Perkembangan sekolah-sekolah berbasis keagamaan baik di tanah air
maupun di negara-negara maju akhir-akhir ini adalah fenomena yang
menarik. Di berbagai kota di tanah air bermunculan dengan pesatnya
sekolah berbasis keagamaan, baik itu Islam ataupun Nasrani (Kristen,
Katholik, maupun Advent). Boleh dikata 80% sekolah-sekolah swasta yang baru dibuka adalah sekolah berbasis keagamaan, baik itu di
kompleks-kompleks perumahan mewah maupun di daerah-daerah.
Sekolah-sekolah dengan label SDIT/SMPIT (Sekolah Dasar/Menengah Islam Terpadu) marak didirikan dimana-mana. Sekolah-sekolah berbasis agama Nasrani juga tidak kurang gencarnya dibuka dimana-mana. Saat ini hampir di semua kompleks perumahan atau properti besar berdiri sekolah-sekolah Nasrani. TPA-TPA (Taman Pengajian AlQur’an) dan Sekolah-sekolah Minggu semakin marak. Bahkan sekolah-sekolah negeri dan swasta umum juga mulai menekankan pentingnya peran agama dalam kurikulum mereka. Beberapa sekolah umum mengganti pakaian seragamnya dengan pakaian seragam yang bernuansa agamis seperti rok panjang dan jilbab bagi para siswinya. Di negara-negara maju pun (Australia, Inggris, USA) sekolah berbasis keagamaan tumbuh subur dan semakin banyak peminatnya. Ada apa yang terjadi dengan semua ini? Darimana tumbuhnya kesadaran keagamaan macam ini? Apa peran penting sekolah-sekolah berbasis keagamaan ini di masa depan?


Beberapa ahli berpendapat bahwa gerakan ini merupakan gerakan perlawanan dari masyarakat atau titik balik terhadap paham aterialisme
yang beberapa waktu yang lalu telah mencapai puncaknya sehingga seluruh dunia seolah telah berada dalam genggamannya. Paham ini membonceng pada modernisasi dan melahirkan ‘anak’ pahamnya seperti hedonisme, pornografi, konsumerisme, kultur MTV, dll. Yang disebut oleh Benjamin Barber, seorang ilmuwan politik sebagai ‘The McWorld’.
Masyarakat yang mengagungkan nilai-nilai keagamaan, maupun masyarakat di negara-negara maju yang telah muak dengan ekses paham materialism ini, merasa gerah dengan kehidupan sosial yang sangat sekuler tersebut dan merasa bahwa paham tersebut akan menghancurkan nilai-nilai kepercayaan dasar ataupun nilai-nilai moral universal yang selama ini mereka junjung tinggi. Mereka merasa bahwa paham materialisme telah mencabut akar-akar nilai kepercayaan anak-anak mereka dan mengubah mereka menjadi penganut-penganut paham materialisme dan turunannya, atau populernya di kalangan agamawan disebut ‘murtad’. ‘The McWord’ memang sangat besar pengaruhnya untuk ‘memurtadkan’ generasi muda. Para orang tua dengan cemas melihat betapa anak-anak mereka menjadi hedonistik, permissif, dan terjerat oleh obat bius. Mereka tergila-gila pada para ‘pop stars’ dan tidak pernah kenal dengan para pahlawan, pemimpin ataupun tokoh-tokoh agama mereka. Kultur-kultur yang dibangun di sekolah ‘umum’ selama ini, terutama di kota-kota besar, kalah telak bersaing dengan ‘gemerlap’nya daya tarik ‘The McWorld’. Kecemasan ini mendorong mereka untuk menciptakan suasana-suasana kultural dimana, mereka berharap, bahwa ‘The McWorld’ tidak akan dapat menembusnya. Mereka ingin mendidik anak-anak mereka dalam suasana keagamaan sebanyak mungkin agar pengaruh ‘The McWorld’ tidak mendominasi jiwa anak-anak mereka.


Sebagian orang tua yang sangat cemas dengan dampak modernisasi kemudian memilih untuk ‘mensterilkan’ anak-anak mereka dari pengaruh tersebut samasekali dengan memasukkan anak-anak mereka di pondok-pondok pesantren, seminari atau biara-biara tradisional dengan pola pengajaran dan lingkungan yang jauh dari pengaruh modernisasi. Mereka berpikir bahwa hal tersebut dapat menyelamatkan anak-anak mereka dari pengaruh kehidupan luar yang dianggap sudah tidak bisa ditolerir tersebut. Tak sedikit orang tua dari kalangan menengah yang melakukan hal ini dengan harapan bahwa hal ini akan dapat menyelamatkan anak-anak mereka dari ‘The McWorld’. Pesantren-pesantren tradisional maupun yang berlabel modern menjadi laku keras.
Tapi usaha ini menghadapi problema serius, yaitu teralienasinya anak-anak mereka dari kehidupan modern selepas mereka dari pendidikan
tradisional tersebut. Lulusan sekolah-sekolah keagamaan tradisional ini
pada umumnya menjadi gagap dan tak mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan modern. Mereka tersingkir dari kehidupan dunia dan kesulitan untuk berkontribusi secara aktif dalam kehidupan modern karena mereka memang tidak dipersiapkan untuk itu. Sebagian besar dari mereka memilih untuk hidup dengan cara hidup tradisional sebagaimana mereka diajarkan dan menyingkir dari kehidupan modern. Sebagian dari mereka yang hidup di kota-kota besar kemudian menyerah dan larut pada kehidupan modern dengan segala eksesnya. Sebagian kecil kemudian menjadi ekstrim dan memilih untuk ‘memusuhi’ modernitas yang selama ini dipersepsikan sebagai ‘induk’ dari semua kejahatan. Mereka menyalahkan modernitas sebagai penyebab dari ini semua dan sebagai konsekuensinya menolak modernitas dan berpaling pada konservatisme dan radikalisme.

Jangan pandang enteng pengaruhnya. Trauma psikologis yang diakibatkan oleh pertentangan ini bisa mengakibatkan efek samping yang fatal. Seperti yang kita lihat pada begitu banyaknya peristiwa teror pemboman dimana-mana, krisis identitas dapat mengubah pemuda-pemudi yang taat pada agamanya menjadi teroris. Mereka akan melihat gempuran paham materialisme tersebut begitu mengancam sisi lain dari kehidupan mereka sebagai seorang agamawan yang taat dan merasa perlu untuk beralih secara radikal menjadi seorang ‘martyr’ atau ‘syuhada’ untuk mempertahankan paham keagamaan mereka. Semacam ‘necrophilic nihilism’ yang ditampilkan dalam jubah fanatisme agama.
Realita inilah yang membuat para orang tua berpikir untuk membuat
alternatif lain sebagai ganti dari sekolah-sekolah keagamaan tradisional tersebut. Mereka sadar bahwa meski pendidikan dan kultur agama sangat diperlukan bagi masa depan anak-anak tapi modernitas juga
mesti diakomodir agar anak-anak mereka juga dapat menjadi pemenang
dalam kehidupan dunia. Sekolah haruslah mampu memberikan bekal
dasar-dasar keagamaan yang cukup untuk menghadapi materialisme dan sekaligus mampu membuat anak-anak mereka tampil cakap di dunia modern.

Kesadaran inilah yang kemudian menumbuhsuburkan sekolah-sekolah
berbasis keagamaan yang mengusung ilmu pengetahuan dan teknologi modern dalam kurikulum mereka sebagai upaya untuk memenangi kehidupan dunia.

 

Materialisme vs Modernitas


Mengapa modernitas dicurigai dan bahkan dimusuhi oleh kaum agamawan tradisional? Modernitas tidaklah identik dengan paham materialisme. Modernitas adalah kemajuan jaman sebagai berkah dari ilmu pengetahuan dan teknologi sedangkan materialisme adalah paham yang menganggap bahwa hanya materi yang eksis dan yang non-materi hanyalah ilusi para penganut agama (believers). Modernitas, meski dapat menumbuhkan paham materialisme, tidaklah bertentangan dengan paham keagamaan. Islam pada fitrahnya adalah agama yang universal sehingga dianggap mampu untuk mengikuti perkembangan jaman semodern apapun. Islam tidak menganggap haram materi ataupun kekayaan meskipun menolak paham materialisme yang beranggapan bahwa materilah yang paling penting dan menolak segala hal yang berbau spiritual, termasuk keberadaan Tuhan. Sebaliknya, Islam menyodorkan keseimbangan dalam memandang kehidupan dunia dan kehidupan akhirat dan Tuhanlah asal segala sesuatu Dengan demikian mesti dipahami bahwa modernitas sebagai konsekuensi dari kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bukanlah ‘musuh’ dari paham ketuhanan ataupun agama yang perlu kita tentang atau
jauhi. Perlu diakui bahwa beberapa aspek kehidupan gemerlap dari Barat, tidaklah semuanya buruk dan ‘sesat’. Tidak ada yang salah jika generasi muda menggunakan celana jeans, makan ‘fast food’ (lepas dari masalah kesehatannya) , dan mendengarkan musik pop sepanjang mereka tetap berpegang teguh pada dasar-dasar keimanan tentang Allah dan perintah-perintahNy a. Jika seorang remaja memiliki kesadaran dan
pemahaman tentang aturan-aturan agama yang dianutnya maka ia akan lebih percaya diri dan mampu menghadapi kehidupan modern tanpa harus tercebur dan terseret oleh eksesnya yang berwujud paham materialisme. Seorang remaja yang agamis perlu memahami dan terbuka terhadap kesempatan dan tawaran dari dunia modern tapi tetap sadar akan pentingnya memegang integritas dan standar moral dari keyakinan agama yang dimilikinya. Masalah inti yang perlu ditanamkan adalah keimanan akan Tuhan dan memandang dunia dengan pikiran dan hati berdasarkan ketuhanan. Jika seseorang telah menancapkan keimanan dalam hatinya dengan teguh maka ia tidak perlu menutup diri terhadap perubahan ataupun datangnya budaya asing. Jika ia telah mencapai kesadaran penuh tentang Tuhan maka ia sebenarnya telah berjalan dalam bimbingan dan cahaya Tuhan.


Pemahamannya akan ketuhanan (divinity) ataupun spiritualitas akan
memberikan filter baginya dalam menghadapi berbagai paham lain yang
bertentangan dengan paham yang diyakininya. Lantas bagaimana generasi muda dapat memperoleh kesadaran tersebut?


Untuk menjawabnya kita mesti memahami masalah yang kita hadapi terlebih dahulu. Ekses yang timbul dari modernitas adalah semakin kuatnya peran ilmu pengetahuan dan teknologi dan semakin ditinggalkannya pemikiran yang bersifat ketuhanan (divine). Kehidupan modern dapat membuat orang merasa tidak lagi memerlukan Tuhan dalam kehidupannya. Mereka merasa bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi telah memberikan segala hal yang mereka butuhkan dalam kehidupan dan ‘Tuhan telah mati’. Iklan-iklan menggempur kita dengan kebohongan bahwa kita bisa berbahagia jika menggunakan produk-produk tertentu. Perusahaan asuransi lebih dipercayai daripada janji Tuhan dalam buku suci. Ilmu pengetahuan populer menyodorkan teori bahwa alam semesta ini muncul dengan sendirinya karena hukum alam semata. Ini semuanya berdasar pada paham materialisme yang merupakan musuh bersama dari umat beragama dan bukan modernitas itu sendiri.

Paham Materialisme sebagai Lawan dari Sekolah Berbasis Keagamaan

Sekolah-sekolah berbasis keagamaan mestilah bersatu padu dalam
menghadapi perang ideologi pemahaman ini yaitu perang melawan
materialisme dan ‘anak-anak’ pahamnya. Sekolah-sekolah berbasis
keagamaan seharusnya bergabung dalam suatu ‘persekutuan’ dalam
menentang paham materialisme dengan segala eksesnya tersebut.
Materialisme menolak keberadaan jiwa sebagai spirit dan menganggap
manusia tidak lebih dari molekul-molekul yang tersusun secara canggih
sebagai hukum alam. Pikiran, perasaan dan emosi hanyalah merupakan
reaksi kimia dalam sel otak kita. Singkatnya, materialisme adalah
filosofi yang mendasari ateisme, yang merupakan lawan dari teisme yang
merupakan dasar dari sekolah-sekolah berbasis keagamaan.
Sekolah-sekolah tersebut hendaknya tidak menolak produk dunia modern seperti ilmu pengetahuan dan teknologi melainkan memusatkan
perhatiannya pada upaya memberantas ‘wabah’ intelektualisme yang
mengajak manusia pada ‘dunia tak bertuhan’. Sesungguhnya yang disebut sebagai ‘clash of civilization’ bukanlah antara Islam dan Dunia Barat melainkan Teisme melawan Materialisme, demikian ungkap Mustafa Akyol, seorang ilmuwan politik dari Turki.


Meski sering saling serang antara sesama umat beragama sehingga
menyebabkan timbulnya kecurigaan satu sama lain selama ini, sebenarnya tidak ada pertentangan mendasar dari kedua agama besar, Islam dan Kristen, dalam menghadapi ateisme sebagai ekses dari materialisme. Dari sudut pandang Islam, orang-orang Nasrani adalah teman dan sekutu terdekat seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an (5:82). Islam dan Kristen (dan Yahudi) memiliki persamaan pandangan seperti tertera dalam Ali Imran (3:64),:”Katakanlah :Wahai Ahli AlKitab. Marilah kita bersatu kata antara kita, kamu dan kami, bahwa kita tiada menyembah selain Allah, dan bahwa kita tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, dan tidak ada diantara kita yang akan menyembah selain Allah. ….” Keyakinan bersama tentang Tuhan merupakan modal besar bagi penganut agama samawi untuk menghadapi ‘clash of civilization’ tersebut. Jika ada pertarungan besar pada abad 21 maka itu bukanlah antara Islam dan Barat, melainkan paham ketuhanan, dimana para sarjana dari berbagai agama bersatu padu, melawan paham materialisme, yang dipelopori oleh para sarjana ateis. Disinilah peran penting sekolah-sekolah berbasis keagamaan tersebut di masa mendatang, yaitu sebagai pemasok ilmuwan-ilmuwan dan sarjana tangguh pembela paham ketuhanan.


Sudah saatnya sekolah-sekolah berbasis keagamaan ini bersatu dan
bekerjasama dalam menghadapi ‘common enemy’, yaitu paham materialism dan ateisme. Sudah saatnya mereka menghancurkan rasa saling curiga dan mengembangkan kepercayaan (trust) agar dapat bekerjasama menuju kemajuan bersama dalam modernitas. Semoga!

Jakarta, 11 November 2005

Satria Dharma

 

Iklan