s3700044a.jpg

Apakah Anda membekali anak Anda dengan handphone ke sekolah? Banyak orang tua yang kebingungan menghadapi anak-anak mereka yang menuntut untuk dibekali handphone karena hampir semua teman mereka membawa HP ke sekolah, tak terkecuali kami.

Anak tertua saya yang baru kelas 6 SD sudah merengek-rengek untuk dibelikan HP sejak setahun yang lalu. Alasannya tentu saja karena semua teman-temannya membawa HP ke sekolah kecuali dia. Alasan yang tidak bisa kami terima. HP adalah alat komunikasi dan bukan gadget pelengkap penampilan.

“Tapi temen-temenku punya semua. Aku aja yang tidak punya!.” keluhnya.

“ Banyak hal yang dimiliki temanmu yang tidak perlu kamu miliki dan begitu juga sebaliknya.” Kata saya mencoba memasukkan nilai-nilai padanya.

“HP itu perlu aku gunakan untuk menghubungi Bapak atau rumah sewaktu-waktu diperlukan. Selama ini kan kami sering terlambat dijemput.” Demikian usahanya untuk memperoleh alasan.

“Kita tidak punya masalah komunikasi yang akut, Nak. So you don’t deserve to having a cellphone of your own.” Kata kami.

” Kamu selalu bisa menggunakan telpon umum di sekolah atau pinjam telpon sekolah. Selama ini we’re OK. Sekali-sekali terlambat dijemput belum cukup untukmenjadi alasan bagi kamu untuk memperoleh HP.”

Tentu saja ia tidak puas dengan jawaban kami. Tapi itulah hidup yang harus ia hadapi. Ia tidak bisa selalu mendapatkan apa saja yang ia inginkan, right?

Tapi ia tidak pernah berhenti untuk merongrong kami dengan permintaannya tersebut. Setiap kali kami ngobrol santai ia bisa dengan tiba-tiba ‘menembak’ kami dengan pertanyaan

:”Pak, kapan aku boleh punya HP sendiri?”

Saya sering terdorong untuk menjawab

:”Kalau kamu bisa beli dengan uangmu sendiri.”

Tapi jawaban tersebut saya telan di tenggorokan saya karena dengan mudah ia akan dapat memberondong kami dengan tohokan yang telak. Ia sering memperoleh hadiah berupa uang dari kakek, nenek, maupun tante-dan om-omnya yang jumlahnya cukup untuk membeli HP. So, let’s forget that answer. Saya harus memberikan jawaban standar ,

:”Kalau kamu memang benar-benar membutuhkannya suatu hari. Bapak akan membelikanmu dengan uangmu sendiri sendiri tentunya.”

“”Kapan ‘suatu hari’ itu?” tanyanya mengejar. Ia seorang anak yang gigih kalau punya mau. Dan saya akan menghabiskan waktu saya dengan berdebat sepanjang hari dengannya. So I shrugged.

Ia tidak pernah berhenti memborbardir kami dengan permintaannya untuk memperoleh HP sendiri. Setiap kali ada kesempatan ia selalu menyorong proposalnya tersebut ke hidung kami. Dan kami bukan satu-satunya orang yang ia mintai HP tersebut. Setiap kali kakek, nenek, om atau tantenya bertanya :”Kamu ingin hadiah apa?.” Ia akan konsisten dengan permintaannya tersebut. Tentu saja ini membuat kami harus menjelaskan kebijakan umum yang kami terapkan padanya. And it’s tiring sometimes, telling the same story over and over again.

Akhirnya suatu hari kami pun mengadakan ‘gencatan senjata’ (Oh, my! Tiba-tiba saya ingat Ambalat). Kami janjikan jika ia nanti masuk SMP kami akan pertimbangkan kembali keinginannya untuk memiliki HP sendiri. Ini terutama karena kebetulan saya beli HP baru sehingga HP lama saya menganggur. Ia sering menggunakannya bermain game yang saya sendiri tidak pernah memainkannya.

“Ya. HP tersebut untuk kamu nanti kalau sudah SMP, dengan beberapa persyaratan tentunya.”

Meski ia tidak begitu setuju dengan ‘klausul’ saya tersebut tapi ia tidak mau berdebat sekarang. Ia toh sudah menang satu langkah.

Dan kamipun sementara aman dari berondongan permintaannya. Tapi dalam hati saya berpikir akan banyak hal lagi yang akan ia tuntut dari kami yang mungkin tidak akan kami setujui. Masalah besar dan kecil, yang remeh maupun yang prinsip, Dan itu akan menjadi ‘pertarungan’ sehari-hari kami.

Balikpapan, 10/3/05

SD