Yubi&Yufi Kemarin Yufi, anak kedua saya, sunat. Kebetulan kakaknya juga baru saja sunat ketika berada di Surabaya dan ia merasa terdorong untuk ikut sunat. Karena salah seorang keluarga kami adalah perawat yang biasa melakukan proses sirkumsisi d rumah sakit maka kamipun sepakat mengadakan proses sunatan tersebut di rumah. Ruang makan kami sulap untuk menjadi ruang ‘OK’ sementara dan keluarga-keluarga dekat kami undang untuk turut membantu dan menyaksikan prosesi tersebut.

Begitulah, akhirnya anak saya akhirnya sunat bersama dua orang sepupunya yang lain yang juga ingin sunat. The more the merrier, kata kami. Ketiganya diundi siapa yang lebih dahulu dan siapa berikutnya karena ternyata mereka merasa agak takut-takut juga untuk disunat pertama kali.

Ketika anak pertama disunat dan menangis karena ketakutan dan kesakitan akhirnya dua anak berikutnya juga menjadi takut dan stress. Anak saya sendiri menjadi trauma melihat saudara sepupunya menangis dan menjerit-jerit. Ia berontak tidak mau disunat.

Hwarakadah…! Petugas sunat dan para keluarga sudah siap je lha kok mau membatalkan niat. Ya, ndak bisa!
Pokoknya mereka berdua harus menyerahkan ‘burung’ mereka untuk disunat hari itu juga. Berbagai cara kami lakukan untuk membujuk mereka untuk maju ke ‘meja bedah’. Ada yang berjanji untuk membelikan mainan, ada yang menjanjikan bonus uang, makanan dan minuman, dll. Pokoknya mereka harus bersedia disunat hari itu.

Meski masih setengah menolak kami berusaha keras untuk menelentangkannya di meja ‘OK’ untuk disunat. Lima orang bertugas memegangi mereka selama proses berlangsung. Sepanjang prosesi anak saya memberontak, menangis, dan menjerit-jerit. Ketika saya usulkan agar ia membaca surat-surat pendek dalam AlQur’an sebagai ganti dari menangis dan mengaduh-aduh maka ia pun membaca AlFatihah, AnNas, Al-Ahad, dll surat pendek yang ia ketahui sambil terus merintih. Ia juga kami tuntun untuk berdoa dan berselawat. Entah berapa banyak surat dan doa yang ia baca selama prosesi tersebut. “Wah, tamat satu jus, nih!” ledek Om-nya yang bertugas memegangi kakinya. Proses sunat kedua anak tersebut akhirnya selesai dengan susah payah. “Wah, belum pernah saya menyunat anak seheboh ini!” kata tukang sunatnya sambil menyeka keringat yang membanjiri wajahnya. Syukurlah!

Ketika semua proses telah selesai kami kemudian rasan-rasan bahwa anak-anak sekarang tidak ‘setegar’ orang-orang dulu. Dulu waktu kecil kami dengan riang gembira menyorongkan ‘burung’ kami untuk diembat kulupnya oleh calak, tukang sunat tradisional, tanpa rasa gentar sedikitpun. Anak yang menangis akan diolok-olok sebagai anak cengeng sehingga hampir semua akan berusaha untuk menyembunyikan rasa takutnya. Meski tetap saja ada anak yang menangis karena takut.

Seorang keluarga kami bahkan pingsan ketika disunat. Tapi itu kemudian memudahkan dokter untuk menyunatnya. Proses sunat dengan calak memang jauh lebih cepat dan sederhana karena tidak dijahit dan ‘kulup’ dibiarkan untuk menutup sendiri. Suasana juga lebih meriah karena diselenggarakan secara massal dan setiap anak biasanya mendapatkan hadiah sarung dan baju baru dari ‘sponsor’.

Anak saya sendiri mendapatkan banyak hadiah dari om-om dan tante-tantenya. Selesai sunat, makan dan berbaring di tempat tidur ia dengan gembira menghitung uang hadiah perolehannya. Ada sekitar 150 ribu rupiah di tangannya. Belum lagi janji hadiah uang dari kami orang tuanya yang masih belum ‘cair’. Meski demikian ia tetap tidak bisa memperoleh hadiah mainan PS 2 yang diinginkannya. Kami belum rela anak-anak menghabiskan waktunya main PS. Kalau sekali-sekali mereka pingin main PS kami antarkan mereka ke rumah sepupunya yang tidak jauh dari rumah kami.

Kami gembira bahwa pada akhirnya anak-anak kami sudah sunat semua. Satu lagi tanggung jawab kami sebagai orang tua telah kami laksanakan dan kami bersyukur bisa melaksanakannya dengan baik. Saya sedang menikmati suasana tenang setelah ‘perjuangan’ berat tersebut ketika tiba-tiba anak saya tersebut berkata pada saya. “Pak! Sebagian uangku ini mau keberikan ke ibunya Dona.” Dona adalah salah seorang temannya yang tinggal di kampung di belakang rumah kami. “Kenapa?” tanya saya keheranan. “Ibunya Dona itu miskin, Pak. Uangnya itu cuma ribu-ribuan. Aku pernah lihat waktu ia buka dompetnya.” Sahutnya. Ibunya Dona memang seorang janda miskin yang ditinggalkan mati oleh suaminya dengan tanggungan 4 orang anak yang masih kecil-kecil. Untuk hidup sehari-hari ia bekerja pada orang-orang di kompleks kami sebagai pembantu tumah tangga. Anak saya sering main ke rumahnya dan tentunya ia tahu kondisi
ekonomi temannya tersebut Saya hampir tidak percaya mendengar kata-katanya tersebut. Saya sungguh tidak pernah menduga bahwa ia memiliki perhatian pada hal-hal semacam itu. Saya sungguh tersentuh mendengar kata-katanya tersebut.

Diam-diam saya bersyukur bahwa anak saya memiliki perasaan welas asih pada orang-orang disekitarnya. Saya kemudian memeluknya dan bertanya,”Apakah kamu tidak sayang dengan uangmu tersebut? Itu kan hadiah sunatmu,” “Tidak.” Jawabnya pendek tanpa menjelaskan apa-apa. Ia kemudian bangkit mengambil amplop di meja nachas, memasukkan dua lembar uang lima puluh ribuan, merekatkannya dan menuliskan di amplop tersebut. “Untuk Dona dan keluarga. Selamat berpuasa.”

Saya tidak dapat menahan rasa haru saya dan menangis dalam hati. “Ya, Allah! Terima kasih telah memasukkan rasa kasih ke dalam hati anak saya ini.” Sungguh saya merasa beruntung diberi anak yang memiliki jiwa welas asih semacam itu. Ramadhan ini sungguh penuh dengan berkah.

8 November 2004
Ramadhan, 1424 H

Salam
Satria Dharma

http://satriadharma.com/