Beberapa hari yang lalu beberapa kepala sekolah beserta Ketua Dewan Pendidikan Kota Balikpapan mendapat undangan untuk berkunjung ke Inti Colege Sabah sambil menikmati keindahan dan kemajuan negara Sabah Malaysia. Apa yang bisa dilihat ?

Malaysia dalam banyak hal, terutama dalam pendidikan, memang jauh lebih maju dari Kaltim. Mengapa dibandingkan dengan Kaltim ? Karena kita sebenarnya satu pulau, satu ras, dan sama-sama pernah dijajah. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk ‘berprestasi’ lebih rendah dibandingkan mereka. Tapi nyatanya mereka memang lebih baik daripada kita. Sebagai contoh, kota Kinabalu yang merupakan ibukota negara bagian Sabah bukan hanya metropolis, indah, tertib dan sangat bersih, tapi anehnya tidak pernah macet! Hal ini memungkinkan karena jalanan mereka sangat lebar. Jalan searah bisa sampai 5 jalur sedangkan jalan dua arah sampai 8 jalur. Selain itu penataan kota mereka sangat matang sehingga pusat kota tidak menumpuk di satu tempat tapi tersebar secara merata. Nampaknya mereka menerapkan standar kepadatan suatu daerah secara konsekwen sehingga tidak terjadi penumpukan penduduk di suatu daerah tertentu saja. Mereka juga mendorong penduduk-penduduk mereka untuk tinggal di apartemen–apartemen sehingga hampir di seluruh wilayah kota mereka berdiri apartemen-apartemen megah yang menjulang tinggi, bahkan di daerah pinggiran berjarak seratus kilometer dari pusat kota. Yang lebih hebat lagi, pemerintah yang membangunkan apartemen tersebut setelah itu penduduk boleh meninggali apartemen tersebut cukup dengan membayar 25 % dari harga apartemen tersebut ! Jadi pemerintah mensubsidi 75 % harga apartemen tersebut. Tentu saja penduduk dengan senang hati bersedia menempati apartemen-apartemen tersebut ketimbang harus membeli tanah dan membangun rumah sendiri.

Tentu saja ada juga rumah-rumah pribadi dalam real-estate tapi tidak ada yang sangat mewah macam rumah-rumah di Balikpapan Baru. Nampaknya penduduk Sabah tidak suka jor-joran dalam bangunan rumah. Yang penting bagi mereka adalah rumah tersebut memiliki fasilitas yang komplit dengan standar kehidupan modern. Bahkan ketika saya makan di warung di pinggir pantai ikan bakar pesanan saya dibakar dengan menggunakan peralatan grill yang tertutup. Tentu saja rasanya tidak senyaman kalau dibakar secara terbuka dengan bahan bakar arang atau kulit kelapa seperti kita punya.

Di Sabah sangat jarang ada sepeda motor karena hampir semua penduduk mampu membeli mobil yang harganya ternyata lebih murah daripada di negara kita. Kok bisa ? Entahlah, nyatanya bisa kok! Mobil nasional mereka, Proton yang berbagai jenis seperti Wira, Satria, Perdana dan mobil jenis Kancil dan Kenari yang mungil merajai pasaran karena harganya terjangkau.

Bahkan biaya tiket pesawat MAS jurusan Tawao – KK pulang-pergi ternyata lebih murah daripada Balikpapan – Surabaya sekali jalan. Padahal airlines kita sudah teriak-teriak bahwa harga tiket kita sudah di bawah harga standar. Bahan bakar lebih mahal di sana lho !

Bagi mereka yang anti-rokok Sabah adalah surga karena hampir tidak ada yang merokok. Memang ada penjual rokok tapi saya hampir tidak pernah melihat penduduk merokok secara terbuka. Iklan-iklan rokok yang biasanya merajai di setiap sudut jalanan di negara kita di Sabah tidak ada sama sekali. Pemerintah memang melarang iklan rokok di jalanan., bahkan di kaos pun tidak ! Rokok hanya boleh beriklan di bioskop. Artinya, pemerintah hendak menghalangi peningkatan jumlah perokok di negaranya. Suatu gerakan yang sangat mengagumkan !

Kembali ke pendidikan. Apa kehebatan mereka ? Kelebihan pengajaran bahasa Inggris mereka daripada kita tak usah disebut-sebut lagi. Hampir semua yang ditemui oleh para kepala sekolah tersebut, termasuk sopir bus Inti College Sabah, menggunakan bahasa Inggris secara lancar dan fasih. Mereka bahkan nampak lebih fasih berbahasa Inggris daripada berbahasa Melayu karena bahasa Inggris nampaknya bahasa sehari-hari mereka.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan mereka Malaysia pada tahun ini telah menetapkan untuk memberi kursus kemahiran komputer pada 100.000 guru mereka selama 2 tahun. Mereka ingin agar semua guru mereka mengenal dan menggunakan komputer dalam tugas sehari-hari mereka. Seandainya saja Kaltim menetapkan hal yang sama pada 5000 guru mereka dan biaya kursusnya masing-masing membutuhkan Rp. 1.000.000,- maka biaya yang dikeluarkan untuk itu hanyalah Rp.5.000.000.000,- untuk 2 tahun. Suatu jumlah yang tidak terlalu besar demi peningkatan kualitas guru kita.

Hal lain adalah semua guru akan diberi pelatihan mengenai kurikulum baru yang ditetapkan oleh pemerintah sampai semua kurikulum baru tersebut terlaksana seluruhnya. Jika saja kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang hendak kita terapkan pada tahun 2004 kita latihkan pada 5000 guru kita dengan biaya sama dengan diatas maka biayanya juga cuma 5 M. Tak banyak.

Ada lagi ? Ya. Malaysia menetapkan semua guru Matematika, IPA dan Bahasa Inggris harus meningkatkan kemampuannya dengan pelatihan secara total. Jika ada 5000 guru dan biayanya Rp.2 juta/guru maka yang dkeluarkan hanyalah 10 M. Sedikit saja.

Apa lagi ? Menjelang 2005, 75 % dosen di perguruan tinggi haruslah sudah bertitel Ph.D alias Doktor. Selain itu menjelang 2010, 100 % guru sekolah menengah dan 50 % guru SD harus bertitel S-1. Kalau ini entah berapa biayanya. Ini artinya guru-guru dan dosen harus sekolah lagi dan cutinya ditanggung oleh negara alias dibayar penuh. Memang berat bagi guru dan dosen untuk bersekolah lagi, tapi itu memang tuntutannya. Kalau tak mampu memenuhi persyaratan dengan bersekolah lagi ya silakan cari pekerjaan lain.

Berapa sih gaji guru di Sabah ? Dari informasi, dosen S-1 fresh gajinya sekitar RM 1.500 atau sekitar 3 juta lebih. Setahun kemudian bisa naik menjadi RM 2.000 atau sekitar 4,2 juta rupiah. Cukup besar untuk ukuran kita tapi beban mengajar mereka juga cukup besar. Mereka harus mengajar 20 jam seminggu atau 80 jam sebulan. Dan ini jam riil 60 menit dan bukannya 45 menit. Bandingkan dengan dosen kita yang bebannya satu semester cuma 10 – 12 SKS sudah mengeluh.

Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menyekolahkan para guru dan dosen itu lagi ? Kalau kita mau berandai-andai, kalau ada 5000 guru dan dosen yang perlu disekolahkan lagi dan biaya sekolahnya masing-masing Rp.25 juta sampai selesai maka dana yang harus disediakan adalah 125 M. Tapi itu kan sampai 2010. Artinya kalau dihitung-hitung biayanya pertahun jatuhnya kurang dari 20 M. Suatu angka yang sebetulnya masih dalam jangkauan kemampuan beberapa kabupaten kaya di Kaltim ini. Masalahnya, mau nggak seperti Malaysia ?!

Satu hal yang membuat kagum adalah kampus University Malaysia Sabah. Berdiri di atas tanah seluas 300 hektar setiap fakultasnya punya kampus yang besarnya sebesar setiap universitas kita. Padahal mahasiswanya cuma 5000 orang. Megah ? Lihat sendiri saja di www.ums.edu.my. Kampus mereka begitu megah, indah dan bersih sehingga kantor rektoratnya saya pikir hotel bintang lima. Melihat betapa bersih dan indahnya kampus mereka saya berani yakin mahasiswa mereka tidak pernah berdemo, apalagi sampai bakar-bakar kampus seperti kita.

Hmmm…. kapan ya kita bisa seperti mereka ?!

Lantas mana oleh-olehnya ? Dengan meninggalkan kesempatan rekreasi ke Pulau Gayana yang katanya sangat indah, saya beserta Pak Abdul Gofar berkunjung ke Sekolah SMU Sri Insan, sebuah sekolah unggulan yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya, untuk mengajukan program pertukaran pelajar. Intinya kami ingin mengirimkan siswa-siswa dari Kalimantan Timur untuk ‘mencicipi’ belajar di Sri Insan. Kalau boleh !

Nyatanya mereka memang bersedia menerima kami dengan tangan terbuka. Mereka bersedia menerima siswa SMU Kaltim untuk ikut kegiatan mereka bukan 3 bulan seperti yang kami inginkan tapi selama 2 minggu. Meski demikian kami boleh mengirim 10 orang siswa pada pertengahan Juli 2003 ini dengan tanggungan akomodasi dan makan sehari-hari dari orang tua angkat yang berasal dari orang tua siswa mereka sendiri.

Sabah memang asyik !

Balikpapan, 27 Mei 2003

Satria Dharma

Iklan