Sebagai seorang guru yang telah berpindah-pindah tempat mengajar sejak tahun 1978 dan belakangan bekerja sebagai konsultan pendidikan saya banyak berkeliling melihat berbagai jenis sekolah baik di tanah air dan juga di luar negeri. Dari sekian banyak sekolah tentu saya melihat banyak sekolah bagus maupun sekolah buruk. Saya pernah melihat sebuah sekolah dasar di daerah terpencil di Kalimantan Timur yang hanya memiliki satu guru dan celakanya hanya lulusan SD! Hanya dia satu-satunya orang yang bisa dimintai jasanya untuk menjadi guru karena penduduk yang lain sibuk ke laut sebagai nelayan. Saya juga pernah mengajar di sebuah sekolah internasional dengan faslitas yang begitu ‘wah’ yang bahkan buku-buku dan pensilnya diimport dari Amerika. Kami tinggal memilih di katalog apa saja yang kami inginkan dan selanjutnya barang-barang tersebut akan datang ke sekolah kami. Kami bisa minta hampir apa saja! Saya sendiri memesan banyak buku referensi bagi guru tentang metode pembelajaran yang mutakhir. Saya tinggal conteng-conteng buku di katalog yang saya inginkan dan semua buku yang saya minta tidak pernah ditolak. Kami memang bebas untuk meminta apa saja materi, alat dan bahan-bahan pelajaran, buku-buku siswa maupun penunjang bagi bidang studi yang kami ajarkan masing-masing. Tapi ketika kepala sekolah ingin pesan ‘clay’ alias tanah liat dari Amerika untuk bahan pelajaran membuat keramik (kami punya peralatannya lengkap), saya langsung memrotesnya. ‘We don’t need clay from the States, we have plenty here’ kata saya mencegahnya memesan tanah liat import. Gila apa! Masak tanah liat aja mesti impor dari Amrik! Meski saya hanya guru bahasa Indonesia dan ia kepala sekolah tapi protes saya ia dengarkan dan ia turuti. Itu enaknya bergaul dengan expatriates karena mereka tidak otoriter. Jika argumen kita benar maka ia akan mengikuti kita.
Hampir semua sekolah di luar negeri (Sabah, Sarawak, Kedah, Kuala Lumpur, Singapura, dan Australia) menimbulkan rasa kagum dan iri di hati saya. Jelas bahwa negara-negara tersebut telah melakukan reformasi dalam bidang pendidikan mereka sehingga berada jauh di atas sekolah-sekolah kita kualitasnya.
Meski demikian ada dua sekolah yang menurut saya kualifikasinya ISTIMEWA (kebetulan keduanya di Indonesia). Kedua sekolah ini telah menunjukkan prestasi yang luar biasa dalam upaya mendorong siswa mereka mengolah potensi diri masing-masing to the fullest potential. Kedua sekolah yang saya beri penghargaan ISTIMEWA tersebut adalah : SMP Alternatif Qaryah Tayyibah di di desa Kalibening Salatiga, Jawa Tengah (dimana saya pernah menitipkan anak saya selama satu bulan belajar disana dan ia sangat menikmatinya) dan satunya adalah SMKTI Airlangga di Samarinda, Kalimantan Timur.
SMP Alternatif Qaryah Tayyibah sering saya ulas di berbagai milis. Ini beberapa diantaranya :
http://satriadharma.com/index.php/2007/11/29/konferensi-guru-indonesia-2007/
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=5805&post=15
http://groups.yahoo.com/group/cfbe/message/26725
http://groups.yahoo.com/group/cfbe/message/27192
http://groups.yahoo.com/group/cfbe/message/26726
SMKTI Airlangga Samarinda yang web resminya adalah : http://smka-smr.sch.id/ atau di : http://id.wikipedia.org/wiki/SMKTI_Airlangga ini hampir tidak pernah saya ulas karena kebetulan sekolah ini di bawah yayasan Airlangga yang kebetulan saya salah seorang pengurus dan pendirinya. Kalau saya ulas nanti dikira saya pamer atau berpromosi. Padahal saya samasekali tidak terlibat dalam manajemen sekolah ini dan sepenuhnya dikelola oleh para staf manajemen di Samarinda.
Saya sebut ISTIMEWA adalah karena meski gedung sekolah dan kelas-kelas SMKTI Airlangga sangat kecil dan mirip ‘kotak sabun’ tapi prestasinya luas biasa. Sekolah yang disindir sebagai sekolah ‘kotak sabun’ dan kayak lorong penjara oleh Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Kaltim ini (baca http://groups.yahoo.com/group/cfbe/message/34545) hampir selalu meraih juara dalam lomba LKS tingkat Nasional. SMK TI Airlangga secara konsisten merajai bidang lomba TI di provinsi Kaltim sejak tahun 2004, serta secara konsisten pula mampu meraih prestasi baik di tingkat nasional. Suatu saat mungkin mereka bisa maju ke tingkat internasional. Berikut ini adalah catatan prestasi mereka :
Juara 4 Nasional pada tahun 2004
Juara 2 Nasional pada tahun 2005,
Juara 3 Nasional pada tahun 2006,
Juara 1 Kaltim pada tahun 2004,
Juara I Kaltim pada tahun 2005,
Juara I Kaltim pada tahun 2006,
Juara I Kaltim pada tahun 2007, dan
Juara I Kaltim pada tahun 2008 dengan 3 emas dan 1 Perak.
Pada LKS SMK Kaltim 2008 di Balikpapan dari 4 kategori lomba teknologi informasi SMK TI Airlangga mengirimkan 4 siswa unggulannya untuk bertanding di ajang paling bergengsi tersebut. Hasilnya luar biasa, nyaris sempurna, 3 emas dan 1 perak. Sekolah-sekolah SMK Negeri terbaik di Kaltim yang bahkan sudah berstatus SBI dan berstandar internasional ISO ternyata tak mampu mengimbangi prestasi sekolah yang disebut oleh Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Kaltim sebagai ‘sekolah kotak sabun’ tersebut.
Apa hebatnya sekolah ini selain langganan juara? Sekolah ini memang ‘Sekolah para Juara’ dalam artian yang luas, selain memang langganan juara dalam lomba LKS (Lomba Ketrampilan Siswa) tingkat Propinsi dan Nasional.
Siswa di sekolah ini benar-benar haus ilmu dan saling berlomba untuk menguasai berbagai ilmu yang diajarkan (atau pun tidak) oleh para gurunya. Jadi seperti siswa di SMP Qaryah Tayyibah, para siswa benar-benar didorong untuk menumbuhkan potensi dirinya seluas-luasnya. Kalau di Qaryah Tayyibah ada Kang Ahmad Bahruddin sebagai kepala sekolah maka di SMKTI Airlangga ada duet Pak Sigit Sigalayan dan Pak Adriyanto. Pak Sigit dan Pak Adri ini sama-sama jebolan ASTRA. Pak Adri adalah lulusan Fulbright dari Amrik dan anggota milis kita. Tapi beliau selalu begitu rendah hatinya sehingga tidak pernah mau menyampaikan apa-apa saja inovasi dan kreasi yang mereka lakukan di sekolah SMTI Airlangga.
Satu hal yang membuat saya tercengang ketika berkunjung ke sekolah tersebut (SMKTI ini di Samarinda dan saya tinggal di Balikpapan) belakangan ini adalah kemampuan para guru dan pimpinan sekolah untuk memacu siswa berlomba meraih ilmu dan pengetahuan.
Ketika saya kesana saya ditunjuki profil siswa yang ditempel di papan sekolah. Profil yang dibuat oleh siswa sendiri tersebut ada foto dan data-datanya. Selain foto dan data ada kolom tentang berapa lama mereka telah bergabung. Disitu tertulis : Telah bergabung dengan SMKTI Airlangga selama … bulan/tahun. Lalu ada kolom : Program dan materi yang telah saya kuasai selama ini adalah : …. . Jadi siswa harus menuliskan apa-apa saja materi dan program yang telah mereka kuasai selama bersekolah di SMKTI Airlangga. Selain kolom materi yang telah dipelajari ada kolom yang berisi : Materi/program yang AKAN saya pelajari pada semester ini adalah : …. Jadi mereka harus menuliskan apa materi dan program yang hendak mereka pelajari pada semester tersebut.
Kolom yang paling membuat saya kagum adalah kolom tentang : Cita-cita saya setelah keluar dari SMKTI Airlangga adalah : … dimana mereka harus menuliskan visi dan tujuan hidup mereka dengan jelas secara operasional setelah kelak lulus dari SMKTI Airlangga. Jadi mereka harus benar-benar tahu apa yang akan mereka tuju dalam belajar di SMKTI Airlangga dan apa yang hendak mereka raih setelahnya. Saya melihat bahwa mereka benar-benar mengejar apa cita-cita dan target jangka pendek dan panjang mereka! Bagaimana tidak lha wong ‘ikrar’nya sudah mereka tulis dan pampangkan di papan umum dan semua orang membaca apa yang hendak mereka lakukan dan tuju! Kalau dalam satu semester mereka tidak menambah materi atau program yang mereka kuasai maka itu berarti ia tidak melakukan apa-apa dalam semester itu dan itu tentu sangat memalukan bagi siswa. Ingat bahwa semua siswa menuliskan ikrarnya tentang apa saja yang akan mereka pelajari dalam semester ini. Setiap siswa tahu apa target siswa lainnya dan mereka bisa melihat apa saja yang telah diraih oleh siswa lainnya. Bayangkan kalau kita berada dalam situasi itu. Kita pasti juga tidak ingin menjadi the only looser in the gang dan akan melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Jadi siswa benar-benar didorong untuk berkomitmen pada dirinya sendiri. Tidak bisa tidak SETIAP SISWA pasti akan memiliki jiwa dan semangat pemenang dalam situasi tersebut. Saya sungguh belum pernah melihat sekolah lain yang seperti ini. Konsekuensinya, para siswa ini bukan hanya senang berlama-lama di sekolah tapi mereka bahkan menginap di sekolah kalau ada proyek! Sekolah ini benar-benar 24 hours kayak toko 7 Eleven saja. Kebetulan sekolah tersebut sudah menggunakan jaringan internet 24 jam dan siswa benar-benar memanfaatkannya.
Mengapa saya katakan ini sekolah ISTIMEWA? Disamping bahwa gedung sekolah ini dibangun di atas tanah berstatus kontrak yang kecil (dan sebenarnya tidak layak untuk dijadikan sebagai sekolah), kelas-kelasnya juga kecil dan hanya muat sekitar 20 an siswa per kelasnya. Gedungnya berlantai dua dan dibangun seefisien mungkin sehingga memang agak sempit dan tidak menyisakan ruang luang sedikit pun. Itu sebabnya kepala Dinas Pendidikan Propinsi Kaltim menyindirnya sebagai sekolah ‘kotak sabun’ dan lorongnya seperti penjara. Selain itu, siswa yang masuk ke sekolah tersebut bukanlah siswa-siswa pilihan atau siswa-siswa kelas menengah atas (yang masuk SMK biasanya anak-anak kelas menengah ke bawah. Anak-anak dengan intelektual terbaik masuk ke SMA dan SMK Negeri favorit. SMKTI Airlangga dapat sisa-sisanya). Meski demikian justru sekolah ‘kotak sabun’ inilah yang selalu membuat Dinas Pendidikan Kota Samarinda dan Propinsi Kaltim berbangga hati karena tidak pernah absen mempersembahkan juara dalam lomba LKS tingkat Propinsi atau pun tingkat nasional (dan bukan sekolah-sekolah negeri yang SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) dan ISO itu). Siswa-siswa di sekolah negeri yang hebat-hebat itu tidak mampu mengimbangi prestasi siswa SMKTI Airlangga yang semula hanya sisa siswa yang tidak diterima di sekolah negeri. Bahkan orang luar yang mengetahui prestasi siswa SMKTI Airlangga ini tidak bisa tidak menyampaikan rasa kagumnya seperti di blog ini : http://geeks.netindonesia.net/blogs/yusuf.wibisono/archive/2005/08/12/6235.aspx
Saya sungguh bersyukur bahwa salah satu sekolah yang saya dirikan (meski tidak melakukan apa-apa) memiliki prestasi yang luar biasa seperti ini. Saya bisa mengatakan bahwa di antara beberapa sekolah yang saya dirikan ada satu sekolah yang saya SANGAT BANGGA padanya. Penghargaan ini saya persembahkan pada Pak Sigit Sigalayan, Pak Adriyanto, dan semua team yang tergabung di dalam staf SMKTI Airlangga Samarinda ini (Di Balikpapan kami juga punya SMKTI Airlangga Balikpapan, dimana Pak Syamsul Zarnuji sebagai kepala sekolahnya). Dedikasi Pak Sigit dalam mengelola sekolah ini benar-benar jauh lebih tinggi dari kami para pendiri dan pengurus yayasannya. Saya mesti tabik hormat dan angkat topi setinggi-tingginya bagi beliau dan semua staf.
Jika Anda ingin belajar bagaimana caranya memotivasi siswa agar benar-benar ‘menyala’ dan ‘terbakar’ really hot serta memiliki semangat sebagai pemenang dalam hidup maka saya anjurkan Anda untuk melakukan studi banding ke sekolah ‘kotak sabun’ kami yang istimewa tersebut.
Hubungilah Pak Sigit Sigalayan di : sigalayan67@yahoo.com atau kunjungi blognya di :
http://sigalayan.blogspot.com/
Atau bisa ke Pak Adriyanto di : Mohamad Adriyanto madriyanto@gmail.com dengan blognya : http://bakung.blogspot.com/
Jadikan sekolah Anda sama istimewanya dengan sekolah ‘kotak sabun’ kami.
Satria Dharma
Balikpapan, 18 Agustus 2008
Ilustrasi gambar dari:www.idiomsbykids.com




Terima kasih sudah berbagi Pak SD.
Luar biasa sekolah yang anda sebutkan diatas bisa tetap bersinar ditengah keterbatasan.
Oleh: agusampurno on Agustus 19, 2008
at 3:54 am
Salah satu kelebihan SMKTI Airlangga, didalam lingkungan sekolah
“aroma” TI tercium sangat kental. Mulai dari lab komputer yang bisa
dipakai secara bebas dan gratis (plus koneksi internet), para asisten
lab (dan siswa2 yg lain) yang aktif dan terus berbagi ilmu,
eskul-eskul TI yang rutin diadakan, dll. Hal-hal umum seperti
instalasi OS (Windows/linux) , perakitan, dll sudah dianggap barang
biasa bagi mereka (para siswa), karena banyak sekali sumber belajar
yang tersedia (lab + internet, guru dan kakak kelas yang responsif, dll).
Saya juga sering lihat teman2 dan adik kelas berdebat tentang jurusan
mereka, siswa jurusan A pamer keahlian kesiswa jurusan B, begitu jg
sebaliknya. Ini menimbulkan kompetisi positif diantara para siswa dan
mereka jadi terpacu untuk belajar lebih banyak. Hasilnya? kita bisa
lihat banyak sekali dari mereka yang sangat lihai dalam satu bidang
(photo editing, programming, dll).
Suasana seperti ini terus menerus ada dan menular ke siswa-siswa baru.
Lingkungan ini membuat mereka terbiasa dengan hal-hal berbau TI, dan
kemudian siap masuk ke tingkat yg lebih advanced.
Ditambah lagi dengan raihan2 ditahun2 sebelumnya, SMKTI Airlangga
telah berubah jadi sekolah yang benar2 sarat dengan TI. Dari gurunya,
sistem belajar mengajarnya, lingkungannya, prestasinya, dll. Siswa/i
seperti “betah” di lab komputer dengan teman2 mereka, menghabiskan
waktu mencoba hal-hal baru.
Kalau sudah seperti ini, nggak heran lagi kalau banyak kompetisi
. Dan maju terus pendidikan TI di kaltim..
daerah/nasional yang dimenangkan SMKTI Airlangga. Well.. selamat buat
SMKTI Airlangga
Oleh: kecebong on Agustus 19, 2008
at 5:52 am
Pak Satria,
Saya sudah lihat website SMK Airlangga…
Siplah..
Ada beberapa link yang tidak bisa terbuka, gak papa..biasa..tapi mesti dicek ulang..
SMK-TI Airlangga punya SDM dan potensial SDM (para murid) yang luar biasa!
Kalau diberdayakan dengan baik maka sekolah lain bisa ngiri terus.
Usul nih…kalau untuk TA… tugas akhir kelas III mereka bikin satu program multimedia untuk pembelajaran di SD, SMP atau SMA…sumbernya dari buku yang sudah ada yang bagus..seperti misal punya ESIS Airlangga,
Kan disitu ada gambar..ada diagram alur… ada cerita yang bisa dibuatkan simulasinya pakai 3D max atau program lain..pasti gurunya tahu program yang cocok…
Bagus buat buku elektronik..yang bukan sekedar pdf…
Kalau bisa wah..hebat! Bisa dijual ke SBI hehehehe..
Jangan lulusannya jangan cuma jadi pegawai dan bikin usaha warnet…(saya baca di website SMK-TI..ada yang bikin usaha warnet dan games…)
Gitu Pak,
Selamat Deh….
Agung W
ps: sekolah jangan cuma bangga kalau juara ini juara itu…(walau penting juga untuk unjuk diri)
Oleh: Agung W on Agustus 19, 2008
at 6:36 am
Terus terang, saya sangat salut sekaligus ‘iri’ melihat kemajuan yang diraih oleh SMK TI Samarinda. Sejak saya belum bergabung dengan ’saudara tuanya’ di Balikpapan saya telah menjadi pengamat setia sekolah ini. Saya benar-benar kepincut dengan prestasi yang diraih selama ini. Berulang kali saya bertanya, apa sih ‘resep’ mereka [baca:pengelolanya] sehingga sekolah tersebut bisa seperti ini ? Tapi sampai saat ini saya belum menemukan ‘resep’ yang jitu itu.
Ketika beberapa kali saya ditugasi menjadi juri LKS Tingkat Nasional, saya sering ketemu dengan guru pendamping siswa-siswinya yang mewakili Kaltim pada event tersebut. Karena saya pengamat setia sekolah ‘kotak sabun’ tersebut saya coba cari tau rahasianya. Dari cara bicara dan isi pembicaraannya, saya bisa memastikan kalau guru-guru di sekolah yang juga dijuluki ‘lorong penjara’ tersebut bukan orang biasa. Mereka begitu PD, trengginas dan selalu mencerminkan rasa bangga atau setidaknya aura kebanggaan itu muncul dari wajah mereka ketika mereka memposisikan dirinya sebagai guru di sekolah tersebut. Dalam pandangan saya, mereka begitu ’smart’, ‘dedicated’ dan kecerdasan itu mereka tumpahkan sepenuhnya bagi sekolah mereka. Sungguh sebuah dedikasi dan totalitas yang jarang saya temui pada kawan-kawan guru yang lainnya. Inilah hipotesa sementara saya saat itu bahkan sampai saat ini, tentang resep jitu mengapa sekolah yang dikomandani oleh seorang jebolan amerika tersebut bisa seperti sekarang ini.
Makanya, ketika setahun yang lalu saya diberi kesempatan untuk menangani ’saudara tuanya’ di Balikpapan, salah satu impian besar saya adalah mengikuti jejak ‘adik kandungnya’ yang sampai saat ini masih menjadi buah bibir para praktisi pendidikan SMK di Kalimantan Timur. Langkah saya yang pertama tentu sejalan dengan hipotesa yang telah saya buat terkait resep jitu yang dipakai SMK TI Samarinda dalam melecut prestasi sekolahnya. Apalagi kalau bukan DEDIKASI dan TOTALITAS dari seluruh elemen, terutama para guru yang terlibat dalam sekolah yang baru saja saya tangani tersebut. Saya benar-benar tergoda untuk menerapkan hipotesa itu dan melihat seluruh karyawan dan guru saya dengan penuh dedikasi dan totalitas melayani siswa-siswinya untuk sebuah prestasi yang gemilang. Saya ingin sekali melihat para guru saya begitu bangga menyebut dirinya sebagai guru SMK Airlangga Balikpapan. Saya mimpi melihat mereka tampil cerdas, trengginas dan penuh dedikasi. Dengan demikian saya bisa berharap banyak kepada mereka untuk mau memberikan apa saja yang bisa diberikan untuk kemajuan prestasi siswa-siswinya. Saya mimpi melihat mereka datang ke sekolah sebelum siswa-siswinya tiba di sekolah dan pulang setelah siswa-siswinya meninggalkan gerbang sekolah. Saya juga mimpi melihat guru-guru saya melakukan hal yang sama seperti yang telah saya lakukan; menyambut siswa-siswinya dengan senyuman di ujung gerbang sekolah, tak henti-hentinya memompa motivasi mereka untuk melakukan yang terbaik selama mengikuti pelajarn di sekolah dan mengantarnya kembali ke tempat itu saat mereka pulang. Sungguh sebuah pemandangan yang luar biasa !
Pertanyaanya, bagaimana membuat agar guru-guru saya mau melakukan itu semua ? Apa gerangan yang perlu dilakukan agar mereka tampil seperti persepsi saya terhadap guru-guru sekolah ‘kotak sabun’ itu; begitu bangga dengan keberadaannya, cerdas, trengginas, penuh dedikasi dan totalitas ? Setahun ini berbagai terobosan telah dilakukan. Tapi hasilnya belum begitu menggembirakan. Mungkin terlalu singkat untuk mengukur sebuah keberhasilan, apalagi parameternya sebuah perubahan sikap. Saya percaya, perubahan itu pasti akan tampak pada saatnya nanti sepanjang pengambil kebijakan tertinggi mau dan tetap mendukung terobosan-terobosan yang telah dan akan dilakukan. Namun sayang, saya tidak berada pada posisi tersebut.
Balikpapan, 19 Agustus 2008
Syamsul Aematis Zarnuji
Oleh: Syamsul on Agustus 19, 2008
at 10:09 am
Senang mendengar sekolah berlomab-lomba mendorong anak-anak untuk berkompetisi. Sekolahsekolah yang menjadi trekenal karena murid-muirdnya memenagkan olimpiade ini dan itu wajarlah merasa bungah dan merasa telah berhasil mendidik murid-muridnya. Akan tetapi tolong dipertimbangkan hal berikut ini:
1. Para juara butuh penanganan yang khusus.
Disekolah kami ada sekelompok anak yang sangat mendapatkan perhatian dari pihak sekolah karena mereka menyumbang banyak piala. Memberikan mereka kelas pengayaan dsb memang diperlukan, karena kalau tidak mereka akan frustasi karena tidak bisa berkembang maksimal.
2. Tetapi jumlah mereka hanya kurangdari 5 persen dari komunitas murid.
Misalnya saja, jika di kelas ada 4 anak pintar dari 40 siswa. Kita pengajar seringkali tanpa sadar menggunakan acuan kemampuan mereka dalam mendesign pengajaran. Sementara yang 36 lainnya, yang merupakan mayoritas komunitas murid, cenderung diabaikan. Misalnya, kalau ulangan hampir semua murid jeblok, tetapi 2 anak mendapatkan nilai 100. Mungkin kita merasa sudah berhasil mengajar, toh ada yang dapat seratus meskipun mayoritas di bawah kkm.
3. Atau kita sering hanya memeprhatikan murid yang pintar sekali atau sebaliknya, yang slow learner sekali. Jumlah mereka secara keseluruhan (paling pintar+ paling bodoh) kurang dari 10 persen. Tetapi yang ditengah-tengah, yang 90% nya diabaikan. Dianggap bisa survive sendiri? Pengayaan diberikan untuk anak yang super cerdas. Remedial untuk anak yang super bloon. PAdahal ada anak-anak (mayoritas) kemampuannya adalah menengah menggapai-gapai. Jika tidak ditangani dengan benar, mereka dapat terseret ke level ‘bodoh’.
Oleh sebab itu, bapak dan ibu guru, tolong jangan abaikan anak-anak yang masuk kategori biasa-biasa saja ini. Jumlah mereka besar dan mereka juga berhak untuk mendapatkan pendidikan terbaik yang dapat kita berikan. Dengan memfokuskan diri pada usaha mengejar prestasi plus prestise sekolah, dengan berbangga-bangga pada deretan piala yangs seringkali diraih oleh anak-anak yang itu-itu saja, hal ini dapat membutakan mata kita terhadap keberadaan sebagian besar murid kita.
Banyak orang-orang besar yang dahulu dimasa sekolah mereka adalah orang-orang biasa, bahkan masuk kategori bodoh. Tetapi mereka bisa menjadi besar, bisa menjadi yang terbaik bagi dirinya.
Bersikaplah adil.
Oleh: sandyarani on Agustus 25, 2008
at 3:56 am
Yang penting bukannya bagaimana memperbanyak piala yang bsia dibawa pulang anak. yang penting adalah, bagaimana membuat anak-anak kita senang belajar dan menjadi autonomous/ independent learners, yang menganggap mencerdaskan diri adalah kebutuhan mereka, sama seperti mereka membutuhkan pakaian dan rumah tinggal. Belajar bukan untuk dipuji atau untuk membuat guru dan ortu bangga. Belajar untuk menghindari diri dari kebodohan. Kebodohan akan men-dehumanize kita.
Oleh: sandyarani on Agustus 25, 2008
at 4:03 am
Sekolah yang berkualitas…dimana nantinya bisa mencetakSDm yang bermutu yang natinya bisa mewujudkan Indonesia menjadi lebih baik
Oleh: Kuliah Luarnegri on Agustus 27, 2008
at 9:41 am
Pak Satria, mohon ijin memuat tulisan ini (dengan editing seperlunya) untuk ruang suara masyarakat di majalah kami. Terima kasih sebelumnya.
Oleh: Lintasi on September 25, 2008
at 4:41 am
Silakan. Dengan senang hati.
Salam
Satria
Oleh: Satria Dharma on September 27, 2008
at 3:04 am
Beberapa hal yang saya ingat dari gaya Pak Adri adalah:
1. Kenekatan (tapi terukur) untuk mencoba sesuatu yang baru. Contohnya, mengundang Microsoft mengadakan seminar Visual Studio di tahun 2004.
2. Bukan bertipe harus gagasan dia yang jalan. Lha ini yang paling penting. Pemimpin, menurut saya, adalah orang yang mampu mensinkronisasikan ide-ide dari setiap kepala dalam sebuah visi bersama. Tidak terpaku dalam pemikiran bahwa idenya yang paling hebat dan benar. Ini yang saya lihat sangat jarang ada di level pimpinan.
Salam,
Anton Rahmadi
Oleh: Anton Rahmadi on Oktober 9, 2008
at 9:44 am
Nampaknya inilah ‘model’ sekolah masa depan. Yang terhubung langsung ke jutaan perpustakaan di seluruh dunia. Bukan perpustakaan yang kata anak sekarang ‘cuma ada buku jadul’ alias jaman dulu. Mau belajar apa saja sampai tingkat expert pun ada, melalui internet. Dan saya yang pernah kuliah di jurusan IT dan kini menjadi pengajar di salah satu sekolah setingkat SMA, baru ’sadar’ beberapa tahun ini akan ‘potensi’ dan ‘kekuatan’ internet. Mohon doanya dari bapak-bapak dan ibu-ibu, kami di surakarta-jawa tengah menyusul langkah Bapak-bapak dan Ibu-ibu dengan membangun komunitas pelajar online. Dengan motto belajar dan berkarya. Dimulai dari tempat kami mengabdikan ilmu yang pernah didapat. Dan dengan fasilitas yang mungkin saya dan siswa2 rancang dan adakan sendiri.
Oleh: ronym on Desember 16, 2008
at 5:17 pm