Oleh: Satria Dharma | Februari 11, 2007

Anak TK Tidak Boleh Diajari Membaca?

Pagi ini ada acara silaturrahmi orang tua siswa sekolah anak kami dan salah satu acaranya adalah ceramah tentang pendidikan yang disampaikan oleh Prof Suharyadi dari UI. Ceramahnya disampaikan dengan sangat menarik karena beliau pandai berkomunikasi dan suka humor.

Tapi ada hal yang disampaikan beliau yang mengganjal pikiran saya. Sebetulnya saya pingin berdiskusi dengan beliau tapi beliau terburu-buru ada acara lain sehingga pertanyaan saya ini terpaksa saya lemparkan ke milis ini. Saya berharap bisa memperoleh jawaban.

Pada ceramahnya beliau mengatakan bahwa batas usia masuk SD yang ideal adalah 7 tahun. Yang menjadi pertanyaan saya adalah : Apa dasar penentuan usia tujuh tahun tersebut? There should be argument behind this. Sebenarnya pertanyaan ini sudah lama menggoda saya tapi belum pernah dapat jawaban yang memuaskan. Tentunya penentuan batas usia tersebut tidak muncul begitu saja tapi memiliki argumen di belakangnya. Mungkin ada teman milis yang bisa menjawabnya. Terus terang pada saat ceramah argumennya tidak muncul sehingga pertanyan ini kembali menggoda saya.

Selain itu ada pernyataan beliau yang juga menggoda saya. Beliau mengatakan bahwa jika ada anak yang sampai usia tujuh tahun belum bisa membaca maka para orang tua semestinya berbahagia karena itu yang benar. Pernyataan ini tentu saja sangat provokatif dan mungkin bertujuan untuk ‘menenangkan’ sebagian orang tua yang mungkin anaknya belum juga bisa membaca meski sudah berusia tujuh tahun. Saya sulit menebak kemana arah dari pernyataan tersebut dengan Sayang sekali bahwa tidak terjadi diskusi mengenai hal ini setelah ceramah tersebut.

Pernyataan lain yang juga saya anggap ‘provokatif’ adalah bahwa sebelum usia tujuh tahun anak jangan diajarkan untuk membaca karena akan membuat otak anak justru tidak bisa berkembang dengan optimal. Saya tentu tidak meragukan kemampuan intelektual beliau apalagi beliau adalah dosen UI dengan gelar professor tapi pernyataan semacam ini tentunya membutuhkan argumen yang bersifat akademis, yang sayangnya tidak muncul karena memang bukan forumnya. Saya terus terang jadi penasaran.

Penelitian tentang kecerdasan anak belakangan ini semakin lama semakin meneguhkan adanya masa ‘usia emas 1 s/d 5 tahun’ bagi perkembangan otak anak, baik otak belakang-muka, kiri maupun kanan dan orang tua yang meyia-nyiakan masa usia emas tersebut dianggap akan merugikan perkembangan mental anak di masa-masa berikutnya. Tentu saja pro dan kontra tentang ini sangat riuh-rendah dan banyak diantara kita yang bersifat ‘wait and see’ dan banyak yang bersikap ambil aman daripada terjadi apa-apa nantinya. Tetapi pernyataan bahwa anak baru siap dididik pada usia tujuh tahun bagi saya adalah ‘out of date’ dan patut dipertanyakan argumentasinya.

Pernyataan ini mungkin dipicu oleh keprihatinan dalam melihat betapa sekolah sebagai tempat belajar secara formal ternyata telah menjadikan proses belajar menjauh dari proses bermain yang sebenarnya merupakan sumber inspirasi dalam belajar bagi anak-anak. Anak-anak telah dipisahkan dari proses bermain yang merupakan wahana bagi mereka dalam belajar dan meningkatkan kecerdasan. Dengan menekankan rasionalitas dan logika semata dalam proses belajar , terutama pada anak-anak, memang akan mengerdilkan kemampuan anak dalam belajar. Anak-anak di Taman Kanak-kanak (Kindergarten) belajar melalui bermain. Bermain bukanlah konsep yang terpisah dengan belajar.

Pernyataan beliau bahwa otak belakanglah yang menentukan kecerdasan seseorang juga perlu dipertanyakan. Kecerdasan nampaknya lebih ditentukan oleh otak bagian depan, yang kita kenal dengan otak kiri dan otak kanan. Otak bagian belakang ‘cuma’ berperanan penting dalam mengatur pernapasan dan koordinasi gerakan tubuh, atau yang disebut dengan ‘kegiatan vegetatif’ (“Revolusi IQ/EQ/SQ : Antara Neurosains dan Al-Qur’an. Taufiq Pasiak hal 72). Menurut ‘Tiga Otak’ Paul McLean otak belakang termasuk dalam Otak Reptil (Batang Otak) yang memiliki fungsi motorik sensoris, kelangsungan hidup(makan, minum,reproduksi, tempat tingal), dan respon lawan atau lari (ibid. hal 134).

Mungkin yang dimaksudkan oleh beliau adalah bahwa keberhasilan dalam pemikiran dan akal dikemudian hari ditentukan pada tahap perkembangan motorik yang banyak ditentukan oleh otak belakang ini. Tahap perkembangan motorik memang memiliki pengaruh yang sangat besar dalam tahapan perkembangan dalam berbicara, membaca, atau pemikiran logis lainnya.

Satu hal lagi yang menjadi pertanyaan saya adalah ketidaksetujuan beliau terhadap anak TK yang belajar membaca. Meski ini bukan hal yang aneh tapi tidak jelas apa yang menjadi keberatan beliau. Apakah karena materi belajar membaca (mengenal huruf sampai bisa membaca kalimat dan paragraf) dianggap belum mampu untuk dicerna oleh intelektualitas anak sehingga dikuatirkan akan dapat membuat otak anak menjadi terforsir dan dapat menjadikannya kelelahan (fatigue) dan memperngaruhi perkembangan intelektualitas mereka kelak, ataukah proses dalam belajar membaca tersebut dikuatirkan akan menjadi begitu formal dan terstruktur sehingga seolah tercerabut dari dunia anak yang semestinya lebih kepada bermain, suatu proses yang ‘memaksa dan’membebani’ anak secara mental? Kita mesti jelas dalam hal ini agar kita tidak salah dalam menganalisa permasalahan. Sekedar mengingatkan, otak kita telah berkembang 80% pada usia 5 tahun dan dianggap telah mencapai sempurna 100% pada usia 8 tahun sehingga menunggu otak berkembang sampai sempurna dulu baru dilatih tentu merupakan hal yang mubazir.

Satu hal yang paling ‘mengganggu’ saya adalah pernyataan bahwa ada peraturan yang menyatakan bahwa anak TK TIDAK BOLEH diajar untuk membaca. Sayang sekali tidak jelas peraturan tersebut tercantum dimana karena tentu saja peraturan tersebut patut dipertanyakan. Apakah memang benar ada peraturan tersebut dan dimana kita bisa melihatnya?

Sekedar untuk menutup ‘uneg-uneg’ saya perlu saya sampaikan bahwa Prof. DR. Dedi Supriadi, Guru Besar Universtas Pendidikan Bandung, dengan tegas menjawab bahwa anak usia dini dapat diajari membaca, menulis, dan berhitung ketika ditanya pendapatnya tentang kontroversi bisa tidaknya anak usia dini diberikan materi pelajaran. Bahkan menurutnya anak usia dini dapat diajar tentang sejarah, geografi, dan lain-lainnya. Pertanyaannya bukan lagi apakah seorang balita bisa diajar membaca atau tidak tapi BAGAIMANA MENGAJAR ANAK BALITA MEMBACA. Di Jepang dan negara-negara maju lainnya anak-anak telah diperkenalkan untuk membaca sejak mereka masih Pra-TK dan kita yakin bahwa bangsa Jepang tentu tidak ingin ‘mengorbankan’ anak-anak mereka jika mereka tahu bahwa belajar membaca tersebut akan berakibat buruk bagi anak-anak mereka di masa depan.

Wallahu alam bissawab.

Komentar dan pendapat teman-teman saya harapkan.

Wassalam

SD


Tanggapan

  1. anak saya belajar membaca umur 4-5 tahun, sebelum masuk TK. Pingin sendiri, ayah dan ibunya juga “bosan” terus harus membacakan cerita untuk anaknya. TK umur 5 tahun sudah mulai bisa baca. Lha, anak saya kok nggak bodo-bodo amat. Kemarin ikutan test pra toefl sih di lembaga penyelenggara. hasilnya lumayan, dapat 643, padahal nggak pernah ikut kursus bahasa. Bapaknya nggak bisa ngajarin, karena cuma bisa basa medok daerah saja. Jadi, kesimpulan saya, biarkan anak memilih yang disukainya. Belajar membaca karena suka dan menikmatinya….

  2. Mungkin saja pak prof itu menyoroti pend. Tk yang kini kelewat batas, karena banyak TK yang membebani anak dengan ‘bacaan’ tak bermakna minus gambar ditambah diberi PR hitungan dan menulis sampai harus rapi banget…Coba aja tengok anak-anak TK sekarang. Sibuknya sudah kayak anak SD. Tapi…kalau pernyataan pak prof itu ditafsirkan langsung seperti apa adanya, saya juga ga setuju. Saya pernah baca, bahwa sejak dini..malah dari sejak bayi harus dikenalkan dengan bacaan. Tentu bukan membaca huruf..tapi diberi gambar-gambar menarik yang sesuai dg dunia mereka. Efek pengenalan itulah yang membuat mereka merasa perlu bisa baca sendiri. Jadi tak ada paksaan dan target tertentu. Yang terjadi skrg ..banyak SD yg ga mau nerima kalau lulusan TK belum bisa baca. Mgkn itu yang bikin pa prof buat pernyataan kontroversial.

  3. sekarang sudah ada cara mengajar balita membaca dan berhitung sambil bermain. orang tua pun hanya perlu waktu kurang dari 10 menit sehari untuk melakukan aktifitas ini. Cara yang fun dan membuat anak lebih cerdas dengan metode sangat sederhana. Silakan mampir ke kartupintar.blogspot.com

  4. Saya tinggal di Switzerland dan anak saya waktu ditaman kanak-kanak mendapat peraturan seperti itu, orang tua tidak diperbolehkan mengajar anak membaca atau menulis dan itu peraturan pemerintah loh. Tetapi anak saya sangat berkeinginan dan mencoba mengenal huruf dimasa taman kanak-kanak karena sejak umur setahun kami selalu membacakan buku untuknya dan juga pada usia 4 tahun kami membacakan buku cerita anak sebelum tidur. Di sini anak masuk kelas satu pada usia 7 tahun dan anak-anak yg memulai tanpa mengenal huruf dan angka sebagian besar menjadi masalah karena terlalu berat untuk anak tsb karena di TK hanya bermain. untuk sementara menjadi topik oleh pemerintah untuk mengenal huruf dan menulis sejak taman kanak-kanak. Pendapat saya sebagai ibu kita tidak boleh memaksa anak untuk belajar tetapi kita dapat mengarahkan anak untuk mengenal huruf dan angka serta belajar sambil bermain sehingga anak itu tidak merasa terpaksa, dimana paksaan atau tekanan menyebabkan anak menjadi pasif atau tidak kreatif. Pada saat disekolah mereka tidak dapat belajar berdiri sendiri sehingga selalu harus dibantu oleh orang tua, yang sebenarnya anak itu dapat belajar dengan sendirinya. Dan setiap anak mempunyai kepandaian yg berbeda beda karena antara aktif di otak kiri atau di otak kanan ada juga kedua-duanya. Bila anak semasa satu sampai lima tahun kita sebagai orang tua tidak boleh terlalu mengkritik atau melarang didalam hal yang positif. karena dapat membuat anak tersebut tidak termotifasi dan tidak kreatif. kita dapat mengarahkan anak untuk senang membaca dan menyukai masuk sekolah. apabila kita menyiapkan dan mengarahkan tanpa memaksa anak untuk belajar menghitung atau membaca anak akan termotifasi untuk bertanya akan keingintahuan dan anak tidak merasa terpaksa untuk mempelajari sesuatu. tanpa pengarahan juga membuat anak hanya bermain sampai usia 7 tahun ada efeknya anak tersebut tidak dapat duduk diam konsentrasi dan tidak tertarik terhadap sekolah dan merasa terbeban untuk belajar membaca, menulis dan menghitung. anak tersebut menjadi nakal dan motorik juga terlambat. pengertian didlm komunikasi juga terhambat. dan anak diusia satu sampai lima sangatlah berperan jangan dimanja denga materi atau kasih sayang yg berlebihan. anak diusia ini masa untuk memberikan kelembutan rasa nyaman, perhatian dan batas-batas dimana sebagai usia tersebut untuk belajar apakah diperbolehkan atau tidak, berbahaya atau tidak pada usia inilah sangat diperlukan dan banyak menjelaskan atau menerangkan karena anak dapat belajar tanpa dipukul atau dibentak. kemanjaan hanya membuat anak tidak hormat pada orang tua atau pada orang lain hanya membuat egois dan lemah. Sekian pengalaman saya sebagai ibu dg dua anak. Di eropa byk org tua yg tidak punya waktu untuk anak dan banyak anak yg dimanja dengan materi dan pada usia 1-5 tahun tanpa batas akibatnya banyak anak yang kurang ajar dan tidak hormat pada orang tua dan guru.
    dan banyak juga orang tua yang membirkan anak menonton TV dan Main Nitendo itu juga mempunyai efek sampingan tidak mempunyai perasaan/ rasa simpati. banyaknya kebrutalan pada usia remaja. menurut saya kunci untuk membuat anak lebih cerdas berilah perhatian dan kasih sayang lahir dan batin bukan dengan harta benda serta waktu untuk bersama-sama dan bukanlah orang tua yang berkuasa tetapi menjadi pantun untuk sianak.

  5. Sayang sekali tidak dijelaskan alasan akademis mengapa anak TK tidak boleh diajari membaca di Switzerland. Saya juga bertanya-tanya bagaimana orang tua kok DILARANG mengajar anaknya yang masih TK (dibawah 7 tahun) untuk membaca. Mana mungkin ada peraturan yang membatasi seperti itu? Mungkin yang dimaksudkan adalah agar orang tua tidak memaksakan anaknya untuk membaca. It makes more sense.

  6. saya seorang mahasiswa tingkat akhir yang saat ini kebetulan sedang melakukan brbagai macam penelitian untuk tugas akhir yang kebetulan memiliki tema yang sama.
    saya sangat setuju sekali apa yang pa prof utarakan. apa yang beliau katakan semua tedapat di dalam beberapa buku psikologi perkembangan yang merupakan hasil pemikiran dari tokoh tokoh-tokoh besar psikologi perkembangan anak seperti plato, piagiet, jhon amus commenius dan masih angat banyak tokoh tokoh terkenal lainya.
    jadi menurut saya anda sbaiknya mencoba membaca beberapa buku psikologi sbagai refeensi shingga unek-unek selama ini bisa terjawab.

    -terima kasih-

  7. Sebetulnya di Indonesia ini semua serba dilematis, disatu sisi tidak boleh, tapi disisi lain SD menuntut lulusan TK harus bisa membaca. Kebetulan saya mengajar di sebuah TK, dan itu terjadi di TK saya. banyak orang tua bingung Kebetulan TK saya tidak menekankan siswanya utk bisa membaca, tetapi ada yg perlu digaris bawahi bahwa TK saya memberi rangsangan kepada semua anak tentang huruf dan suku kata-suku kata, label atau logo dan hurufnya. kemudian memberitahukan mereka apa sich manfaat membaca, ketika anak sudah terstimulus, otaknya mulai terbuka sehingga dapat mudah menerima pemahaman akan perbedaan bunyi. Jadi mengapa di LN dilarang diajarkan membaca, karena membaca berkaitan dengan pemahaman logika, dan ini baru dimiliki oleh anak usia 6 s/d 12 thn. Tapi kita boleh memberi rangsangan dengan melalui tahapan2 sehingga anak tidak “belajar” tapi “bermain” tanpa sadar mereka akan paham perbedaan bunyi tersebut, yg merupakan gerbang awal utk membaca. Lebih bagus lagi kalau anak mulai diajarkan membaca iqro, karena disitu juga diajarkan perbedaan bunyi. Berdasarkan pengalaman, jika anak pemahamn iqronya bagus, maka membaca akan mudah dilakukan. Alhamdulillah di TK saya semua naka yg masuk jenjang TK B tanpoa sadar mereka sudah bisa membaca. Jadi kesimpulan saya kita sebagai ortu harus banyak memberi rangsangan tanpa anak merasa terbebani sampai mereka menyenangi dan paham bahwa membaca itu menyenangkan. selamat mencoba

  8. Assalaamu’alaikum
    Sebenanya sih sejak umu 1,5 tahun anak sudah bisa diajar membaca. Anakku umur 1tahun 10 bulan sudah tahu mana gambar kelinci, pepaya, nanas, sapi dll. Artinya anak sudah bisa membaca lambang. Huruf kan juga sebuah lambang to.
    Kami sedang mengembangkan metode pengajaran membaca (huruf latin) yang cocok untuk anak usia dini. Sebenarnya sih sudah diterapkan di paud dan tk temen, tetapi disini ada perubahan-perubahan.
    Intinya pengenalan bukan huruf per huruf, tetapi suku kata
    Salah satu contoh : a da ma ta
    namun di awal kita jangan langsung memaksa anak membaca kata. Tunjukkan dengan kartu atau board a, da, ma, ta. Di bolak-balik urutannya. Sehari cukup 5 sampai 10 menit (klasikal). Selanjutnya dikenalkan melalui permainan-permainan terintegrasi dengan kegiatan pengajaran di tk. Contoh, melompat. Buat 5 kotak di lantai dan ditulis suku kata a, da, ma, ta. anak duduk di kotak tengah, kemudian diberi aba-aba “lompat ke da, a dst.
    Dari pengalaman kami dan dalam waktu 3 bulan anak sudah bisa diberi bacaan (sesuai suku kata yang sudah dikenalkan). Ingat 3 bulan pertama tidak kita kenalkan ke buku, hanya lewat permainan-permainan.
    Alham dulillah buku panduan sudah hampir selesai disusun. Insya Allah akan kita cetak dan dipublikasikan supaya bermanfaat bagi orang banya

    Wassalaamu’alaium ww.
    Mas Djo

  9. email ku ingin tahu lebih banyak : kirim ke agrodjo@yahoo.com

  10. saya diajarkan membaca oleh ibu saya, saat saya dan adik saya berumur 5 dan 4 thn. kami sudah membaca saat usia tersebut. mungkin tujuan orang tua kami saat itu, (thn 1973 di Kal-Sel), adalah supaya kami bisa mendapatkan hiburan melalui membaca selain bermain bersama teman. dan itu berhasil.

    ibu saya memakai metode alm.Ibu Pakasi dari IKIP Malang, dan metode itupun saya terapkan ke anak2 saya, dan sekarang ke murid-murid di TK saya. (metodenya seperti yang Mas Djo utarakan). Buku beliau memang tidak dipublished. Yang saya tau TK Lab UM (Universitas Negeri Malang) masih menggunakan metode itu sampai sekarang.

    memang tuntutan orang tua dan SD sekarang adalah sudah bisa membaca sebelum masuk SD, tapi menurut saya, saat ini yang lebih penting adalah bagaimana membuat anak menjadi gemar membaca daripada hanya sekedar bisa membaca. 2 hal yang sangat berbeda.

    mungkin yang lebih penting adalah membuat buku-buku bacaan anak TK yang memiliki huruf yang besar, hanya terdiri dari 1 atau 2 kalimat dan gambarnya pun menarik..terus terang, saya kesulitan menemukan buku cerita yang ditujukan untuk anak yang baru bisa belajar membaca.

    saya sebagai guru TK, agak ‘iri’ dengan guru TK di ‘AS’ yang memiliki begitu banyak buku cerita sebagai referensi sesuai tema-tema yang ada dan enaknya lagi, buku cerita itu turun temurun dan terus ada.

    insya Alloh, setelah ini ada yang berminat membuat buku cerita yang saya maksud..amiiin.

  11. anak saya bisa baca umur 5 th saat kelas A membaca kalimat sempurna, penjumlahan dan pengurangan sampai 100 menggunakan alat bantu, membaca jam dengan benar. sekarang awal masuk tk B , anak saya sudah bisa mengerjakan sebagian soal2 anak sd klas 1. soal belajar biasa aja tp memang anaknya suka sekali dengan buku soal latihan atau buku buku lainnya. setiap pegang/belajar buku baru langung dikerjakan sampai lupa waktu tidak mau berhenti.salahkah anak saya ……??? Salah atau benar saya bangga pada anak saya.

  12. kunjungi blog saya juga ya

  13. Saya pernah membaca artikel kalau tidak salah judulnya cepat matang cepat layu, disitu dijelaskan banyak anak-anak yang begitu briliannya di masa anak-anak ternyata tidak sukses di masa dewasanya, berbeda dengan anak-anak yang dianggap bodoh seperti einstein yang baru bisa membaca di kelas 3 SD ternyata adalah seorang jenius. Jadi menurut saya seorang anak yang dijejali begitu banyak ilmu di masa kecilnya mungkin lebih cepat mengalami kejenuhan pada saat dewasanya. Setelah membaca artikel itu saya yang semula begitu bersemangat merangsang otak anak saya yang pertama laki-laki sekarang usianya hampir 9, dia masuk SD umur 5,5 tahun karena memang sebelum umur 4 tahun sudah bisa membaca lancar, menjadi melakukan hal yang berbeda untuk adiknya dengan lebih santai karena saya menganggap anak akan belajar dengan sendirinya karena ternyata adiknya perempuan tanpa saya rangsangpun dia akhirnya bisa membaca lancar pada umur 5,5 tahun. Perbedaan antara dua anak ini adiknya lebih mandiri dan percaya diri dibanding kakaknya, Saya tidak ingin berbuat salah lagi, saya tidak ingin membuat mereka seperti yang saya inginkan sebagai anak tetapi berusaha memahami keinginan mereka, sehingga setelah saya membaca artikel itu saya berusaha untuk membiarkan mereka melakukan sesuatu yang mereka sukai tapi yang positif, contohnya kakak lebih suka membaca komik, sedangkan adik lebih suka menulis-nulis. saya tidak mengikutkan mereka les pelajaran dan tidak mengharuskan mereka mendapat nilai yang bagus, yang terpenting bagi saya mereka tidak stress dan menikmati masa mereka sebagai anak-anak, saya tidak ingin membebani mereka. Saya anggap bahwa setiap anak memiliki jalannya masing-masing, saya tidak bisa memastikan bahwa mungkin si kakak yang lebih pintar (mungkin) akan lebih sukses dibanding adiknya, yang terpenting adalah mereka menjadi anak yang baik. Saya bangga dengan mereka apa adanya

  14. wah telat niy komentarnya. aku pernah baca di buku karya Jim Trelease judulnya Read Aloud Handbook. dan sepertinya anjuran tidak mengajarkan membaca hingga usia 7 tahun terkait dengan kebijakan Findlandia. senada dengan ibu Fatimah. tidak mengajarkan membaca bukan berarti tidak dibacakan sama orangtua loh ya.. justru itu yg penting. perihal itu anak jadi kepengen baca sendiri itu lain masalah. karena yg matter itu menumbuhkan MINAT baca bukan MAMPU membaca. mereka yang minat baca akan lebih bertahan di sekolah ketimbang yang ga..

  15. Memang secara teori, mengajarkan anak TK membaca tidak lah dianjurkan. pendidikan PAUD di Amerika tidak menekankan pada pembelajaran membacanya, tetapi pada pengembangan kemampuan berpikir dan kemampuan motorik anak. Namun karena sistem pendidikan di Indonesia yang salah kaprah, yang mengharuskan anak kelas satu SD sudah harus bisa membaca, maka mau tidak mau para guru TK mengajarkan membaca kepada anak didiknya. Saya juga tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar dalam hal ini……

  16. wah ini artikel bagus..krn komen2 yg masuk bermanfaat banget buat saya..
    saya termasuk yg sepakat bhw anak usia di bwh 7 th tdk boleh diajar membaca.. di Jerman ini sdh masuk undang2..kalo ortu/guru ngajar baca di bwh 7 thn, dia akan dikenal pasal kekerasan pada anak. Coba dialog dg mahsiswi Indo di Jerman: http://vitasarasi.multiply.com
    Dilemanya, kalo umur 7 blm bisa baca, masuk SD bisa kalang-kabut, kurikulum SD kan berat, kls 1 SD aja ujiannya membaca dan pake multiple choice..

    Pak Satria, blog Anda saya link ke blog saya boleh?

    • saya guru TK, sebenarnya saya berat mengajarkan membaca pada anak didik saya, karena kalau saya perhatikan mereka terlihat agak bosan jika diminta belajar membaca,walaupun hanya meng’eja suku kata,tetapi karena anak butuh bisa untuk bekal masuk ke SD akhirnya saya siasati waktu pengajarannya dan cara penyampaiannya,lewat permainan sesuai tema yang di ajarkan

  17. Thanks atas kunjungannya Mbak Dina. I enjoy your writing on Iran. Silakan link blog saya. It’s an honour.
    Kalau boleh saya ingin tahu isi dari UU di jerman yang melarang mengajar anak membaca sebelum usia 7 tahun tersebut, Mbak.
    Salam
    Satria

  18. Saya sependapat dengan mbak Dina bahwa anak di bawah umur 7 thn sebaiknya tdk diajari membaca. Ini merupakan perampasan hak asasi anak yang nota bene masih senang bermain. Hal ini terjadi pada pengalaman pribadi anak saya. Menjelang masuk SD saya memaksa anak saya untuk membaca dan berhitung untuk persiapan masuk SD. Akhirnya sekarang meskipun sdh SMP masih senang bermain dan prosentase belajarnya minta ampun….

  19. “berarti boleh donk bernanya”

    ajarkanlah anakmu sholat umur 7 tahun, dan jika sudah 10 tahun tidak sholat, “pukullah”.
    walaupun rasul sendiri tidak pernah memukul (CMIIW).

    apa dasar ilmiahnya rasul membuat hadist tersebut, 7 tahun, 10 tahun…..?

  20. Boleh dan tidak tergantung kondisi.

    Anak saya sekarang (7 Feb 2009) genap berumur 3 tahun dan tepat hari ultahnya dia sudah selesai Iqro’ 1. Saya sendiri yang mengajarinya bersama 12 orang temannya. Dia juga sudah hafal semua huruf-huruf baik yang capital maupun non capital. Bundanya yang mengajari. Semua atas permintaan anak saya sendiri. Yang jelas saya dan istri melakukannya dengan bermain dan humor. Jadi dia tidak merasa terpaksa atau dipaksa. Bahkan sering belajar sendiri sambil bermain. Dia lebih senang belajar dengan saya daripada bundanya karena saya lebih lucu dan variatif metodenya. Kalau bisa consistent, nanti ketika masuk SD 3 tahun lagi saya yakin dia sudah bisa membaca Alqur’an dan membaca bacaan-bacaan ringan dengan baik.

    Pengalaman lain, adik saya (sekarang sudah kuliah semester 6 di Unibraw) tidak pernah play group maupun Tk. Maklum tinggal di desa di kaki Gunung Semeru. Dia sudah bisa membaca dengan lancar ketika sebelum masuk SD. Saya sendiri dan orang tua tidak tahu kalau adik saya sudah bisa membaca huruf latin dan arab dengan cukup lancar. Konon guru mengajinya (teman SD saya) yang mulai mengajarinya sejak usia 3,5 tahun ketika mengajari Iqro sekaligus diberi huruf latinnya di buku Iqro tersebut. Alhamdulillah tidak pernah mengalami lelah belajar dsb. Kalau tidak salah dia tetap Ranking 1 sejak SD kelas 1 sampai Kuliah di Jurusan Teknik Elektro Unibraw saat ini.

    Konon Imam Madzhab Muhammad Bin Idris Asysyafi’i (Iman Syafi’i) sudah hafal Alqur’an pada usia 7 tahun dan masih banyak lagi ulama-ulama hebat nusantara maupun dunia yang sudah hafal dan hebat dalam membaca kitab-kitab tebal ketika usianya baru 7 tahun. Artinya mereka belajar membaca jelas sebelum usia 7 tahun.

    Wallohu A’lam

  21. kenapa anak TK kok ga boleh diajari membaca ?
    kalau memang anak tersebut bisa membaca gimana ?

  22. interest……..it’S a curious case, but there something inside this argument

  23. saya tinggal di arab saudi.anak saya pertama
    saya masukan tpa umur 3,5 tahun.waktu itu saya
    hanya ingin agar dia punya teman dan bisa bermain dgn teman2nya.tapi dia ga mau masuk kelas, apalagi untuk belajar.tapi kalau udah pulang ke rumah,dia banyak bertanya,apa ini, apa kata ibu guru tadi. terus saya jelasin,saya ajarin. sekarang dia 4,3tahun.udah hafal huruf abc dan huruf hijaiyah. sekolah indonesia di saudi arabia tidak di terima masuk sd ,kalau belum bisa membaca.

  24. saya seorang guru TK, terkadang susuah memang untuk mengajarkan anak TK bisa membaca, karena maunya main terus terkadang timbul dalam pikiran apa metode saya yang salah….(saat ini saya lagi belajar bagaimana menjadi guru yang bisa memotivasi anak agar minat bacanya timbul dengan sendiri). Walaupun alhamdululah saat ini mereka sudah bisa membaca semua dan berhitung…lagi2 karena persiapan masuk SD…

  25. waduh jadi kesimpulannya gimana pak?

    klu menurut saya sih… umur tidak jadi patokan… tk dan tidak tk juga buka patokan, buat anak-anak, belajar adalah bermain, bermain adalah belajar.

    patokannya (menurut saya lagi) adalah keingintahuan anak. apakah kita biarkan mengambang begitu saja? tentu tidak, keingintahuan bisa dirangsang dengan menunjukkan bahwa belajar bisa fun… (termasuk membaca)

    maaf, in my opinion, anak bisa “rangking” di sekolahan juga bukan patokan, meski bukan alasan untuk malas belajar. yang paling penting bagaimana merangsang kreatifitas, sehingga anak menjadi “ingin tahu”.

    kebetulan anak saya masih TK sih…. (ntar lagi SD), tapi disekolah (TK) malah sudah diajari komputer. saya liat anak saya juga pengen tahu seklai, yaw udah ikuti aja “kurikulum” TK …

    begini ceritanya:

    http://ekojuli.wordpress.com/2009/04/14/tk-jaman-sekarang-juga-diajari-komputer/

  26. tapi dgn anak yg blm bisa balistung malah tidak bisa masuk sd karena syarat msk sd hrs bisa balistung, jd pernyataan ini perlu diketahui oleh para bapak yth dilingkungan mendiknas terutama yg menangani pendidikan dasar supaya qta sbg ortu ga bingung n bisa menentukan sikap yg terbaik buat putra putrinya

  27. mungkin pernyatan MENGAJARKAN membaca bsa diganti dengan mengenalkan. agar kesanya tidak terlalu mengerikan untuk anak usia TK. pda dsrnya stimulus untuk perkembangan anak menurut saya hrs diberikan sedini mgkin. dengan tujuan hanya untuk merangsang perkembangan yang sedang berkembang pda anak.

  28. menurut saya itu gak perlu diberika argumentasi karena pernyataan tersebut adanya karena.
    1. Belajar membaca dapat diajarakan nanti ketika sudah masuk SD, dan belajar membaca adalah pelajaran otodidak yang dapat diajarakan nanti
    2.Perkembangan fisik lebih diutamakan,karena dengan pertumbuan fisik yang normal akan sangat membatu kecerdasan otak tidak untuk sekedar belajar membaca melainkan mempelajari apa yang telah dipelajari.

  29. KALAU SAYA SETUJU SEKALI BAHWASANYA SEORANG ANAK ITU SEBAIKNYA TIDAK DIAJARKAN MEMBACA SEBELUM 7 TAHUN, BAHKAN YG PERNAH SAYA DENGAR SEBAIKNYA DI USIA 8 THN ITU YG WAJAR. ANAK SAYA PUN SUDAH 6 THN BLM BISA MBACA DAN SAYA PD KRN MRASA TDK MFORSIRNYA DAN MRASA BRKEMBANG ALAMIAH. BNYAK SAYA ANALISA ORTU MRASA BANGGA ANAKNYA SDH BSA MBACA PADAHAL BARU BERUSIA 4 THN MISALNYA, TPI MUNGKIN ANAKNYA SDH STRESS.

  30. saya adlh salah satu guru TK yang dilembaga saya mengajar, ada selingan waktu untuk anak2 membaca tanpa tekanan. awalnya memang sayang melatih mereka yang sebenarnya bnayak wktu untk bermain tetapi dibebani membaca yang kadangkala membuat otak mereka berpikir dan efeknya pada usia 9 th mereka cnderung jenuh dengan materi belajar di sekolah. tetapi, tuntutan sekolah dasar mengakibatkan kami harus mengajarkan metode membaca dengan cepat mulai dari sekolah dasar. tes masuk sekolah dasar menuntut anak untuk bisa bercerita secara pasif dan aktif, bahkan ada yang menggunakan metode gambar lalu anak disuruh mengarang. Jika murid2 kami tidak boleh diajari membaca, akan diterima di sekolah dasar mana???


Beri tanggapan

Your response:

Kategori