Roda pesawat yang akan membawa saya ke Jakarta pagi ini sudah bergerak menuju runway ketika handphone saya berbunyi (rupanya saya lupa mematikannya, seperti biasa). Siapa kira-kira?

Ternyata istri saya.
(Ada apa?) Mestinya sesuatu yang penting. Ia tahu bahwa saya semestinya sudah boarding pada saat ini.
“Yes, dear…?”
“Sorry Yang, aku tadi lupa sama sekali.” What..? (Apa yang penting dan ia lupakan sehingga ia harus menelpon saya di saat pesawat sudah akan ’take off’?)
”Aku lupa untuk mengucapkan Selamat Ulang Tahun. Semoga Yayang selalu memperoleh yang terbaik dalam hidup.” demikian sambungnya buru-buru ketika tahu bahwa pesawat saya sudah berjalan ke runway. Gosh! Ternyata itu toh!
” Thanks. Yayang adalah hal terbaik yang kuperoleh dalam hidupku.
Thanks for having accompanied me so long ” jawabku.”But let’s talk about it later. Pesawat sudah berjalan dan saya sudah diperingatkan oleh pramugarinya karena menerima telpon.”
”OK. Sampai nanti.” dan hubungan terputus. Saya menarik napas panjang.

Hari ini memang hari ulang tahun saya. I never care about it. Saya bahkan ingin melupakannya karena ulang tahun bagi saya berarti mengingatkan bahwa saya sudah semakin tua dan semakin dekat dengan
batas usia saya. Tapi keluarga, teman dekat dan beberapa staf saya rupanya bergembira dengan hal tersebut dan ingin agar saya mengingat-ingat betapa saya telah menghabiskan satu tahun lagi usia
saya! Sejak tadi malam ucapan selamat telah saya terima melalui SMS.
Saya tahu karena saya terbangun pada jam 2 malam karenanya. Mereka rupanya “berlomba” untuk dulu-duluan memberi ucapan selamat kepada saya. Dari itu saya tahu bahwa saya berulangtahun hari ini. Saya tidak terlalu memperhatikannya. Tapi telpon dari istri saya tersebutlah yang benar-benar menyadarkan bahwa hari ini setahun lagi saya telah menghabiskan usia saya. Now I’m worried.
Ya, setiap kali saya berulangtahun saya selalu merasakan kecemasan.
Saya sadar bahwa usia saya semakin berkurang dan saya selalu merasa diuber oleh kesadaran bahwa waktu saya untuk meninggalkan dunia dan segala yang saya cintai ini semakin dekat. Saya sadar bahwa waktu untuk menghadap kepada Tuhan dan mempertanggungjawabkan segala tindakan dan perbuatan saya juga semakin dekat. Ini membuat jantung saya berdetak lebih keras daripada biasanya. Hari ulang tahun selalu membuat saya merasa cemas dan gelisah. (How come people think it’s a happy day for
me?). Seandainya Tuhan ‘memanggil’ saya pada hari ini, apakah saya telah siap untuk membuat ‘perhitungan’ atas hidup saya? Saya percaya bahwa ada kehidupan setelah mati dan kehidupan tersebut ditentukan oleh ‘kalkulasi’ perhitungan hidup saya di dunia. Kalau saya menjalani hidup saya dengan buruk, menyia-nyiakan hidup saya, menjadi bencana bagi alam dan orang di sekitar saya, maka saya akan memperoleh kehidupan yang buruk di kehidupan berikutnya yang kita sebut neraka. I never want to
be there even for a second. Dan sebaliknya, jika saya menjalani hidup saya dengan baik, bermanfaat bagi manusia dan alam di sekitar saya, maka saya boleh berharap mendapatkan imbalan kehidupan yang sangat nikmat yang disebut ‘sorga’ pada kehidupan saya berikutnya. That is the place I want to end in.
Selama ini saya telah berusaha untuk melakukan hal-hal yang saya anggap baik dalam hidup saya, semampu saya, karena saya ingin memperoleh kehidupan yang lebih baik tersebut. Dan saya terus mendorong diri saya untuk meningkatkan kemampuan tersebut (meski saya tahu juga bahwa dalam
banyak hal saya tetap gagal memperbaiki kinerja). I stumble and fall. But I keep on walking the path. Kesadaran akan adanya kehidupan setelah mati, adanya perhitungan yang sangat cermat atas segala buah pikiran, sikap, perkataan, dan perbuatan kita, dan adanya konsekuensi dari setiap hal inilah yang membuat saya ‘keep alert’ dan sering merasa tidak ‘bebas’ dalam hidup di dunia ini. Kesadaran inilah yang membuat saya tidak bisa dengan bebas ‘bersenang-senang’ dalam kehidupan di dunia (meski kaki saya mengajak kesana). Saya bahkan berusaha keras agar tidak terjerumus dalam kehidupan bersenang-senang’ seperti yang banyak dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki kesadaran seperti
itu. Saya harus menahan diri pada banyak hal dengan susah payah. Saya lantas merasakan kebenaran dari sebuah hadis yang menyatakan bahwa dunia adalah penjara bagi seorang yang percaya pada hari akhir. Ada hal-hal yang tidak bisa kita lakukan karena sadar akan konsekuensi dari setiap perbuatan tersebut.

Meski telah bersikap demikian, saya masih juga merasa tidak pernah siap untuk sewaktu-waktu ’menghadap’ kepada Sang Pencipta Agung. Jangankan menghadapi perhitungan dan kalkulasi maha cermat kelak, sedangkan memikirkan perhitungan ’self-assesment’ yang saya lakukan sendiri saja
saya merasa sulit untuk dapat ’lolos’ dan mendapat tiket masuk sorga sepeti yang saya inginkan. Tuhan telah begitu banyaknya memberi kenikmatan pada saya dalam hidup ini sehingga tidak mungkin saya dapat melakukan sesuatu ’in return’ dari semua itu. Semua timbangan kebaikan saya, yang telah saya kumpulkan semampu saya, dalam hidup ini, sama sekali tidak sebanding dengan apa yang telah diberikan oleh Tuhan kepada saya. Sungguh benar pernyataan bahwa kita tidak akan dapat menghitung nikmat Tuhan yang dilimpahkanNya pada kita jika kita menghitungnya. Begitu banyaknya anugrah Tuhan tersebut sehingga kita tenggelam di dalamnya. Kita sebenarnya tenggelam dalam kenikmatan yang dilimpahkan oleh Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada kita. Kalau mau hitung-hitungan maka apapun perbuatan baik kita di dunia ini tidak akan cukup untuk ’membayar’ segala nikmat yang telah dilimpahkan
oleh Tuhan kepada kita. Saya sendiri sampai sekarang tidak habis-habisnya bersyukur akan pemberian istri yang diberikan oleh Tuhan kepada saya. Saya diberi istri yang cantik, setia, dermawan, cakap,
patuh, miss me all the time I’m away (sehingga membuat saya,mau tidak mau, juga demikian. hehehe…!). Belum lagi pemberian anak-anak yang merupakan nikmat yang berkelimpahan, pekerjaan dan penghasilan yang baik, keluarga dan teman yang mencintai, lingkungan tempat tinggal yang menyenangkan, dll…dll…
Nah! Dalam kondisi begini bisakah saya merasa ’aman’ dari ancaman Tuhan akan orang-orang yang tidak mensyukuri nikmatNya? Bisakah saya merasa yakin bahwa saya telah berbuat cukup banyak perbuatan baik dalam hidup saya sehingga saya berhak untuk mendapatkan tiket menuju sorga? Saya
sering merasa ragu, meski saya tahu bahwa pada akhirnya kemurahhatian Tuhanlah yang akan membuat kita dapat masuk sorga dan bukan sekedar perbuatan baik kita yang tidak signifikan tersebut. But It keeps me thinking.

Ya Tuhan! Pada hari ulang tahunku hari ini Kau ingatkan aku betapa Engkau telah melimpahkan usia yang panjang (dan sisa usia yang semakin berkurang), nikmat yang berlimpah (dan rasa bersyukur yang tak
sebanding), orang-orang di sekitarku yang begitu perduli padaku (yang tidak kuberi perhatian sebanyak yang kuterima), kecakapan dan kemampuan yang besar (dan manfaat bagi orang lain yang seadanya), amanah yang begitu besar (dan rasa tanggung jawab yang tak sepadan). Ya Tuhan!
Bagaimana mungkin aku dapat merasa yakin untuk menghadap padaMu sewaktu-waktu dengan kondisi begini?
Ya Tuhan! Kalau bukan karena kasih dan sayangMu kepadaku maka sungguh tidak akan patut bagiku untuk menerima sorgaMu kelak. Oleh sebab itu ya Tuhan, pada hari ulang tahunku ini, aku memohon dengan sepenuh hati kepadaMu agar jangan Engkau palingkan aku dari jalanMu. Tetapkanlah
hatiku dalam keimanan. Amin!

Satria Dharma
Jakarta, 2 Desember 2006

Iklan