Konferensi Guru Indonesia 2006 yang diselenggarakan oleh Sampoerna
Foundation dan Provisi Mandiri dan dilaksanakan selama dua hari pada
tanggal 27 dan 28 November 2006 di Pekan Raya Jakarta lantai 6
berlangsung dengan sukses. Secara keseluruhan saya memberi nilai A+,
meski tentu saja selalu ada kritik untuk kekurangan di sana-sini.
Pertama, inisiatif untuk mengadakan suatu konferensi guru yang berskala
nasional sendiri sudah merupakan hal yang luar biasa. Selama mengajar
di sekolah internasional dulu saya hampir setiap tahun mengikuti
konferensi bagi guru-guru sekolah internasional. Konferensi macam
SEATCCO (South East Asia Teachers and Conselors Conference) yang saya
ikuti sangat berkualitas dan merupakan ajang yang sangat baik untuk
menimba ilmu kepada sesama guru sekolah internasional waktu itu. Di
forum semacam inilah para guru hebat saling berbagi tentang ‘best
practices’ yang mereka lakukan di kelas masing-masing agar dapat
digunakan oleh sesama guru lain. Banyak sekali inovasi-inovasi
pembelajaran kreatif yang bisa kita peroleh dari ajang-ajang seperti
ini untuk dapat kita terapkan di kelas-kelas kita sendiri. Sementara
saya sadar bahwa secara nasional kita belum memiliki ajang seperti itu.


Saya tidak henti-hentinya berharap agar suatu saat kelak guru-guru
Indonesia dapat menyelenggarakan konferensi yang sama bergengsinya dan
sama profesionalnya dengan yang mereka lakukan. KGI 2006 ini sungguh
merupakan ‘a dream comes true’ bagi saya. Kami, guru-guru Indonesia,
telah maju melangkah menuju praktek-praktek peningkatan kualitas
sebagaimana guru-guru internasional. It’s not a dream anymore.
Kedua, meski dibayang-bayangi dengan minimnya peserta karena konferensi
ini memungut bayaran, yang bagi sebagian guru, cukup besar, yaitu Rp.
300.000,- (belum lagi biaya akomodasi dan transportasi) dan target
jumlah peserta yang cukup besar (700 orang) ternyata konferensi ini
bahkan melampaui target jumlah peserta. Data terakhir di data base
tercatat sekitar 960-an peserta yang mengikuti konferensi ini sejak
awal sampai akhir. Suatu prestasi yang sangat membanggakan hati dan
mencengangkan saya sebagai guru. Selama ini sekolah atau daerah selalu
dikesankan tidak bersedia untuk mengeluarkan biaya untuk kepentingan
peningkatan kualitas para guru-guru mereka tapi ternyata hal tersebut
terbantahkan dalam forum ini. ‘mitos’ bahwa guru nggak punya duit dan
nggak bakalan mau bayar untuk pelatihan ternyata tidak benar. Banyak
guru yang menyatakan datang dan bayar dengan merogoh kocek sendiri.
Isn’t it touching? Peserta berdatangan dari berbagai pelosok daerah,
baik itu dari Papua, Ambon, Poso, Kalimantan, Sumatra, Jawa dan
khususnya dari Jakarta sebagai tuan rumah sendiri.
Semula panitia hendak menolak para peserta yang datang dan mendaftar di
tempat karena kuota peserta memang sudah berlebih. Tapi karena banyak
nya peserta yang datang dari luar daerah maka rasanya tidak mungkin
menolak mereka yang sudah jauh-jauh datang untuk bertemu dengan sesama
saudaranya guru se Indonesia. Panitia mengalah dengan konsekuensi
segala persiapan yang telah dilakukan sebelumnya mengalami perubahan
yang drastis. Yang jelas acara makan ‘buffet’ pada hari pertama, yang
bikin antri sangat panjang dan membuat sebagian guru tidak dapat jatah
karena kehabisan, pada hari kedua sudah berubah menjadi nasi kotak yang
praktis. Saya salut dengan event organizer yang dapat menyesuaikan diri
dengan cepat seperti itu.
Ketiga, konferensi ini dihadiri dan dibuka langsung oleh Pak Bambang
Sudibyo, Mendiknas dan diiringi oleh Pak Fasli Jalal Dirjen Peningkatan
Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) beserta beberapa
direkturnya. Bahkan pada sesi terakhir Pak Fasli beserta jajaran
direkturnya ‘manggung’ bersama untuk khusus menerima ‘uneg-uneg’ dan
menjawab segala pertanyaan (maupun gugatan dan rasa kecewa) para guru
tentang berbagai hal yang menyangkut keguruan. Ini adalah ajang yang
paling menarik bagi guru karena semua pertanyaan mereka tentang
sertifikasi dan kesejahteraan guru dijawab dan dikupas habis-habisan
pada sesi tersebut. Orang Surabaya bilang sampai ‘glegeken’ alias
bersendawa karena puasnya! Bahkan sampai acara selesai Pak Fasli masih
‘disandera’ oleh para guru yang kurang puas dan tetap dilayani oleh
beliau. Kerendahan hati dan sikap melayani Pak Fasli ini membuat saya
kagum. Seandainya saja saya bisa sesabar beliau ya!
Nampaknya Pak Mentri dan pak Dirjen sangat terkesan dengan antusiasme
para guru sehingga berjanji untuk mendukung sepenuhnya acara yang sama
pada tahun-tahun berikutnya. It should be held regularly, kata beliau.
Luar biasa senangnya saya mendengar hal ini. Pak Fasli bahkan
‘menantang’ agar acara yang sama dilakukan pada setiap propinsi agar
lebih banyak guru yang dapat memanfaatkan forum semacam ini.
Keempat, tingkat kehadiran peserta pada semua sesi sangat tinggi. Saya
tidak pernah meihat yang seperti ini sebelumnya. Biasanya pada hari
kedua peserta sudah banyak yang ngabur kalau sesinya tidak menarik.
Tapi di KGI 2006 ini sampai acara terakhir para guru masih tetap
bersemangat mengikutinya (Salut untuk panitia yang mengambil kebijakan
membagikan sertifikat pada akhir acara. Dengan demikian para guru yang
menginginkan sertifikat dapat bertahan sampai akhir). Banyak guru yang
terpaksa duduk ‘lesehan’ di lantai karena kehabisan tempat duduk pada
suatu sesi yang menarik. Pertanyaan dan diskusi? Tidak ada habisnya.
Pokoknya semua sesi selalu hidup dan ‘inspiring’ (tentu saja ada satu
dua sesi yang kurang menarik bagi sebagian guru yang lain).
Pada sesi plenary dimana Pak Kenneth J Cock, direktur Sampoerna
Foundation Teacher Institute, menceritakan pengalamannya sebagai
seorang guru selama 40 tahun banyak guru yang merasa tersentuh dan
termotivasi oleh pengalamannya tersebut. “Congratulation! You are a
teacher. You have the power to shape the nation” kata beliau. Seusai
acara beliau banyak mendapatkan ucapan selamat dari para peserta yang
tersentuh dengan penuturannya tersebut.

Dari pernyataan para peserta hampir semua menyatakan puas dengan
penyelenggaraan koferensi ini (meski banyak yang salah menyebutnya
sebagai kongres). Berbeda dengan kongres yang biasanya pesertanya
adalah para utusan dari berbagai daerah dan digunakan untuk
menghasilkan suatu resolusi atau keputusan, konferensi ini benar-benar
merupakan ajang yang bersifat akademik dan tidak berpretensi untuk
menghasilkan satu pun resolusi (kecuali minta untuk diadakan lagi tahun
depan). KGI 2006 ini benar-benar merupakan ajang bagi guru untuk saling
berbagi ilmu, pengetahuan, dan pengalaman dalam melaksanakan tugas
mereka di sekolah.
Selamat untuk para guru! Di tangan Andalah nasib bangsa dipertaruhkan.

Balikpapan, 30 November 2006

Satria Dharma
Penggiat Pendidikan