ahmadinejad.jpgPagi ini, seperti biasa, setelah sholat Subuh saya menarik sebuah buku dari rak dan mulai melakukan ritual keluarga, membaca. Anak-anak saya sudah asyik tenggelam dalam bacaannya masing-masing. Anak saya tertua, Yubi, yang duduk di kelas 2 SMP telah dua hari ini mulai membaca buku Karl May “Winnetou” yang agak saya ‘paksa’kan untuk membacanya.

Selama ini ia terus membaca buku-buku petualangan macam Harry Potter, Eragon, dan Narnia dan samasekali tidak tertarik pada buku karangan Karl May meski telah saya ‘rekomendasi’kan berkali-kali. Beberapa buku petualangan yang lebih ‘dewasa’ pun ditolaknya. Nampaknya ia telah ‘tersihir’ oleh buku dengan genre imajinatif macam Harry Potter, Eragon, dan Narnia tersebut. Meski saya gembira bahwa ia membaca dengan ‘rakus’ tanda ia sudah masuk dalam tahap ‘ a real book worm’ tapi saya agak cemas juga dengan materi yang ia baca. Ia semestinya mulai membaca materi yang lebih luas dan bervariasi.

Setelah upaya ‘himbauan’ tidak berhasil maka saya akhirnya melakukan pendekatan ‘kekuasaan’. Ketika kami berkunjung ke Gramedia beberapa hari yang lalu saya sampaikan bahwa ia harus mulai membaca buku-buku yang lebih ‘serius’ macam “Winnetou” tersebut. Saya yakin banyak sekali yang ia bisa pelajari dari buku-buku petualangan macam karya Karl May tersebut. Saya sendiri tumbuh dengan membaca hampir semua karya Karl May, yang masih diterbitkan oleh Penerbit Prajna Paramita waktu itu kalau tidak salah, dan merasa sangat beruntung memiliki kesempatan untuk menikmatinya. Saya yakin ia akan menyukainya seperti saya dulu menyukainya. Yubi hanya mengangguk. Dan sejak kemarin ia telah duduk di pojoknya mulai membaca ‘Winnetou’. Seperti yang saya duga ia bisa menikmatinya.

Ada beberapa buku baru yang saya beli beberapa waktu yang lalu dan beberapa bahkan masih dalam plastik. Melihat judulnya saja saya sudah tertarik. Salah satunya adalah “Ahmadinejad, David di Tengah Angkara Goliath Dunia” terbitan Himah Teladan, kelompok Mizan. Di Balikpapan buku ‘mungil’ ini harganya Rp.44.000,-, jauh di atas harga toko Gramedia lain di Jawa. Biasanya saya memborong buku-buku di took buku Uranus di Surabaya dengan potongan harga sampai 30%. Kadang-kadang saya tinggal pesan dan buku dikirim ke Balikpapan. Dan itupun masih jauh lebih murah ketimbang beli buku di toko buku di Balikpapan ini.

Dalam hati saya agak menggerutu mengetahui perbedaan harga tersebut. Tapi buku-buku tersebut begitu ‘menggoda’ dan saya tidak tahu kapan lagi saya punya kesempatan untuk ke toko buku di Jakarta atau Surabaya. Lagipula belum tentu buku-buku yang saya inginkan ada di toko buku tersebut ketika saya ke sana. Jadi meski tahu harganya lebih mahal daripada kalau saya belanja di Jakarta atau Surabaya buku-buku yang ‘irresistible’ tersebut saya ambil juga dengan sedikit rasa bersalah. ‘Uang bisa dicari’ kata saya dalam hati untuk menenangkan rasa bersalah yang seringkali muncul jika membeli sesuatu dengan haga mahal. (“Tapi buku-buku ini kan juga bisa dicari di Surabaya atau Jakarta kalau kamu ke sana” uber hati kecil saya. Sialan! Meski telah lama lewat dari masa-masa kesulitan finansial tapi ‘jiwa pengiritan’ saya ini kok ya nggak hilang-hilang toh! Istri saya sering mengingatkan saya agar tidak terlalu keras pada diri sendiri dan sesekali memanjakan diri. Memanjakan diri? Hehehe … Seandainya saja ia tahu betapa Allah sangat memanjakan diri saya dengan semua berkat dan rahmat yang Ia limpahkan pada saya ia tentu akan tahu mengapa saya sering merasa bersalah dengan segala kemewahan yang saya terima. Allah sangat memanjakan saya, you know!) . Ada enam buah buku yang saya bawa ke kasir dan saya harus membayar lebih dari ¼ jeti termasuk barang kecil-kecil. Gosh! Books are really expensive nowadays. Tapi saya senang bisa membeli buku tentang Ahmadinejad ini.

Telah agak lama saya tertarik dengan tokoh satu ini. Sepak terjangnya melawan tekanan Barat dalam masalah nuklir benar-benar membuat saya penasaran dengan tokoh ini. Salah satu anggota milis CBE juga pernah menayangkan foto-foto tentang kesederhanaan beliau meski ada yang meragukan keasliannya. Telah lama rasanya dunia tidak memiliki tokoh ‘David’ macam Ahmadinejad ini. Dunia kita ini sekarang dipenuhi oleh para pengecut dan tidak memiliki pendirian. Sosok Ahmadinejad benar-benar seperti seteguk air di tengah sahara.

Ketika baru saja membaca Pengantar yang dituliskan oleh Rosiana Silalahi dari SCTV dan Bab I tentang awal-awal kiprah Ahmadinejad dalam dunia politik di Iran tanpa terasa mata saya terasa hangat dan tanpa bisa saya kendalikan air mata saya mengalir. Saya sungguh tidak dapat menahan keharuan saya membaca dan mengetahui betapa sederhananya tokoh dunia satu ini. Saya terpaksa harus menghentikan membaca buku ini agar tidak larut dalam emosi saya. I’m such a sentimental person. Tapi terus terang saya memang hidup dalam kerinduan akan tokoh sederhana macam Nabi Muhammad, Umar bin Chattab, Umar bin Abdul Aziz, Mahatma Gandhi, Muhammad Hatta, Hidayat Nurwahid (saya pernah bertemu dengannya dan nampaknya ia sama sentimentalnya dengan saya).

Ketika masih kecil kami hidup dalam kemiskinan dan tokoh-tokoh itu mengisi jiwa saya. Saya lantas merasa beruntung pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidup sehinga saya bisa merasakan sebagian dari apa yang dialami oleh para ‘guru’ saya tersebut. Ketika saya lapar saya merasa melihat mereka tersenyum pada saya sambil berkata,”Lapar itu baik bagimu, Nak! Nikmatilah.” Dan saya pun tersenyum terhibur. Ketika saya tampil dengan pakaian yang tak layak dibandingkan teman-teman sebaya saya ketika itu, saya melihat Mahatma Gandhi mengerling pada saya dari balik kacamata bulatnya sambil berkata,:”Kau bisa mengikuti jejak saya kalau mau.” Beliau hanya menggunakan sepotong kain putih yang dililitkan ke tubuhnya yang kurus. Saya merasa malu pada diri saya dan saya pun berhenti mengasihani diri.

Dan kini ada Ahmadinejad, seorang tokoh in reality! Seberapa sederhanakah beliau ini? Let me tell you. Berikut ini saya kutipkan sebagian dari yang saya baca dari buku tersebut. Konon ketika beliau sudah menjabat sebagai walikota Teheran yang memiliki populasi lebih besar daripada Jakarta ia masih tampil dengan sepatu yang bolong-bolong. Ia menyapu jalanan Teheran dan bangga dengan itu. Sampai sekarang pun ia masih tampil dengan kemeja lengan panjang sederhana sehingga jika kita tidak mengenalnya dan bertemu dengannya kita tidak akan pernah mengira bahwa beliau adalah seorang presiden. Ya presiden dari sebuah negara besar. Di Balikpapan di mana saya tinggal bahkan hampir semua guru rasanya punya jas.

Sebelum menjabat sebagai presiden Iran beliau adalah walikota Teheran, periode 2003-2005. Teheran, ibukota Iran, kota dengan sejuta paradoks, memiliki populasi hampir dua kali lipat dari Jakarta, yaitu sebesar 16 juta penduduk. Untuk bisa menjadi walikota dari ibukota negara tentu sudah merupakan prestasi tersendiri mengingat betapa Iran adalah negara yang dikuasai oleh para mullah. Ia bukanlah ulama bersorban, tokoh revolusi, dan karir birokrasinya kurang dari 10 tahun. Beliau tinggal di gang buntu, maniak bola, tak punya sofa di rumahnya, dan kemana-mana dengan mobil Peugeot tahun 1977. Penampilannya sendiri jauh dari menarik untuk dijadikan gosip, apalagi jadi selebriti. Rambutnya kusam seperti tidak pernah merasakan sampo dan sepatunya itu-itu terus, bolong disana-sini, mirip alas kaki tukang sapu jalanan di belanatara Jakarta. Nah! Kira-kira dengan modal dan penampilan begini apakah ia memiliki kemungkinan untuk menjabat sebagai walikota Depok saja, umpamanya?

Dalam tempo setahun pertanyaan tentang kemampuannya memimpin terjawab. Warga Teheran menemukan bahwa walikotanya sebagai pejabat yang bangga bisa menyapu sendiri jalan-jalan kota, gatal tangannya jika ada selokan yang mampet dan turun tangan untuk membersihkannya sendiri, menyetir sendiri mobilnya ke kantor dan bekerja hingga dini hari sekedar untuk memastikan bahwa Teheran dapat mejadi lebih nyaman untuk ditinggali. “Saya bangga bisa menyapu jalanan di Teheran.” Katanya tanpa berusaha untuk tampil sok sederhana. Di belahan dunia lain sosoknya mungkin dapat dijadikan reality show atau bahkan aliran kepercayaan baru.

Sejak hari pertama menjabat ia langsung mengadakan kebijakan yang bersifat religius seperti memisahkan lift bagi laki-laki dan perempuan (ini tentu menarik hati para wanita di Teheran), menggandakan pinjaman lunak bagi pasangan muda yang hendak menikah dari 6 juta rial menjadi 12 juta rial, pembagian sup gratis bagi orang miskin setiap pekan, dan… menjadikan rumah dinas walikota sebagai museum publik! Ia sendiri memilih tinggal di rumah pribadinya di kawasan Narmak yang miskin yang hanya berukuran luas 170 m persegi.. Ia bahkan melarang pemberian sajian pisang bagi tamu walikota mengingat pisang merupakan buah yang sangat mahal dan bisa berharga 6000 rupiah per bijinya. Ia juga menunjukkan dirinya sebagai pekerja keras yang sengaja memperpanjang jam kerjanya agar dapat menerima warga kota yang ingin mengadu.

Namun salah satu keberhasilannya yang dirasakan oleh warga kota Teheran adalah spesialisasinya sebagai seorang doktor di bidang manajemen transportasi dan lalu lintas perkotaan. Sekedar untuk diketahui, kemacetan kota Teheran begitu parahnya sehingga saya pernah dikirimi salah satu foto lelucon dari berbagai belahan dunia dengan judul “Only in …” . salah satunya dari Teheran dengan judul “Only in Teheran” dengan foto kemacetan lalu lintasnya yang bisa bikin penduduk Jakarta menertawakan kemacetan lalu lintas di kotanya. Secara dramatis ia berhasil menekan tingkat kemacetan di Teheran dengan mencopot lampu-lampu di perempatan jalan besar dan mengubahnya menjadi jalur putar balik yang sangat efektif.

Setalah menjabat dua tahun sebagai walikota Teheran ia masuk dalam finalis pemilihan walikota terbaik dunia World Mayor 2005 dari 550 walikota yang masuk nominasi. Hanya sembilan yang dari Asia, termasuk Ahamdinejad.

Tapi itu baru awal cerita. Pada tangagl 24 Juni 2005 ia menjadi bahan pembicaraan seluruh dunia karena berhasil menjadi presiden Iran setelah mengkanvaskan ulama-cum-mlliter Ali Hashemi Rafsanjani dalam pemilihan umum. Bagaimana mungkin padahal pada awal kampanye namanya bahkan tidak masuk hitungan karena yang maju adalah para tokoh yang memiliki hampir segalanya dibandingkan dengannya? Dalam jajak pendapat awal kampanye dari delapan calon presiden yang bersaing, Akbar hasyemi Rafsanjani, Ali Larijani, Ahmadinejad, Mehdi Karrubi, Mohammed Bhager Galibaf, Mohsen Meharalizadeh, Mohsen Rezai, dan Mostafa Min, popularitasnya paling buncit.

Pada masa kampanye ketika para kontestan mengorek sakunya dalam-dalam untuk menarik perhatian massa, Ahmadinejad bahkan tidak sanggup untuk mencetak foto-foto dan atributnya sebagai calon presiden. Sebagai walikota ia menyumbangkan semua gajinya dan hidup dengan gajinya sebagai dosen. Ia tidak mampu untuk mengeluarkan uang sepeser pun untuk kampanye! Sebaliknya ia justru menghantam para calon presiden yang menggunakan dana ratusan milyar untuk berkampanye atau yang bagi-bagi uang untuk menarik simpati rakyat.

Pada pemilu putaran pertama keanehan terjadi, Nama Ahmadinejad menyodok ke tempat ketiga. Di atasnya dua dedengkot politik yang jauh lebih senior di atasnya, Akbar Hasyemi Rafsanjani dan Mahdi Karrubi. Rafsanjani tetap menjadi favorit untuk memenangi pemilu ini mengingat reputasi dan tangguhnya mesin politiknya. Tapi rakyat Iran punya rencana dan harapan lain, Ahmadinejad memenangi pemilu dengan 61 % sedangkan Rafsanjani hanya 35%. Logika real politik dibikin jungkir balik olehnya.

Ahmadinejad memang penuh dengan kontroversi. Ia presiden yang tidak berasal dari mullah yang selama puluhan tahun telah mendominasi hampir semua pos kekuasaan di ran, status quo yang sangat dominan. Ia juga bukan berasal dari elit yang dekat dengan kekuasaan, tidak memiliki track-record sebagai politisi, dan hanya memiliki modal asketisme, yang untuk standar Iran pun sudah menyolok. Ia seorang revolusioner sejati sebagaimana halnya dengan Imam Khomeini dengan kedahsyatan aura yang berbeda. Jika Imam Khomeini tampil mistis dan sufistis, Ahamdinejad justru tampil sangat merakyat, mudah dijangkau siapapun, mudah dipahami dan diteladani. Ia adalah sosok Khomeini yang jauh lebih mudah untuk dipahami dan diteladani. Ia adalah figur idola dalam kehidupan nyata. Seorang ‘satria piningit’ yang mewujud dalam sosok nyata.

Sebagaimana mentornya, ia tidak terpengaruh oleh kekuasaan. Kekuasaan seolah tidak menyentuh karakter-karakter terdalamnya. Ia seolah memiliki ‘kepribadian ganda’, di satu sisi ia bisa bertarung keras untuk merebut dan mengelola kekuasaan, dan di sisi lain ia bertarung sama kerasnya menolak segenap pengaruh kekuasaan agar tidak mempengaruhi batinnya. Tidak bisa tidak, dengan karakter yang demikian kompleks itu seorang revolusioner macam Ahmadinejad memang ditakdirkan untuk membuat banyak kejutan dan drama pada dunia.

Ia memangkas semua biaya dan fasilitas kedinasan yang tidak sine-qua-non terutama dengan urusan pribadi. Dalam pandangannya, untuk mewujudkan masyarakat Islam yang maju dan sejahtera, pejabat negara haruslah memiliki standar hidup yang sama dengan rakyat kebanyakan., mencerminkan kehidupan nyata dari masyarakatnya, dan tidak hidup di menara gading. Ia menetapkan PPN baru bagi orang-orang kaya dan mengunakan dananya untuk membangun perumahan bagi rakyat miskin. Ia membawa ‘uang minyak ke piring-piring orang miskin’ dengan program “Reza Love Fund” (Reza adalah Imam ke delapan kaum Syiah) dengan mengalokasikan 1,3 milyar dollar untuk program bantuan bagi kalangan muda untuk menikah, memulai usaha baru, dan membeli rumah.

Meski mengagumi Imam Khomeini dan hidup asketis tidak berarti ia konservatif. Ia bahkan tampil moderat. Ketika ditanya apakah ia akan mengekang penggunaan jilbab yang kurang Islami di kalangan remaja Teheran, ia menjawab,:”Orang cenderung berpikir bahwa kembali ke nilai-nilai revolusioner itu hanya urusan memakai jilbab yang baik. Masalah sejati bangsa ini adalah lapangan kerja dan perumahan untuk semua, bukan apa yang harus dipakai.”

Meski telah terpilih menjadi presiden ia sama sekali tidak mengubah penampilannya. Ia tetap tampil bersahaja dan jauh dari pamor kepresidenan. Pada salah satu acara dengan kalangan mahasiswa salah satu peserta menanyakan penampilannya yang tidak menunjukkan tampang presiden tersebut. Dengan lugas ia menjawab,:”Tapi saya punya tampang pelayan. Dan saya hanya ingin menjadi pelayan rakyat.” Air mata saya mengalir membaca ini. Subhanallah! Alangkah rendah hatinya pemimpin satu ini. Tak salah jika ia dicintai oleh bagitu banyak mahluk Tuhan di seluruh muka bumi.

Saya tidak ingin menulis lebih panjang tentang tokoh satu ini. Saya menganjurkan setiap orang membeli bukunya dan membacanya sendiri dan menikmatinya sebagaimana saya menikmatinya. Belikan satu buku untuk anak Anda dan biarkan ia mengenal satu tokoh besar dunia yang masih hidup dan mudah-mudahan kelak dapat mengikuti jejaknya. Saya hanya ingin menutup tulisan ini dengan pendapatnya mengapa ia bersikeras agar Iran memiliki teknologi nuklir. Katanya,:”Jika nuklir ini dinilai jelek dan kami tidak boleh menguasai dan memilikinya mengapa kalian sebagai negara adikuasa boleh memilikinya? Sebaliknya, jika teknonuklir ini baik untuk kalian, mengapa kami tidak boleh juga memakainya?” Suatu argumen sederhana yang tidak mampu dijawab oleh negara-negara Barat. Itu sebabnya Bush tidak bersedia meladeninya dalam suatu tantangan debat di PBB.

Akhirul kalam, mumpung bulan Ramadhan yang penuh berkah, saya ingin menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya jika dlam pergaulan di milis ini ad kata-kata saya yang menyinggung perasaan siapapun. Semoga kita semua bisa bertemu di sorga kelak. Amin!

Balikpapan, 4 Oktober 2006

Satria Dharma

Iklan