Dialog Imajiner antara Muslim dan David

1 Komentar

Sebuah dialog imajiner antara seorang bernama ‘Muslim’ dan ‘David’ muncul di beberapa milis yg saya ikuti seperti ini.

Muslim : Bagaimana natalmu ?
David : Baik, kau tidak mengucapkan selamat natal padaku ?
Muslim : Tidak, agama kami menghargai toleransi antar agama, termasuk agamamu, tapi masalah ini, agama saya melarangnya..
David : Tapi kenapa, bukankah hanya sekedar kata2 ? Teman muslimku yg lain, mengucapkannya padaku ?
Muslim : Mungkin mereka belum mengetahuinya… David, kau bisa mengucapkan dua kalimat syahadat ?
David : Oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya… Itu akan mengganggu kepercayaan saya…
Muslim : kenapa ? Bukankah hanya kata2 ? Ayo, ucapkanlah ;)
David : sekarang, saya mengerti.. ;)

Saya tercengang membaca dialog ini. Jelas bahwa si pembuat dialog ingin menyampaikan bhw bagi seorang muslim mengucapkan ‘Selamat Natal’ sama dengan mengucapkan syahadat dalam Islam…! Bagaimana mungkin ia sesembrono itu?

Pengharaman ucapan selamat natal jelas merupakan masalah khilafiah. Ada ulama yg melarang tapi ada ulama lain yg justru menganjurkan. Salah satunya adalah Syeh Qaradhawi. Beliau menganggap mengucapkan selamat merayakan Natal adalah perbuatan muamalah yg baik utk mempererat hubungan baik dg umat Nasrani. Beliau tidak menganggap ini sebagai bagian dari akidah melainkan muamalah yg baik utk dilakukan.

Selain Syeh Qaradhawi, para ulama Eropa juga menganggap ucapan Selamat Merayakan Natal adalah muamalah yg baik utk dilakukan utk menciptakan toleransi antara umat beragama di Eropa.
Di Indonesia Dien Syamsudin, Ketua PP Muhammadiyah, menyatakan bahwa ia setiap tahun mengucapkan Selamat Natal kepada sahabat-sahabatnya yg beragama Nasrani. Beliau adalah Sekertaris Umum MUI Pusat. Meski pun MUI pernah mengeluarkan fatwa larangan merayakan Natal bersama tapi MUI tidak melarang ucapan Selamat Natal.
Ustad Quraish Shihab yang ahli tafsir Al-Qur’an itu juga menganggap ucapan selamat natal ini sebagai hal yg mubah. Silakan saja kalau mau mengucapkan.

Tentu saja ada beberapa ulama Islam yg berpendapat bahwa ucapan tersebut haram dengan argumen dan dalil-dalil yg mereka punyai. Tapi menganggap bahwa pengharaman tersebut sebagai ajaran Islam dan sama dengan pengucapan syahadat adalah sangat berlebihan. Ucapan Selamat Merayakan Natal itu hanya setara dengan ucapan Selamat Iedhul Fitri.

Tentu saja si Muslim tokoh imajiner itu berhak utk menganggap ucapan tersebut haram dan bakal mempengaruhi akidahnya. Tapi menganggap muslim lain yg membolehkannya sebagai tidak paham ajaran agama dengan mengatakan ‘mungkin mereka belum mengetahuinya’ sungguh gegabah. Ini sama artinya dengan MENGHAKIMI muslim lainnya sebagai TIDAK PAHAM ajaran agama Islam soal ucapan selamat natal tersebut. Benarkah umat Islam yg mengucapkan ‘selamat natal’ tidak mengetahui bahwa ucapan tersebut sama dengan bersyahadat dalam agama nasrani? Bayangkan betapa sembrononya pernyataan ini…! Syeh Qaradhawi dianggap ‘belum mengetahui’ hal ini…?! Ustad Quraish Shihab ‘belum mengetahui’…?! Dien Syamsudin tidak sadar apa yg ia katakan…?! Lantas apa maksudnya kalimat ‘mungkin mereka belum mengetahuinya’ tersebut…?!

Bagi mereka yg mengharamkan ucapan selamat natal kepada umat Nasrani tersebut sebaiknya melihat bagaimana ulama-ulama besar Al-Azhar di Mesir dan Iran. Mereka tidak hanya memberikan ucapan selamat Natal kepada warga Nasrani di negaranya, tapi juga biasa merayakan Natal di gereja.

Sri Paus pernah mengatakan bahwa orang pertama di dunia yang mengucapkan selamat Natal tiap tahun kepadanya adalah Ayatollah Ruhullah Khomeini. Ulama besar Mesir, Sayyid Muhammad Thantawi, tak hanya membolehkan seorang muslim turut merayakan hari raya Natal tapi juga menghadiri undangan Natal umat Kristen Koptik di gereja-gereja di sana.

Apakah ucapan selamat Natal itu ada dasarnya dalam Islam? Tentu saja ada. Nabi Isa (Yesus) sendiri menyatakan sebagaimana dalam Al-Qur’an 19:22 “Keselamatan atas diriku ketika dilahirkan, ketika meninggal dunia, dan ketika (nanti) dilahirkan kembali.”

Jadi siapa sebenarnya yg ‘mungkin mereka belum mengetahuinya’ tersebut…?!

Jadi silakan tentukan sikap Anda dalam hal ini. Bagi saya ucapan Selamat Merayakan Natal yg saya kirim kepada teman-teman dan umat Nasrani yg saya kenal adalah benar-benar ucapan tulus dari hati saya agar tercipta kedamaian dan perdamaian antara umat beragama. Saya ingin mereka mengetahui dan merasakan bahwa umat Islam sangat toleran pada mereka dan tahu batas antara akidah dan muamalah.

Lion Air, CGK – SUB,
28 Desember 2011

Salam

Satria Dharma

Engkau Lebih Tahu Urusan Duniamu…

Tinggalkan Komentar

Syahdan…

Suatu ketika Rasulullah mendapati penduduk Madinah sedang mengawinkan benih kurma dengan penyerbukan. Melihat ini Rasulullah lalu mengomentari apa yang dilakukan oleh penduduk Madinah tersebut dan bertanya mengapa benih kurma itu mesti dikawinkan segala. Mengapa tidak dibiarkan begitu saja secara alamiah. Penduduk Madinah yang petani kurma itu sangat menghormati Nabi Muhammad sebagai pemimpin panutannya. Ia lalu mengikuti saran Rasulullah dan berhenti mengawinkan kurmanya. Kemudian ternyata produksi kurmanya menurun karenanya.

Panennya berkurang karena mengikuti saran Rasulullah. Para petani kurma kemudian melaporkan panen kurma yang menurun itu kepada Rasulullah. Rasulullah kemudian sadar akan keterbatasan pengetahuannya tentang menanam kurma. Maka keluarlah sabda Rasulullah: Wa Antum A’lamu biAmri Dunya-kum, kamu sekalian lebih mengetahui urusan duniamu. http://www.mail-archive.com/jamaah@arroyyan.com/msg00446.html

Apa artinya ini?

Ketika Nabi saw memberikan nasihat tentang cara mengawinkan pohon kurma supaya berbuah, ini bisa dianggap bahwa beliau sudah memasukkan otoritas agama untuk urusan duniawi yang di mana beliau tidak mendapatkan wahyu atau kewenangan untuk itu. Untuk manusia setingkat Nabi apa pun perkataannya, sikapnya, dan bahkan diamnya pun bisa dianggap sebagai hukum, aturan, dan ketentuan. Tapi ternyata dalam masalah menanam kurma ini pendapat beliau keliru. Pohon kurma itu malah menjadi mandul. Maka para petani kurma itu mengadu lagi kepada Nabi saw, meminta pertanggungjawaban beliau. Dan beliau menyadari kesalahan advisnya waktu itu dan dengan rendah hati berkata, “Kalau itu berkaitan dengan urusan agama ikutilah aku, tapi kalau itu berkaitan dengan urusan dunia kamu, maka “Antum a’lamu bi umuri dunyaakum” kamu sekalian lebih mengetahui urusan duniamu. Rasulullah mengakui keterbatasannya. Rasulullah bukanlah penentu untuk segala hal. Rasul bukanlah orang yang paling tahu untuk segala hal. Bahkan untuk urusan dunia di jaman beliau pun beliau bukanlah orang yang paling tahu. Jadi tidak mungkin jika kita menuntut Rasulullah untuk mengetahui segala sesuatu hal tentang urusan dunia. Apalagi kalau mengurusi urusan kita di jaman modern ini…! Tentu tidak mungkin kita harus mencari-cari semua aturan tetek-bengek dalam hadist beliau. Itu namanya set-back. Lha wong di jamannya saja Rasulullah menyatakan bahwa ada hal-hal yang tidak beliau pahami dan hendaknya tidak mengikuti pendapat beliau dalam ‘urusan duniamu’ tersebut.

Mengapa saya mengungkapkan kembali kisah ini? Karena ternyata masih saja banyak umat Islam itu yang tidak paham soal ini. Mereka menganggap bahwa Islam yang dibawa oleh Rasulullah itu sudah mengatur segala sesuatunya urusan dunia dan akhirat sampai sedetil-detilnya mulai jaman dulu sampai nanti pada waktu kiamat. Haah…?! Yang benar sajalah…!

Seorang teman yang menjadi anggota organisasi politik Islam transnasional selalu mengritik demokrasi dan mengatakan bahwa demokrasi itu ‘haram’ karena bertentangan dengan ajaran Islam. Katanya dalam ajaran Islam semua peraturan kehidupan di dunia HARUS berasal dari Allah. Alasannya karena Allahlah yang menciptakan manusia sehingga Allahlah yang paling tahu bagaimana mengatur kehidupan di dunia. Bahkan jika kita membuka-buka di internet maka akan kita temukan indoktrinasi mereka yang mengatakan bahwa demokrasi itu sistem kufur. http://hizbut-tahrir.or.id/2009/04/11/demokrasi-sistem-kufur-cover/

Berikut ini saya kutipkan argument tentang kekufuran system demokrasi.

Demokrasi Sistem Kufur

Demokrasi adalah suatu konsep tentang realita kehidupan dimana manusia berkehendak untuk membuat peraturan hidupnya (Demos: rakyat; kratos: pemerintahan). Padahal, aturan hidup itu sudah dibuat oleh Allah SWT dengan sangat sempurna. Allah SWT sebagai pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan ini sudah menyertakan tata cara “penggunaan” alam semesta sebagaimana sebuah pabrik membuat aturan pakai tentang suatu produk yang dibuatnya. Jika Allah sudah menciptakan sebuah aturan untuk hidup ini maka mengapa kita sebagai manusia berani untuk membuat aturan lain selain aturan Allah SWT yang Maha Mengetahui kondisi alam semesta?

Perintah untuk memutuskan perkara kehidupan menurut aturan Allah adalah wajib hukumnya, maka apakah kita akan menginginkan aturan manusia sebagai pengatur kehidupan ini. Sebagai umat Islam, kita jangan sampai tertipu oleh tipu daya orang-orang kafir bahwa demokrasi merupakan sistem politik paling baik yang bisa mengakomodir kepentingan seluruh umat manusia. Anggapan sesat ini membuat kaum Muslimin berpaling dari aturan Allah SWT dan masuk ke dalam kubangan maksiat secara berjamaah.” http://nchiedive.multiply.com/journal/item/341?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

Jika kita baca sekilas argumen ini nampak seolah benar. Padahal argumen yang digunakan jelas salah kaprah. Banyak umat Islam yang menghantam demokrasi dengan mengatakan bahwa demokrasi itu berarti tidak mengakui aturan Tuhan. Tentu saja itu salah besar.

Apakah benar dalam ajaran agama Islam bahwa untuk mengatur kehidupan di dunia Tuhan harus selalu hadir…?! Tentu saja tidak. Agama tidak diturunkan untuk itu. Contohnya ya soal bagaimana menyerbukkan benih kurma tersebut. Bahkan Rasulullah tidak memiliki pengetahuan yang lebih baik ketimbang petani kurma Madinah sehingga beliau menyatakan bahwa “Antum a’lamu bi umuri dunyaakum”, Engkau lebih tahu tentang urusan duniamu. Apatah lagi soal urusan dunia ultra-modern sekarang ini.

Sebagai contoh, untuk mengatur lalu-lintas apakah Tuhan harus mengeluarkan aturan? untuk urusan pertanian, perkebunan, perkantoran, peraturan sekolah, dll apakah harus diatur oleh Tuhan? Untuk pembagian shift kerja apakah Tuhan juga harus turun tangan…?! :-) Itu kan juga peraturan…?!

Lha lantas apa gunanya Tuhan memberi kita otak dan agama kalau semuanya masih harus
diurusi oleh Tuhan…?! Mbok ya bikin sendiri gitu lho aturan untuk kehidupanmu. Ndak usah sedikit-sedikit minta ‘fatwa’, sedikit-sedikit minta Tuhan turun tangan, dlsb. Kayak binatang dan tanam-tanaman aja…!

Mereka yang membenturkan demokrasi dengan ajaran agama berkilah bahwa demokrasi itu ‘dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat’ lantas di mana peran Tuhan kalau semuanya serba rakyat? Katanya dalam demokrasi Tuhan tidak punya peran karena sudah diambil alih semua oleh rakyat. Makanya itu menjadi sistem yang kufur. Masya Allah…! Kita memang tidak sedang bicara tentang kekuasaan Tuhan (karena Tuhan memang berkuasa atas segala sesuatu). Itu domain yang berbeda.

Demokrasi itu lawannya adalah kesewenang-wenangan dan totaliterisme. Jadi jika tidak demokratis maka tentu totaliter. Mereka yang menolak negara yang demokratis berarti ingin negara yang totaliter yang pemimpinnya memegang kekuasaan absolut di mana rakyat tidak punya perwakilan atau suara. Hanya orang yang tidak paham yang membenturkan antara demokrasi dengan kekuasaan Tuhan.

Coba bayangkan bagaimana mungkin manusia bisa hidup jika SEMUA aturan harus datang dari Tuhan. Apakah peraturan lalu lintas juga harus datang dari Tuhan? Apakah UU Tenaga Kerja harus datang dari Tuhan? Peraturan dan Undang-undang Pertambangan, Migas, Kesehatan, KDRT, dll harus dari Tuhan…?! Lha apa kerjanya manusia kalau minta semuanya disediakan oleh Tuhan? Bukankah manusia itu sudah dijadikan ‘khalifah’ oleh Tuhan agar bisa mengurusi dirinya dan alam semesta ini…?! Lha kok sekarang semua mau dikembalikan pada Tuhan sih…?!

Mereka yang menghantam demokrasi dan mempromosikan sistem yang katanya syar’i dan berasal dari Al-Qur’an dan hadist MAU TIDAK MAU pasti akan membuat aturan-aturan juga untuk mengurusi segala sesuatunya. Dan apakah mereka mau MENGAKU-NGAKU bahwa aturan yang mereka buat itu sebagai ‘aturan Allah’…?! Bagaimana organisasi politik tersebut bisa menetapkan bahwa UU yang akan dihasilkan oleh pemimpinnya nanti adalah benar-benar ‘aturan Allah’ padahal sepenuhnya merupakan hasil pemikiran mereka sendiri…?! Bukankah pada akhirnya nantinya mereka juga akan menggunakan sistem demokrasi?

Bahkan Tuhan itu sangat demokratis meski pun terhadap manusia ciptaanNya. Dalam beberapa permasalahan di mana Rasulullah dan para sahabatnya berbeda pendapat ternyata Tuhan justru membenarkan sahabat (dalam hal ini Umar). Contohnya adalah dalam hal penentuan nasib tawanan Perang Badar. Ketika Perang Badar Nabi saw mengajak sahabat-sahabatnya membahas masalah tawanan perang Badar. Abu Bakar mengusulkan agar umat islam meminta tebusan atas tawanan tersebut. Sedangkan Umar mengusulkan agar para tawanan tersebut dibunuh karena kalau dibebaskan mereka akan kembali lagi memusuhi umat Islam. Mereka tidak akan jera karena toh bisa menebus diri dengan harta. Dan itu tentu akan menguntungkan kaum kafir karena mereka lebih kaya daripada umat Islam. Umat Islam akan terus menerus diperangi oleh orang-orang yang sama. Tapi Nabi menyetujui pendapat Abu Bakar yang mengusulkan mereka tidak dibunuh tapi dijadikan tebusan. Beliau tidak menyetujui pendapat Umar yang menghendaki mereka dibunuh. Tetapi kemudian turun ayat yang membenarkan pendapat Umar . Allah berfirman : “Tidak patut bagi Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi”. (Q.S. al Anfal, 67). Bayangkan…! Bahkan Tuhan lebih membenarkan pendapat Umar padahal Nabi sendiri lebih cenderung pada pendapat Abu Bakar!

Ada beberapa ayat yang turun karena Umar. Umar pernah menyampaikan keinginannya kepada Nabi saw. agar maqam Ibrahim dijadikan tempat shalat. Maka turunlah ayat: “Dan jadikanlah maqam Ibrahim tempat shalat” . ( Q.S. al Baqarah, 125). Ia juga pernah menyampaikan kepada Nabi saw.: “Bagaimana kalau anda perintahkan saja isteri-isteri anda untuk memakai hijab ( penutup wajah ). Sebab mereka dilihat bukan saja oleh orang baik-baik, tetapi juga orang-orang yang jahat”. Lalu Allah menurunkan ayat: “Apabila mereka meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir”. (Q.S. al Ahzab, 53).

Sebagian ulama mengatakan bahwa pendapat-pendapat Umar yang sejalan dengan kehendak Allah berjumlah 14 masalah. Antara lain; usulannya kepada Nabi agar tidak menyembahyangi jenazah Abdullah bin Ubay bin Salul. Al Qur-an menyatakan :”Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangi (seorang) yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo’akan) di kuburnya …”. (Q.S. al Taubah, 84). Umar juga berkeinginan mendapatkan penjelasan yang tegas mengenai persoalan khamr (minuman keras). Ia mengemukakan keinginan itu dalam do’anya : “Ya Allah, berikan kami kejelasan tentang khamar secara tegas dan tuntas. Maka turunlah ayat yang mengharamkannya.

http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/04/umar-bin-khaththab-al-faruq-ra.html

Ini semua menunjukkan bahwa Allah tidaklah ‘sewenang-wenang’ dalam menetapkan aturan meski pun tentu saja Allah adalah Maha Berkuasa. Bahkan tidak selamanya Tuhan membenarkan pendapat NabiNya dan mengesampingkan pendapat sahabat Nabi yang hanya manusia biasa. Tuhan itu demokratis…!

Apa bukti lain bahwa Tuhan itu demokratis dan tidak sewenang-wenang? Salah satu bukti yang sangat penting adalah tentang masalah IMAN. Kalau Tuhan ingin semua manusia beriman , mengapa dia membiarkan orang menjadi kafir atau atheis? Padahal ia Maha Kuasa untuk membuat semua hambaNya beriman. Ini bukti bahwa Tuhan tidak hanya Maha Kuasa, tapi juga Maha Demokratis. Dia tidak mendikte, tetapi memberi pilihan. Dengan konsekuensi tentunya. Jika kita memilih beriman maka ada reward dan ada caranya. Tuhan tetap memberi panduan dan petunjuk melalui Rasul dan Kitab-Nya. Tuhan juga memberi kita akal agar bisa berpikir dan memilih sendiri mana jalan yang akan kita lalui, jalan yang lurus atau jalan yang sesat.

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (QS Yunus ayat 99)

Tentu dengan sangat mudah saja Tuhan bisa menjadikan semua manusia menjadi pengikutNya. Tapi Tuhan ingin manusia beriman karena kehendak mereka sendiri, bukan dengan paksaan. Maka Tuhan memberi kita petunjuk dan akal, tapi kita sendirilah yang memutuskan apakah hendak mengikuti petunjuk itu atau tidak dengan mempergunakan akal kita. Justru keimanan sesorang pada Tuhan itu harus didasarkan pada kemerdekaan memilih yang diberikan oleh Allah khusus pada mahluk yang namanya manusia, dan kemerdekaan adalah salah satu pilar demokrasi yang hakiki.

”Dan katakanlah, kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir.” (QS. Al-Kahf ayat 29).

”Tidak ada paksaan dalam menganut agama. Sesungguhnya telah jelas antara yang benar dan yang sesat.” (QS. Al-Baqarah 2:256).

Kepada para Nabi pun Tuhan berpesan agar tidak memaksa. Nabi hanyalah seorang pemberi peringatan, keputusan untuk mengikuti atau tidak ada dalam diri setiap manusia masing2.

“Jika mereka berserah diri, maka sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanya menyampaikan. Dan Allah Maha Melihat hamba-hambaNya.” (QS. Al-’Imran ayat 20)

Contoh lain adalah soal perintah sholat. Ketika mi’raj, awalnya Tuhan memerintahkan shalat sebanyak 50 rakaat. Nabi Muhammad kemudian menawar jumlah rakaat itu diturunkan dengan alasan umatnya tidak akan kuat sholat sebanyak itu dalam sehari semalam. Tawar menawar itu terjadi beberapa kali hingga akhirnya disepakati shalat hanya 5 rakaat.

Bukankah ini semua menunjukkan betapa demokratisnya Allah SWT? Lantas mengapa dikatakan bahwa demokrasi itu adalah sistem kufur. Padahal Tuhan sendiri yang mengajrkan pada kita bagaimana bersikap demokratis…?!

Balikpapan, 11 Desember 2011

Salam
Satria Dharma

CIUM TANGAN ALA RASUL

Tinggalkan Komentar

Mencium tangan seseorang adalah tanda hormat kepada yg dicium tangannya. Ini bisa kita lihat pada kebiasaan para santri jika bertemu dg guru atau kyainya. Jadi jangan heran jika Anda melihat seorang pejabat yg perlente begitu bertemu dg seorang kyai bukan hanya menyalaminya tapi sekaligus mencium tangannya. Itu karena adanya kedekatan hubungan antara keduanya, di mana yg dicium tangannya biasanya adalah guru yg sangat dihormati. Kita mencium tangan seseorang karena sangat menghormatinya. Saya sendiri selalu berupaya utk mencium tangan ayah, almarhum ibu saya (dan salah seorang tante saya) karena rasa hormat dan cinta kepada mereka ketika bertemu. Meski demikian tak satu pun rasanya ada guru, kyai, atau siapa selain mereka pun yg saya perlakukan demikian hormat.

Siapakah orang yg paling patut utk kita cium tangannya selain orang tua kita sendiri? Rasanya kita sebagai umat Islam dengan senang hati mencium tangan Nabi Muhammad seandainya beliau ada bersama kita. Rasulullah adalah orang yg paling kita cintai dan hormati sebagai umat Islam. Beliau menempati urutan tertinggi utk kita hormati dan cium tangannya jika kita bisa bertemu. Bahkan ada riwayat yg menceritakan dua orang Yahudi yg mencium tangan dan kaki Rasulullah karena kekagumannya atas kerasulan Muhammad SAW.

Bayangkan seandainya justru Rasulullah yang mencium tangan seseorang…! Mungkinkah Rasulullah mencium tangan seseorang karena menghormati orang tersebut…?! Ternyata mungkin. Rasulullah pernah mencium tangan seseorang karena penghargaan beliau kepada orang tersebut! Apakah orang tersebut orang yang begitu saleh dalam ibadah sholat, puasa, atau sedekahnya? Ternyata bukan.

Tahukah Anda siapa orang yg mendapatkan penghargaan begitu tinggi dari Rasulullah sehinggga bukan Rasulullah yg dicium tangannya tapi justru sebaliknya Rasulullah yg mencium tangan orang itu dan menyatakan bahwa tangan tersebut TIDAK AKAN DISENTUH API NERAKA…?! Ya, Rasulullah pernah mencium tangan tiga orang sebagai tanda penghargaan yg tinggi atas apa yg telah dilakukan oleh tiga orang tersebut.

Yang pertama adalah tangan sahabat Sa’ad bin Mu’adz.

Ketika berjumpa dengan Sa’ad, Rasulullah melihat betapa tangannya kasar, kering, dan kotor. Ketika ditanya Sa’ad menjawab bahwa tangannnya menjadi demikian karena bekerja mengolah tanah dan mengangkut air sepanjang hari. Mendengar itu Rasulullah serta merta mencium tangan Sa’ad dan menyatakan bahwa ‘tangan ini dicintai Allah dan Rasulnya dan tidak akan disentuh api neraka’.

Orang kedua yg mendapat kehormatan dicium tangannya oleh Rasulullah adalah Mu’adz bin Jabal. Ketika bersalaman Rasulullah merasakan tangan Mu’adz kasar dan tebal. Ketika ditanyakan Mu’adz menjawab bahwa tangannya kapalan karena dipakai kerja keras. Kembali Rasulullah mencium tangan yg kasar, keras dan kapalan karena bekas kerja keras ini dan menyatakan hal yg sama seperti pada Sa’ad. ‘Inilah tangan yang dicintai Allah dan Rasulnya dan tidak akan disentuh api neraka.’ Tangan yg dipakai oleh pemiliknya utk bekerja keras mencari nafkah.

Tangan ketiga adalah tangan Fatimah Az-Zahra yg telah bekerja keras menggiling gandum di rumahnya utk menyiapkan makanan bagi anak-anaknya yg menangis. Rasulullah sangat menghargai orang-orang yg bekerja keras utk mencari nafkah dan menghidupi keluarganya. Rasulullah mencium tangan mereka sebagai penghargaan akan ibadah mahdhah mereka dan bukan karena kesalehan mereka dalam ibadah ritual seperti sholat malam, puasa, sedekah, dan berhaji.

Mengapa demikian…?! Karena Islam sangat menghargai kerja keras dari pemeluknya, bukan sekedar bekerja. Sifat malas adalah sifat yg tercela dalam Islam.

Sayang sekali bahwa etos kerja keras justru belum nampak pada umat Islam padahal itu sangat dicintai oleh Allah dan Rasulnya dan mendapatkan jaminan utk tidak disentuh oleh api neraka. Dalam setiap khotbah dari para da’I yang kita dengar kebanyakan hanyalah anjuran untuk meningkatkan ibadah-ibadah seperti sholat, puasa, dzikir, sedekah, dan semacamnya tapi sangat jarang kita dengar anjuran untuk bekerja keras (bukan sekedar bekerja) untuk mencari nafkah bagi keluarga. Padahal ibadah itu mendapatkan penghargaan yang sangat tinggi dari Rasulullah sehingga Rasulullah mencium tangan orang yang tangannya sampai kasar karena bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Bahkan Rasulullah mengumpamakan seorang beriman itu seperti lebah yang bekerja keras setiap saat dalam bentuk koloni berjamaah dan memberikan banyak manfaat bagi manusia.

Ada sebuah buku yang sangat bagus tentang penghargaan pada kerja keras ini dan saya anjurkan Anda untuk membeli dan membacanya. Judulnya adalah “Tangan-tangan yang Dicium Rasul : Nasihat Islami tentang Bekerja Keras” tulisan Syahyuti dan diterbitkan oleh Pustaka Hira. Buku ini memuat bukti-bukti ilmiah, historis, dan teologis tentang bagaimana Islam mencintai kerja keras.

Salam
Satria Dharma

Sekolah Islam, Olahraga, dan Seni Budaya

Tinggalkan Komentar

Ilustrasi. SDIT Lukman Al Hakim Surakarta. http://sditlukmanalhakim.blogspot.com/

Ilustrasi. SDIT Lukman Al Hakim Surakarta. http://sditlukmanalhakim.blogspot.com/

Tiba-tiba saja kepala sekolah anak saya Tara di SD Luqman Al-Hakim menelpon dan bilang ingin datang berdiskusi ke rumah dan sekalian buka bersama. Kasek dan para guru Luqman Al-Hakim memang sering datang ke rumah untuk ngobrol, tentang sekolah tentu saja. Saya memang terlibat pada pembukaan sekolah tersebut sejak awal dan mereka menganggap saya sebagai salah satu Pembina Sekolah.

Karena istri saya sudah mudik dan anak sulung saya buka bersama temannya di luar maka praktis tinggal saya sendiri di rumah. Jadi saya tanyakan berapa orang yang akan datang karena saya mesti menyediakan ifthar sesuai dengan jumlah tamu yang akan datang. Untungnya bahwa pada Ramadhan banyak sekali warga yang berjualan bermacam-macam ta’jil dan makanan apa saja. Jadi saya keluar rumah berbelanja untuk keperluan ifthar tersebut. Untuk praktisnya saya belikan nasi kotak di Redsto padang saja. Karena yang akan datang katanya hanya 5 orang ya belikan sesuai itu karena saya tidak ingin ada makanan tersisa. Lha wong gak ada orang lain di rumah! Weladalah lha kok yang datang 7 orang sehingga terpaksa saya mengetok pintu ‘connecting door’ dengan rumah adik saya di sebelah sehingga bisa disuplai dari sebelah.
Lagi

Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan…?!

Tinggalkan Komentar

Source: wikipedia.org

Pagi ini saya ditinggal istri dan anak-anak mudik ke Surabaya. (Oh..I miss them already). Tiba-tiba rumah kami yang besar ini terasa ‘ngglondhang’. kosong. (Everything is still the same but part of my soul is away). Tinggal saya dan anak sulung saya di rumah (sekarang pun ia telah ke luar rumah). Semestinya kami semua memang mudik ke Surabaya tahun ini. Istri saya bahkan sudah membeli tiket untuk kami semua sebulan sebelumnya! Tahun ini memang ‘jatah’ kami mudik ke Surabaya (dan Madiun kota kelahiran istri saya). Tahun lalu kami sudah berlebaran di Balikpapan dan tahun ini adalah ‘jatah’ mudik ke Surabaya. Kami memang mengatur waktu berlebaran bergantian.

Tapi tiba-tiba terjadi perubahan. Tiba-tiba Bapak (ayah saya) meminta kami anak-anaknya untuk berlebaran di Balikpapan saja. Anaknya ada 11 (sebelas) orang dan kami semua diminta untuk berlebaran di Balikpapan saja. Dan itu tidak biasanya! Biasanya Bapak tidak pernah mengatur di mana kami akan berlebaran karena biasanya Mama yang mengaturnya. Tapi sekarang Mama telah tiada. Beliau telah meninggalkan kami beberapa bulan yang lalu dan Bapak ingin agar kami berkumpul berlebaran seperti biasanya di Balikpapan saja.

Akhirnya kami putuskan bahwa saya akan tetap di Balikpapan untuk berlebaran bersama Bapak dan saudara-saudara dan istri saya, bersama anak-anak , pulang ke ayahnya juga di Surabaya. Ternyata anak sulung saya juga membatalkan pulang ke Surabaya karena sepupu-sepupunya akan datang semua ke Balikpapan. Dan ia ingin berlebaran bersama sepupu-sepupunya. Suasana tentu akan meriah dan semarak dibandingkan pulang ke Surabaya dan Madiun. Dan tiketnya pun diberikan pada seorang kerabat yang ingin mudik.
Lagi

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.