Sebagai warga Balikpapan (kota yg terkenal mahal) saya sering terkaget-kaget dengan harga makanan di Jawa. Sebagai contoh, saya kemarin iseng-iseng mencegat penjual bakmi dorong yg lewat di depan rumah mertua saya di Rungkut Surabaya. Meski tahu bahwa rasanya pasti di bawah standar Mie Tokyo langganan saya tapi saya pikir bolehlah sesekali makan mie ‘ecek-ecek’.

Saya perhatikan penjualnya masih sangat muda. Seperti pemuda yg baru saja lepas dari masa remajanya. Wajahnya bersih dan tampangnya lugu. Saya langsung merasa simpati padanya. Anak ini mau bersusah payah jualan mie dorong utk membangun kehidupannya. Ia memilih jualan dan tidak larut dalam kehidupan pengangguran kebanyakan pemuda putus sekolah yg cuma nongkrong-nongkrong saja di pinggir jalan. Saya selalu ‘jatuh hati’ pada anak-anak muda seperti ini. Minimal mereka telah mengambil keputusan penting untuk menjadi sesuatu dalam hidup ketimbang jadi pengangguran tak jelas yang lama-lama jadi parasit. Kapan hari saya bertemu dengan seorang remaja berusia 17 tahunan yg jualan pukis di pinggir jalan hanya dengan berbekal gerobak sangat mungil. Namanya Hanafi. Saya langsung ingat anak saya yg seusia dengannya. Anak saya sungguh beruntung punya orang tua yg bisa terus membiayai sekolahnya sehingga tidak harus jualan pukis di pinggir jalan. Apa jadinya jika kita tidak mampu lagi membiayai sekolah anak kita pada usia tersebut? Apakah kita akan mendorong mereka utk melakukan pekerjaan apa saja utk bisa hidup agar tidak jadi pengangguran yg menyedihkan? Pengangguran bisa mendorong anak-anak muda utk terjerembab dalam tindak kriminal. Dan itu jauh lebih menyedihkan. Itu sebabnya saya selalu angkat topi pada anak-anak muda yg mau bekerja apa saja utk bisa hidup dan tidak jadi pengangguran. Rasa hormat dan kagum saya yang tinggi utk mereka para pekerja belia (anak-anak yg tidak beruntung memiliki orang tua yg mampu membiayai pendidikan mereka lebih lanjut).

Mie pesanan saya ternyata porsinya cukup besar utk ukuran saya (dan terpaksa tidak bisa saya habiskan) dan cukup lengkap isinya. Selain mie juga ada sayuran sawi, siomay, potongan ayam, dan gorengan. Semua yg reguler di resto Chinese food ada juga di situ. Saya perhatikan bahwa pengerjaannya juga butuh waktu lumayan lama. Tentu saja berbeda dengan menu pecel yg tinggal ambil dan masukkan ke piring. Mie ayam perlu direbus dalam jangka waktu tertentu sebelum bisa disajikan.

Ketika selesai saya tanyakan berapa harganya dan saya hampir tidak mempercayai pendengaran saya ketika si pemuda menjawab ‘Enam ribu…!’. Haah…! Cuma enam ribu rupiah utk makanan dengan porsi sebesar itu dan proses yg lumayan memakan waktu…?!

Dari kepala saya langsung keluar pertanyaan matematis, “Berapa banyak keuntungan yg bisa ia peroleh dengan harga yg begitu murah dalam semalam…?!” Saya perkirakan ia butuh waktu antara 5 s/d 10 menit utk menyiapkan satu porsi dan itu berarti maksimum ia bisa menjual 10 porsi saja dalam satu jam. Kalau ia bekerja 6 jam semalam (mulai dari jam 6 sore hingga tengah malam) maka maksimal ia hanya akan bisa menjual 60 porsi. Itu dengan asumsi ia bikin mie ayam terus tanpa henti dan tentu saja tanpa jalan mendorong gerobaknya ke sana ke mari.

Mari kita ambil hitungan yg masuk akal dengan menjadikannya 50 porsi (kita ikut membantunya berjualan dan menyiapkan segala sesuatu) dan itu berarti hanya 300 ribu semalam…! Itu sudah top sale utknya. Dari uang sekian itu berapa persen profit yg bisa dihasilkannya? Jika bisa 50% maka maksimal ia untung cuma 150 ribu. Itu sudah top sale lho ya!

Saya langsung termenung-menung membayangkan ini. Kenapa ia tidak menaikkan harganya menjadi 8 ribu atau 10 ribu, umpamanya? Dengan demikian ia bisa mendapat untung yang lebih besar. Hati saya bertanya. Tapi kemudian saya sadar bhw pangsa pasarnya jelas bukan orang-orang yg mau membayar seharga itu sehingga pertanyaan itu langsung saya hapus dari benak saya.
Itu pertanyaan yang naif.

Kejutan kedua saya dapatkan ketika ‘andhok’ di warung stasiun KA Madiun sambil menunggu Sancaka yg akan mengantar saya pulang ke Surabaya malam ini. Saya pesan minuman jahe dan ditawari kopi jahe yg saya iyakan. Ketika ditanya mau yg instan atau yg jahenya asli ya tentu saja saya ingin yg asli. Di jaman yg serba instan ini original ingredient sudah susah dicari. Penjualnya segera keluar nampaknya utk cari jahenya. Ketika kopi pesanan saya datang saya segera melihat potongan jahenya ‘ketampul-ketampul’ di atas wedang kopinya. Eksotik…! Aromanya tentu lebih segar ketimbang yg instan. Setelah saya tuang ke piring lepek dan saya minum saya langsung dapat bonus potongan jahe segar yg bisa saya gigit-gigit. Kopi jahe yg mantap…!

Karena Sancaka terlambat datang maka saya tergoda utk mencoba memesan nasi pecel Madiun yg kondang tersebut. Bicara soal pecel ya Madiunlah rajanya. Sama dengan bicara tape maka Bondowoso yg kita sebut. Soalnya saya melihat ada porter stasiun yg sedang makan nasi pecel dan ia nampak begitu menikmati ‘dinner’nya tersebut dengan penuh gusto. Karena hanya sekedar ingin mencoba kelezatan pecel Madiun yg legendaris itu maka saya minta nasinya sedikit saja. Lauknya saya minta perkedel yg ternyata tak kalah enak rasanya dengan perkedel di resto-resto besar. Cuma ukurannya saja yg mini. Ketika saya cicipi pokoknya lekker dah! Gak rugi makan disitu.

Ketika Sancaka tiba saya segera bangkit utk membayar. Kopi jahe asli dan seporsi pecel Madiun yg juga asli (lha jualnya di stasiun KA Madiun je!). All the original (and legendary) menu. Untuk segala yg asli kita sekarang harus siap utk membayar lebih. Kubuka dompet saya dan kulirik lembaran ratusan ribu yg berjejer rapi di dompet saya. Waktunya pindah majikan, pikir saya.

Tahu berapa yg harus saya bayar…?! Cuma 8 ribu rupiah…! Secangkir kopi jahe asli dan seporsi nasi pecel uenak hanya dihargai 8 ribu rupiah…?! Saya sampai lupa menutup mulut saya yang menganga karena heran. Apa mbakyu penjual ini sedang ulang tahun dan beri ‘special discount’ utk saya hari inikah? Saya sungguh tidak tega sehingga kembalian saya yg dua ribu saya tinggal utk tips baginya.(Ok. Don’t mention it).

Otak matematis saya kembali bekerja tanpa saya suruh. Ia menyodok saya dengan pertanyaan yg sama. ‘Berapa kira-kira penghasilannya mbakyu stasiun KA sehari, seminggu, sebulan…?’. Warung itu sepi-sepi saja seperti juga warung-warung lain di sekitarnya. Tentunya lebih sepi daripada sebelumnya karena sekarang pengantar tidak boleh ikut masuk ke stasiun. Lagipula tak pernah saya dengar keluhan Sancaka didelay satu jam, umpamanya. Kereta api praktis lebih tepat jadwalnya bahkan jika diadu dg Garuda sekali pun.
Tapi karena itu pertanyaan ‘lalar gawe’ maka tidak saya jawab. Olaopo kok saya mesti menjawab pertanyaan ttg penghasilan penjual pecel di warung stasiun KA Madiun! Lha wong istri saya yang juga jualan pecel saja tidak pernah saya tanyai omzetnya kok…!

KA Sancaka, Madiun-Surabaya, 6 Desember 2011.

Salam
Satria Dharma

About these ads