Kemarin sore saya ada kesempatan untuk jalan-jalan ke toko buku bersama istri dan anak-anak saya. Sudah sejak kemarin Yubi meminta untuk ke toko buku karena ia ingin membeli buku seri lanjutan dari “Eragon” yang sudah tamat dibacanya. Sayangnya ternyata buku “Eldest”, kelanjutan dari “Eragon” tidak ada di toko buku. Entah karena belum terbit atau memang toko buku Kharisma tidak punya stocknya. Petugas toko juga tidak bisa membantu kami untuk mengetahuinya.

 
Begitu masuk Tara, anak terkecil kami yang baru berusia 4 tahun, sudah langsung menyambar buku yang ia sukai. Ia belum bisa membaca sendiri dan koleksi bukunya adalah koleksi untuk dibacakan kepadanya oleh ibunya. Ketika ia minta persetujuan saya apakah ia boleh membeli buku tersebut saya minta ia menanyakannya ke ibunya karena ibunyalah yang akan membacakan buku tersebut. Kalau buku tersebut nampak ‘berat’ dan tidak menarik untuk dibacakan biasanya istri saya menolak dan memintanya mencari buku yang lain. Sore itu ia berhasil memilih dua buah buku cerita kesukaannya. Saya yakin bahwa ia akan merayu siapa saja yang datang ke rumah kami untuk membacakan buku tersebut. Dan ia tidak akan mau berhenti sampai pembaca ceritanya kelelahan.

 

Karena tidak berhasil mendapatkan buku yang ia inginkan Yubi menyodorkan buku tentang cara merawat binatang peliharaan yang langsung ditolak oleh ibunya. Nampaknya ia masih ingin mempengaruhi ibunya untuk boleh memelihara kucing yang beberapa waktu yang lalu sudah ditolak. “Kita tidak akan memelihara binatang lain selain ikan di kolam.” Kami memang memelihara beberapa ikan hias di kolam kecil dekat kamar saya. Tapi tak ada yang mereka lakukan selain mengobok-ngobok kolamnya dan memberi makan terlalu sering dan terlalu banyak. Memelihara kucing adalah ‘out of question’ bagi istri saya.

Karena tidak berhasil meyakinkan ibunya ia tidak jadi membeli buku apapun. Nampaknya tak ada buku yang cukup menarik baginya. Saya tidak berhasil membujuknya untuk membeli buku “Winnetou’. Ia nampaknya belum tertarik dengan buku karya Karl May ini. Sayang sekali! Padahal karya Karl May ini luar biasa memikatnya. Sewaktu kecil saya sering berkhayal bertualang ke suku Indian Apache dan menghisap pipa bersama Winnetou, hero saya waktu itu. Tapi tak apa. Ia masih punya beberapa buku bacaan yang belum sempat diselesaikannya. Di rumah masih ada beberapa buku bacaan yang belum dibacanya.

 

Yufi tertarik pada buku “100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia” dan memasukkannya dalam tas belanjaan. Ia sangat yakin bahwa pilihannya itu tidak akan ditolak. Kami memang sering menolak buku-buku yang mereka pilih karena kami tahu mereka memilihnya hanya karena tertarik dengan judul atau ilustrasi sampulnya. Kami juga sering menolak komik-komik manga karena tidak ingin mereka terlalu larut dalam cerita-cerita manga tersebut.

Saya pernah memiliki buku 100 Tokoh ini tapi sudah lama hilang entah siapa yang meminjam dan tidak dikembalikan. Nampaknya Yufi sempat membaca-baca isinya sehingga ketika saya tanyakan siapa tokoh paling berpengaruh pada peringkat 2 ia langsung menjawab “Isaac!”.

“Nama lengkapnya Isaac Newton, tapi ia lebih populer dipanggil Newton. Ia tokoh ilmuwan dan terkenal dengan hukum Newtonnya.” saya menimpali.

 

Istri saya tidak mengambil buku apapun. Ia masih punya banyak “PR” buku yang harus dibacanya. Ia nampak membolak-balik buku tentang bermain games dengan anak-anak tapi kemudian ia letakkan kembali. Masih ada satu buku tentang bermain dengan anak yang belum selesai dibacanya. Saya juga tidak yakin bahwa ia punya waktu untuk mempraktekkannya. Belakangan ini ia juga mulai sibuk dengan tugas-tugasnya.

Saya sendiri pada akhirnya yang paling banyak membeli buku. Saya suka keranjingan kalau sudah ke toko buku. Saya tidak pernah membatasi budjet saya untuk beli buku. Padahal ada beberapa buku yang sampai sekarang juga belum sempat saya baca karena terbatasnya waktu untuk itu. Tapi kalau saya lihat buku bagus saya tidak tahan untuk tidak membelinya. Selalu timbul kekuatiran bahwa kalau saya tidak membelinya sekarang maka saya akan tidak bisa membelinya lagi kelak karena sudah tidak dijual lagi. Jadi saya selalu membelinya meski tidak sempat membacanya. Paling tidak saya punya koleksinya. Padahal buku-buku tersebut bukan buku langka dan hanya buku macam “50 Fakta yang Seharusnya Mengubah Dunia.”, “Mengajar Anak-anak untuk Berpikir”, dan semacamnya. Mungkin tidak perlu saya beli karena buku-buku bagus biasanya selalu dicetak ulang dan bahkan disempurnakan.

Sore itu anak saya menemukan komik “Si Buta dari Goa Hantu” karya Ganes TH yang dulu merupakan komik favorit saya. Haaah..! Komik ini dicetak ulang? Sungguh menyenangkan bisa bertemu kembali dengan komik favorit setelah tiga puluh tahun!

Karena penasaran bungkus plastiknya saya buka dan memang komik itu sama dengan ketika saya pertama kali membacanya tiga puluh tahun yang lalu yang masih menggunakan ejaan lama. Saya memang tidak segan-segan membuka sampul plastik buku yang ingin saya beli. Karena tidak ingin membeli kucing dalam karung saya juga menolak membeli buku dalam sampul plastik yang saya tidak tahu isinya. Calon pembeli berhak mengetahui isi dari buku yang ingin dibelinya dan berhak menolak membelinya jika ternyata buku tersebut tidak sesuai dengan keinginannya. Tindakan menyampuli semua buku dan tidak menyertakan satu sample buku untuk dilihat menurut saya termasuk ‘penipuan’. Sampai saat ini masih banyak orang yang melakukan judging a book by its cover, seperti anak-anak saya, dan kemudian kecewa dan marah jika ternyata isi buku tidak seperti yang ia inginkan. Kutipan di sampul belakang menurut saya tidak cukup memadai untuk menilai buku. Calon pembeli berhak untuk mengetahui kerangka dari buku yang hendak dibelinya.

Alhasil sore itu justru saya yang paling banyak beli buku, termasuk dua seri Si Buta dari Gua Hantu sebagai nostalgia. Saya yakin anak-anak saya akan menikmatinya seperti saya dulu menikmatinya.

Paginya dalam sesi SSR dua buah komik tersebut diselesaikan dengan cepat oleh Yubi dan Yufi. “Komik ini bagus lho!” komentar Yufi ketika membacanya. Seperti biasa Yubi tidak berkomentar apapun tentang bacaannya. Apa yang dibacanya ‘is not something to share’ baginya.

 

Balikpapan, 23/2/06

Satria Dharma