Oleh: Satria Dharma | Januari 24, 2009

MEMBACA ATAU MATI!

Tahukah Anda apa perintah Tuhan yang pertama kali kepada umat Islam melalui Nabi Muhammad? Perintah itu diulangi oleh Jibril Sang Pembawa Perintah sampai 3 (tiga) kali karena begitu pentingya. Ya, Anda benar. Perintah tersebut adalah untuk MEMBACA. Jadi perintah Tuhan pada umat Islam yang pertama kali itu adalah MEMBACA (yang sampai diulangi tiga kali) dan bukan mengucapkan syahadat, sholat, ngaji, apalagi naik haji! Tapi tahukah Anda perintah Tuhan yang manakah yang paling ditinggalkan oleh umat Islam saat ini? Ya perintah MEMBACA itu! Jadi tidak salah kalau saat ini umat Islam menjadi umat yang paling tertinggal dibandingkan umat lain lha wong mereka tidak melaksanakan pernitah Tuhan yang pertama kok! Mbandel kok pingin disayang!

Seandainya saja umat Islam melaksanakan perintah Tuhan yang begitu penting ini maka sebenarnya umat Islam adalah umat yang paling literate, atau yang paling melek huruf dan yang paling berilmu dibandingkan umat-umat lain.

Ajaran Islam penuh dengan anjuran untuk belajar…belajar… dan belajar dan berpikir…berpikir…berpikir. Bahkan dalam suasana perang dimana dibutuhkan semua tenaga laki-laki yang sehat untuk ikut berperang Rasulullah masih juga menyatakan agar tidak semua orang ikut berperang tapi ada sebagian orang BELAJAR memperdalam ilmu. Bahkan Rasulullah yang tidak pernah pergi ke Cina menyatakan dalam hadistnya yang tersohor (meski ada yang menganggapnya sebagai hadist yang lemah) agar umatnya menuntut ilmu sampai ke China. Belajar sebenarnya merupakan NAFAS dari ajaran Islam.

Meski hafal surat Iqra’ dan membacanya setiap hari dalam sholat tapi umat Islam tidak menjadikan MEMBACA sebagai aktivitas sehari-hari yang harus diperlakukan sebagai IBADAH sebagaimana kita memperlakukan SHOLAT, ZAKAT, DZIKIR, dll Membaca tidak pernah dianggap sebagai suatu IBADAH. Membaca bahkan tidak dianggap sebagai PERINTAH atau AJARAN Islam. Ironis sekali.

Coba perhatikan negara kita yang penduduknya mayoritas muslim ini. Berapa banyak kota besar di Indonesia yang memiliki perpustakaan besar dan modern yang merupakan cirri sebuah kota modern? Tidak banyak. Bahkan Jakarta sebagai ibukota negara dengan jumlah penduduk sekitar 10 juta orang perpustakaannya tidak mencerminkan sebagai perpustakaan sebuah negara besar. Perpustakaan Kota Kinabalu di Malaysia jauh lebih besar, modern dan lengkap koleksinya. Jumlah kunjungan ke perpustakaan pusat di Jakarta hanya dikunjungi oleh rata-rata 200 orang sehari dan hanya 20% yang meminjam buku. Ini artinya MASYARAKAT KITA TIDAK MEMBACA.

Sekarang coba perhatikan apa yang terjadi di sekolah-sekolah kita. Berapa banyak sekolah yang punya perpustakaan? Dari 250.000 sekolah yang ada di Indonesia mungkin hanya 5 % yang punya perpustakaan yang layak disebut sebagai perpustakaan. Dari yang punya perpustakaan, berapa banyak yang punya buku-buku bacaan selain buku paket? Dari sedikit sekolah yang punya perpustakaan dan buku-buku bacaan, berapa banyak yang punya program rutin MEMBACA DI KELAS? Hampir tidak ada. Ini artinya ANAK-ANAK KITA TIDAK MEMBACA DI SEKOLAH. Lantas bagaimana kita bisa mengaku sebagai umat Islam terbesar di dunia tapi tidak melaksanakan perintah Tuhan yang pertama tersebut? Dimana impelementasi IQRA’nya?

Untuk menjadi bangsa yang ‘literate’ idealnya 1 koran dibaca 10 orang tapi di Indonesia 1 koran dibaca oleh 45 orang. Kita bahkan kalah dengan Srilanka dimana 1 koran dibaca oleh 38 orang dan di Filipina 1 koran dibaca oleh 30 orang.
Sekarang coba perhatikan apa yang terjadi di rumah-rumah kita. Berapa banyak keluarga muslim yang telah menjadikan MEMBACA sebagai kegiatan IBADAH yang sama pentingnya dengan sholat, mengaji, sedekah, puasa, dll.di rumah-rumah mereka?
Sekarang kegiatan utama keluarga muslim di rumah adalah menonton TV, dan bukannya membaca seperti yang diperintahkan oleh Allah. Budaya menonton telah membius keluarga kita. Statistik menunjukkan bahwa jumlah waktu yang dipakai oleh anak-anak Indonesia menonton TV adalah 300 menit/hari. Bandingkan dengan anak-anak di Australia 150 mnt/hari, Amerika 100 mnt/hari, dan Kanada 60 mnt/hari.

Apa akibatnya jika bangsa kita tidak membaca? Kemunduran dan kemerosotan tentu saja. Berdasarkan hasil studi Vincent Greannary yang dikutip oleh World Bank dalam sebuah Laporan Pendidikan “Education in Indonesia From Crisis to Recovery“ tahun 1998, menunjukkan kemampuan membaca siswa kelas VI Sekolah Dasar di Indonesia hanya 51,7. Jauh dibandingkan dengan Hongkong (75,5), Singapura (74,0), Thailand (65,1) dan Filipina (52,6). Hasil studi ini membuktikan kepada kita bahwa membaca belum –kalau tidak mau dikatakan bukan– menjadi program yang integral dengan kurikulum sekolah. Apalagi menjadi budaya.
Hal ini juga bisa dilihat dari berbagai statistik tentang negara kita. Dalam world Competitiveness Scoreboard 2005 Indonesia hanya menduduki peringkat 59 dari 60 negara yang diteliti. Padalah Malaysia sudah berada di perinkat 28 dan India 39. Hal ini juga bisa dilihat dari catatan Human Development Index (HDI) kita yang terus merosot dari peringkat 104 (1995), ke 109 (2000), 110 (2002, dan 112 (2003). Belum cukupkah semua ini membuat kita sadar bahwa ada yang salah dari sistem pendidikan kita yang tidak memberi perhatian besar pada kegiatan membaca yang merupakan inti dari pendidikan?
Jika kita mau melihat kebelakang pada masa Krisis Moneter Juli 1997 yang lalu. Korea Selatan, Thailand, Malaysia dan Singapura, mampu mengatasi krisis ekonomi bangsanya relatif dalam waktu pendek hanya sekitar 2 – 3 tahun saja. Hal ini disebabkan karena mereka telah mempunyai SDM yang kompetitif, unggul, kreatif, dan siap menghadapi segala bentuk perubahan sosial, ekonomi, politik, budaya dan lainnya. Bangsa Indonesia sampai saat ini belum juga bisa bangkit.

Menurut para ahli, membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup (itu sebabnya Allah menjadikannya sebagai Perintah Pertama, First Commandment, bagi umat Islam). Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Dengan kemampuan membaca yang membudaya dalam diri setiap anak, maka tingkat keberhasilan di sekolah maupun dalam kehidupan di masyarakat akan membuka peluang kesuksesan hidup yang lebih baik. Farr (1984) menyebutkan “Reading is the heart of education”. Seharusnya dalam Islam membudayakan membaca adalah sebuah ‘fardhu kifayah’ atau ‘social responsibility’ yang apabila tidak dilakukan akan menjadi dosa bersama.

Berdasarkan penelitian Baldridge (1987), manusia modern dituntut untuk membaca tidak kurang dari 840.000 kata per minggu. Kurang dari itu dianggap belum modern tentunya. Bayangkan jika umat Islam sama sekali tidak punya kegiatan membaca baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan.. Umat Islam jelas akan menjadi umat yang paling tertinggal dibandingkan umat-umat lain. Dan itu telah terjadi saat ini. Padahal Tuhan telah memerintahkan mereka untuk MEMBACA sejak pertama kali. Tak heran jika daya saing siswa dan bangsa kita selalu terpuruk karena ketrampilan dasar bagi peningkatan kemajuan ilmu pengetahuan tidak kita miliki.

Apa sebab bangsa kita tidak mampu menguasai ilmu dan teknologi yang akan dapat membuat bangsa kita kompetitif, unggul dan kreatif? Itu karena Membaca belum menjadi kebutuhan hidup dan belum menjadi budaya bangsa. Membaca harus dijadikan kebutuhan hidup dan budaya bangsa kita barulah kita bisa menapak ke tingkat yang lebih tinggi yaitu menjadi bangsa yang terpelajar, berilmu, kompetitif dan kreatif.
Mengapa hal ini saya anggap sebagai ancaman global yang sangat kritis? Karena untuk mengadakan perubahan budaya masyarakat memerlukan suatu proses dan waktu panjang sekitar 1 atau 2 generasi, tergantung dari “political will pemerintah dan masyarakat“ Ada pun ukuran waktu sebuah generasi adalah berkisar sekitar 15 – 25 tahun. Apakah kita punya keinginan untuk berubah dan waktu untuk itu? Jika kita gagal menjawab tantangan ini maka bangsa kita akan terus terpuruk menjadi negara dunia ketiga yang tidak akan mampu untuk bangkit.

Bangsa kita telah gagal menjadikan membaca sebagai budaya sebagaimana bangsa-bangsa maju lainnya. Dan ini merupakan ancaman yang serius. Ini sudah merupakan ‘global threat’. Rendahnya Reading Literacy bangsa kita saat ini dan di masa depan akan membuat rendahnya daya saing bangsa dalam persaingan global. Hal ini akan menyebabkan tidak kompetitifnya SDM bangsa kita karena kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini adalah akibat lemahnya minat dan kemampuan membaca.

Hal lain yang menyebabkan umat Islam mundur dan terkebelakang adalah karena ketidakmampuannya dalam menerjemahkan anjuran Rasul untuk belajar meski ke negeri China. Banyak umat Islam fanatik yang menganggap belajar pada umat non-muslim adalah terlarang dan buruk bagi umat Islam. Padahal jelas-jelas bahwa Rasul tidak menyatakan demikian.
Sebuah SDIT yang maju dan dikelola oleh para muslim kelas menengah dan rata-rata sarjana juga menolak ide untuk mengangkat seorang guru native speaker bahasa Inggris untuk mengajar bahasa Inggris di sekolah tersebut dengan alasan bahwa mengangkat guru non-muslim untuk mengajar mata pelajaran apa pun di sekolah Islam adalah ‘tidak sesuai’ dengan ajaran Islam! Anehnya, di luaran mereka mengursuskan anak-anak mereka di kursus yang ada native speakernya!
Belajar dari non-muslim bukan hanya boleh tapi bahkan DIANJURKAN. Siapa yang mengatakan demikian? Ya, Rasul sendiri. Jadi sebetulnya belajar Matematika, Fisika, bahasa Inggris, dll. pada guru non-muslim itu (meski sekolahnya adalah pesantren) adalah sesuai dengan semangat pendidikan dalam Islam yang diajarkan oleh Rasul sendiri. Bahkan dulu Rasulullah melepaskan tawanan perang dengan kompensasi bahwa mereka harus mau mengajari umat Islam untuk membaca dalam jangka waktu tertentu. Yang absurd adalah jika memanggil guru non-muslim untuk mengajarkan mengaji, tata-cara sholat, dasar-dasar iman, dan sejenisnya kepada siswa-siswa Islam.

Melalui tulisan ini saya hendak kembali mensosialisasikan dan menggemakan kembali perintah tuhan kepada Rasulullah Muhammad SAW agar kita pahami dan amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Mari kita membaca setiap hari dan mari kita wajibkan anak-anak kita untuk membaca setiap hari sebagaimana kita memerintahkan mereka melakukan sholat lima waktu. Jadikan itu sebagai perintah Tuhan yang harus kita laksanakan setiap hari karena membaca memang perintah Tuhan (sebagaimana sholat, puasa, zakat, dan naik haji).

Karena demikian pentingnya posisi ‘Membaca’ ini bagi kemajuan bangsa kita, dimana jika kita tidak melakukannya maka kita akan kembali dalam posisi ‘terjajah’, maka semestinya kita harus berusaha untuk melaksanakannya dengan semangat juang yang sama dengan yang kita lakukan dulu ketika kita merebut kemerdekaan. Merdeka atau Mati! Tapi untuk kali ini tekad tersebut kita ubah menjadi : ‘Membaca atau Mati!’

Balikpapan, 23 Januari 2009
Satria Dharma


Tanggapan

  1. Memang dengan membaca akan membuka jendela pikiran kita… Cuma yang jadi masalah adalah saya paling males untuk membaca… Kecuali sedang terjepit-butuh sesuatu…. Ada tips biar senang membaca…

  2. Mulailah membaca sesuatu yang menyenangkan. Bisa berupa komik, buku cerita ringan, majalah, koran, dlsb. Kemampuan dan daya tahan membaca Anda akan meningkat setelah berlatih membaca secara rutin. Tetapkan jadwal dan alokasi waktu tertentu untuk membaca. Kami sekeluarga biasanya membaca setelah sholat Subuh bersama selama setengah jam. Baca
    http://satriadharma.wordpress.com/2006/02/21/%E2%80%9Csustained-silent-reading%E2%80%9D-di-ruang-makan-saya/#more-81
    http://satriadharma.wordpress.com/2006/02/23/ssr-di-ruang-makan-saya-part-ii/#more-82

    Selamat membaca!
    Salam
    Satria

  3. Setuju banget pak dengan anjurannya untuk banyak membaca… di Adelaide sini kalau berkunjung ke public library sering ada acara gratis seperti babytime, storytime, dsb dimana anak-anak pra sekolah, bahkan bayi, sudah dibiasakan untuk menyukai membaca dan mengunjungi perpustakaan (ref: http://www.mitchamcouncil.sa.gov.au/site/page.cfm?u=110)

    Mengutip pak Quraish Shihab, makna perintah IQRA’ atau membaca bisa ditafsirkan lebih luas lagi sebagai:
    “membaca, meneliti, mendalami, mengetahui ciri-ciri sesuatu, membaca alam, membaca tanda-tanda zaman, sejarah, diri sendiri, baik yang TERTULIS maupun TIDAK TERTULIS”.
    (http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/AlQuran1.html)
    Karena di jaman kanjeng nabi mestinya sangat jarang bacaan yang berbentuk buku kertas yang dijilid seperti sekarang ini, apalagi dalam bentuk halaman situs web, blog, dan e-book.

  4. bagaimana dengan MENULIS? ulas dikit ya

  5. tulisan yang menyadarkan
    dari seorang pakar paling sadar
    bagaimana Iman dan Islam kita berkadar
    benar-benar tak sekadar berujar
    tapi iqra’

    terimakasih pencerahannya, Ustadz

  6. Bunyi ayatnya ‘kan: Iqro bismi Robbikalladzi kholaq (bacalah dengan
    nama Tuhanmu yang telah menciptakan)
    Jadi perintah membacanya dirangkaikan dengan pengingatan kepada kita
    akan kekuasaan Allah sebagai Maha Pencipta. Maka yang dimaksud MEMBACA
    bisa sangat luas. Selain membaca dalam arti membaca huruf-huruf
    bersusun dst, juga berarti MENGAMBIL HIKMAH/pelajaran dari segala
    sesuatu yang Allah swt ciptakan. Mungkin ini yang biasa kita sebut
    sebagai BELAJAR. Lebih spesifik lagi, belajar IPA atau sains.

    Begitukah?

    Salam,
    Lisda

  7. Betul, Bu Lisda! Semua pengetahuan dan hikmah tersebut hampir semuanya dituliskan dalam bentuk buku (dan bukan dalam bentuk audio) sehingga kita memang harus selalu MEMBACA setiap hari.
    Selamat membaca!
    Salam
    Satria

  8. wah jadi diingetin lagi nih mas satria,
    karena akhir-akhir ini saya kurang “membacanya” semoga pencerahan ini dapat saya pakai untuk sepanjang hidup saya.

  9. Wah.. saya malah sebaliknya mas gatut. Sering waktu saya untuk kerja kedodoran gara-gara doyan membaca. Sampai-sampai orang dirumah sewot gara-gara kurang diperhatikan karena membaca. Barusan saja saya niatin selesain laporan BBP sekolah. Tapi gara-gara penasaran sama tulisan Pak Satria ini saya jadi nggak konsisten. Ada tips supaya nggak terlalu doyan membaca ?

    salam
    syamsul

  10. Subhaanallaah… ! Mengapa harus Iqra’! ternyata dengan Iqra’ semestinya selain dapat meningkatkan harkat martabat kita sebagai manusia yang diciptakan ALLAH SWT (khalaqal Insaana), kita juga bisa bertambah dekat dengan Sang Khaliq karena banyak diantara keagungan-NYA dapat terkuak lewat kegiatan “membaca” (Iqea’ warabbukal Akram). membaca huruf (tehnik sederhana) yang tercetak saja sudah sangat luar biasa. Sebab istilah membaca tingkat tinggi kini sudah dilakukan banyak orang antara lain; membaca fenomena alam, membaca fenomena sosial, membaca (bukan meramal) masa depan, membaca penyakit lewat mata (iridologi), terakhir info yang saya dapatkan adalah membaca potensi diri seseorang lewat sidik jari “SUBHAANALLAH WALHAMDULILLAAH WALLAAHU AKBAR” !!!!

  11. Dalam Iklan di di TV kalao gak salah…
    tidak membaca…. Jadi Bodoh… Orang Bodoh ….dekat dengan kemiskinan/jauh dari Rejeki…..!!
    Ya… jelas…. lah…
    semakin jauh kita dari informasi….
    semakin kita menutup diri… dari dunia luar…
    semakin sedikit kita bersilaturahim….
    jangan harap kita… bisa berkembang dan maju
    karena yang ada adalah pemikiran yang sempit dan terkotak-kotak oleh golongan tertentu….

    Alhamdulillah…. saya biasakan di komunitas kami Sekolah Dolan untuk memulai membaca Surat Kabar Tiap pagi….. guna mengetahui berita-berita terkini… sehingga tak jarang koran kami jadi robek karena berebut baca…. dalam sesi Circle Time Selamat Pagi SEKOLAH DOLAN….belajar apapun dan pada siapapun….. banyak manfaatnya…..

  12. Salam,
    Pak, mohon ijin mengcopy tulisan bapak (lengkap dengan nama bapak), untuk dibagikan ke ingkungan sekitar saya..Saya jadi gemes baca tulisan bapak..kok membaca belum bisa membudaya, mungkin akarnya membangun budaya membaca harus dari lingkungan terdekat dan juga harus diperkenalkan dari usia dini ya pak.

    Terima kasih banyak untuk tulisan ini pak. Very inspiring.
    Salam.

  13. “… Kalau saja mereka meletakkan hasil iqra’ itu didalam kerangka bismi rabbika-lladzi khalaq. Seandainya saja mereka mempersembahkan ilmu dan teknologi itu untuk menciptakan tata hidup yang menyembah Allah…”

    http://walayah.multiply.com/journal/item/20

  14. Rupanya budaya membaca di kalangan pelajar perlu ditingkatkan. Mengingat mereka adalah generasi penerus bangsa. Saya heran ada salah satu murid saya yang mengatakan tidak suka membaca. Apakah ada tips untuk membudayakan membaca?

  15. Ass WrWb

    Membaca bukan hanyaberartimembaca tulisandaribuku,majalah,suratkabardll.Tetapi membacamemiliki artiyang lebih luas,yaitu membaca sandi-sandi Tuhan. Segala sesuatu yang terjadi di sekitar manusi,wajib di baca.Peristiwa yang terjadi tersebutmerupakan sandi-sandi dari Tuhan.Manusia diwajibkan memaknai sandir-sanditersebut.Ini adalahpengertian membaca.
    Contoh konkrit:Jatuhnya sehelai daun dari pohonnya,tentu bermakana. Apa maknanyamanusiadiwajibkanmencarimakna peristiwaitu.Contohlain:tanpadisangkabertemu dengan te,amlama,manusiawajib memaknaipertemuan tersebut.Inilah membaca sandi-sandi Tuhan.

    Terimakasih.Wass W rWb

  16. Syarat sahnya amalan itu ilmu kok …

  17. Salam kenal pak Satria..saya sudah kenal bapak tapi bapak belum..he.he..(anak saya kls 2 di Luqman). saya baru tahu bapak punya blog..ketinggalan ya..namun Insya Allah akan rutin berkunjung. Mengenai masalah membaca…tiada kata yang bisa saya ucapkan selain syukur dan syukur karena saya memiliki mamah yang gemar baca…walaupun dulu di kelilingi hutan, tidak ada lampu dan terpencil di daerah transmigrasi. kecintaan mamah terhadap buku pada akhirnya mengakar kuat dan di warisi oleh anak anaknya..dan pada akhirnya Insya Allah akan saya warisi juga pada anak anak saya….Alhamdulillah dari mulai yang 8 tahun sampai 2 tahun doyan baca semua sekarang pak…Alhamdulillah.

  18. mo nambah…^_^
    impian saya lainnya tentang baca adalah…anak anak bisa memanfaatkan seluas mungkin fasilitas perpus di sekolah…masalahnya waktunya ada atau tidak begitu juga jadwalnya, ngeliat buku buku perpus jujur saja saya ngilerrrrrrrrr. Masalah di rumah berkaitan dengan baca adalah bila keuangan menipis dan buku bukunya perlu di up date

  19. Terima kasih atas kunjungannya Bu Tita! Saya sangat menghargainya.
    Salam
    Satria


Beri tanggapan

Your response:

Kategori