The Magic of Love

1 Komentar

Beberapa waktu yg lalu saya sedang meluncur santai di jalanan yg tidak begitu padat ketika mendengar Ustad Hasan Firdaus memberikan ceramah di Radio IDC, radionya masjid Istiqamah Balikpapan. “Menikahi orang yg kita cintai itu biasa. Tetapi tetap mencintai orang yg telah kita nikahi itu yang luar biasa. Dan jika kita mampu tetap mencintai orang yg kita nikahi selama belasan atau puluhan tahun maka itu keajaiban.” Dan saya pun terkekeh. Bisa-bisa aja Ustad Hasan itu…!

Saya telah menikah hampir dua puluh tahun dan sampai detik ini masih tetap mencintai istri saya dengan kualitas dan kuantitas cinta yang tidak berkurang sedikit pun. Begitu juga sebaliknya.

Jadi ini sebuah keajaiban seperti kata Ustad Hasan.

Sampai saat ini saya saya memang terus bersyukur bahwa saya memiliki keajaiban tersebut dan berharap akan tetap memiliki keajaiban saling mencintai until death do us apart tersebut.
Boleh dikata kami ini tetap mesra seperti pasangan yg masih pacaran. Bahkan kami punya istilah atas situasi hubungan kami ini yaitu Cinta SK3 atau Cinta SeKonyong-Konyong Koder. Entah siapa yg pertamakali menciptakan istilah banyolan tersebut tapi itu istilah utk orang yg sedang kasmaran berat. Kami memang seperti pasangan yg sedang kasmaran meski telah menikah hampir dua puluh tahun lamanya. Ke mana pun kami pergi kami selalu bergandengan tangan dan saling memandang dan menyentuh dengan mesra. Bahkan ketika duduk di kendaraan atau pun di bioskop kami tetap berpegangan tangan seperti orang berpacaran laiknya. Mungkin karena kami tidak berpacaran sebelum kami menikah dulu sehingga kami merasa perlu melakukannya setelah menikah. Dan kami melakukannya selama hampir dua puluh tahun lamanya.:-D

Pernikahan kami sendiri sebetulnya juga ajaib. Saya melamar istri saya melalui surat (kami terpisah jauh, saya di Bontang, Kalimantan Timur dan ia di Surabaya) dan ia menerimanya juga via surat. Begitu ia bersedia saya langsung terbang ke Surabaya akhir pekannya dan mengajaknya menemui orang tuanya di Madiun. Saya menyetir sendiri mobil pinjaman pulang pergi Surabaya-Madiun utk menemui orang tuanya dan balik lagi ke Bontang besoknya. Saya melamarnya sendiri langsung tanpa membawa orang tua saya. Itu memang blietzkrieg ala pasukan tempur Hitler. Saya memang sudah tidak punya waktu utk berlama-lama karena usia saya sudah hampir mencapai 35 tahun dan tak satu pun gadis yg saya kenal yg menarik hati saya utk saya lamar jadi istri. Pacaran sudah membosankan. Saya tidak butuh pacar lagi tapi seorang istri. Ketika saya memutuskan utk melamarnya lewat surat sebenarnya karena saya sudah mendapat ilham sebelumnya. Itu semacam firasat bahwa ia akan menjadi istri saya nantinya. Saya yakin firasat itu dimasukkan oleh Allah ke dalam kalbu saya setelah saya berdoa dengan penuh kesungguhan di depan Multazam (dan pada sholat-sholat saya) ketika berhaji sebelumnya.
“Ya Allah, saya minta istri. Satuuuu…aja ya Allah. Satuuu aja…!” Something like thatlah! :-D . (Satu aja belum dapat masakan mau minta lebih).

Lamaran saya diterima tapi orang tua saya harus datang lagi utk mengajukan lamaran secara resmi. Waktu itu saya memang masih mengajar di Bontang International School sedangkan istri saya bekerja di Hotel Sahid. Begitu selesai melamar saya kembali ke Bontang menunggu waktu perkawinan. Begitu waktu perkawinan ditetapkan istri saya langsung resign dari pekerjaannya dan memutuskan utk ikut saya ke Bontang setelah menikah. Saya tidak menuntutnya harus demikian karena menghargai karier yg ia bangun. Tapi ia sendiri yg memutuskan bahwa istri harus ikut suami bagaimana pun situasinya dan istri harus mau berkorban demi rumah tangga. Saya sungguh menghargai keputusannya tersebut dan menganggap itu sebagai pengorbanan pertama seorang calon istri yg harus saya hargai dan hormati dengan setimpal. Jika seseorang telah bersedia menyerahkan hidupnya pada kita sepenuhnya, mempercayai kita yg belum benar-benar dikenalnya dg kepercayaan penuh, dan bersedia menerima resiko apa pun yg terjadi dengan hidup bersama kita, maka tidak bisa tidak tentu akan menimbulkan rasa hormat dan cinta kita padanya. I love and respect her for the decision. Dan saya pikir itu modal pertama dan utama dari perkawinan kami yg bertahan sampai saat ini. MUTUAL TRUST AND RESPECT. Tanpa saling percaya dan rasa hormat pada pasangan tentu akan sulit untuk membangun cinta yg mendalam.

Sulitkah mempertahankan cinta dalam pernikahan? I guess so. Meski tidak pernah saya tanyakan tapi saya tahu betul bahwa beberapa pasangan yg saya kenal sudah tidak memilki the magic of love itu lagi. Hubungan mereka sudah seperti teman biasa saja dan mereka sudah tidak mampu bersikap mesra satu sama lain. Bahkan ada istri teman yg menyatakan bahwa ia lebih merasa nyaman ketika pasangannya tidak berada di rumah. Lho…?! Ia sudah capek bertengkar dan ketika bertemu mereka selalu saja menemukan alasan utk bertengkar. Bahkan utk hal-hal sepele yg membuat kami tidak habis pikir. Alangkah menyedihkannya situasi tersebut.

Seorang teman juga mengaku bahwa ia sudah tidak memiliki cinta dan bahkan gairah lagi pada istrinya. “Udah gak bisa ngamper lagi. Saya tabrak-tabrakkan pun sudah tidak ngamper lagi.” guraunya. Saya merasa geli mendengar ceritanya tapi juga sedih membayangkan betapa membosankannya perkawinan yg sudah tidak ada ‘api’nya seperti itu. Bahkan sekedar bara pun sudah padam. Ke mana cinta yg pernah ada? Wahai Cupid, di mana engkau berada kini?

Jika saya ditanya bagaimana saya bisa mempertahankan cinta pada istri sampai saat ini maka saya akan sulit utk menjawabnya secara tepat. Istri saya memang cantik dan menarik di mata saya. Ia juga sangat setia dan mencintai saya sepenuhnya. Tapi di luaran juga banyak wanita yg jauh lebih cantik dan menarik lho…! :-D Faktanya banyak orang yg menceraikan istrinya yg luar biasa bahenol. Banyak orang yang berselingkuh dg istri orang lain (dan si suami berselingkuh juga dg wanita lain). Bukankah itu berarti rumput tetangga nampak lebih hijau di matanya? Padahal mungkin suami dari wanita yg diselingkuhi tersebut sudah tidak melihat sesuatu yg menarik dan menggairahkan lagi baginya tapi bagi orang lain justru menarik (utk diselingkuhi).

Apakah itu berarti kami telah menutup hati masing-masing utk tertarik pada orang lain? Kayaknya istri saya ya. Saya sendiri tidak mau berbohong karena sebetulnya saya seringkali tidak berdaya pada perasaaan saya. Entah berapa banyak wanita menarik yg bersliweran dalam hidup saya (bukan berarti saya punya affair dg siapa pun lho…!). Kalau saya tidak menyeleweng atau memalingkan hati saya itu karena beberapa faktor. Faktor pertama (dan utama), mungkin karena si wanita ternyata tidak tertarik pada saya. :-D . Kalau pun ternyata ada yg tertarik pada saya (dan itu amat sangat jarang sekali) maka mungkin saya yg tidak tertarik. Bertepuk di ruang hampa gitu loh.

Kalau pun ada kemungkinan kami sama-sama tertarik (yang sangat-sangat kecil sekali kemungkinannya), maka mungkin tidak ada waktu dan kesempatan utk melanjutkan rasa tersebut. Jadi kemungkinan menyeleweng menjadi semakin kecil dan semakin kecil.

Tapi terus terang saya tidak terlalu percaya pada perasaan saya (apalagi pada hasrat dan syahwat saya yg tidak kenal ampun itu). Mereka itu pengkhianat besar dan bisa mengkhianati saya (apalagi istri saya) anytime tanpa early warning. Syahwat itu lebih hebat daripada kepintaran akal manusia sepintar apa pun. Ia bisa membuat manusia menjadi setolol-tololnya manusia. Kata teman-teman ‘imron’ itu lebih kuat daripada iman. Saya lebih percaya pada kekuasaan Tuhan yg mampu membolak-balikkan hati manusia. Maka saya selalu berkata pada istri saya,” Marilah kita berdoa bersama-sama agar Allah menjaga iman kita masing-masing dan kita diselamatkan dari syahwat yg selalu mengajak manusia utk menyeleweng. Marilah kita berdoa dengan bersungguh-sungguh agar Allah menetapkan cinta kita agar tetap tumbuh dan kita berbahagia dengan kehidupan kita.”.

Saya yakin Allah mengabulkan doa kami karena sampai saat ini kami masih sering saling memandang dengan penuh cinta dan bersyukur karenanya. Jadi kalau kami berbaring di kasur, saling memandang dalam-dalam dan saling mengucapkan, ” I love you.” dan “I love you, too.” maka itu sungguh-sungguh datang dari dalam hati kami. Ia ditumbuhkan oleh Tuhan yg memiliki dan menguasai hati kami berdua.

Semoga Anda juga menemukan cinta sejati Anda!

Jakarta, 25 Desember 2011

Salam
Satria Dharma

RAPORT ANAKKU

Tinggalkan Komentar

Karena punya anak tiga masih sekolah semua maka kadang-kadang saya harus ke sekolah untuk mengambil raport mereka. Kadang ada sekolah dan masa ketika raport diberikan langsung pada siswanya. Tapi kadang-kadang mereka meminta orang tua yang harus mengambil dan tidak boleh diwakilkan. Ke tiga anak saya bersekolah di tempat yang berbeda-beda. Yubi di SMA Patra Darma Pertamina, Yufi di SMP Istiqomah, dan Tara di Lukman Al-Hakim. Meski demikian para guru mereka hampir mengenal saya semua. Saya pernah menjadi Ketua Komite Sekolah di Istiqomah dan saya termasuk salah seorang pendiri awal Luqman Al-Hakim. Di Patra Darma saya kenal baik dengan kaseknya karena saya pernah jadi ketua Dewan Pendidikan Kota Balikpapan.

Raportan kali ini saya kebetulan sedang berada di Balikpapan sehingga saya sempatkan untuk datang sendiri. Biasanya kami bagi tugas kalau waktu terima raportnya bersamaan. Saya ke sekolah ini dan istri saya ke sekolah yang lain. Tapi karena kali ini hanya Yubi yang terima raport maka saya sendiri yang datang. Kebetulan juga istri saya mengurus perpanjangan STNK (yang atas namanya) sehingga saya datang sendirian ke Patra Darma. Itu pun baru diberitahu olehnya ketika ia tahu bahwa raport harus diambil oleh orang tua. Jadi saya segera meluncur ke sekolahnya.

Prinsip saya kalau terima raport adalah ‘stay quiet and let the teacher say as much as possible’, saya akan diam saja dan biar wali kelasnya yang bicara tentang anak saya. Saya akan cuma mendengarkan dengan khidmat dan tidak akan membantah apa pun kata gurunya. Saya juga tidak akan pernah menanyakan bagaimana ‘posisi’ anak saya di kelas. Bagi saya masalah akademik anak saya bukan sesuatu yang perlu saya diskusikan dengan wali kelasnya. Saya memang tidak seberapa perduli dengan nilai raport anak-anak saya. Jadi masalah ranking atau peringkat anak saya di sekolah bukan hal yang perlu saya ketahui. Perkara anak saya mau berprestasi di sekolah atau berprestasi di bidang pelajaran tertentu sepenuhnya saya serahkan pada mereka sendiri. Saya hanya perduli pada seberapa bahagia mereka di sekolah. Kalau mereka berangkat ke sekolah dengan riang gembira dan pulangnya juga riang gembira maka saya anggap it’s more than enough.

Mengapa demikian?

Pertama, terus terang saya sudah tidak percaya pada sistem persekolahan kita. Saya menganggap bahwa sistem persekolahan kita belum mampu untuk membuat setiap anak mengeluarkan potensi dan kapasitas optimalnya. Sekolah kita itu hanya perduli pada soal akademik yang berupa angka-angka dan belum pada nilai-nilai. Saya sendiri tidak perduli pada angka-angka dan lebih perduli pada nilai-nilai. Sekolah kita lebih pada formalitas dan belum pada esensi.

Kedua, bagi saya sekolah itu sekedar tempat bersosialisasi bagi anak-anak saya. Soal intelektualitas dan akademik bisa mereka cari kapan saja mereka mau dan butuhkan. Internet telah membuka semua kesempatan bagi siapa saja untuk memiliki pengetahuan apa saja. Dunia internet adalah sekolah yang bebas untuk dimasuki kapan pun dan oleh siapa pun. Jadi kalau pun anak-anak saya tidak berprestasi di sekolahnya maka mereka bisa mencarinya kelak di dunia nyata. Lagipula kesuksesan itu tidak terlalu banyak menuntut kecerdasan akademik.

Ketiga…. (sebentar, kupikirnya dulu ya). Gak jadi wis…! Lupakan saja alasan ketiga itu.

Yang penting adalah saya kemudian sudah duduk di depan Pak Nasir, wali kelas Yubi. Beliau pun kemudian bercerita bahwa Yubi ada peningkatan dalam pelajarannya. (Alhamdulillah, kata saya dalam hati). Semester ini Yubi masuk peringkat ‘10 Besar’ di kelasnya. (Surprise…! Surprise…..! Dan saya pun menunjukkan wajah senang dan mata berbinar-binar di depan Pak Nasir. Seorang ayah yang baik, apalagi seorang mantan Ketua Dewan Pendidikan, haruslah gembira jika anaknya menunjukkan peningkatan prestasi sekolahnya). Dengan gembira anak saya melihat daftar peringkat di kelasnya dan melihat-lihat siapa saja temannya yang berada di peringkat atasnya. Ia nampak antusias dan gembira bahwa KALI INI ia bisa menunjukkan sebuah prestasi pada orang tuanya (orang tua yang nampak acuh tak acuh dengan perolehan nilai anaknya tersebut).

Pak Nasir pun kemudian bercerita bahwa peringkat tersebut penting karena biasanya siswa Patra Darma mendapat kesempatan untuk masuk ke PTN melalui jalur undangan. Dan siswa yang mendapat kesempatan melalui jalur undangan adalah siswa yang berada pada ranking 1 s/d 17.(Gile…! Banyak banget…! Itu undangan atau rombongan…?!) Jadi anak saya punya kesempatan untuk masuk ke PTN asal jangan memilih PTN yang favorit. Kalau mau milih PTN yang jauh-jauh dan tidak favorit seperti di UNMUL, UNPATTI, UNHALU dan selevelnya insya Allah bisa diterima. Dan saya pun tidak bisa menahan senyum saya. Mungkin Yubi sebaiknya masuk ke UNTUMU (Universitas Tugu Muda, entah dimana itu) saja lha wong arek iki gak jelas karepe. J Mana mau dia bersusah payah kuliah di daerah-daerah.

Kami memang sebelumnya sempat ngobrol soal kemana sebaiknya ia melanjutkan studinya dan kami sempat menganjurkan agar ia masuk ke Lim Kok Wing di Kuala Lumpur saja karena ada jurusan Event Management (yang mungkin tidak membutuhkan kecerdasan intelektual terlalu tinggi). Semula ia sepakat tapi tidak lama kemudian ia datang dan mengatakan tidak ingin sekolah di Malaysia. Kata temannya orang-orang Indonesia dilecehkan kalau di Malaysia dan ia tidak ingin mendapatkan perlakuan seperti itu. (Oh my God…! Gak ada alasan lainkah…?!) Mending di tanah air saja kalau mau kuliah, atau sekalian ke Australia saja katanya. (Dipikirnya berapa biaya kuliah di Australia itu…?! Bapake iki konglomerat tah?). Saya tidak berkomentar karena saya hafal benar dengan anak saya ini. Ia bisa mengeluarkan seribu alasan untuk menolak dan tidak ada gunanya untuk memaksanya. Ia berhak untuk mengatur hidupnya sendiri. Jadi urusan kuliah ke mana untuk sementara kami tangguhkan dulu. Kalau waktunya tiba ia pasti akan datang dengan sebuah penawaran. Lebih baik kami menunggu saja. Jadi status dari diskusi perkuliahannya adalah ‘pause’. Kalau masanya tiba ia akan datang untuk ‘play’ lagi. J

Saya tidak sempat memperhatikan nilai-nilai raport Yubi di depan Pak Nasir dan saya langsung pulang membawanya begitu saja. Yubi sendiri nampak puas betul bisa masuk 10 Besar tersebut.

“Aku sudah berubah kan, Pak!” katanya senyum-senyum sambil memeluk bahuku. Saya berusaha untuk tidak bersikap sinis dan meledeknya. Tapi toh keluar juga kata-kata saya,”Jangan terlalu bangga. Dulu bapak ranking pertama di IPS.” Saya menyesal mengucapkannya setelahnya. Sungguh tidak ada gunanya menjatuhkan mentalnya. Tapi nampaknya Yubi tidak terpengaruh. “Kan lain Pak..” jawabnya enteng. Entah apa maksudnya tapi saya tidak menimpalinya. Ia kemudian ngacir pergi bersama kawan-kawannya. Betul juga…! Bagaimana pun ia sudah berubah. Dulu ia seorang pembolos berat sehingga tinggal kelas dan kini ia peringkat 10 di kelasnya. Not bad…!

Ketika di mobil saya membuka raportnya dan memperhatikan nilai-nilainya. Tak ada yang istimewa karena hanya sedikit di atas rata-rata kecakapan minimum yang diwajibkan. Tapi tiba-tiba saya terkejut melihat ada angka 9 (sembilan) di bawah. Haah…! Yubi bisa memperoleh angka 9 (sembilan)…! Luar biasa sekali kalau begitu…! Seingatku saya sendiri hanya sekali bisa mendapatkan nilai 9 (sembilan) di raport waktu sekolah. Yaitu nilai bahasa Inggris di ijasah terakhir saya di SMA.

Saya segera memperbaiki letak kacamata saya dan melihat dengan teliti kira-kira mata pelajaran apakah yang nilainya 9 (sembilan) tersebut. Begitu saya melihatnya saya langsung ketawa kecut. “Asem….!” Seru saya dalam hati. Ternyata angka 9 (sembilan) tersebut adalah jumlah Alpanya. Rupanya ia bolos sebanyak 9 (sembilan) kali semester ini.

“Aku masih seperti yang dulu….” mungkin judul yang tepat untuk menggambarkan Yubi pada raportan kali ini.

Jakarta, 23 Desember 2011.

Salam
Satria Dharma

BERAPA LAMA MENULIS BUKU SEPERTI INI…?

1 Komentar

‘Tebalnya…! Berapa lama menulis buku seperti ini…?!”

Demikian komentar dari seorang kerabat ketika saya beri buku saya “For the Love of Reading and Writing” yang tebalnya memang hampir mencapai 500 halaman tersebut. Apalagi buku itu ditulis dengan huruf yang kecil dan rapat sehingga lebih nampak padat. Mungkin ia mengira saya harus menghabiskan waktu berbulan-bulan ‘ngebleng’ menulis buku setebal itu. Padahal buku itu hanyalah kumpulan artikel yang dalam blog dan web pribadi saya yang saya cetak dalam bentuk buku. Itu juga belum semua artikel karena setelah saya periksa masih ada beberapa artikel sekitar seratusan halaman lebih yang belum masuk dalam buku tersebut. Kalau saya kumpulkan bersama tulisan-tulisan baru saya maka sebetulnya saya sudah siap untuk menerbitkan lagi sebuah buku setebal separoh dari buku pertama.

Tapi buku saya yang tebal tersebut memang terasa ‘fenomenal’. Pertama memang karena tebalnya dan dicetak dengan hard-cover. Kedua, karena saya memang bukan seorang ‘penulis buku’, meski buku itu memang bukan buku pertama saya. Sebelumnya saya sudah pernah menulis beberapa buku, baik itu buku diktat bagi siswa-siswa saya belajar bahasa Inggris maupun buku kumpulan artikel yang ditulis secara kolaboratif dengan teman lain. Tapi saya memang bukan seorang penulis buku. Saya hanya menulis artikel sesekali dan dimuat di koran lokal seperti Kaltim Pos dan Jawa Pos. Tulisan saya hanya pernah sekali dimuat di koran Kompas. Tapi that’s all. Saya tidak tertarik untuk terus menulis di media

Lalu bagaimana saya tiba-tiba menjadi seorang ‘penulis buku’…?!
Barangkali itu karena faktor kebetulan.

Sejak kecil saya banyak membaca, buku-buku cerita utamanya, dan itu menumbuhkan banyak kata-kata di kepala saya. Kata-kata tumbuh dan terangkai-rangkai tapi tak pernah keluar. Ia mendekam di sana karena memang tak ada sesuatu pun yang membuatnya perlu keluar. Di rumah tak ada orang pun yang mengajarkan saya bagaimana mengeluarkan kata-kata tersebut dalam bentuk tulisan dan di sekolah juga tidak. Sekolah kita, meski namanya gagah S E K O L A H dan punya banyak guru-guru yang terdidik untuk mengajar dan katanya punya kurikulum tentang MENULIS tapi sebenarnya tidak mengajarkan pada kita bagaimana merangkai kata-kata yang tumbuh di kepala kita, baik dari kehidupan sehari-hari atau dari apa yang kita baca.

Sekolah biasanya hanya mengajarkan bagaimana kita memilih jawaban dari soal-soal tentang berbagai hal. Pilihan itu disebut ‘multiple choice’ dan kita diajari bagaimana memilih dengan tepat satu jawaban yang tepat diantara empat pilihan yang tersedia. Hari-hari kita di sekolah dipenuhi dengan kegiatan seperti itu. Sangat menyedihkan memang.

Kita tidak diajari bagaimana memperoleh pengetahuan dari membaca dan bagaimana merangkai kata-kata kita sendiri untuk menjadi sebuah cerita atau kisah. Kita tidak memiliki guru-guru yang tahu caranya mengajari anak-anak menuliskan ceritanya. Padahal ‘everybody has a story to tell’ kata Erin Gruwell dalam ‘Freedom Writers Diary’nya. Apa yang perlu kita lakukan adalah mengajari mereka untuk menuliskannya.

Tapi bagaimana kita akan mengajarkannya jika guru-guru kita juga tidak tahu bagaimana mengajarkannya..?! Bagaimana kita akan mengajarkan guru-guru untuk menulis agar bisa mengajari murid-muridnya menulis jika dalam kurikulum pendidikan kita itu bukan sebuah hal yang PERLU atau HARUS diajarkan…?! Bukankah yang penting dalam pendidikan nasional kita, agar dapat sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya, adalah sebuah UJIAN NASIONAL yang berlaku bagi semua siswa tidak perduli di mana ia tinggal dan seberapa tertinggal ia? Kita tidak perduli apakah anak-anak kita membaca buku atau tidak, mampu menulis atau tidak. Itu nampaknya tidak penting bagi kita. Kita pertaruhkan segala visi dan misi pendidikan nasional kita dan masa depan negara kita dalam sebuah kebijakan yang bernama Ujian Nasional (yang tak henti-hentinya dicurangi secara nasional pula).

Jadi siapa yang begitu konyol bicara soal pengetahuan dan ketrampilan menulis bagi anak-anak kita? Kita tidak memerlukan anak-anak yang membaca buku dan menuliskan pendapat-pendapat orisinal mereka. Biarlah kata-kata yang tumbuh di kepala mereka tetap berada di kepala saja. Negara kita membutuhkan nilai-nilai gemilang dari anak-anak kita dalam Ujian Nasional. That’s it. Take it or leave it…!

(Oh my..! Mengapa saya mulai getir lagi…?! Bukankah saya ingin menulis tentang bagaimana saya mulai menulis ?!)

Baiklah..! Saya akan bercerita bagaimana saya mulai menulis dalam lingkungan yang tidak menulis.

Sepanjang yang saya ingat, saya mulai menuliskan kata-kata yang tumbuh di kepala saya dalam paragraph-paragraf yang panjang ketika punya seorang teman pena. Namanya JS dan ia tinggal di Jl Kidang Bandung (saya tidak tahu di mana itu karena tidak pernah ke sana meski sering ke Bandung). JS adalah seorang teman pena yang sampai saat ini tidak pernah saya temui. Dan itu lebih dari tiga puluhan tahun yang lalu. Saya bahkan masih hafal alamatnya karena kami saling kirim surat dalam waktu yang cukup lama. Saya mengenalnya sebagai seorang pemenang lomba menulis sebuah majalah dan disitu tertera alamatnya. Jadi saya menulis surat kepadanya dan mengatakan bahwa sebenarnya ia tidak layak menang karena tak ada yang spesial dalam tulisannya. Tentu saja saya berbohong karena tulisannya memang bagus (tentang kisah nyata dalam keluarganya yang ditulisnya dengan indah) dan ia masih SMA waktu itu. Saya hanya ingin mendapatkan perhatiannya. Ia pun membalas dan menyindir saya dan mengatakan bahwa bagaimana pun ia adalah seorang pemenang lomba dan uang hadiahnya sangat menyenangkan.

Dari situ kami kemudian saling kirim surat balasan. JS jelas seorang penulis yang berbakat dan ia bisa bercerita apa saja dengan menarik dalam tulisannya. Bukan hanya itu, ia juga seorang penulis panjang. Suratnya datang berlembar-lembar, empat atau lima lembar halaman bolak-balik. Ia selalu memakai jenis kertas yang tipis agar tidak telalu tebal ketika dimasukkan amplop. Waktu itu surat masih ditulis tangan dan dibutuhkan stamina yang kuat untuk menulis sebanyak itu tentu saja. Tulisannya bagus, rapi dan kalimatnya runtut. Jelas JS seorang yang cerdas dan itu terlihat dari apa yang ditulisnya dan bagaimana ia menulisnya. Rupanya ia ingin unjuk gigi untuk menunjukkan betapa mudahnya ia menulis. Saya terima itu sebagai ‘tantangan’ mengajak berlomba menulis panjang dan saya tentu tidak ingin kalah dan juga berupaya untuk menulis panjang-panjang sepertinya. Saya ambil kertas dan mulai menuliskan apa saja yang pernah tumbuh di kepala saya. Saya menguras semua rangkaian kata-kata yang bisa saya keluarkan dari benak saya. Di situlah saya mulai berlatih menulis. It’s like a long, fun, and challenging duel in writing between me and her. :-D

Jadi saya dilatih menulis oleh seorang gadis SMA yang tidak pernah saya temui selama hidup saya!

Kami bersahabat pena selama bertahun-tahun dan kalau suratnya saya kumpulkan mungkin sudah jadi kumpulan ‘short stories’ yang tebalnya mungkin lebih dari 500 halaman. Tapi kami tidak pernah bertemu muka sampai sekarang!

Anda mungkin akan bertanya-tanya mengapa saya tidak pernah berupaya untuk mencari dan menemuinya sedangkan saya tahu nama dan alamatnya. Saya sendiri tidak tahu jawabannya tapi mungkin karena saya ingin agar ‘some mysteries are still kept as mysteries’, ada hal-hal yang mungkin lebih indah jika tetap menjadi misteri dalam hidup kita. (Lagipula ia juga tidak pernah menyatakan keinginannya untuk bertemu dengan saya. Jadi kami klop).

Akhirnya menulis surat menjadi latihan saya untuk mengekspresikan diri. Saya tidak pernah benar-benar tertarik untuk menulis artikel bagi media. Saya juga tidak tahu mengapa. Mungkin karena saya selalu butuh seseorang untuk menjadi audien saya. Seseorang yang bisa memberi tanggapan balik atas apa yang saya tulis dan bukan menulis di media yang kemudian tak ada tanggapan apa-apa darinya.

Jadi saya selalu berupaya untuk mencari seseorang sebagai tempat bagi saya menulis surat. Salah satu gadis lain yang saya surati panjang-panjang adalah seorang mantan siswa saya yang saat itu bekerja di Hotel Sahid Surabaya. Saya sendiri bekerja di Bontang International School waktu itu. Pekerjaan saya sudah tidak menantang lagi dan laboratorium komputer sekolah saya adalah tempat saya nongkrong untuk menulis surat. Karena sudah pakai komputer dan tinggal cetak hasilnya maka menulis surat yang panjang menjadi lebih mudah. Suatu peristiwa membuat saya memutuskan untuk melamarnya. Lewat surat juga! Jadi menulis surat adalah latihan yang baik untuk mengekspresikan diri (and in my case hadiahnya adalah seorang istri yang sempurna. Bukankah ini luar biasa?! Hehehe…!)

Latihan saya menulis kemudian berpindah ke milis-milis. Saya suka sekali mengikuti diskusi dan debat-debat di berbagai milis. Debat paling seru tentu saja jika sudah menyangkut agama dan keyakinan. Sebagian besar dari kita menganggap agama sebagai sesuatu yang harus dipertahankan mati-matian . Dan itu membuat milis menjadi ajang yang sangat seru untuk saling serang pendapat, melalui kata-kata tentu saja! Dan saya terjun langsung ke debat-debat tersebut untuk memenuhi kebutuhan saya untuk berlatih mengemukakan argumentasi secara tepat dan terstruktur. Ini adalah tempat berlatih menulis dan belajar yang sangat menarik! Topik-topik yang muncul bisa begitu beragam. Untuk bisa mengikuti diskusi itu dibutuhkan kemampuan menampilkan argumen, data dan fakta yang disusun dengan baik untuk menghantam lawan debat atau untuk menangkis argumen lawan. Kadang-kadang topik tertentu membutuhkan pengetahuan yang cukup dalam dan untuk itu dibutuhkan kemampuan membaca yang baik juga. Saya beruntung memiliki kemampuan membaca yang cukup baik dan terus terasah karena saya harus mencari informasi yang saya butuhkan untuk menghadapi lawan debat saya.

Google menyediakan samudra informasi dan kita tinggal menyelam untuk mencari informasi yang kita butuhkan. It’s all there and you can just take them out.

Sejak mengenal internet dan berdiskusi melalui milis-milis maka saya sudah rutin menulis. Hampir tiap hari saya menulis untuk menanggapi topik-topik diskusi di milis. Di milis saya bertemu dengan orang-orang pintar dengan kemampuan menulis dan berargumen yang hebat. Dan saya belajar dari orang-orang semacam ini. Karena sudah menulis secara rutin pandangan-pandangan saya di milis-milis maka jika dikumpulkan mungkin sudah menjadi belasan buku…!

Setelah itu datanglah era blogging. Weblog adalah sarana untuk membingkai ide-ide dan pendapat kita secara mudah. Dari situlah saya kemudian mulai rutin menuliskan ide-ide yang berloncatan dari benak saya dan meletakkannya di blog. Seingat saya blog saya di http://satriadharma.wordpress.com telah saya isi sejak tahun 2004 (dan kemudian saya bikin yang sama dengan http://satriadharma.com/) .

Jadi saya memang telah mengumpulkan tulisan saya sejak sekitar enam tahun yang lalu dan itulah yang saya cetak menjadi buku setebal hampir 500 halaman tersebut. Itu bukan pekerjaan sehari, dua hari, sebulan atau dua bulan seperti yang dikira oleh kerabat saya tersebut. It’s a long road which I take everyday step by step.


Apakah saya akan menjadi seorang penulis setelah ini? Secara prinsip saya sudah mejadi seorang penulis. Saya telah melakukan pekerjaan menulis secara rutin meski saya tidak menerbitkan tulisan-tulisan saya dan tak ada buku-buku saya yang diterbitkan. Jika untuk menjadi penulis seorang harus menerbitkan bukunya maka saya telah melakukannya. Bagi saya menulis adalah mengekspresikan emosi dan pikiran dalam bentuk tertulis dan kemudian disampaikan pada komunitas yang akan membacanya. Mailing-lists dan web adalah tempat saya untuk menuangkan semua emosi dan pemikiran saya dalam bentuk tertulis.

Bagaimana dengan Anda….?!

Balikpapan, 23 Desember 2011

SIDAK BB

1 Komentar

Dokumentasi, Singapore, June, 2010

Dokumentasi, Singapore, June, 2010

“Terima kasih, Yang, sudah mempercayaiku.” Demikian tiba-tiba istri saya berkata sambil mencium pipi saya dengan mesra. Saya sejenak terpana dan bertanya-tanya dalam hati untuk apa ciuman dan ucapan terima kasih tersebut. Setelah sadar barulah saya paham bahwa ia rupanya berterima kasih karena saya tidak pernah memeriksa telpon genggamnya atau pun ingin tahu dengan siapa ia berhubungan dengan BB-nya selama ini. Waks…! :-D

Kami memang baru saja membicarakan ttg seorang kerabat yg harus sering menghapus pesan di BB-nya karena suaminya sering ‘sidak’ ke BB-nya dan marah kalau menemukan ada hal-hal yg tidak berkenan di hatinya. Ia memang tidak bebas berkomunikasi dengan siapa saja dan kapan saja seperti istri saya. Kami jadi kasihan padanya dan sering menjadikan hal tersebut sebagai olok-olok. Kami memang memandang hal yg dilakukan oleh suaminya tersebut berlebihan.
Sebaliknya, saya bahkan tidak pernah bertanya siapa saja teman-teman yg berhubungan dengan istri saya dan urusan apa. Istri saya punya urusan pribadi dan saya juga punya urusan pribadi yg tidak perlu harus dilaporkan satu sama lain. Dan saya memang menjaganya agar tetap demikian.

Tapi tentu saja saya tahu bahwa istri saya punya grup BB dengan teman SD, SMP, maupun bekas teman kerjanya. Tanpa saya minta pun istri saya akan bercerita tentang berbagai pesan dan foto menarik dan konyol yg dikirimkan teman-temannya kepadanya. Kadang-kadang saya menimpalinya tapi sering juga saya cuma senyum dan bergumam tidak jelas. Lha wong saya tidak kenal sama konconya tersebut dan juga tidak niat utk kenalan kalau tidak sengaja dikenalkan sama istri. Sebaliknya saya hanya kadang-kadang saja menceritakan apa yg ada dalam komunitas saya. Biasanya yg lucu-lucu atau konyol-konyol saja agar kami bisa tertawa bareng. Utk soal pekerjaan istri saya sudah tahu betul bahwa saya alergi menceritakannya padanya. Soal pekerjaan is not something to share with. Saya banyak bekerja dengan keluarga dan kalau ada konflik atau perbedaan pendapat dengan mereka maka saya ingin agar itu tetap menjadi office affair dan tidak mau itu merembet menjadi masalah keluarga. Istri saya itu ipar favorit di mata saudara-saudara dan famili saya dan saya ingin tetap demikian. Kita ini paling sulit membedakan mana yg urusan pribadi dan mana yg kantor. Urusan kantor bisa menjadi urusan domestik dan begitu juga sebaliknya. Istri bisa ikut-ikutan berkuasa di kantor suami and in some cases malah bisa lebih berkuasa ketimbang suaminya…! Itu sebabnya ada olok-olok bahwa istri seorang Panglima bisa menjadi “Pangtujuh” karena punya pangkat dan kekuasaan yg lebih tinggi daripada suaminya meski tidak resmi. “Pangtujuh” bisa memveto keputusan Panglima di kantor. Pusing kan…?! Saya tidak ingin istri saya menjadi manajer atau pimpinan tidak resmi dari karyawan atau dosen yg saya pimpin. No trespassing over my working territory!

Seringkali istri saya bersikap inquisitive pada beberapa kasus yg ia dengar dan memancing saya bercerita(ya memang begitulah wanita!) tapi kalau saya diam saja dan pasang tampang bloon maka ia langsung sadar bahwa saya sudah pasang garis yg tidak boleh dilewatinya. Ia pun berhenti utk cari informasi dari saya (dan mungkin cari informasi ke tempat lain).
Tapi itu dulu. Sekarang saya sudah pensiun dan cuma ngurusi organisasi profesi (yang tidak bisa dijadikan bahan utk ngrumpi). Jadi sifat ‘istri yg pingin tahu soal pekerjaan suami’nya langsung buyar karena tidak dapat pasokan stok lagi. :-D Kadang-kadang saja saya mau cerita tentang teman-teman di IGI yang ia kenal.
Kalau soal pribadi seperti pergaulan mah kami sdh TST. Jadi soal pribadi apa yg perlu diketahui oleh masing-masing di antara kami tidak pernah menjadi masalah. Istri saya tidak pernah mencurigai siapa pun yg menghubungi dan saya hubungi dan begitu juga sebaliknya. Kami masing-masing tahu bahwa kami tidak punya affair dengan siapa pun dan tidak ada rahasia yg harus kami sembunyikan satu sama lain. Tapi soal privacy tentu kami jaga masing-masing. Saya tidak akan membuka-buka BB istri saya tanpa ijinnya dan begitu juga sebaliknya. Istri saya tentu tidak ingin dan tidak suka dicurigai dan begitu juga saya. Untungnya bahwa kami saling mempercayai sehingga kasus pemeriksaan history HP tidak pernah terjadi di antara kami. Kami bahkan menganggapnya sebagai perbuatan yg tercela.
Apakah saya tidak pernah tergoda utk mengetahui dengan siapa saja istri saya berkomunikasi dan apa saja yg ia bicarakan? Siapa tahu ada komunikasi yg tidak wajar, umpamanya? Terus terang saja tidak. Saya tahu betul bahwa istri saya sangat mencintai saya sehingga tidak bakalan ada keinginan utk bikin affair dengan siapa pun. Begitu juga saya. Jadi utk apa saling ‘sidak’ telpon genggam…?! Istri saya mungkin masih sedikit punya rasa curiga pada suaminya yg ganteng, gagah, duitnya banyak, dan ramah pada wanita-wanita cantik seperti saya ini.:-D Hehehe…! Ia bahkan dulunya masih cemburu dengan bekas teman-teman spesial saya (semua saya ceritakan padanya agar saya tidak repot-repot menyimpan rahasia) tapi kemudian sadar bahwa itu tidak ada gunanya. Saya berhasil meyakinkannya bahwa she is the only one now dan cemburu tidak ada gunanya.
Jadi meski ia tahu saya masih berkomunikasi dengan bekas teman spesial saya tapi ia tidak pernah bakalan memeriksa BB saya utk cari tahu. Ia tahu bahwa saya sangat menghargai privasi masing-masing dan tentu tidak suka jika privasi tsb dilanggar. Itu sudah menjadi semacam konvensi di antara kami. Kami bahkan tidak memeriksa isi HP anak kami dan memberi kepercayaan pada mereka soal apa yg layak dan tidak utk disimpan disitu. Mereka tahu aturan tak tertulis tersebut dan mereka menjaganya dg kepercayaan yg kami berikan.

Balikpapan, 10 Desember 2011
Salam
Satria Dharma

Spice Your Life Up

Tinggalkan Komentar

Hidup yg datar, monoton, dan begitu-begitu saja tentu sangat membosankan. Tidak perduli apakah kita ada di atas, di tengah, atau di bawah. Dinamika hidup itu perlu. Bayangkan detak jantung yg rata begitu saja di monitor kontrol. Kalau penunjuknya sudah datar lurus saja berarti pemiliknya sudah almarhum tentu saja. :-D

Seorang teman pernah bercerita bahwa ia mengenal seseorang yg kaya raya (karena warisan dr ortunya) tapi hidupnya begitu membosankan. Ia tinggal di rumah besar bak istana dengan beberapa pembantu plus sopir. Tapi sehari-hari kerjanya cuma tidur dan main game. Sesekali ia belanja keperluan hidup di mall dekat rumahnya. Ia sering mengeluh kalau belanja terlalu banyak. Padahal pembantunya kan juga perlu makan ikut dia. Sisa hidupnya ya main game di komputer dan tidur. Sungguh membosankan meski pun hanya mendengarnya. Lha kekayaannya untuk apa ya? Orang seperti ini sebetulnya tidak perlu memiliki banyak harta lha wong hidupnya nyaris vegetatif gitu!

Hidup kita itu sebenarnya didorong oleh gairah kita dalam menjalaninya. Kalau kita sedang tidak punya gairah maka apa pun kesenangan dunia yg ‘gemletak’ di sekitar kita tidak akan ada artinya. Betapa pun cantik dan seksinya istri kita kalau sedang tidak berghoiroh ya akan nampak seperti manekin saja. Jadi jangan heran kalau ada pasangan suami istri yg sehari-hari mengisi kebersamaan mereka dengan bertengkar. Mungkin itu semacam usaha utk menghidupkan kembali ‘ghoiroh’ dalam perkawinan mereka. :-D

Sebetulnya potensi bosan dan kehilangan gairah dalam hidup selalu mengancam kita. Pekerjaan dan cara hidup yg rutin dan mekanis bisa membuat kita bosan. Apalagi kalau kita memang bekerja di bagian yg samasekali tidak membutuhkan kapasitas otak kita utk berpikir. Satpam, umpamanya.

Salah seorang adik saya pernah cerita bahwa satpam di perusahaan asing itu enak karena gajinya besar. Saya langsung bilang, “Kamu mau jadi satpam di situ? Biar saya dibayar tiga kali lipat pun saya tidak sudi.”. Adik saya heran dan saya juga heran. Saya tidak menghina pekerjaan satpam karena setiap pekerjaan itu punya sisi mulia masing-masing. Tapi mana mau saya bekerja pada profesi yang tidak membutuhkan potensi intelektualitas dan kreativitas saya. Mending saya jadi guru di desa yg meski pun gajinya kecil tapi membutuhkan potensi intelektualitas dan kreativitas saya. Itu akan lebih menarik dan bergairah. Berhadapan dengan siswa dengan segala problema dan potensinya jelas akan sangat menantang dan membangkitkan gairah hidup saya. (Sementara itu saya membayangkan diri saya berseragam biru atau safari bekerja membuka dan menutup palang pintu sambil memeriksa bagian bawah mobil siapa tahu ada orang iseng meletakkan bom disitu. Oh no…!). Saya tentu akan heran suherman kalau ada sarjana akuntansi yg memilih bekerja jadi satpam hanya karena gajinya lebih besar.

Jadi guru itu sebenarnya pekerjaan yg sangat menantang. Setiap hari kita bertemu dengan ratusan orang di sekolah dengan problemanya masing-masing. Selalu ada cerita baru dari siswa kita (sedangkan satpam tidak akan pernah menemukan seekor landak di bawah mobil yg diperiksanya). Hari ini si A datang dengan wajah berseri-seri karena baru dibelikan motor oleh ayahnya dan besoknya mungkin wajahnya kusut karena motor disita oleh ayahnya karena ketahuan ngebut. Hari ini si B yang berwajah rembulan bilang cita-citanya mau jadi perawat di luar negeri. Besoknya ia datang dengan senyum yg lebih lebar bilang mau jadi polwan saja. Hari ini siswa tertawa-tawa dengan pelajaran yg kita berikan besoknya mungkin mereka tegang karena banyak tugas dan ulangan. Selalu ada cerita baru bersama siswa. Setiap tahun berdatangan puluhan bahkan ratusan siswa baru dg riwayat dan kisah barunya. Sementara siswa lama akan meneruskan sekolahnya ke dunia baru dan sesekali masih menghubungi kita. Kita menjadi kaya dengan kehidupan-kehidupan baru yg terus bertambah. (Apakah satpam akan menemukan gairah baru ketika ia memeriksa bawah mobil Humvee terbaru. I doubt it)

Meski demikian seringkali kita juga diserang rasa jenuh terutama ketika tuntutan pekerjaan meningkat dan kita terjebak dalam rutinitas. Seorang teman dosen bercerita bhw ia sering ‘blank’ ketika berhadapan dengan mahasiswa jika volume mengajarnya sangat tinggi. Ia bisa kehilangan gairah mengajar pada saat jenuh seperti itu meski ia sangat menyukai pekerjaannya sebagai dosen.

Selingan dalam hidup itu perlu. Ia akan memberi bumbu dalam hidangan kehidupan kita. Ia menghidupkan passion dalam diri kita dalam melakukan tugas sehari-hari. Itu pentingnya rekreasi dalam hidup kita. Itu agar kita bisa berkarya kembali (re-create) setelahnya. Tentu saja kita harus pandai dalam memilih bentuk rekreasi kita agar tidak malah menjadi ‘accident’ atau malah ‘disaster’.

Humor adalah rekreasi harian yg saya pilih utk menggairahkan hidup. Saya bersama istri selalu mencari segi-segi yg lucu dalam kejadian sehari-hari to spice it up. Kami mencari dan saling bercerita ttg lelucon baru. Dan setelah itu kami ketawa bareng-bareng dan mengembangkan cerita tsb supaya lebih lucu. Kami menciptakan tokoh imajinasi utk kami jadikan sebagai bahan olok-olok. Kami beri ia nama ‘Lin’ dan ia asli Madiun. (Haha…! Istri saya orang Madiun dan ia bersedia asalnya saya jadikan bahan olok-olok). Karena Lin, tokoh imajinasi kami, ini asli Madiun maka bahasa Indonesianya kurang lancar. Ia selalu mencampur adukkan bahasa Jawa dengan bahasa Indonesia. Celakanya ia punya bos yg tidak paham bahasa Jawa. Jadi Lin mungkin suatu saat akan lapor pada atasannya bahwa saat ini ‘hujan deras dan angin nggebas’. Setelah itu kami tertawa sendiri membayangkan tokoh imajinasi kami itu menjelaskan pada bosnya apa itu ‘nggebas’. Suatu saat Lin minta ijin pada bosnya utk ‘mengendangi’ teman yg sakit dan bosnya bingung apa maksudnya ‘meng-endang-i’ teman yang sakit itu. Hal-hal seperti itu selalu membuat kami menikmati kebersamaan kami di mana pun.

How do you spice your life up…?!

Surabaya, 7 Desember 2011

Salam
Satria Dharma

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.