saya yang sudah kelas 3 SD. Bahkan lulusan TKIT ada yang sdh bisa baca Al Qur’an dan hafal Juz amma.
So… yang penting kita mendidik anak2 dengan sebaik2nya dengan diimbangi pendidikan akhlak yang baik, tanpa mengesampingkan psikologi anak yang suka bermain. Bermain sambil belajar, belajar sambil bermain.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Feb 17, 2013 @ 15:50:37
ini semua kembali pada kita sebagai orang tua mendidik anak yang sadar dan pintar di masa depan atau menjadikan anak bulan-bulanan kita, yang katanya anak cepat pandai membaca di TK. apa guna SD ??? TK > Taman Kanak-kanak bukan Sekolah Taman Kanak-kanak ; SD > Sekolah Dasar. Sebagai orang tua harus jeli dan pintar membaca dari referensi bahan bacaan dari manapun jangan sampai salah kaprah, karena kalau salah mendidik akan merugikan kita juga kelak. Sesuaikan usia anak dengan perkembangannya, jadikan anak anda menjadi anak, jangan jadikan dia anak-anakan. terima kasih informasi yang sangat menarik. Melihat TK-TK sekarang salah . . . . . Kaprah Subhanallah
Bolehkah Belajar Membaca dan Menulis Bagi Anak Usia Dini ? : biMBA AIUEO
Apr 12, 2013 @ 06:23:22
Mei 14, 2013 @ 04:44:09
Indonesia adlh satu ngra bsr. banyk ngr yg takut jk bangsa ini kelak maju dg cpt. karna itu dibuatlah teori abal2 yg husus buat indonesia. mereka tau org indonesia punya penyakit cynomania atau sangt mengagungkan produk asing.dg memanfaatkn inilh mereka ngatur melalui teori bahwa anak tk tidak blh diajar calistung.maksdx agar negara kt terlambat maju. supaya diketahui anak sd pun selama tiga tahun diberi pelajaran dg tematik.artinya anak tidak diajar dg spesifikasi mata pelajaran dg jls. yang kita sayangkan org2 pintr kita mau aja menerima teori abal2 itu.