Siang itu saya menemukan anak pertama saya yang mulai beranjak remaja mengenakan kaos baru. Warnanya perpaduan putih dan hijau dan bertuliskan “OSIRIS”. Iseng-iseng saya tanya apakah dia tahu apa arti “OSIRIS” itu. Dia menjawab, :”Tahu dong, Pak! Osiris itu Dewa Kehidupan orang Mesir. Salah satu dari tiga dewa penting selain Ra dan Isis.” Eh, ternyata dia tahu banyak (entah benar entah tidak). Tiba-tiba saya merasa cemas (or should I?).

Jika saya menggunakan logika mainstream Islam tentang betapa pentingnya menjaga akidah agar tidak rusak karena  tercemar oleh paham ketuhanan lain, meskipun oleh hal simpel semacam ucapan selamat natal pada umat nasrani, maka seharusnya saya cemas. Jika mengucapkan selamat natal kepada umat nasrani pun sudah dianggap dapat berpotensi merusak akidah kita maka semestinya mengenakan baju kaos OSIRIS yang, mungkin,  melambangkan pemujaan terhadap salah satu dewa kuno Mesir mestinya juga dapat merusak akidah anak saya. Jadi saya semestinya cemas. Bukankah masalah akidah adalah masalah yang sangat…sangat pokok dalam Islam?

Saya hampir saja menyuruh anak saya melepas dan membuang baju kaos tersebut demi menjaga akidahnya agar tidak tercemar ketika tiba-tiba saya merasa bahwa hal tersebut ‘ridiculous’ alias konyol. Tapi untuk meyakinkan apakah anak saya telah ‘tercemar’ atau tidak maka saya perlu menanyainya.

“Yubi, sayangku. Jika kamu tahu bahwa Osiris itu adalah salah satu dewa kuno orang Mesir, lantas kenapa kamu masih memakainya? (Tidakkah kamu tahu bahwa hal tersebut berpotensi untuk merusak akidah Islam kita?)”

“Emangnya kenapa sih, Pak?” tanyanya. (Anak sekarang sangat pandai menggunakan prinsip ‘you answer my qustion with question’. Sekarang situasinya terbalik. Justru saya yang ditanyai!)

“Kalau kamu menggunakan kaos bertuliskan Osiris, itu artinya kamu mendukung paham ketuhanan orang Mesir Kuno. Itu kan syirik. (Oh my! akhirnya keluar juga kata-kata ini) .”

“Ha..ha..ha..! Bapak ini aneh-aneh pikirannya.” Ia tertawa terkekeh-kekeh. Eh! Kok dia menganggap remeh masalah ‘akidah’ ini? Tapi saya belum menyerah. Saya harus yakin bahwa anak saya tidak ‘tercemar’ keyakinannya. Bisa berabe saya kalau ternyata dia sudah ‘tercemar’ oleh keyakinan orang Mesir kuno.

“Bapak mau tanya bener-bener nih, kenapa kamu pakai kaos OSIRIS tersebut?” tanya saya lebih lan jut sambil memasang ekspresi wajah serius. Anak saya agak keheranan dengan ekspresi wajah serius saya. (What’s so serious about it, Dad?)

“Ya, aku pakai karena aku suka kaos ini. Kaos ini keren, dan lagipula, kan Bapak yang belikan kaos ini?” jawabnya sambil tetap memasang wajah keheranan. :”Emangnya kenapa sih, Pak?. Ada apa dengan kaos ini? Apa hubungannya dengan syirik” berondongnya lagi. Now, I have problems to answer it.

“Nothing. Just curious.” Jawab saya ringan dan meninggalkannya berdiri terpaku keheranan. Alhamdulillah! Ternyata anak saya tidak tercemar oleh kepercayaan kuno Mesir. Artinya akidahnya tidak tercemar seperti yang kutakutkan. Nothing to worry about. Jika ada yang perlu disalahkan dalam masalah ini, maka itu adalah saya sendiri yang membelikan kaos bernuansa ‘syirik’ itu. Saya membelikannya karena nampak keren saja. Tidak terbayang waktu itu bahwa tulisan OSIRIS-nya akan menjadi masalah yang bersangkutan dengan ‘akidah’. Anak saya tidak bersalah sama sekali, apalagi tercemar akidahnya. Tidak…tidak…! Itu hanya ilusi saya saja. Mungkin sore ini saya perlu minum lemon tea dingin untuk menenangkan diri.
Besok hari Natal dan saya bisa beristirahat agak panjang. Merry Christmas ! And happy New Year, sekalian. Just in case saya tidak sempat mengucapkannya.

Balikpapan, 24/12/05
Satria Dharma