Saya menyelesaikan membaca buku ”Aku Beriman maka Aku Bertanya” sesaat sebelum mendarat di bandara Polonia Medan. Saya membacanya sedikit demi sedikit sejak kemarin lusa karena ingin benar-benar menikmati buku tersebut. Saya ingin ’membaui, mencecap, dan mengunyahnya’ perlahan-lahan sebelum saya ’menelan’nya. Beberapa kali saya harus berhenti untuk meresapkan dan merenungkannya sebelum meneruskan untuk membacanya. The book is very interesting!


Meski sebagian isinya bercerita tentang bukunya yang terdahulu yang sudah kubaca tapi penuturan yang disampaikannya tetap memikat dan membuat saya tak ingin segera menyelesaikannya.
Apa yang menarik dari buku ini? Bagi seorang muslim yang memahami Islam melalui pendekatan rasional seperti saya buku ini sangat menarik karena memberikan perspektif yang jelas tentang pertanyaan-pertanya an teologis yang muncul bagi orang yang bersandar pada logika dan rasionya dalam memahami Islam. Ada beberapa pertanyaan teologis menarik yang dibahas oleh buku ini, yaitu :
1. Bagaimana kita tahu bahwa Tuhan (the Supreme Being) itu benar-benar ada? Bagi kita yang tumbuh dalam tradisi keagamaan mungkin pertanyaan ini tidak relevan tapi bagi orang yang ateis pertanyaan ini sungguh-sungguh penting. Kita diberitahu bahwa dalam otak kita ada
daerah yang disebut sebagai God Spot, atau pemahaman yang tertanam dalam kesadaran (otak) kita bahwa Tuhan itu ada. Ada klaim yang menyatakan bahwa setiap orang sebenarnya memilikinya sehingga setiap orang sebenarnya lahir dengan kapasitas sebagai seorang teis. OK! Tapi bagaimana kita menjelaskannya pada orang-orang yang tidak merasakan
’keberadaan’ Tuhan? Banyak orang yang menyatakan tidak pernah merasakan keberadaan Tuhan dalam kehidupannya. Kita tentu tidak bisa menggunakan pendekatan teologis karena akan sia-sia saja.
Saya biasanya mengatakan bahwa saya percaya pada keberadaan Tuhan karena begitu banyaknya hal yang di luar kontrol manusia. Darah yang mengalir pada tubuh kita, detak jantung kita, hidup dan matinya seseorang, dll adalah contoh tentang adanya ”the Supreme Being” yang kita sebut Tuhan. Tapi itu tentu tidak cukup memadai bagi orang yang menganggap semua itu sebagai ’nature’s law’, alam yang mengatur dirinya sendiri (meski argumen ini cukup menggelikan bagi saya bahwa ada ’alam’ yang mengatur dirinya sendiri tanpa ia, ’alam’ tersebut, tahu keberadaannya sendiri apalagi menghendakinya) . Tapi memang selalu diperlukan argumen-argumen lain yang meski lebih sederhana tapi sesuai dengan logika dan rasio dari kelompok ateis tersebut. Buku ini memberikan argumen tersebut tanpa menggunakan klaim ”God Spot”.
Sederhana namun sungguh logis dan tak terbantahkan.
2. Fenomena syirik, yang biasanya kita anggap sebagai penolakan terhadap Tuhan sebagai pemangku kekuasaan tertinggi, dalam realita lebih banyak sebagai pengadaan sekutu Tuhan yang dipercaya sebagai sumber otoritas lain. Salah satunya seperti disebut dalam ayat AlQur’an
”Menjadikan orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.”
Dalam bentuk sehari-hari kita bisa melihat banyak diantara kita yang ’kualat’ dengan benda, tempat, dan bahkan orang-orang tertentu, baik yang masih hidup maupun sudah mati. Ini seolah mengandaikan bahwa benda, tempat, ataupun orang (termasuk orang tua kita) memiliki
representasi otoritas Tuhan yang sewaktu-waktu bisa mewujud jika kita berani melanggarnya.
Bentuk syirik paling nista dan umum, menurut Lang, adalah menyebarkan perbuatan buruk dengan kedok agama. Sejumlah Zionis menggunakan ayat-ayat Akitab untuk mendukung pencaplokan mereka atas wilayah Palestina. Anggapan orang-orang Eropa sebagai pengemban misi suci dipakai untuk melegitimasi pengusiran terhadap penduduk asli Amerika, yang mereka nyatakan sebagai ”kekuatan setan”. Sebagian kaum muslim militan modern membunuh orang-orang sipil dengan mengatasnamakan Tuhan.
Gereja menyiksa dan mengeksekusi ”orang-orang murtad” selama masa inkuisisi, dst. Saya jadi teringat diskusi saya dengan Mas Riza di milis sd-islam.
3. Takdir atau predestinasi. Jika Allah yang menentukan takdir atas segala hal yang kita lakukan dan pilih, lantas mengapa Ia menghukum kita karena pilihan dan tindakan kita? Bukankah kita hanya ”robot” dalam hal tersebut?
Meski ini pertanyaan yang klasik dan telah banyak dibahas tapi penjelasan Lang masih layak untuk diperhatikan. Saya sendiri sangat terbantu oleh analogi Agus (lupa nama lengkapnya), penulis buku ”Ternyata Akhirat itu Tidak Kekal” tentang predestinasi dengan kalkulator. Meski kalkulator telah memiliki semua ’jawaban’ dari perhitungan yang kita ajukan padanya tapi pilihan tentang apa yang hendak kita ’tanyakan’ pada kalkulator tersebut adalah sepenuhnya
pilihan kita.
4. Apakah setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk masuk sorga ataupun neraka? Bagaimana itu mungkin jika kita tidak tumbuh dan memliki kehidupan yang sama? Bagaimana mungkin orang yang lahir dengan kehidupan yang tak memberi kesempatan untuk tumbuh menjadi orang yang beriman ataupun berbahagia dapat memiliki kesempatan yang sama dengan
mereka yang dilahirkan dengan segala kebutuhan dan perangkat untuk hidup lurus dan beriman? Banyak orang yang lahir dan tumbuh di lingkungan yang sulit untuk membuatnya beriman dan beramal saleh sebagai syarat untuk masuk sorga. Sementara ada orang yang lahir dan tumbuh di tempat yang memudahkannya untuk beriman dan ebramala saleh.
Apakah mereka memiliki kesempatan yang sama untuk masuk sorga ataupun neraka? Uraian Lang tentang keadilan Tuhan dalam masalah ini sangat menentramkan bagi yang bertanya.
5. Jika Tuhan tidak membutuhkan kita mengapa Ia menciptakan kita? Agar kita beribadah kepadaNya? Bukankah Ia tidak butuh apapun dari kita?
Kalau Ia ingin agar kita beribadah kepadaNya kenapa tidak Ia bikin agar kita menjadi beriman saja semuanya? Kenapa justru Ia beri kita pilihan, untuk beriman atau kafir? Penjelasan Lang di buku ini mungkin bisa sedikit menjawab.

Selain pertanyaan teologis, ada beberapa uraian tentang pertanyaan-pertanya an dari orang-orang yang antipati atau mendapatkan informasi yang keliru yang sulit dijawab oleh umat Islam. Beberapa hal yang dibahas adalah :
1. Mengapa Rasulullah memiliki istri begitu banyak dan bahkan lebih banyak daripada ketentuan yang tertulis di AlQuran? Banyak orang yang mediskreditkan Rasulullah sebagai “tukang kawin”.
2. Pertengkaran Nabi dengan para istrinya yang disebutkan dalam AlQur’an. Untuk apa hal rumah tangga yang remeh seperti ini harus dimasukkan dalam Al-Qur’an yang agung?
3. Perkawinan Nabi dengan Zainab, bekas istri Zaid, anak angkat Nabi.
Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa ada yang mengatakan bahwa Nabi ’menginginkan’ Zainab sehingga terjadi perceraian antara Zainab dan Zaid dan kemudian Zainab dinikahi oleh Rasulullah?
4. Pernikahan dengan Aisyah yang masih anak-anak. Mengapa Rasulullah mengawini seorang anak-anak? Tidakkah beliau tahu bahwa di masa mendatang akan ada yang akan mengecamnya (dan bahkan menistanya sebagai pedofili) karena hal ini?

Penjelasan dan uraian Lang sangat logis dan rasional dengan kajian literatur yang cukup ekstensif, tanpa harus bersikap apologis, sehingga sangat jernih dan mudah diterima oleh orang-orang yang menggunakan akalnya. Entah lagi kalau yang bertanya memang berniat sekedar untuk menista Nabi.
Saya pernah asyik terlibat diskusi dalam milis ”sara” (sekarang sudah mati) yang diskusi sehari-harinya adalah mengenai hal-hal semacam ini sehingga tahu betapa pentingnya bagi kita untuk mempunyai jawaban dari pertanyaan ataupun tuduhan-tuduhan miring pada kehidupan nabi. Mereka yang tidak suka pada Islam akan selalu mencari cara untuk menjelek-jelekkan Islam, utamanya Rasulullah sebagai pembawa risalahnya. Banyak orang yang kemudian menjadi meragukan kebenaran Islam karena tidak bisa menjawab tuduhan-tuduhan tersebut.

Sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah perduli dengan segala pertanyaan diatas. Banyak di antara kita yang beriman tanpa pernah bertanya atau berusaha menjawab pertanyaan-pertanya an yang mungkin muncul dalam masalah teologi. Ibu Rosdiana di milis cbe bahkan menyatakan bahwa dengan ’sami’na wa ato’na” saja ia sudah merasa cukup untuk menerima keimanan. Saya salut pada beliau. Sungguh tidak mudah bagi saya untuk beriman tanpa dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan teologis yang muncul dalam benak saya.
Memang benar bahwa dengan bertanya dan mencari jawaban dari masalah teologis terus menerus tidak berarti kita akan dapat menjawab semua pertanyaan. Sebaliknya, satu pertanyaan yang terjawab justru memungkinkan munculnya pertanyaan-pertanya an baru yang kemudian harus kita cari cari jawabannya lagi. Ini seperti mendaki gunung. Ketika kita sampai pada ketinggian tertentu kita menyadari bahwa ada ketinggian lain yang harus kita daki.
Mari kita ambil contoh tentang pemahaman kita tentang wujud Tuhan itu sendiri. Imaji atau pemahaman kita tentang ”wujud” Tuhan terbentuk dari pengetahuan yang kita kumpulkan dari berbagai sumber, baik itu dari penjelasan orang tua, guru agama, buku-buku, dan pengalaman pribadi.
”Wujud” Tuhan yang ada dalam citra kita adalah tuhan yang personal dan berbeda dengan ”wujud” Tuhan yang dicitrakan oleh setiap orang lain.
Dari situlah mungkin timbulnya berbagai personifikasi Tuhan yang mewujud dalam bentuk dewa-dewa yang agar lebih mudah ’dipahami’ lantas diwujudkan dalam berbagai bentuk sesembahan. Banyak orang yang tidak mampu memahami Tuhan yang Maha Agung, yang Maha berkuasa, dan segala maha lainnya dan berhenti, atau merasa cukup terpenuhi, dengan tuhan yang terbuat dari korma dan bisa dimakan (tradisi jahiliah kuno),umpamanya.
Contoh yang paling tepat untuk mengambarkan betapa setiap orang perlu mengenal Tuhan secara personal barangkali bisa dilihat pada perjalanan spiritual Nabi Ibrahim. Ia berusaha untuk mencari ’sosok’ Tuhan dengan bertanya dan mencari seperti para filosof. Pada mulanya ia ’menemukan’ tuhan dalam bentuk yang lebih sederhana, yang lebih mudah dipahaminya
pada sosok ”bintang” (menurut saya bukan dalam artian harfiah tapi sebagai simbol). Tapi ketika ”bintang” tersebut tenggelam ia menjadi sadar bahwa sosok bintang terlalu sederhana untuk dapat menjadi ’tuhan’ yang ia cari dan mendapat ”bulan” sebagai gantinya. Ketika ”bulan”
tidak cukup memuaskan ia beralih kepada ”matahari”. Ketika ”matahari” pun juga tenggelam maka barulah ia berusaha untuk mencari ’Tuhan yang tidak tenggelam’, Tuhan yang Maha Eksis. Dan beliau berhasil menemukan Tuhan yang sesungguhnya.
Sayang sekali bahwa kita tidak memperoleh penjelasan bagaimana cara Nabi Ibrahim memperoleh gambaran dan pemahaman tentang ’Tuhan Maha Eksis’ yang ia carinya. Kita hanya menduga bahwa beliau mendapatkan ilham (wahyu) langsung dari Tuhan sendiri setelah pencariannya yang begitu melelahkan tersebut. Bagaimana prosesnya kita tidak memperoleh
gambaran. (Seandainya ”nabi”nya orang Jepang mencari Tuhan lebih jauh lagi, sebagaimana nabi Ibrahim, ia mungkin akan menjadi nabi beneranyang menyembah Tuhan dan bukan ”menyembah” matahari seperti sekarang ini. Hehehe… Dan sebaliknya, jika Nabi Ibrahim berhenti mencari ” a much better God” ia mungkin akan menjadi penyembah ”matahari”, atau
apapun imaji yang ia peroleh).
Dari sini kita tahu bahwa bahkan nabi pun tidak begitu saja ’ujug-ujug’ mengenal Tuhan, apalagi jadi nabi. Ada proses pencarian (dan minta pembuktian segala) dulu. Rasulullah Muhammad saw pun ditahbiskan menjadi nabi setelah beliau bertapa mengasingkan diri di gua Hira karena berusaha untuk ’mencari arti dari hidup’.
Ketika ia didatangi Jibril dan diminta untuk ”iqra” ia bahkan ketakutan dan minta dselimuti oleh istrinya. Beliau tidak langsung mengenali peristiwa personal tersebut sebagai “the beginning of revelation”. Ada pertanyaan-pertanya an dalam benak beliau yang tidak bisa ditanyakannya
langsung sebagaimana malaikat bertanya pada Tuhan.
Bahkan ketika para nabi telah memperoleh wahyu dan menjadi rasul pertanyaan-pertanya an mereka juga tidak berhenti disitu. Nabi Ibrahim masih ’meragukan’ kemampuan Allah untuk menyusun kembali jasad-jasad manusia yang telah hancur jadi tulang belulang. Kisah pembuktian melalui burung merpati yang dicincang dan potongannya dibagi empat dan
dletakkan di empat penjuru angin yang setelah dipanggil langsung hidup kembali adalah pengalaman personal Nabi Ibrahim yang membuatnya memiliki keimanan yang begitu tinggi, keimanan level nabi besar. Ini pembuktian yang diminta oleh nabi Ibrahim. Rasulullah Muhammad saw menjadi sangat istimewa karena pembuktian tentang keyakinannya akan
Tuhan adalah dengan memperjalankannya melalui peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Bahkan Rasulullah masih sering menangis mengingat pengalaman mi’rajnya tersebut. Begitu luar biasa!Tak seorang manusia lain pun yang pernah mendapat pengalaman spiritual setinggi beliau.
Jadi kalau ada orang yang meragukan sifat ”kemahaan” Tuhan sesungguhnya itu adalah manusiawi dan tidak selalu menunjukkan kekafiran atau kesesatan. Even prophet doubts.
Sifat kemahaan Allah tidak akan berubah tapi persepsi, imaji atau pemahaman kita tentang sifat-sifat dan wujud Allah itulah yang keep changing atau improving, atau bahkan bisa menjadi corrupted. Iman itu seperti air yang mendidih, ia bergolak kadang di atas kadang di bawah
(artinya bisa naik bisa turun), demikian kira-kira bunyi salah sebuah hadist yang pernah saya baca.
Untuk menutup tulisan ini saya hendak mengulang kembali pesan Jibril kepada Nabi Muhammad at their first encounter di gua Hira, :”Iqra. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”
Semoga ada manfaatnya.

Satria Dharma
Medan, 13 November 2006