Harga Kaget

1 Komentar

Sebagai warga Balikpapan (kota yg terkenal mahal) saya sering terkaget-kaget dengan harga makanan di Jawa. Sebagai contoh, saya kemarin iseng-iseng mencegat penjual bakmi dorong yg lewat di depan rumah mertua saya di Rungkut Surabaya. Meski tahu bahwa rasanya pasti di bawah standar Mie Tokyo langganan saya tapi saya pikir bolehlah sesekali makan mie ‘ecek-ecek’.

Saya perhatikan penjualnya masih sangat muda. Seperti pemuda yg baru saja lepas dari masa remajanya. Wajahnya bersih dan tampangnya lugu. Saya langsung merasa simpati padanya. Anak ini mau bersusah payah jualan mie dorong utk membangun kehidupannya. Ia memilih jualan dan tidak larut dalam kehidupan pengangguran kebanyakan pemuda putus sekolah yg cuma nongkrong-nongkrong saja di pinggir jalan. Saya selalu ‘jatuh hati’ pada anak-anak muda seperti ini. Minimal mereka telah mengambil keputusan penting untuk menjadi sesuatu dalam hidup ketimbang jadi pengangguran tak jelas yang lama-lama jadi parasit. Kapan hari saya bertemu dengan seorang remaja berusia 17 tahunan yg jualan pukis di pinggir jalan hanya dengan berbekal gerobak sangat mungil. Namanya Hanafi. Saya langsung ingat anak saya yg seusia dengannya. Anak saya sungguh beruntung punya orang tua yg bisa terus membiayai sekolahnya sehingga tidak harus jualan pukis di pinggir jalan. Apa jadinya jika kita tidak mampu lagi membiayai sekolah anak kita pada usia tersebut? Apakah kita akan mendorong mereka utk melakukan pekerjaan apa saja utk bisa hidup agar tidak jadi pengangguran yg menyedihkan? Pengangguran bisa mendorong anak-anak muda utk terjerembab dalam tindak kriminal. Dan itu jauh lebih menyedihkan. Itu sebabnya saya selalu angkat topi pada anak-anak muda yg mau bekerja apa saja utk bisa hidup dan tidak jadi pengangguran. Rasa hormat dan kagum saya yang tinggi utk mereka para pekerja belia (anak-anak yg tidak beruntung memiliki orang tua yg mampu membiayai pendidikan mereka lebih lanjut).

Mie pesanan saya ternyata porsinya cukup besar utk ukuran saya (dan terpaksa tidak bisa saya habiskan) dan cukup lengkap isinya. Selain mie juga ada sayuran sawi, siomay, potongan ayam, dan gorengan. Semua yg reguler di resto Chinese food ada juga di situ. Saya perhatikan bahwa pengerjaannya juga butuh waktu lumayan lama. Tentu saja berbeda dengan menu pecel yg tinggal ambil dan masukkan ke piring. Mie ayam perlu direbus dalam jangka waktu tertentu sebelum bisa disajikan.

Ketika selesai saya tanyakan berapa harganya dan saya hampir tidak mempercayai pendengaran saya ketika si pemuda menjawab ‘Enam ribu…!’. Haah…! Cuma enam ribu rupiah utk makanan dengan porsi sebesar itu dan proses yg lumayan memakan waktu…?!

Dari kepala saya langsung keluar pertanyaan matematis, “Berapa banyak keuntungan yg bisa ia peroleh dengan harga yg begitu murah dalam semalam…?!” Saya perkirakan ia butuh waktu antara 5 s/d 10 menit utk menyiapkan satu porsi dan itu berarti maksimum ia bisa menjual 10 porsi saja dalam satu jam. Kalau ia bekerja 6 jam semalam (mulai dari jam 6 sore hingga tengah malam) maka maksimal ia hanya akan bisa menjual 60 porsi. Itu dengan asumsi ia bikin mie ayam terus tanpa henti dan tentu saja tanpa jalan mendorong gerobaknya ke sana ke mari.

Mari kita ambil hitungan yg masuk akal dengan menjadikannya 50 porsi (kita ikut membantunya berjualan dan menyiapkan segala sesuatu) dan itu berarti hanya 300 ribu semalam…! Itu sudah top sale utknya. Dari uang sekian itu berapa persen profit yg bisa dihasilkannya? Jika bisa 50% maka maksimal ia untung cuma 150 ribu. Itu sudah top sale lho ya!

Saya langsung termenung-menung membayangkan ini. Kenapa ia tidak menaikkan harganya menjadi 8 ribu atau 10 ribu, umpamanya? Dengan demikian ia bisa mendapat untung yang lebih besar. Hati saya bertanya. Tapi kemudian saya sadar bhw pangsa pasarnya jelas bukan orang-orang yg mau membayar seharga itu sehingga pertanyaan itu langsung saya hapus dari benak saya.
Itu pertanyaan yang naif.

Kejutan kedua saya dapatkan ketika ‘andhok’ di warung stasiun KA Madiun sambil menunggu Sancaka yg akan mengantar saya pulang ke Surabaya malam ini. Saya pesan minuman jahe dan ditawari kopi jahe yg saya iyakan. Ketika ditanya mau yg instan atau yg jahenya asli ya tentu saja saya ingin yg asli. Di jaman yg serba instan ini original ingredient sudah susah dicari. Penjualnya segera keluar nampaknya utk cari jahenya. Ketika kopi pesanan saya datang saya segera melihat potongan jahenya ‘ketampul-ketampul’ di atas wedang kopinya. Eksotik…! Aromanya tentu lebih segar ketimbang yg instan. Setelah saya tuang ke piring lepek dan saya minum saya langsung dapat bonus potongan jahe segar yg bisa saya gigit-gigit. Kopi jahe yg mantap…!

Karena Sancaka terlambat datang maka saya tergoda utk mencoba memesan nasi pecel Madiun yg kondang tersebut. Bicara soal pecel ya Madiunlah rajanya. Sama dengan bicara tape maka Bondowoso yg kita sebut. Soalnya saya melihat ada porter stasiun yg sedang makan nasi pecel dan ia nampak begitu menikmati ‘dinner’nya tersebut dengan penuh gusto. Karena hanya sekedar ingin mencoba kelezatan pecel Madiun yg legendaris itu maka saya minta nasinya sedikit saja. Lauknya saya minta perkedel yg ternyata tak kalah enak rasanya dengan perkedel di resto-resto besar. Cuma ukurannya saja yg mini. Ketika saya cicipi pokoknya lekker dah! Gak rugi makan disitu.

Ketika Sancaka tiba saya segera bangkit utk membayar. Kopi jahe asli dan seporsi pecel Madiun yg juga asli (lha jualnya di stasiun KA Madiun je!). All the original (and legendary) menu. Untuk segala yg asli kita sekarang harus siap utk membayar lebih. Kubuka dompet saya dan kulirik lembaran ratusan ribu yg berjejer rapi di dompet saya. Waktunya pindah majikan, pikir saya.

Tahu berapa yg harus saya bayar…?! Cuma 8 ribu rupiah…! Secangkir kopi jahe asli dan seporsi nasi pecel uenak hanya dihargai 8 ribu rupiah…?! Saya sampai lupa menutup mulut saya yang menganga karena heran. Apa mbakyu penjual ini sedang ulang tahun dan beri ‘special discount’ utk saya hari inikah? Saya sungguh tidak tega sehingga kembalian saya yg dua ribu saya tinggal utk tips baginya.(Ok. Don’t mention it).

Otak matematis saya kembali bekerja tanpa saya suruh. Ia menyodok saya dengan pertanyaan yg sama. ‘Berapa kira-kira penghasilannya mbakyu stasiun KA sehari, seminggu, sebulan…?’. Warung itu sepi-sepi saja seperti juga warung-warung lain di sekitarnya. Tentunya lebih sepi daripada sebelumnya karena sekarang pengantar tidak boleh ikut masuk ke stasiun. Lagipula tak pernah saya dengar keluhan Sancaka didelay satu jam, umpamanya. Kereta api praktis lebih tepat jadwalnya bahkan jika diadu dg Garuda sekali pun.
Tapi karena itu pertanyaan ‘lalar gawe’ maka tidak saya jawab. Olaopo kok saya mesti menjawab pertanyaan ttg penghasilan penjual pecel di warung stasiun KA Madiun! Lha wong istri saya yang juga jualan pecel saja tidak pernah saya tanyai omzetnya kok…!

KA Sancaka, Madiun-Surabaya, 6 Desember 2011.

Salam
Satria Dharma

Bukti Kegagalan Pembelajaran Fisika

Tinggalkan Komentar

Pernahkah Anda melihat orang yg mengisi bensin sambil menggoyang-goyang mobilnya supaya bensin bisa masuk lebih banyak ke tangki? Saya seringkali melihat orang yg melakukan hal tersebut. Tindakan tersebut sungguh menggelikan. Mungkin ia pikir mobil perlu digoyang-goyang agar tangkinya tidak menyisakan ruang kosong utk bensin dan tangki bisa mengisi bensin lebih banyak. Kayak mengisi krupuk di kaleng saja. Sambil bergurau saya katakan pada istri saya bahwa itu adalah bukti kegagalan pembelajaran Fisika di Indonesia….! :-D

Jelas sekali bahwa orang ini tidak tahu bahwa sifat zat cair seperti bensin akan turun mengisi semua ruangan. Lagipula tangki bensin memang sudah dirancang utk bisa diisi penuh sesuai kapasitasnya tanpa perlu digoyang agar bensin bisa mengisi tangki dg penuh.

Jadi darimana orang-orang tersebut mendapatkan ide utk menggoyang-goyang mobil agar tangki terisi penuh? Saya menduga bahwa mereka melihat orang lain melakukan hal tersebut dan kemudian mengikutinya tanpa pernah memikirkannya. Masyarakat kita memang penuh dg orang-orang yg anut grubyug melakukan hal-hal yg dilakukan orang lain tanpa mereka pahami mengapa hal tsb harus dilakukan. Mungkin juga mereka terinspirasi oleh orang yg menggoyang-goyangkan toples ketika mengisinya dg krupuk, peyek, kacang, dll. Jika kita mengisi wadah seperti toples dengan makanan spt itu maka kita memang menggoyang-goyangnya agar isinya bisa lebih masuk ke dalam toples mengisi ruang yg kosong. Tapi itu kan benda padat. Benda cair tidak perlu diperlakukan demikian dan ia akan masuk sendiri mengisi ruang yg kosong.

Lantas mengapa masih banyak orang yang tidak paham dengan masalah sepele seperti ini?

Ya mungkin karena mereka tidak mendengarkan dengan baik pelajaran IPA atau Fisika ttg sifat-sifat benda cair pd waktu sekolah di SD dulu. :-D . Atau mungkin juga para guru IPA tidak bisa menjelaskan prinsip-prinsip fisik yg mendasar seperti ini kepada siswanya sehingga siswanya tetap tidak paham. Ini mungkin akibat durhaka pada guru Fisika dulunya. :-D

Saya sendiri bukan siswa yg cerdas dan Fisika adalah pelajaran yg paling saya benci. Guru Fisika saya di SMP adalah orang yg sama sekali tidak saya pahami kata-katanya ketika mengajar. Ia berbicara dalam bahasa yg entah bagaimana seolah merupakan bahasa alien di telinga saya. Kata-kata yg diucapkannya seperti kumpulan bunyi-bunyian tak bermakna dan bahkan menyiksa telinga saya. Selain itu guru Fisika saya tersebut suka sekali memberi rumus-rumus dengan simbol-simbol rahasia abad pertengahan utk mengerjakan soal-soal Fisika.

Soal-soal itu sendiri saya pikir sengaja diciptakan utk menyingkirkan siswa-siswa lugu dan sederhana seperti saya. Saya sungguh tersiksa setiap kali pelajaran Fisika tiba. Bayangan harus mendengarkan guru yg berbicara dalam bahasa Pluto tanpa paham samasekali apa yg dibicarakannya benar-benar menyiksa. Belum lagi kemungkinan disuruh maju ke depan kelas utk memecahkan soal-soal misteri dengan rumus dan kode rahasia. Bisa mati kaku saya!

Karena tidak ingin menjadi gila karenanya maka saya sering ngacir dari kelas ke kantin atau ke mana saja selama pelajaran ‘Plutonian Language 101′ tersebut. Di SMA dengan senang hati saya masuk jurusan Sosial agar tidak pernah lagi bertemu dg pelajaran mengerikan tersebut. Good bye Physics…! Good bye hell…! Jadi jangan tanya soal Fisika pada saya.

Tapi kalau masalah sifat zat cair saya masih ngertilah. I’m not that stupid. :-) . Meski pun terus terang saya masih terkagum-kagum membayangkan bagaimana gambar dan suara bisa dialirkan lewat kabel dan bisa kita dengarkan dan tonton melalui televisi. Itu tentulah hasil karya orang-orang yg mendapat ‘wahyu’ di bidang Fisika. Bidang Fisika memang telah berkembang demikian hebatnya berkolaborasi dg bidang-bidang lain sehingga begitu banyak keajaiban teknologi yg bisa kita nikmati sekarang ini. Bayangkan… Saya bisa menulis dan mengambil gambar via BB yg ukurannya cuma sekian inci kali sekian inci dan begitu selesai saya tinggal pencet tombol dan tulisan serta foto tersebut melesat. Dan dalam sekedipan mata tulisan dan foto saya memperbanyak diri utk hadir di depan piranti begitu banyak orang, termasuk piranti Anda saat ini, at almost the same time! Sungguh tak habis-habis kekaguman saya memikirkan keajaiban teknologi Fisika ini. Alangkah cerdasnya manusia-manusia Fisika jaman sekarang sehingga mampu menghasilkan kejeniusan teknologi yg membuat kita terkagum-kagum setiap harinya.

Meski kita ini hidup di jaman yg penuh dengan keajaiban teknologi tapi toh masih banyak orang yg berpikiran seperti di jaman batu. Contohnya ya menggoyang mobil ketika mengisi bensin tersebut. Menggoyang-goyang mobil ketika mengisi bensin adalah perbuatan manusia jaman batu yg hidup di jaman modern. Makanya saya heran kok ada orang yg lebih parah pengetahuannya tentang Fisika ketimbang saya! Dosa apa gerangan yg telah mereka perbuat pada guru Fisika mereka sehingga ‘dikutuk’ menjadi manusia jaman batu seperti itu? :-D

Surabaya, 3 Desember 2011
Salam
Satria Dharma

What’s Wrong with SBY?

Tinggalkan Komentar

Suatu ketika Nasruddin Hoja dan anaknya pergi ke pasar dengan menunggangi seekor keledai.

Di tengah jalan mereka bertemu dengan serombongan orang yang berbisik-bisik “Alangkah kejamnya! Apa dua orang itu tidak punya rasa kasihan pada seekor keledai kecil dan lemah itu?”

Mendengar ini Nasruddin menyuruh anaknya turun dan mengikutinya dengan berjalan kaki. Ia tetap menaiki keledai tersebut.

Mereka kemudian bertemu lagi dengan serombongan orang yang berbisik-bisik “Orang tua yang kejam! Anaknya yang lemah disuruh jalan kaki sementara dia enak-enakan naik keledai!”

Mendengar ini Nasruddin menyuruh anaknya naik keledai dan Nasruddin mengikutinya dengan berjalan kaki.

Kemudian mereka bertemu lagi dengan serombongan orang yang berbisik-bisik “Anak tidak tahu diri! Dia enak-enakan naik keledai, sementara bapaknya yang sudah tua disuruh jalan kaki!”

Mendengar ini Nasruddin dan anaknya memutuskan untuk menuntun saja keledai tersebut dan tidak menungganginya.

Kemudian mereka bertemu lagi dengan serombongan orang yang tertawa “Lihat dua orang bodoh ini! Mereka bawa keledai tapi malah jalan kaki!”

Ini adalah cerita yang tepat untuk menggambarkan situasi yang dialami oleh SBY sat ini. Apa pun yang dilakukannya SELALU SALAH. Semua yang ia lakukan dijadikan sebagai bahan untuk menyerangnya, mengecamnya, atau minimal sebagai olok-olok. What’s wrong with SBY?

Menurut banyak orang SBY sebenarnya adalah ‘the right man in the right place but not doing the right thing’.

SBY jelas seorang pemimpin yang telah teruji. Kepintarannya jangan tanyalah! Ia mengungguli semua kawan-kawannya dalam segala hal. Sejak dulu ia terkenal sebagai perwira yang berwawasan luas, fasih berbahasa Inggris, cerdas, dan hati-hati dalam berkata dan bertindak. Pokoknya SBY itu ‘the right man’.

SBY juga memiliki pengalaman memimpin yang sangat panjang. Pengalamannya di pemerintahan itu sudah lintas departemen dan lintas presiden. Tak ada orang yang lebih tepat untuk menjadi presiden di saat ini selain SBY. Itulah sebabnya ia terpilih lagi menjadi presiden keduakalinya. Tak ada orang yang bisa menyainginya. SBY sudah tepat jadi presiden. He is
in the right place.

Tapi kenapa justru SBY terkesan selalu salah dalam mengambil tindakan (not doing the right thing)?. Menurut saya itu karena SBY terlalu mengakomodasi semua pihak. Ia ingin menyenangkan semua orang. Padahal semestinya ia tahu bahwa kita tidak mungkin menyenangkan semua orang.

Nasruddin Hoja mestinya tidak perlu perduli dengan apa yang didengarnya di sepanjang perjalanan karena semestinya ia yang lebih tahu tentang kondisinya dan kondisi keledainya. Jadi ia semestinya yang paling tahu kapan menunggangi dan kapan tidak dan tidak perlu mengikuti apa kata orang-orang terhadap keledainya dan dirinya. Toh itu keledainya sendiri dan sudah kebiasaan masyarakat untuk mengritik apa saja.

Menurut saya (lagi) SBY itu tidak pandai menyampaikan pesan pada rakyat. Mungkin karena ia memang tidak punya bahasa tubuh yang merakyat. Itu sebabnya ada orang yang memberinya nama teambahan ‘Jaim’, Susilo ‘Jaim’ Bambang Yudoyono’. SBY selalu nampak ‘jauh’ dan ‘prihatin’ sehingga rakyat tidak merasakan semangat dan kegembiraan ketika bersamanya. Tak pernah saya melihatnya sumringah tersenyum gembira apalagi tertawa lepas. Bahkan Suharto terkesan jauh lebih dekat kepada rakyat. Senyumnya benar-benar menyejukkan. SBY justru selalu menunjukkan wajah yang kelelahan dan kesusahan. It’s not good for his image. Kesan saya bahasa tubuh SBY ini tidak membuat rakyat merasa dekat dengannya. Rakyat tidak merasakan bahwa mereka dibutuhkan oleh SBY. Rakyat tidak merasakan bahwa mereka dibela oleh SBY. Padahal mungkin SBY bekerja, berpikir, bertindak hampir 24 jam untuk rakyat.

Kesan ‘jauh’ dan ‘tak terjangkau’ ini mungkin perlu dicairkan oleh SBY dan ‘Tim Pencitraan’nya, kalau memang itu ada. (Saya sebaliknya berpikir bahwa SBY memang perlu ‘Tim Pencitraan’ untuk mengubah citranya yang terkesan ‘jauh’, ‘terlalu berhati-hati’, ‘sangat prihatin’ menjadi ‘dekat’, ‘optimis dan ceria’, ‘cepat dan tegas dalam bertindak’.)

SBY memang menyanyi tapi lagunya bukanlah lagu-lagu mars yang mengajak untuk optimis dan percaya diri. Album barunya saja berjudul ‘Harmoni’. So you know what I mean.

‘ada tutur kata yang tak kau terima
tapi kenapa kau harus begitu
teganya engkau pergi dariku
kembali, kembali
oh kembali

Demikian cuplikan syair lagi berjudul “Kembali”. Saya sendiri mungkin tidak akan membeli album SBY ini.

Satu hal lagi. Menurut saya SBY juga mulai nampak kehilangan visi, atau paling tidak, ia tidak mampu menyusun semua tindakannya dalam satu visi. Pembuatan album ini adalah contohnya.

Apa sebenarnya visi dan misi dari pembuatan album lagu-lagu ini? Sekedar untuk kesenangan atau ada misi tertentu?

Sebagai seorang presiden saya berharap agar SBY punya misi yang jelas dengan album lagu-lagu yang ia keluarkan agar jangan sampai seorang Bambang Susatyo ngomong pedas ‘Dibutuhkan Pemimpin Tegas Bukan Pencipta Lagu’ karena ia tidak tahu apa sih sesuatu yang penting dari keluarnya album lagu-lagu ini. (Atau memang Bambang Susatyo ini suka mencari kesalahan SBY)

Semestinya kalau SBY punya Tim Pencitraan maka pembuatan album lagu-lagu ini selaiknya memang dikemas untuk visi dan misi yang jelas UNTUK BANGSA DAN NEGARA. It’s not for SBY himself but for the people…! Dan pesan itu harus sampai ke rakyat. Bukankah lagu-lagu bisa membangkitkan semangat dan rasa kebersamaan masyarakat?

Saya pikir SBY ini kalah cerdik dengan Dahlan Iskan. Dahlan Iskan saat ini benar-benar menjadi pembicaraan di mana-mana dan bahkan sudah ada yang menggadang-gadangnya untuk 2014 nanti. Dahlan Iskan menjadi oase di tengah sahara yang kering kerontang. Ia memberi rakyat sosok ‘the real hero’ yang dibutuhkan dalam setiap kisah. Mengapa demikian? Itu karena Dahlan Iskan menuliskan sendiri kisah yang ingin diterima oleh rakyatnya. Dan Dahlan Iskan adalah seorang penutur yang luar biasa!
Coba lihat saja cerita tentang Dahlan Iskan, baik yang terangkum dalam CEo Notesnya atau pun yang dituliskan orang tentangnya. Semuanya tentang betapa ia bekerja keras siang dan malam, jalan kaki ke kantor dan pergi ke sana kemari tak kenal lelah. Betapa ia fokus dengan apa yang ingin ia capai. Betapa ia sosok yang sederhana dan dekat dengan semua orang. Ia makan nasi bungkus di dekat selokan sambil selonjor tanpa alas (sebuah foto yang akan membuat semua orang akan takjub). Ia tak pernah muncul dalam acara pesta-pesta atau kumpul-kumpul dengan para pejabat. Baju dan sepatunya adalah pakaian pekerja. Ia bahkan tampil di istana dengan baju lengan panjang yang digulung. It shows the image that he works hard (Baju lengan pendek akan memberikan kesan yang berbeda tentunya). Sama sekali tak ada penampilan dan sosok pejabat di dirinya. Ini menunjukkan pesan bahwa ia orang yang serius dengan tugasnya, total dengan pekerjaannya, dan tidak mencari kekayaan atau
pujian dengan itu semua. Meski demikian wajah Dahlan Iskan selalu nampak tersenyum sehingga kita juga tertulari oleh keceriaannya. Kita memang bisa bersikap serius atau pun prihatin tanpa perlu menunjukkan wajah sedih.

Dahlan Iskan terutama memukau karena CEO Notesnya. Di situ ia tuliskan visi dan misinya dengan cara yang begitu manusiawi dan penuh optimisme. Ia tahu benar bahwa rakyat membutuhkan optimisme dan terobosan. Rakyat ingin sesuatu yang luar biasa dan bukan sekedar ‘Harmoni’, ‘Rinduku Padamu’ dan sejenisnya. SBY tidak memiliki itu semua. Lagu-lagunya tidak menimbulkan efek seperti CEO Notesnya Dahlan Iskan.

SBY telah berjanji akan membuat perubahan setelah perombakan kabinet (meski tidak nampak benar perubahan pada kabinet tersebut). Tentu saja rakyat sangat menantikan itu karena mereka tidak melihat adanya gebrakan dan terobosan dalam berbagai masalah yang datang. Sayang sekali bahwa wakilnya, Budiono, tidak menunjukkan prestasi yang diinginkan oleh rakyat. Sebelum ini masyarakat masih melihat adanya beberapa terobosan dari Jusuf Kalla yang berani mengambil keputusan cepat dan tidak populer (salah satu keputusan Jusuf Kalla yang menurut saya ‘ngasal’ adalah soal Ujian Nasional. Semua komentarnya tentang UN ini benar-benar ‘ngasal’ dan ‘silly but sounds heroic’)

Jadi… Ayo SBY…! You can still make a change you promise.

Salam

Satria Dharma

Meanwhile…

Tinggalkan Komentar

Dunia adalah keajaiban, yang indah dan misterius!
Saat saya menyantap hidangan dessert ice cream Walls di ketinggian lebih dari 10.000 kaki dalam perut pesawat Garuda pada perjalanan pulang dari Jakarta ke Balikpapan…

Anak bungsu saya mungkin sedang mengayuh sepeda meluncur dari ketinggian ujung jalan bersama anak-anak tetangga sambil berteriak-teriak gembira. Kesenangan tak terperikan.

Pada saat yang sama ribuan jamaah haji baru saja mendarat di bandara King Abdul Aziz, Jeddah dengan seragam ihram putih berbaris rapi dengan bibir tetap melantunkan dzikir. Kelelahan yang penuh khidmat.

Para induk burung elang di ketinggian puncak-puncak gunung sibuk menyuapi bayi-bayi mereka dengan mulut menganga kelaparan satu persatu. Cinta yg tak terlukiskan.

Ikan-ikan berenang dengan cepat dalam gerombolan besar menuju perairan yg lebih hangat di Samudera Pasifik. Keharusan yg tak pernah ditanyakan.

Seekor cicak mengendap-endap perlahan dari balik celah retakan tembok sambil menatap tanpa berkedip pada seekor serangga yg berputar-putar di dekatnya tanpa sadar maut mengintainya. Takdir yang menanti.

Mahasiswa baru dengan berbagai posisi duduk tekun mengikuti kuliah dosennya tentang perkembangan teknologi terakhir di kampus tua mereka. Harapan yg terbayangkan.

Seorang turis mancanegara memandang lekat-lekat motif batik Parangrusak yang nampak sakral dan misterius di musium batik. Misteri dalam imajinasi.

Hujan yang dinanti-nantikan akhirnya turun dengan derasnya di beberapa desa yg sudah lama dihajar oleh kekeringan. Harapan yg terbayarkan.

Seorang janda yg ditinggal mati suaminya menanti-nanti dengan harap kepulangan gadis kecil semata wayangnya dari mengaji di desa tetangga. Kerinduan dan kecemasan yg hampir tak tertahankan.

Sekelompok singa mengerkah dan mencabik-cabik seekor zebra hasil buruan mereka bersama dengan gusto di padang Afrika. Perburuan yg akhirnya menghasilkan.

Seorang lelaki yang telah bertahun-tahun di perantauan akhirnya memutuskan untuk pulang dan melamar gadis tetangga yg telah lama ditunda-tundanya. Cinta yang tersalurkan.

Seorang pensiunan memesan secangkir kopi hitam dalam gelas besar di sebuah warung kopi di sudut jalan sambil menunggu kedatangan teman sesama pensiunan sambil menyusun papan catur permainan pengisi waktu. Kemewahan waktu luang yg diimpikan.

Secangkir cappuchino di sebuah cafe kecil di ujung jalan pertigaan kota diangkat ke bibir kemudian dihirup pelan, disesap, kemudian ditelan sedikit demi sedikit. Kenikmatan yang menggetarkan.

Dunia memang penuh keajaiban!

GA 520, Jakarta – Balikpapan, 8 Oktober 2011.

Salam
Satria Dharma

Branding

Tinggalkan Komentar

Masih tentang ‘branding’. Saat ini saya berada di The Harvest, toko kue sing larang iku lho! Tahukah anda mengapa kue-kue di The Harvest mahal (tapi tetap laris)? Ya karena mereka punya ‘brand’ yg kuat sebaga toko roti yg enak dan mewah. Kue-kuenya enak dan nampak cantik-cantik menggoda selera. Cobalah minta sepotong cheese cakenya yg nampak begitu menggiurkan. Potong sesendok kecil dan suapkan ke mulut Anda. Pejamkan mata, kunyah pelan-pelan dan nikmati rasanya. Nyaaam..! Lumer boss…!:-D

Beberapa kue keringnya sebetulnya rasanya not so special tapi dikemas dengan cantik sehingga nampak luxurious (foto terlampir). Kita akan tergoda utk membawanya sebagai oleh-oleh camilan di rumah. So pretty…! (Yet so expensive to many of us)

Setelah saya amati ternyata wadahnya cuma plastik yg sebetulnya ada dijual bebas di toko-toko plastik. So it’s not so special. Ia menjadi mewah setelah diberi cap tempelan ‘The Harvest’ dan dipajang di toko yg didisain begitu wah! Kue Crispy Almond dg berat sekitar 100 gram lebih sedikit dijual dg harga 40 ribu karena ‘it’s The Harvest’ gitu loh! Kue Kastengelnya malah dibandrol 85 ribu rupiah! (gak sidho ngambil aku) Padahal dg uang sejumlah yg sama Anda bisa mendapatkan kue kering di pasar-pasar seberat satu kilogram! Satu berbanding sepuluh, bleh!

Beberapa waktu yg lalu saya mengunjungi pameran lomba produk makanan “Oleh-oleh Balikpapan” yg diadakan oleh Dinas Perdagangan pemkot Balikpapan. Macam-macam produk makanan olahan yg ditampilkan pd pameran sekaligus lomba tersebut tapi, astaghfirullah!, tak ada satu pun yg menarik. Persis seperti pamerannya anak sekolah yg miskin imajinasi dan kreatifitas. Bagaimana mungkin produk seperti itu menarik orang utk membelinya? Saya sungguh sedih dan jengkel pada Pemkot Balikpapan yg tidak tahu bagaimana meningkatkan kapasitas dan kualitas produk lokal Balikpapan agar benar-benar layak dipamerkan. Benar-benar seadanya dan apa adanya! Apa gunanya Dinas Perdagangan di seluruh Indonesia kalau utk hal seremeh begini saja tidak
bisa memberi arti? Mungkin ini perasaan Gus Dur ketika menghapuskan Dinas Sosial pada waktu jadi presiden! Jengkel karena menghabiskan begitu banyak dana APBN/APBD tapi tidak ada fungsinya.

Ketika ke Malaysia minggu lalu saya dibawa ke toko produk lokal yg menjual berbagai macam oleh-oleh produk perusahaan lokal Malaysia. Dan mereka dikemas dg sangat cantik sehingga membuat kami tergoda utk memborongnya. Mereka rupanya sadar betul bahwa kemasan bisa menggoda dan meningkatkan imej sehingga harga pun bisa didongkrak.
Padahal packaging atau pengemasan produk begitu sebetulnya bukanlah ‘rocket science’ yg sulit dilakukan. Tapi toh pengusaha lokal (dan juga pemerintah) kita belum berpikir ke sana.

Bagaimana mem’branding’ UNESA agar tidak terkesan sebagai ‘Universitas Negeri Seadanya’? Soal ‘isi’ rasanya tidak jauh beda dg LPTK sejenis (kalah-kalah dikitlah!). Tapi soal ‘brand’ rasanya UNESA itu masih kalah beberapa tingkat jika dibandingkan dengan UPI, UNJ, UNY, atau bahkan dg UM yg ‘tunggal propinsi’ itu. Bahkan banyak orang menunjukkan wajah bengong ketika kita menyebut UNESA sebagai almamater. “Di mana itu…?!” tanya mereka. Kalau lagi iseng saya menjawab, “Di Finlandia…!” :-D

Lantas bagaimana utk meningkatkan merk UNESA di mata masyarakat? Ada banyak cara. Tapi kusimpan saja jurusnya dulu sampai yg mbaurekso di UNESA memang perduli soal ini

Jakarta, 8 Oktober 2011

Salam
Satria Dharma

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.