Oleh: Satria Dharma | Maret 29, 2008

“Terima Kasih Kakak, Sudah Menggorengkan Aku Kentang.”

Sore itu Yufi, anak kedua saya, sedang sibuk di dapur bersama Tara, adiknya. Mereka rupanya sedang menggoreng potato nuggets untuk makan sore. Yufi memang diminta oleh ibunya untuk mengubah jam makan malamnya menjadi makan sore saja. Menurut ibunya hal tersebut akan membantu dietnya. Yufi memang kelebihan berat badan sejak lahir dan sungguh sulit untuk membuatnya melakukan diet. Sebaliknya, Tara selalu sulit makan dan harus ditunggui agar dapat menyelesaikan makannya. Jika tidak ia hanya akan makan setengah dari porsinya yang kecil tersebut dan meninggalkan sisanya di piring. Mereka berdua adalah kebalikan satu sama lain. Yufi bertubuh tambun, kelebihan berat bedan, sedangkan Tara bertubuh kurus kecil dan kekurangan berat badan. Kami sering bergurau agar Yufi memberikan kelebihan berat badannya tersebut pada Tara.

Saya sebetulnya merasa agak surprised dengan mereka sore itu. Mereka nampak rukun dan saling membantu. Biasanya mereka selalu bertengkar untuk berbagai hal kecil. Yufi selalu saja mencari cara untuk bisa mengganggu adiknya dan Tara selalu saja merengek dan berteriak karenanya. Tapi tidak sore itu …

Mereka bekerjasama dan bergurau laiknya kakak beradik yang saling kasih mengasihi. Melihat Yufi menggoreng kentang dan Tara mempersiapkan piring sambil bercakap-cakap dengan gembira sungguh membuat hati saya merasa bahagia.
Yufi menyayangi adiknya. Dengan caranya sendiri tentunya. Jika ia mengganggu dan menggodanya sebetulnya merupakan caranya untuk berkomunikasi dengan adiknya. Sayang sekali bahwa Tara tidak suka dengan cara berkomunikasi tersebut.  ;-)   Alhasil mereka selalu bertengkar. Dan kami selalu berusaha untuk melerainya. Tapi tidak sore itu …

Setelah selesai menggoreng, mereka kemudian mengambil nasi di rice cooker dan duduk di meja makan berdua. Mereka tidak sadar jika saya memperhatikan mereka. Ketika mereka telah siap untuk makan, Tara kemudian berkata,:”Terima kasih Kakak, sudah menggorengkan aku kentang.” Yang kemudian dijawab oleh Yufi, :”Sama-sama, Tara. Terima kasih juga sudah mengambilkan piring.” Dan mereka makan berdua dengan lahap dan gembira.

Hati saya langsung terasa ‘mak nyes’! Rasanya seperti melambung naik ke langit ke tujuh! Saya sungguh merasa berbahagia melihat bagaimana prilaku mereka. Mereka saling menghargai satu sama lain dan mau mengucapkan terima kasih. Ucapan terima kasih Tara itu terasa begitu tulus dan tidak dibuat-buat. Yufi juga menerima itu sebagai ungkapan yang tulus dan juga membalas dengan sama tulusnya. Saya sungguh merasa berbahagia sebagai orang tua mereka. Tidak sia-sia rasanya saya mengajari mereka untuk berterima kasih.

Seandainya ada yang bertanya pada saya apa yang telah saya ajarkan pada anak saya, maka dengan penuh percaya diri saya akan menjawab,:”Saya telah mengajarkan pada mereka untuk berterimakasih pada orang lain.”

Sore itu saya merasa seperti berada di sorga.

Balikpapan, 29 Maret 2008
Satria Dharma


Tanggapan

  1. Menuai keindahan yang menakjubkan dari sebuah teladan.
    Salam buat Tara. Tara kalau masih malas makan nanti tambah besar tambah kurus. Kalau kurus terlihat seperti nenek-nenek lho. Padahal kamu cantik. Aku saja meskipun sudah tua tidak ingin tampak seperti nenek-nenek, apalagi kami tentunya. Ya kaan… Salam.
    Salam juga buat Yufi. Yufi, kamu memang harus diet. Karena kalau tidak dengan bertambahnya umur kamu, kamu akan sulit menurunkan berat badan kamu. Kalau kamu tambah gemuk gantengnya hilang deh… Kamu akan tampak seperti bapak-bapak lhu nanti, padahal kamu masih remaja. Ya kaan…. Salam.

  2. Terima kasih banyak atas nasihatnya, Tante Lia!
    Will try.
    Yufi dan Tara

  3. keunggulan memang soal kebiasaan, bukan soal sebuah perbuatan semata. jadi, kalo mo unggul, memang perlu dibiasakan. gitu katanya aristoteles. ;) jadinya, buat tara dan yufi (dan yang satu lagi itu?) marilah kita membiasakan diri untuk membuat orang lain nyaman dengan keberadaan kita supaya kita ga ngrasain bete kalo urusan sama orang lain. kan, semua orang maunya idup nyaman. ;)

    aturan main yang berlaku adalah “be kind to everyone”. jadi, kita bole ngapain aja sesuka kita, selama ga ada orang yang terganggu ato bete ato dirugikan oleh ulah kita itu.

    salam,
    ge

  4. Cak Toge,
    Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di blog saya.
    Saya tunggu buku Sampeyan berikutnya.
    Salam
    Satria

  5. waduh… agak kurang setuju sama pendapat tante lia….
    Yufi jadi lah anak yang berbahagia.
    Sering-sering beraktivitas yang mengeluarkan tenaga.
    Bukan cuma main PS aja.
    Pergilah berenang ato maen bola sama keluarga tiap minggu.
    Makan sorenya juga jangan potato nuggets,,, kayaknya sama ajah pak…hehehe….
    Konsultasi ke dokter aja dulu, apa Yufi perlu diet ato tidak…

    Hal lainnya, saling menghargainya oke banget. Terus dipelihara ya dek…..

  6. Salam,
    Saya jadi terharu,… yufi dan tara mengingatkan saya pada anak-anak (syahra dan javad). Yang kecil (2,6 th) mulai usil ke mbaknya (5,6 th) dan sering membuat mbaknya menangis, … tiada hari tanpa keributan anak-anak. Ditengah kehebohan anak-anak yang berebutan, menangis dan berteriak, saya selalu melihat pandangan sayang dari keduanya. Rupanya mereka selalu senang bisa membuat kakak atau adeknya menangis, namun setelah itu mereka jadi punya cara untuk memperbarui sayangnya dengan bersalaman dan berpelukan, dan tambah mesra dengan bergandengan tangan.
    Saat mereka tidak bersama syahra selalu bertanya, adek sedang apa ya bunda, begitupun sebaliknya. Dan kalau sedang jalan-jalan mereka selalu mau berdua saja.
    Anak-anak selalu bangga untuk menolong, dan seperti musik yang indah saat mendengarkan anak-anak mengucapkan ‘tengkiu mbak’,.. terasa hidup begitu damainya.
    Betapa Allah SWT maha penyayang, memberikan kita suatu kebahagiaan hanya dengan melihat anak-anak saling mengasihi, berbagi dan berterimakasih.
    Saat nabi Muhammad SAW merindukan syurga beliau akan mencium fathimah, Benar sekali pak satria, melihat anak-anak seperti melambungkan kita ke syurga.

  7. thanks.. :)


Beri tanggapan

Your response:

Kategori