Saya punya sifat usil yang spontan dalam masalah membuang sampah. Jika ada orang yang membuang sampah; baik itu kertas tisu, kulit buah-buahan, atau apapun dari jendela mobil di depan mobil yang saya kendarai maka otomatis saya membunyikan klakson panjang sebagai bentuk protes. Bahkan ketika saya duduk di sebelah sopir saya masih ‘sempat’kan untuk memencet klakson ketika melihat ada orang yang membuang sampah dari jendela mobil di depan kami sehingga membuat teman yang menyetir keheranan. Setelah saya jelaskan baru ia paham mengapa saya ‘usil’ seperti itu. Tentu saja mobil di depan saya tersebut akan bertanya-tanya apa yang terjadi. Tapi saya amati ternyata beberapa orang sadar bahwa mereka ditegur gara-gara membuang sampah seenaknya. Kalau itu terjadi maka saya akan sangat senang karena sudah melakukan tugas saya sebagai ‘a good citizen’. Saya sungguh tidak tahan melihat orang dengan seenaknya membuang sampah seolah menganggap seluruh muka bumi ini sebagai tempat sampah.
Minggu lalu saya sedang ada urusan ke Madiun bersama istri dengan naik kereta Sancaka dari Surabaya. Di seberang tempat duduk kami duduklah sepasang suami istri beserta anaknya yang masih kecil. Hal yang sangat menyesakkan dada kami adalah dengan santainya sang suami ini membuang sampah baik ke lantai maupun ke luar jendela kereta api! Hampir saja saya meloncat dari kursi saya untuk menegurnya jika tidak dihalangi oleh istri saya.
Saya sebetulnya berniat untuk menegurnya seperti yang biasa saya lakukan selama ini tapi itu akan merusak ‘suasana’ padahal perjalanan kereta api kami minimal tiga jam. Paling tidak ada dua kemungkinan yang terjadi jika saya menegurnya. Ia akan menerima teguran saya dengan baik (menimbang penampilan dan jenggot saya yang sudah memutih) atau justru marah dan merasa diganggu privasinya. Ia bisa saja berkilah bahwa tidak ada larangan untuk itu. Memang tidak ada tulisan “Dilarang Membuang Sampah Keluar dari Jendela” di kereta tersebut sehingga ia bisa berdalih bahwa tidak ada hal yang ia langgar dalam hal ini.
Sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Madiun saya terpaksa menahan diri melihat mereka dengan begitu santainya melemparkan segala macam bungkus makanan, kulit salak, kulit jeruk, tisu, dll dari jendela kereta yang melaju kencang. Lantai dimana mereka duduk penuh dengan kotoran dan kami hanya bisa mengelus dada dan menahan gondol melihat ini. (Ternyata dua bangku di depan kami penumpangnya juga melemparkan sampahnya keluar dari jendela! Sigh!) .
Dalam hal ini saya menyesalkan manajemen PJKA yang tidak punya kesadaran untuk mendidik penumpangnya untuk tidak membuang sampah ke luar jendela KA. Tidak mungkin PJKA tidak tahu prilaku penumpang yang demikian ini dan semestinya mereka berusaha untuk mencegah prilaku buruk tersebut. Paling tidak buatlah tulisan untuk mencegah penumpang membuang sampah seenaknya seperti itu. Siapkan tempat sampah dimana penumpang dapat membuang sampahnya dengan tertib agar KA (dan sepanjang jalan yang dilaluinya) tetap bersih sepanjang hari. Jika ingin efektif kondektur dapat menyampaikan hal ini kepada penumpang setiap masuk ke gerbong dan memeriksa karcis. Saya tidak tahu mengapa hal sesederhana ini tidak dipahami oleh manajemen PJKA yang mestinya terdiri dari para intelektual tersebut.
Daripada gondok saya akhirnya membahas ini dengan istri saya.
Saya bertanya padanya apakah menurutnya orang-orang tersebut pernah bersekolah. ‘Tentu saja!’ Jawab istri saya. ‘Paling tidak mereka semuanya lulus SD. Itu minimal’, katanya. ‘Apakah mereka tahu perkalian dan pembagian 1 s/d 10?’, tanya saya lebih lanjut. ‘Tentu saja’, jawab istri saya. ‘Itu kan materi pelajaran di bawah kelas 3 SD. Kalau sudah lulus SD jelas mereka sudah mahir menggunakan perkalian tersebut dalam kehidupan sehari-hari sehingga tidak mungkin keliru lagi. Pengetahuan tentang perkalian dan pembagian sudah mereka pahami dan gunakan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Tapi apa hubungannya’, kata istri saya.
Jika perkalian dan pembagian telah mereka kuasai, kenapa perkara membuang sampah tidak mereka ‘kuasai’?. Mengapa masalah ‘membuang sampah di tempat sampah’ ini begitu sulit sehingga bahkan yang sudah sarjana pun masih ada yang tidak dapat ‘menguasai’ prilaku bersih tersebut? Kata saya menjawab pertanyaan istri saya. Istri saya ketawa dan tidak menjawab.
Itu artinya memberikan pengetahuan kepada seseorang jauh lebih mudah ketimbang menanamkan kebiasaan sehingga menjadi prilaku. Pengetahuan lebih mudah diajarkan ketimbang prilaku.
Itu juga artinya sekolah telah gagal menanamkan aspek prilaku (attitude) pada siswa-siswanya. Itu juga sebabnya mengapa Indonesia dilanda oleh berbagai bencana karena tidak memiliki prilaku yang dibutuhkan dalam mengelola alam dan lingkungannya. Orang yang tidak bisa mengaplikasikan pengetahuannya tentang berhitung akan langsung menghadapi masalah, terutama dalam hal transaksi keuangan. Tapi orang yang tidak bisa mengaplikasikan prilaku yang tepat (semisal membuang sampah di tempat sampah, tertib berlalu-lintas, jujur, bekerjasama, santun, tekun, dll) dalam kehidupan tidak mendapat dampak langsung darinya. Jika Anda tidak bisa perkalian dan pembagian maka Anda akan selalu kehilangan uang dalam bertransaksi, tapi kalau Anda tidak santun, tekun, tertib, dll maka Anda tidak akan mendapat dampaknya secara langsung. Di sekolah tidak ada nilai raport untuk itu. Padahal menanamkan prilaku yang benar agar dapat hidup di dunia modern yang semakin kompleks ini sangatlah penting dan bahkan prilaku yang baik lebih dihargai ketimbang pengetahuan yang tinggi dalam kehidupan sehari-hari.
Jika kita melihat proses pendidikan yang ada sekarang kita dengan mudah melihat bahwa sekolah telah gagal melihat esensi ini. Sekolah kita hanya menjejali anak-anak kita dengan pengetahuan semata dan tidak berusaha sungguh-sungguh dengan tugas pembentukan karakter dan prilaku baik pada siswanya. Di jalanan menuju sekolah anak saya, masyarakat, orang tua, dan bahkan guru tidak segan-segan melanggar larangan dilarang masuk dan jalan satu arah yang dipasang menyolok di ujung jalan maupun di sisi jalan. Mereka adalah orang-orang terdidik belaka tapi masalah prilaku mereka sebetulnya belum lulus. Hampir tiap hari saya bersikap ‘usil’ dengan menghentikan kendaraan mereka sekedar untuk mengingatkan bahwa jalan tersebut satu jalur dan mereka telah melanggar peraturan lalu lintas. Berhenti…? Tidak. Bahkan saya yang mungkin memutuskan berhenti untuk mengingatkan mereka.
Kenapa bisa terjadi kegagalan penanaman prilaku di sekolah? Karena kita lebih suka pada kulit ketimbang esensi, angka-angka ketimbang nilai-nilai, yang tangible ketimbang yang intangible, material ketimbang spiritual, dst. Lihat saja UNAS tersebut. Kita lebih suka anak-anak kita ‘naik’ nilai ujian tulisnya ketimbang perduli pada rusaknya moral guru, siswa dan semua yang terlihat dalam proses UNAS tersebut. Biar saja orang semakin curang di UNAS yang penting angka UNAS bisa naik tahun ini. Dengan demikian kita bisa berbangga diri bahwa kualitas pendidikan kita semakin tahun semakin baik dan sebentar lagi kita akan setara dengan negara-negara maju. Greaaat…!
Agar saya tidak semakin nyinyir maka sebaiknya saya berhenti sampai disini.
Balikpapan, 27 Februari 2008
Satria Dharma




Hi om Satria…
numpang mampir buat baca-baca sebentar ya….
salam kenal
Jadi semangat lagi nih ketika baca tulisan om Satria, at least I know I’m not alone…akhirnya ada juga yang merasakan hal yang sama bahwa:
Buang sampah pada tempatnya dan taat peraturan lalu lintas itu ‘normal’…!!!
hehehe
dunia emang udah kebalik
maklum, selama ini aku sering dianggap ‘ga normal’ ama temen-temen karena bela-belain kalo buang sampah harus ditempatnya dan paling ogah melanggar peraturan lalu lintas…hehehe
thanks for the writing
semangat!
Oleh: nila on Februari 28, 2008
at 2:58 am
Thanks for mampirnya, Nila! Tentu saja kita tidak sendirian. Banyak orang yang perduli dengan kebersihan dan tertib berlalu lintas. Tapi mungkin yang tidak perduli juga masih banyak sehingga masih banyak terlihat prilaku tersebut.
Keep fighting ya!
Salam
Pakde Satria
Oleh: Satria Dharma on Februari 28, 2008
at 8:21 am
Pak satria,
Sekedar berbagi pengalaman.
di Jepang sampah pembuangan di bagi menjadi 4-5 jenis.
- sampah basah/ bakar dalam plastik berlogo merah (seminggu ada 2 jadwal pembuangan)
- sampah plastik/ tidak bisa di daur dalam plastik biru (seminggu 1x)
- sampah kertas/kotak susu/ kardus dalam palstik hijau (seminggu 1x)
- sampah beling/botol/ kaleng (seminggu 1x)
(sabtu-minggu libur)
Dan dalam sebulan ada 1x pembuangan sampah besar spt sofa bekas, lemari kayu bekas dan alat elektronik bekas. Dimana utk sampah besar ini kita harus beli tiket ke pemda setempat yang nilainya disesuaikan dengan jenis barang. Lalu stikernya di temepl di benda yg akan dibuang dan barulah diangkut oleh petugas pemda. (yg tidak ditempeli stiker tidak diangkut)
Awalnya buat saya susah juga memisah sampah seperti ini, mungkin yg rajin suami ngkali krn tugas dia emang ngurus sampah..^-^
Nah, kenapa ini bisa berjalan, ya itu tadi..kembali ke attitude manusia nya dan juga pemahaman serta sosialisasi gencar ttg apa bahaya, dan apa manfaat dari pembuangan sampah ini. Jadi knowledge nya itu semua disosialisasikan dulu secara bertahap.
Nah masalahnya kenapa org Indonesia yg sedang disini ko mudah banget ngikutin aturan ini, nahh..faktor lingkungan yang mendukung dan juga kesadaran bahwa denda yang berlaku sangat strik dan pasti!. selain sebagian juga krn malu membawa nama negara.
Hmm…saya jadi teringat rekan saya Dr. Anto Satryo Nugroho, beliau orang BPPT yang kebetulan lamaa banget di sini. Membaca blog beliau bagaimana dia sampai harus setengah membentak ketika pesawat yang ditumpanginya dari Jakarta belum lagi landing di AdiSumarmo, para penumpang langsung sibuk nyalain Hp nya padahal sinyal dari HP itu membahayakan dan bisa mengganggu sistem komunikasi pilot dsb.
kayaknya persis deh dengan pak Satria ini. Keliatannya galak tapi yah emang kudu gitu lho pak..^-^. Karena saya yakin orang seperti pak Satria or pak Anto Satryo itu melakukannya bukan karena iseng hehe tapi justru karena paham dengan ilmu nya dan Pe-de untuk menyampaikannya pada orang lain.
Jya..watashimo ganbaritai to omoimasu!! (saya pun ingin mencoba untuk lebih baik lagi, InsyaAlloh)
Salam,
nining
Oleh: Nining Thea on Februari 28, 2008
at 9:15 am
Yth Para Milis
Saya sangat setuju dengan cara Mas Satria.
Saya juga ingin mengajak kepada seluruh milis yang pada umumnya adalah guru, mengajak seluruh siswanya untuk memulai peduli terhadap sampah karena sampai ini telah menjadi permasalah yang besar di negeri yang tercinta ini, dengan cara misalnya setiap satu minggu satu kali diadakan gerakan pembersihan sekolah, rumah dan lingkungan sekitarnya dan mencoba memisahkan jenis-jenis sampah, sampah Organik dipisahkan dengan sampah Anorganik.
Seandainya di sekolah saudara mempunyai 500 siswa maka sudah lima ratus orang yang peduli dengan sampah, lalu 500 siswa ini mempunyai dua orang tua aagar di ajak untuk peduli juta terhadap sampah oleh si siswa, maka yang 500 siswa ini sudah menjadi 1.500 orang dan seterusnya.
Trim
Oleh: Dadang Sukmana on Februari 28, 2008
at 9:21 am
Setuju. Saya juga suka membuang sampah di dalam tas
tangan bila tak menemukan tempat sampah. sampai rumah
tas tangan harus dibongkar. Pernah juga sih, daun
lember tersimpan semalam:). Mobil juga lumayan jorok
bila sehari saja tak menurunkan sampah-sampah. seorang
saudara dari Ambon yang menginap di rumah 2 bulan,
heran melihat kelakuan saya. apalagi kalau di mobil
dia buang kulit jeruk keluar jendela. dia kena marah
suami saya. dia heran, “Di Ambon gak apa-apa,”
katanya.
Di rumah saya juga suka eker-eker tempat sampah kalau
tamu atau anggota keluarga salah masukkan sampah.
tempat sampah sudah dipisah: kertas, kaleng dan
plastik, organik. masih aja anak-anak buang gelas aqua
di sampah organik. saya eker-eker, saya pindah.
“Ngapain sih bu?” tanya mereka.
“Kasihan pak pemulung nanti eker-eker di tempat sampah
atau di TPA. lebih baik sudah kita sendirikan, jadi
bersih.”
“Mengapa ibu repot-repot amat mengerjakan pekerjaan
pemulung itu?”
“Ibu ingin dia cepat membawa gelas-gelas plastik
bersih ini ke pabrik, uangnya bisa untuk bayar sekolah
anaknya. Kalau campur aduk di sampah organik, repot
dia. kalau dia gak mau repot, dan gak mau ambil gelas
plastik kotor, maka bumi kita harus susah payah
melumat plastik itu di tengah-tengah sampah organik.
kalau tak terlumatkan, mengganggu stabilitas bumi,
sementara pabrik-pabrik harus memproduksi lagi
plastik-plastik yang mestinya bisa didapat dari daur
ulang gelas aquamu yang kau buang sembarangan ini.
pokoknya jadi repot semua deh ….”
sirikit
Oleh: Sirikit on Februari 28, 2008
at 1:19 pm
Pak De
Assalamualaikum WR WB
Sebenernya kita semua ini paham akan itu semua, namun sepertinya pura2 tidak tau aja dgn alasan “merepotkan” demi kepentingan pribadi. Padahal kita ini udah pinter2 semua lho, tp kok kelakuannya seperti anak2 aja. Emang sih budaya untuk berprilaku tertib taat peraturan udah mulai jd langka. Terkadang “Si pembuat” peraturannya pun melanggar apa yang telah dibuatnya.
Klo menurut saya sih semua itu tinggal pribadi kita masing2, karena di dalam benak kita pasti tau mana yang baik dan mana yang buruk untuk dilakukan.
“Mulailah dari diri kita masing2 sebelum menyuruh orang.”
Wa alaikumsalam WR WB
Muchamad Amin
Oleh: Muchamad Amin on Maret 2, 2008
at 5:21 am
Salam,
Aq baru baca blog anda, soalnya baru tahu dr Mr. Bambang. Soal orang2 yg buang sampah sembarangan emang perlu ditegor tuch. Saya sendiri sering melakukannya (buang sampah), kadang tanpa sadar dan justru lebuh banyak sengaja. tapi setelah baca artikel anda, saya jd merasa bersalah. Thanx alot udah ngingetin.
Oleh: norma on Maret 24, 2008
at 8:55 am
Salam Pak. Wah, tulisannya pas sekali dengan yang saya risaukan saat ini. Saya paling cerewet jika melihat murid-murid membuang sampah sembarangan. Sayangnya, beberapa rekan melakukan hal yang sama. Duh, gemas Pak.
Oleh: enggar on April 22, 2008
at 3:03 pm
Bapak Satria
Saya menanamkan ke anak-anak saya(ada 2 orang) sejak usia 2 tahun kalo yang buang sampah sembarangan adalah seorang penjahat. dulu mereka bertanya kenapa mah…jawaban saya seperti yang bapak tulis . dan pernah ada teman saya buang sampah sembarangan kemudian anak saya bilang ketantenya kalo dia seorang penjahat…mungkin saya keterlaluan tapi sampai sekarang anak2 saya selalu bawa sampah kerumah klo tdk ketemu tmp sampah..
mungkin semua itu harus dari hati kita sendiri …guru ,pemerintah atau siapapun kalo memang bukan hati yang menggerakan mana mau tangan bekerja untuk buang sampah sembarangan…..suami saya saja masih suka buang sampah sembarangan……(cape deh ngomongnya ke dia)
Oleh: fetiek on Oktober 29, 2008
at 9:33 am