Oh, Aceh…!

Berhari-hari saya menangis tanpa dapat saya tahan melihat 
penderitaanmu. Bencana ini begitu dahsyat, begitu singkat tapi meninggalkan korban 
yang begitu besar. Rasanya belum pernah saya merasa begitu pilu melihat 
nasib dan penderitaan yang begitu besar seperti yang kau alami ini.
 
Dalam sujudku yang berlimbah airmata aku bahkan tak mampu mengucapkan 
kata-kata atau doa. Justru protes yang terlontas dalam hatiku. “Ya, 
Allah! Aku tahu bahwa Engkau tak mungkin salah dengan takdirMu. Karena 
Engkaulah Sang Maha Benar. Yang tak pernah salah dalam menetapkan sesuatu, 
meski kami tak mungkin paham dengan semua tindakanMu. Ya, Allah! Apa 
gerangan kasih yang kau sembunyikan dibalik musibahMu ini? Berilah kami 
petunjukMu agar kami paham makna dari semua derita yang kau timpakan 
pada bangsa Aceh, saudara kami ini, ya Allah!. Kurang besarkah penderitaan 
mereka selama ini, ya Allah? Bukankah bangsa Aceh berjuang tanpa henti 
selama tiga puluh tahun melawan penjajah bangsa Belanda sebelum 
akhirnya bergabung dengan republik ini, ya Allah? Tigapuluh tahun berperang 
tanpa henti dengan segala penderitaannya, ya Allah!
 
Dan ketika mereka bergabung dengan kami mereka juga tak pernah 
menikmati nikmat dan berkah kemerdekaan seperti saudara-saudara lainnya yang 
sebangsa dan setanah air. Kali ini mereka diperangi oleh pemerintahnya 
sendiri yang tidak suka dengan cara mereka mengekspresikan diri. DOM 
adalah balasan atas protes mereka yang tak mampu berdiplomasi macam 
saudara-saudaranya yang lain. Berpuluh tahun lagi mereka harus menderita 
karena pemberontakan yang tak perlu terjadi. Berpuluh tahun mereka menderita 
karena diperlakukan sebagai musuh sembari disedot sumber daya alamnya. 
Perang seolah-olah telah menjadi takdirnya tanpa henti. Derita demi 
derita seolah tak henti-hentinya Kau timpakan pada bangsa Aceh. Dimanakah 
kasihMu bagi mereka ya, Allah?
 
Oh…Aceh! Sungguh malang nasibmu.
 
Tapi hari ini, ketika telah lelah aku bertanya kepada Tuhan, tiba-tiba 
seolah aku mendengar Tuhan berkata-kata kepadaku,: “KasihKu pada Aceh 
melebihi kasihKu pada yang lain. Pandanglah kesekelilingmu dan akan 
engkau temui kasihKu pada Aceh memenuhi setiap tempat di muka bumi ini.” 
Dan ajaib! Tiba-tiba saya melihat kebenaran tersebut.
 
Seluruh penjuru dunia tiba-tiba memalingkan matanya ke Aceh dan turut 
berduka dengannya. Seluruh dunia tiba-tiba menghentikan kegiatannya 
karena iba melihat penderitaan Aceh. Aceh!...Aceh..! Aceh…! Tiba-tiba ia 
sekarang menjadi begitu penting setelah sekian lama tidak pernah dilihat 
dengan sebelah mata. Aceh tiba-tiba menjadi tumpuan kasih sayang 
siapapun yang iba padanya. 
 
Tiba-tiba saya melihat betapa Tuhan telah mengubah segalanya dalam 
sekejap. Tak satupun daerah di Indonesia di Indonesia yang tidak turut 
berduka dengannya. Tiba-tiba Aceh menjadi saudara yang paling patut 
dikasihi dan disayangi setelah sekian lama kita perangi. Aceh…! Aceh…! 
Beritahu kami cara terbaik untuk menghibur hatimu! Kami adalah 
saudara-saudaramu yang selama ini lalai menyayangimu.
 
Tahukah kau Aceh, bahwa semua orang yang ketemui, kudengar, kulihat, 
turut merasakan penderitaanmu. Mahasiswa, pengusaha, artis, pelawak, 
walikota, sopir taksi, politisi, tentara, polisi, semua…. ya, semua turut 
bersedih dengan penderitaanmu. Semua orang di semua tempat ingin 
menumpahkan kasih dan sayangnya padamu. Belum pernah saya melihat ada bangsa yang begitu dikasihi seperti engkau saat ini, Aceh! Bahkan seorang 
tukang sapu jalanan di Balikpapan dengan tanpa ragu merogoh sakunya dan 
mengeluarkan semua uang yang ada disakunya ketika para mahasiswa secara 
spontan turun ke jalan untuk mengumpulkan derma dari masyarakat yang lalu 
lalang.  Ia mungkin tidak sadar bahwa ia memerlukan uang tersebut untuk 
ongkos pulangnya nanti. Bahkan aku baca seorang anak berumur 10 tahun 
di mancanegara memecah celengannya dan menyumbangkan isinya yang hanya 
10 dolar sambil berkata,:”Maybe they really need the money.”  Ia bahkan 
tidak tahu dimana Aceh itu. Ia hanya tahu bahwa ada bangsa yang ditimpa
 bencana yang begitu dahsyat dan memerlukan bantuan.  Dan hatinya jatuh 
mendengar penderitaanmu. George Bush yang pongah itupun tak tahan untuk 
tidak melipatgandakan dana bantuan untukmu sampai sepuluh kali lipat. 
Ya, sepuluh kali lipat! Bahkan kepada bangsa Irak dan Afganistan yang ia 
sakiti ia tak begitu dermawan.
 
Betapa ajaibnya kerja Tuhan! Aceh yang selama ini diperangi 
berpuluh-puluh tahun tanpa seorangpun tahu bagaimana cara mengasihinya tiba-tiba 
menjadi bangsa yang paling dikasihi dimuka bumi ini. Semua ingin 
merengkuhnya, semua ingin memeluknya, semua ingin menghiburnya, semua ingin 
memberikan hartanya baginya, semua ingin mengulurkan tangannya untuk 
menolongnya, semua ingin menumpahkan airmatanya untuknya, semua ingin 
berbagi, semua ingin menyayanginya. Semua untuk Aceh yang selama ini tidak 
pernah kita perdulikan.
 
Oh…Aceh! Sungguh besar kasih sayang Tuhan padamu. Sesungguhnya mereka 
yang menjadi korban tidaklah sia-sia. Bukankah Rasulullah pernah 
bersabda bahwa umatnya yang mati tenggelam adalah mati syahid? Dan engkau 
memperoleh kehormatan tersebut.
 
Oh….Aceh, saudaraku! Bangkitlah dari penderitaanmu dan lihatlah 
sekelilingmu. Seluruh dunia telah menitipkan hatinya bagimu. Kau adalah 
kekasih bagi seluruh dunia kini. Kemanapun engkau berpaling maka disitu kau 
akan temukan kasih sayang sesamamu. 
 
Oh… Aceh, saudaraku! Mulai hari ini mari kita mulai hidup baru yang 
hanya dipenuhi oleh kasih dan sayang diantara semua bangsa kepadamu. Cukup 
sudah penderitaanmu selama ini diganti oleh kasih dan rahmat Tuhan yang 
tak terhingga untukmu. Lihatlah, betapa semua orang berusaha untuk 
merebut hatimu, mencari simpatimu, mencoba menjadi saudaramu. Lihatlah 
betapa tentara yang selama ini berlaku garang telah berubah menjadi dewa 
penolongmu. Lihatlah betapa pemerintah yang selama ini menyia-nyiakanmu 
sekarang berusaha untuk melimpahimu dengan segala kebutuhanmu. Lihatlah, 
betapa propinsi, kabupaten dan kota lain yang selama ini tidak perduli 
dengan keadaanmu kini berusaha menjadi saudara terbaikmu.
 
 
Oh..Aceh! Sungguh besar kasih Allah padamu.
 
Balikpapan, 3/1/05
Satria Dharma
Iklan