“Dan tatkala Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Aku hendak jadikan khalifah di mukabumi.” Mereka bertanya,”Apakah kau tempatkan di sana orang yang merusak dan menumpahkan darah, sedangkan kami bertasbih memuji Kau, dan menguduskan nama-Mu? (Tuhan menjawab dan) berfirman, “Sungguh Aku tahu apa yang kamu tiada tahu.” (Al-Baqarah 30)

PENDAHULUAN
Manusia adalah mahluk yang ditunjuk dan bersedia untuk menjadi khalifah di dunia. Penunjukan dan kesediaan untuk menjadi khalifah ini memberikannya konsekewensi yang besar karena sebagai mahluk manusia bukanlah mahluk yang terkuat, terbesar, tercepat, tertinggi, terpanjang umurnya, dll. Manusia juga tidak dibekali dengan senjata ditubuhnya seperti cakar yang kuat, bisa yang mematikan, tanduk yang runcing, dll untuk bertahan. Tetapi oleh Tuhan manusia diberi satu bekal yang akan mampu membuatnya menjadi lebih pandai, lebih hebat, dan lebih mulia daripada mahluk lain, yaitu AKAL.
Akal sendiri bukanlah suatu alat yang ‘built-up’ dan siap pakai. Ia haruslah dikembangkan dan diasah sehingga mampu menjadi suatu alat ataupun senjata yang sangat ampuh untuk mampu mengendalikan dan memanfaatkan mahluk Allah yang lain dalam tugasnya sebagai khalifah tersebut. Adalah manusia sendiri yang berkewajiban untuk mengembangkan akalnya tersebut untuk berfikir dan menggunakan akalnya tersebut dalam usaha untuk survive dan hidup sejahtera. Dari sinilah munculnya semua filsafat tentang pendidikan baik itu yang berpaham Kapitalisme, Sosialisme, Komunisme, maupun filsafat agama

APA YANG TERJADI KALAU MANUSIA TIDAK DIDIDIK ?
Manusia akan mati dan tidak mampu untuk bertahan hidup. Banyak penelitian tentang ini yang menunjukkan bahwa manusia harus dididik dan dilatih agar dapat bertahan hidup dan tidak mengandalkan naluri semata seperti mahluk lain. Bebek akan langsung bisa berenang tanpa ibunya perlu mengajarinya bagaimana berenang. Burung juga tidak perlu mengajar anak-anaknya untuk terbang karena pada mereka telah diberi bekal untuk dapat hidup dan bertahan tanpa perlu menggunakan akal.
Sebaliknya manusia akan tidak dapat bertahan hidup jika tidak diajari semua yang dibutuhkannya untuk bertahan hidup. Seekor binatang secara alami akan tahu musuh alaminya tapi tidak demikian dengan manusia. Ia sebenarnya mahluk yang lemah. Bahkan seorang anak manusia yang tidak dibesarkan dalam lingkungan manusia akan cepat mati. Raja Frederik II, penguasa Sicilia abad XIII, mengadakan percobaan untuk mengetahui bahasa apakah yang akan dipergunakan anak-anak apabila mereka dibesarkan tanpa pendidikan orang tua mereka. Sejumlah bayi dibawa ke ‘ruang laboratorium’. Para ibu disuruh memandikan dan menyusuinya, tetapi mereka dilarang mengajak bayinya bicara. Hasilnya mengagetkan. Semua bayi percobaan tersebut mati. Tidak ada lagi yang mau mengulangi percobaan tersebut.
Sebaliknya, pada tahun 1960 para ahli mengadakan percobaan lagi. Para psikolog di universitas Wisconsin mengambil 40 orang bayi yang seluruhnya mempunyai ibu dengan IQ 70 atau kurang (lemah fikiran-feeble minded). Umumnya apabila bayi tersebut tidak ‘diintervensi’ maka pada usia 16 tahun kecerdasan mereaka akan sama dengan kecerdasan ibu mereka. Sekarang mereka dibawa ke Universitas diasuh dan dididik oleh para psikolog. Fikirannya dilatih dan kreativitasnya dikembangkan. Pada usia 4 tahun IQ mereka diukur. Ajaib ! Rata-rata IQ mereka 128 pada satu tes dan 132 pada tes yang lain, atau masuk pada kelompok “intellectually gifted”. Mereka bahkan lebih cerdas daripada anak-anak kelompok menengah yang berpendidikan. Penelitian, yang dikenal sebagai Operation Babysnatch ini menunjukkan bahwa lingkungan lebih berpengaruh daripada faktor keturunan. Manusia dapat dibentuk sekehendak hati dengan mengendalikan lingkungan hidupnya. J.B. Watson, Tokoh Behaviorisme, menyatakan
:” Berikan padaku selusin anak sehat, tegap, dan berikan dunia yang aku atur sendiri untuk memlihara mereka. Aku jamin aku sanggup mengambil seorang anak sembarangan saja, dan menddiknya untuk menjadi tipe spesialis yang aku pilih – dokte, pengaacara, seniman, saudagar, dan bahkan pengemis dan pencuri, tanpa memperhatikan bakat, kecenderungan, tendensi, kemampuan, pekerjaan, dan ras orang tuanya.” (Misteri Manusia, Alexis Carrel)

APA YANG HARUS DIAJARKAN PADA MANUSIA ?
Jika sudah menyangkut pada apa yang harus diajarkan pada manusia maka setiap jaman, bangsa, negara, daerah, komunitas, dan bahkan sekolah akan memberikan jawaban yang berbeda.
ILUSTRASI
“Tanpa mengurangi rasa hormatku pada cara pendidikan yang saudara berikan pada anak-anak kami, kami merasa cara kalian tidak baik bagi mereka. Anak-anak kami menjadi pemburu yang pengecut, lambat dalam berlari, tak mahir memakai panah dan lembing serta tak mengerti tabiat alam.” Demikian jawaban seorang kepala suku di Afrika ketika Rektor Universitas Harvard dengan bangga meminta kepala suku itu mengirim kembali putra-putra terbaiknya untuk dididik di universitas sangat terkenal itu. Sang kepala suku bicara ketrampilan hidup di padang perburuan dan ia tidak berkenan dengan pendidikan (kurikulum) yang diajarkan di Harvard karena apa yang diajarkan di Harvard sama sekali tidak memberikan pengetahuan dan ketrampilan (life skills) yang dibutuhkan untuk hidup dengan cara yang berlaku di suku tersebut di Afrika.

Apa yang akan kita ajarkan pada anak-anak kita akan sangat dipengaruhi oleh orientasi kita akan hidup itu sendiri. Kalau kita menganggap bahwa kehidupan adalah padang perburuan, binatang, dan tatacara hidup di belantara Afrika maka kita akan setuju dengan pendapat kepala suku tersebut. Pengetahuan akan Matematika, atau bahkan kemampuan berhitung, tidak diperlukan kecuali kemampuan sangat mendasar seperti berapa banyak buruan yang diperoleh hari ini sekedar untuk bertahan hidup.
Tapi hidup kita sekarang saja sudah sedemikian kompleknya sehingga standar pengetahuan dan ketrampilan yang kita butuhkan untuk hidup secara bermartabat mengalami peningkatan yang sangat drastis. Proses globalisasi yang mengakibatkan restrukturisasi dunia yang disertai banjir informasi ini telah berdampak terhadap dunia pendidikan dan kehidupan nyata. Persaingan tenaga kerja dengan keahlian yang sama tidak lagi terbatas pada sumber daya manusia yang ada di daerah yang sama tapi bersumber dari seluruh penjuru dunia. Apa yang kita miliki hari ini tidak akan bisa menjamin masa depan kita di masa depan.
Masyarakat masa depan akan ditandai dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang sangat cepat, robohnya batas-batas antar negara sebagai dampak dari percepatan perkembangan telekomunikasi, serta berubahnya secara drastis cara berpikir serta cara hidup manusia akibat pergaulan antar budaya yang semakin ekstensif. Oleh sebab itu untuk memiliki peluang untuk survive, apalagi untuk excel, maka masyarakat masa depan harus memiliki knowledge-based environment yang bersifat global pula (Joni, T. Raka)

APA TUNTUTAN PADA PENDIDIKAN ?
Kuasai dunia dengan ilmu pengetahuan. Menurut Alexis Carrel, bila Anda ingin menjadi superman, latihlah tubuh Anda menghadapi tantangan-tantangan yang berat. Kalahkan samudera, taklukkan gunung, jinakkan badai, tantang halilintar.
Dengan tuntutan hidup yang semakin kompleks tersebut maka tuntutan pendidikan juga berkembang menyesuaikan dengan kebutuhan di masa depan. Apa yang kita lihat pada pendidikan di Indonesia selama ini adalah bahwa kita terlalu menekankan pada nilai akademik atau intellektual saja. Kita menjejali anak-anak kita dengan berbagai ilmu dan pengetahuan dan berharap bahwa itu akan membuat mereka sukses dalam hidup mereka. Padahal pandangan yang menganggap nilai akademis atau intelektualitas sebagai penentu kesuksesan dalam hidup sudah lama ditinggalkan. Sekarang ini dipercayai bahwa nilai-nilai yang non-intelektual seperti :integritas, kejujuran, komitmen, visi, kreatifitas, ketahanan mental, kebijaksanaan, keadilan, prinsip kepercayaan, penguasaan diri, sinergi dan kerjasama adalah justru lebih penting ketimbang kecerdasan akal semata. Berdasarkan sebuah hasil survei di AS pada tahun 1918 tentang IQ, ditemukan paradoks yaitu bahwa sementara skor IQ anak-anak semakin tinggi, kecerdasan emosi mereka justru menurun. Anak-anak sekarang mengalami masalah emosi lebih banyak daripada generasi pendahulunya. Anak-anak sekarang tumbuh dalam kesepian dan depresi, lebih mudah marah dan lebih sulit diatur. (ESQ, Ary Ginanjar Agustian). Yang lebih ironis lagi adalah hasil suatu penelitian yang menunjukkan bahwa kebanyakan orang yang ber IQ tinggi menunjukkan kinerja buruk dalam pekerjaan. Kemampuan akademik, nilai rapor, predikat kelulusan pendidikan tinggi tidak bisa menjadi tolok ukur seberapa baik kinerja seseorang sesudah bekerja atau seberapa tinggi sukses yang akan dicapai. Seperangkat kecakapan khusus seperti empati, disiplin diri, dan inisiatif justru akan menghasilkan orang-orang yang sukses dan bintang-bintang kinerja, demikian menurut penelitian Cleland
Syukurlah bahwa manusia memiliki kemampuan yang tiada terbatas untuk berkembang (sesuai paradigma universal pendidikan abad 21). Kalau dulu kita hanya mengenal satu ukuran untuk menilai kemampuan manusia melalui IQ (Intelligent Quotient) maka belakangan kita mengenal teori tentang EI (Emotional Intelligence) dan SI( Spiritual Intelligence) (bukan EQ dan SQ). Bahkan saat ini teori Gardner tentang Multiple Intelligence (ada 8 jenis kecerdasan) telah mulai dipakai sebagai teori pembelajaran. Adalah tugas pendidikan untuk membuka kemampuan (unlock the capacity) yang dimiliki seseorang seoptimal mungkin melalui sharing information untuk menjadi manusia yang bukan saja pintar, tetapi juga kritis, dan memiliki daya tahan (adversity) yang tinggi.
Ini semua berarti bahwa pendidikan masa depan haruslah demokratis dengan memberlakukan beragam metode untuk dapat menggali beragam kemampuan siswa agar dapat berperan aktif dalam pengembangan dirinya dengan mengakui perbedaan kemampuan intelektual, kecepatan belajar, sifat, sikap, dan minatnya.

DIKOTOMISASI KEHIDUPAN DUNIA DAN AKHIRAT
Pola pendidikan di negara Barat yang sekuler jelas menunjukkan adanya pemisahan antara kehidupan dunia dan akhirat. Sekolah tidak mengajarkan agama dan dianggap sebagai urusan pribadi yang tidak menjadi urusan negara. Orientasi pendidikan di negara Barat adalah kepada pengembangan potensi manusia secara optimal untuk dapat menguasai dunia semata. Pendidikan semacam ini menghasilkan manusia-manusia yang unggul di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi tapi kering dalam kehidupan spiritual. Pada akhirnya kemanusiaan terancam oleh bencana nuklir, peperangan tak berkesudahan, pencemaran global, kekosongan eksistensial, keruntuhan moral, kelaparan, penindasan, dll. Yang ditimbulkan oleh pendidikan yang hanya berorientasikan pada kehidupan dunia semata.
Sementara dalam Islam dikenal ayat yang menyatakan bahwa kehidupan dunia hanyalah senda-gurau dan permainan belaka dan kehidupan akhiratlah justru kehidupan yang sesungguhnya (QS 29:64). Ayat ini menjadikan banyak orang Islam yang mencampakkan dunia dan melulu mencari kehidupan untuk akhirat. Pandangan ini bukanlah eksklusif dalam Islam saja. Lao Tse di Cina telah menjadi pelopor kemajuan spiritual dan menghasilkan banyak pendeta, kaum sufi dan gnostik. Di India dikenal banyak para yogi yang tidur di atas paku dan hidup selama empat puluh hari hanya dengan sebutir kurma. Cara-cara kehidupan ini membuat mereka menjadi tertinggal dalam kehidupan modern dan membuat negara-negara Islam menjadi miskin dan tertinggal. Padahal Ali bin Abi Thalib menyatakan dalam hadistnya yang masyhur, “Seandainya kemiskinan berujud seorang manusia, niscaya aku akan membunuhnya.”

Ini adalah dua dikotomi pemikiran. Kaum sekuler yang berbicara hanya mengenai kepentingan duniawi dan kaum spiritual dan agamawan dengan pemikirannya yang cenderung ‘memusuhi’ dunia. Padahal menurut Dr. Ali Shariati manusia adalah mahluk dua dimensional yang membutuhkan penyelarasan kebutuhan akan kepentingan dunia dan akhirat. Oleh sebab itu manusia harus memiliki konsep duniawi atau kepekaan emosi dan intelegensia yang baik (EI dan IQ) dan juga penting memiliki penguasaan ruhiyah vertikal yang kita kenal dengan Spititual Intelligence. Islam tidak mengharamkan kenikmatan, tetapi yang diharamkan adalah berlebih-lebihan terhadapnya. Manusia dituntut oleh masyarakat harus menampakkan penampilan yang layak dan pakaian yang pantas termasuk kebutuhan jasad berupa makan dan minum. Rasulullah bahkan mengecam para sahabatnya yang berpuasa dan sholat terus-terusan serta tidak menikah dan mengancam mereka sebagai bukan golongannya. Islam mengajurkan kehidupan yang seimbang antara orientasi kehidupan dunia dan akhirat (Al-Qhasash 77).
Pemikiran ini sekarang telah menjadi populer dan banyak para ilmuwan yang telah menyadari betapa rapuhnya kehidupan yang hanya berbicara tentang kepentingan duniawi semata. Para pemuja akal kini telah memalingkan kepalanya kepada kehidupan spiritual, dan sebaliknya para pemuja spiritual yang lari dari kehidupan dunia juga telah merasakan akibat dari pengingkaran mereka akan kehidupan dunia. Theodore Roszak dalam Where the Wasteland Ends mengejek rasionalitas ilmiah dan mengajak orang kepada kepekaan agama. Akal hanya kemampuan manusia yang terbatas dan disamping akal ada lagi spiritual knowledge.
Di kalangan ilmuwanpun kini mulai disadari pentingnya memandang alam sebagai satu kesatuan sistem yang utuh, melihat kekuatan suprarasional, metaempiris dibalik semua kekuatan-kekuatan materialistis. Assagioli, seorang psikolog terkenal dari Amerika bahkan menyatakan bahwa :”Kita sedang berjalan menghampiri ambang agama.”

APA YANG HARUS KITA LAKUKAN ?
Kita harus menyadari bahwa dikotomi pemikiran kehidupan dunia untuk dunia saja dan kehidupan dunia untuk akhirat saja adalah tidak sempurna. Pendidikan harus diarahkan pada pemahaman manusia kepada dua dimensi, yaitu roh dan jasad, dunia dan akhirat dengan penyeimbangan kebutuhan-kebutuhan keduanya. Jika kebahagiaan hendak kita raih melalui pendidikan maka pendidikan tersebutt haruslah berorientasi pada pencapaian kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Dunia kini dan masa depan adalah dunia yang dikuasai sain dan teknologi. Mereka yang memiliki keduanya akan menguasai dunia. Bila Islam ingin kembali memainkan peranannya, tidak bisa tidak ia harus menguasai sain dan teknologi. Kecintaan terhadap ilmu harus disosialisasikan kepada anggota keluarga kita, jamaah kita, dan saudara-saudara kita seagama. Ini berarti bahwa kita harus bersikap terbuka dan berpikir luas. Pendidikan haruslah menjadi prioritas umat Islam. Pendidikan Islam haruslah merengkuh dan berorientasi pada dua kejayaan yaitu kejayaan di dunia dan diakhirat. Ini artinya bahwa pendidikan Islam haruslah mengacu pada penguasaan sains dan teknologi juga dan tidak terpaku pada orientasi kehidupan akhirat semata.
Fakta menunjukkan bahwa pendidikan Islam belum mampu menunjukkan kualitas dan supremasinya sebagaimana yang pernah dicapai pada abad-abad awal kejayaan Islam. Saat ini sekolah-sekolah non-Islam masih mendominasi peringkat atas dalam kualitas pendidikan. Adalah tugas semua umat Islam untuk mensinergikan semua daya dan upaya untuk memperoleh kejayaan di bidang pendidikan melalui strategi ‘berjamaah’ atau kerjasama dan sinergisme. Sekolah-sekolah Islam haruslah ‘berjamaah’ (bersinergi) dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan mereka dan tidak lagi berdiri sendiri-sendiri. Sekolah-sekolah Islam haruslah membangun net-working untuk saling berbagi dan belajar. Sekolah-sekolah Islam haruslah berani menetapkan standar dan target yang lebih tinggi daripada sekolah lain dengan menggunakan berbagai sumber-daya, pendekatan, metodologi dan fasilitas modern yang ada dalam dunia pendidikan. Sekolah-sekolah Islam haruslah menghindari sikap cepat puas-diri yang akan menghancurkan semangat untuk menjadi umat yang terbaik. Dan sebaliknya orang-orang Islam haruslah bersedia untuk mengeluarkan dana lebih besar untuk pendidikan yang berkualitas. Mereka harus berani menuntut sekolah-sekolah Islam untuk menetapkan standard dan target yang lebih tinggi daripada sekolah-sekolah umum maupun non-Islam. Mereka harus benar-benar memahami anjuran Rasulullah SAW (atau dinisbahkan kepadanya) untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Cina yang berarti tidak hanya puas pada pendidikan lokal saja dan tidak hanya belajar pada sesama Muslim semata. Belajar dari siapapun yang lebih unggul daripada kita sangat dianjurkan. Yang tidak diperkenankan adalah mengubah akidah kita. Penggunaan guru-guru asing penutur asli untuk pelajaran bahasa Inggris sangatlah dianjurkan. Menggunakan tenaga pengajar ahli non-Muslim untuk berbagai mata pelajaran tidaklah dilarang. Apa yang dilarang adalah belajar tentang akidah kepada mereka karena mereka bukanlah pemiliki atau ahli di bidang tersebut. Mengambil pembicara-pembicara non-Islam dalam seminar atau lokakarya sekolah-sekolah Islam tidaklah haram atau tercela karena sifat Islam yang terbuka dan percaya akan keunggulan dirinya.
Guru-guru Islam haruslah bekerja dan belajar dua kali lipat daripada guru-guru lain. Jika guru-guru lain membaca satu buku dalam seminggu maka guru-guru Islam haruslah membaca dua buah buku. Jika guru-guru non-Islam berdiskusi dan berlokakarya seminggu sekali maka guru-guru Islam haruslah berdiskusi dan berlokakarya dua kali seminggu. Guru-guru Islam haruslah membuka dirinya terhadap perkembangan ilmu dan teknologi, khususnya dalam bidang pendidikan. Mereka harus mampu menyerap dan mengikuti perkembangan berbagai metodologi pengajaran mutakhir meski berasal dari luar Islam. Islam tidak lagi inklusif tapi telah membuka dirinya terhadap segala perubahan yang terjadi di dunia.

Perlu wawasan ilmiah untuk merekonstruksi pemahaman kita tentang Islam. Umat Islam harus fasih mengenai masalah-masalah tentang inseminasi, euthanasia, perbankan, pendidikan Islam, dlsb seperti fasihnya kita berbicara tentang istinja, tayammum, qunut, haji tamattu, dll.Ilmu dakwah mungkin tidak lagi mengenai makna “hikmah” dan “mujahadah” tetapi mengupas psikologi komunikasi, penggunaan media massa, pengembangan sistem informasi, community networking, dll Dengan demikian Islam akan kembali mendapatkan tempatnya sebagai agama yang sempurna.

PENUTUP
Sebagai model untuk mencapai tingkat kesempurnaan seorang manusia Islam menjadikan Rasulullah sebagai uswatun hasanah. Beliau adalah model yang harus kita jadikan sebagai patron dalam usaha pengembangan potensi diri yang seimbang antara kehidupan dunia dan akhirat. Pendidikan tidak terbatas pada pelaksanaan sholat dan komitmen pada hukum-hukum agama saja. Pendidikan juga tidak terbatas pada ambisi-ambisi untuk meraih kehidupan di bidang materi saja. Tetapi pendidikan adalah gabungan dari keduanya tanpa melebihkan satu diantara lainnya.
Sebagaimana Nabi Muhammad yang sepanjang hidupnya mendidik manusia dengan seluruh kepribadian dan prilakunya yang sempurna tersebut, pengikut-pengikutnya haruslah memandang pendidikan sebagai bagian dari dakwah yang merupakan jalan hidup. Pendidikan Islam harus diarahkan untuk mengembangkan iman, sehingga melahirkan amal saleh dan ilmu yang bermanfaat. Iman yang tidak melahirkan amal saleh dan ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan bukanlah iman yang sebenarnya. Prinsip ini mengajarkan bahwa yang menjadi perhatian dalam pendidikan Islam adalah kualitas, bukan kuantitas (ahsan ‘amalan atau amalan shaliha). Rasulullah bersabda bahwa : “Manusia yang terbaik ialah Mukmin yang berilmu. Jika diperlukan, ia bermanfaat bagi orang lain. Jika tidak diperlukan, maka ia dapat mengurus dirinya.” Beliau mewajibkan umatnya menuntut ilmu seraya berkata,”Satu bab ilmu yang dipelajari seseorang adalah lebih baik daripada dunia dan segala isinya.” Dengan demikian umat Islam haruslah menjadi pelopor dalam pendidikan yang berorientasikan keseimbangan kehidupan dunia dan akhirat.
Wallahu alam bissawab.

Balikpapan, September 2002
Satria Dharma