Beberapa waktu yang lalu dalam sebuah presentasi di acara Teacher
Club-nya Provisi seorang peserta bertanya bagaimana caranya merekrut
seorang guru biologi yang memiliki kemampuan untuk mengajar di
sekolah-sekolah yang memiliki kelas internasional. Rupanya sekolahnya
melaksanakan program kelas internasional dan kesulitan untuk merekrut
guru yang memiliki standar yang memadai untuk mengajar di kelas
internasional itu.


Saat itu Depdiknas memang sedang melemparkan
‘uji-coba’ pelaksanaan kelas internasional di berbagai sekolah unggulan
di tanah air dengan biaya pinjaman, katanya. Beberapa sekolah unggulan
yang dianggap memiliki kapasitas untuk menyelenggarakan kelas
internasional memang didorong untuk melaksanakan ‘uji-coba’ ini. Kelas
internasional ini diharapkan akan mengacu pada kurikulum Cambridge atau
IGCSE dan akan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya.
Secara spontan saya langsung mengatakan bahwa program kelas
internasional adalah ‘total failure guarantee program’ sehingga membuat
suasana seminar sedikit ribut. Maklum saja karena pernyataan tersebut
tentunya langsung menohok sekolah-sekolah yang sedang asyik-asyiknya
bermimpi untuk ‘nginternasional’ . Alasan saya sederhana dan justru
merupakan jawaban atas pertanyaan sang guru tadi, yaitu bahwa kita
memang tidak punya guru untuk program itu. Lha wong pengajaran bahasa
Inggris, yang diajarkan oleh guru-guru bahasa Inggris yang dilatih
khusus selama 4 tahun (S1) untuk mengajar bahasa Inggris di LPTK, saja
masih menggunakan bahasa Inggris yang berlepotan je! Bahkan sebagian
besar guru bahasa Inggris ditengarai masih belum mampu menggunakan
bahasa Inggris sepenuhnya dalam mengajar. Mana mungkin tiba-tiba kita
punya guru-guru IPA yang fasih berbahasa Inggris dan mampu menyampaikan
materinya dalam bahasa Inggris dengan kurikulum dari Cambridge. Secara
logika saja sudah sulit untuk diterima. Makanya saya berani menyatakan
bahwa itu ‘total failure guarantee program’. Tapi itu ketika saya belum
sempat masuk ke kelas dimana program ini dijalankan.
Beberapa waktu kemudian saya mendapat kesempatan untuk masuk ke kelas
internasional ini dan melihat apa yang terjadi di kelas dan bagaimana
program ini dilaksanakan. Saya mendapat kesempatan untuk mengadakan
observasi kelas di sebuah sekolah unggulan di sebuah propinsi yang maju
dan salah satu kelas yang saya observasi ya kelas internasional tadi.
Siswa-siswa yang ada di kelas tersebut adalah siswa pilihan dengan
nilai akademis yang tinggi. Karena kelas internasional maka beberapa
pelajaran inti (IPA) diberikan dalam bahasa Inggris.
Karena guru-guru mata pelajaran intinya belum bisa berbahasa Inggris,
padahal sekolah tersebut termasuk sekolah yang dijadikan sebagai pilot
project, maka mereka dikursuskan berbahasa Inggris secara internsif dan
diharapkan nantinya mereka akan bisa mengajar materi pelajaran mereka
dalam bahasa Inggris. Jadi ini proyek ‘crash program’ yang tidak masuk
akal. Bagaimana mungkin guru yang baru belajar bahasa Inggris (dari
dasar pula) akan diharapkan dapat mengajarkan materi pelajarannya dalam
bahasa Inggris secara memadai? Lagipula kursus bahasa Inggrisnya adalah
kursus bahasa Inggris umum dan bukan bahasa Inggris ‘sepecial purposes’
untuk mengajar materi pelajarannya.
Karena para gurunya belum bisa berbahasa Inggris sedangkan program
tersebut harus sudah jalan maka sekolah tersebut mengontrak dosen dari
sebuah PTN yang mampu mengajar dalam bahasa Inggris. Dosen tersebut
tentunya pilihan dan dianggap benar-benar mampu menyampaikan materi
dalam bahasa Inggris. Entah apa kriterianya karena sang dosen ini
tentunya tidak/belum pernah menyampaikan mata kuliahnya dalam bahasa
Inggris kepada mahasiswanya, lha wong pertinya kelas nasional!,
sehingga sulit untuk menyatakan bahwa dosen tersebut mampu mengajar
dalam bahasa Inggris dengan baik.
Guru kelas sebetulnya diharapkan ikut menjadi asisten dari para dosen
tersebut dan menemaninya sambil belajar dengan melihat bagaimana dosen
tersebut mengajar. Jadi sambil ngasisteni sambil menyerap ilmu sang
dosen. Tapi pada saat observasi saya guru kelas tersebut sedang ada
keperluan sehingga tidak datang dan dosen tersebut mengajar sendirian.
Sang dosen ini mengajar dengan menggunakan LCD, yang nampaknya
merupakan suatu tanda atau ciri dari pengajaran ‘kelas internasional’
karena setiap kali pengajaran selalu menggunakan LCD. Meski demikian
sang dosen, nampaknya juga masih kesulitan untuk mengoperasikannya
karena harus mengutak-atiknya beberapa lama dengan siswa baru bisa
berjalan dengan pantulan yang miring ke dinding.
Pelajaran yang diberikan adalah fisika dengan materi tentang ‘Rays’
atau cahaya dan pantulannya dan nampaknya materinya diambil dari sebuah
diktat atau referensi berbahasa Inggris untuk mahasiswa. Materinya
jelas dicomot langsung dari buku tersebut dan ditampilkan begitu saja
ke dinding. Sang dosen menjelaskan materinya dengan bahasa Inggris yang
sulit saya pahami dengan cara mengajar seperti perkuliahan di perti.
Saya tidak tahu apakah bahasa Inggrisnya yang sulit dimengerti atau
memang materinya yang sulit dipahami. Tapi saya melihat bahwa para
siswa juga tidak begitu memahaminya karena mereka bahkan tidak bisa
berkonsentrasi terhadap pelajaran yang diberikan. Sebagian berusaha
untuk berkonsentrasi tapi setelah beberapa waktu mereka akhirnya
menyerah dan harus berusaha keras untuk mendengarkan ‘kuliah’ sang
dosen. Saya melihat beberapa siswa keluar dari kelas sebelum pelajaran
dimulai dan tidak kembali sama sekali. Tidak ada kegiatan lain dari
siswa selain mendengarkan sang dosen berkuliah dan mencatat hal-hal
yang mereka anggap perlu sampai akhir jam pelajaran. Tidak ada sesi
tanya jawab atau diskusi dan saya tidak melihat para siswa memiliki
materi yang diberikan tersebut baik berupa buku ataupun kopiannya.
Anyway, saya baru saja ‘menikmati’ sebuah kelas internasional.
Setelah pengajaran selesai saya menanyai siswa-siswa tentang apa dan
bagaimana kelas internasional tersebut dan apa bedanya dengan kelas
lainnya. Salah seorang siswa kelas internasional menjawab bahwa
siswa-siswa kelasnya dipersiapkan untuk dapat kuliah di luar negeri dan
bersaing dengan siswa-siswa dari negara manca. Tetapi ketika saya tanya
apakah ia memang merencanakan untuk kuliah ke luar negeri setelah
lulus, ia tidak tahu. Ia hanya menjawab kalau ada kesempatan untuk bisa
kuliah ke luar negeri maka ia ingin kuliah ke luar negeri. Nampaknya ia
berharap agara ada beasiswa khusus bagi siswa sepertinya untuk kuliah
di luar negeri. Hampir semua temannya juga berharap yang sama katanya.
Yang mengejutkan adalah jawaban ketika saya tanya apa perbedaan antara
kelasnya dengan kelas ‘nasional’ yang ia jawab justru perbedaan
perlakuan, umpamanya, bahwa kelasnya kelak akan memakai AC sedangkan
yang ‘nasional’ tidak. Mereka juga dijanjikan akan mendapatkan satu
komputer untuk setiap siswa sedangkan yang ‘nasional’ tidak. Tapi yang
paling membuat saya tercengang adalah katanya bahwa nantinya ruang
kelas ‘internasional’ akan dilengkapi dengan toilet khusus sehingga
siswa tidak perlu keluar sekedar untuk buang air. Toilet khusus akan
disediakan di ruangan kelas internasional tersebut! Saya hampir tidak
percaya mendengarnya dan langsung berasosiasi ke bis malam yang
menyediakan toilet di dalamnya. Toilet di dalam kelas adalah ide yang
paling ‘gila’ yang pernah saya ketahui dan tidak tahu apa hubungannya
dengan internasionalisasi! Iseng-iseng saya tanyakan apakah memang ada
masalah dengan pengaturan toilet yang sekarang dan dijawab tidak oleh
para siswa. Terlanjur iseng saya tanyakan bagaimana perasaan mereka
jika mereka harus buang hajat dengan teman-teman mereka asyik belajar
di ruang sebelah. Mereka jadi ketawa dan nampak kaget dan baru sadar
betapa memalukannya situasinya nantinya.

Siswa kelas internasional ini ternyata mendatangkan kecemburuan dari
siswa yang ‘non’ dan jelas sekali menimbulkan diskriminasi. Mereka juga
menganggap siswa kelas internasional arogan dan sok pintar. Sementara
itu siswa kelas internasional menganggap perlakuan yang mereka terima
secara berbeda adalah wajar dan mereka berhak untuk mendapatkannya
karena kemampuan akademis yang mereka miliki. Sekolah yang mengajarkan
pada mereka untuk merasa ‘hebat’! Lagipula orang tua mereka membayar
lebih daripada siswa yang non. Secara terencana sekolah telah
memasukkan paham eksklusifisme dan segregasi pada siswa. Siswa yang
memiliki kelebihan kecerdasan akademis diberi perlakuan yang berlebihan
dan dianggap sebagai ‘anak emas’ sekolah. Suatu praktek yang sangat
bertentangan dengan tujuan pendidikan itu sendiri.
Untunglah bahwa program kelas internasional ini tidak jadi dilaksanakan
dan telah dibubarkan. Saya tidak bisa membayangkan betapa amburadulnya
program ini kalau dipaksakan untuk dilaksanakan. Tapi anehnya,
sekolah-sekolah yang diminta untuk menjadi ‘pilot project’ program ini
belum dberitahu bahwa program ini telah dibatalkan! Mereka masih terus
melaksanakan program ini seperti sekolah yang saya observasi itu.
Kalau dibiarkan maka tentunya sekolah-sekolah ini masih terus akan
bermimpi ‘nginternasional’ dengan membangun kelas ‘bis malam’ yang
‘full AC’ dan toilet di dalam kelas yang miskin imajinasi tersebut.

Balikpapan, 11/4/06
Satria Dharma