Beberapa tahun yang lalu saya diundang reuni oleh sebuah SMP dimana saya pernah mengajar di Surabaya. Reuni ini agak unik karena yang reuni bukan bekas siswanya tapi para bekas gurunya dengan pemrakarsa para bekas muridnya. Saya pernah mengajar di sekolah itu selama beberapa tahun pada tahun 80an. Saya sendiri sebelumnya juga lulus dari sekolah itu dan juga diajar oleh para guru yang akhirnya jadi kolega saya pada saat itu. Saya mengajar di sekolah itu setelah pindah dari sebuah sekolah di sebuah kecamatan kecil di kabupaten Madiun. Saya pindah ke kota Surabaya karena kuliah lagi. Jadi sambil kuliah di IKIP saya mengajar di sekolah itu dengan status PNS.

Reuni tersebut diikuti sebagian besar oleh para pensiunan guru yang pernah mengajar di sekolah tersebut. Selain itu ada beberapa guru yunior yang pernah mengajar di sekolah tersebut dan kemudian pindah ke sekolah lain atau pindah profesi, seperti saya. Setelah tamat sarjana saya kemudian dipindah mengajar di sebuah SMAN di pinggiran kota. Selain saya ada juga seorang guru agama yang kemudian memilih untuk berkarir di Jawa Pos dan saat ini telah menjabat posisi yang penting di salah satu divisi usaha media tersebut. Gayanya saat ini tentu sudah lain dengan ketika ia masih mengajar. Saya bisa ‘membaui’ aroma kemakmurannya meski ia berusaha untuk tidak menampakkan secara jelas. Orang kaya selalu punya cara untuk menunjukkan kelasnya.

Peserta reuni sekitar 50an orang dan suasana sangat gayeng karena rata-rata mereka sudah lama tidak pernah lagi bertemu setelah berpisah masing-masing. Saya sendiri baru bertemu mereka lagi setelah 20 tahun berpisah! Peluk, cium, sapa, dan tawa meledak dimana-mana. Sungguh menyenangkan melihat para guru senior ini menikmati kembali nostalgia masa-masa ketika mereka masih muda dan aktif mengajar. Sebagai seorang guru yunior dan tidak terlalu lama mengajar di sekolah tersebut, saya tentu tidak mampu menikmati reuni tersebut sebaik mereka para ‘oldies’ tersebut. Sejenak mereka melupakan usia tua yang semakin menggerogoti kesehatan mereka tersebut dan kembali bersikap seperti ketika masih muda. Salah seorang teman guru yang kebetulan juga teman kuliah saya di PGSLPYD bahkan harus didorong dengan kursi roda setelah kena stroke bertahun-tahun yang lalu. Meski ia tidak mampu lagi berbicara dengan jelas ekspresi wajahnya jelas menunjukkan bahwa ia gembira bisa bersama lagi dengan para teman-teman mengajarnya dulu. Oh my! Tiba-tiba saya merasa sebentar lagi usia juga akan mengkhianati saya.

Acaranya sendiri selain makan-makan adalah cerita-cerita nostalgia tentang masa-masa sekolah dulu dan disampaikan oleh para guru tersebut dan juga bekas-bekas muridnya. Para bekas muridlah yang memiliki ide reuni ini dan mewujudkannya. Mereka sekarang telah menjadi orang-orang sukses dengan jabatan dan posisi penting. Ada yang pejabat nomor 1 di departemen pajak, ada yang jadi pengusaha catering sukses, ada yang ketua partai, dll. Dan mereka semua berlomba-lomba untuk mengenang jasa para guru mereka dengan acara ini. Bahkan setelah ini dijanjikan akan ada acara lanjutan di Batu menginap di bungalow mewah. Biaya tentu ditanggung para bekas murid yang telah jadi bos-bos tersebut.

Salah satu acara dari reuni tersebut adalah cerita kenang-kenangan dari para siswa yang dulu pernah diajar oleh para guru tersebut. Satu demi satu para murid maju dan menceritakan peristiwa yang sangat mereka kenang dari pergaulan mereka dengan para guru tersebut. Di antara cerita tersebut tentu ada yang lucu sehingga membuat kami tergelak-gelak. Sebagian besar adalah peristiwa-peristiwa yang membuat kami surprise dan pada akhirnya mereka saling olok. Tentu saja sambil bergurau. Dari ‘bongkar-bongkar rahasia’ itu kami kemudian baru tahu tentang bagaimana uniknya hubungan para murid dan guru saat itu. Kami juga tahu ternyata ada guru yang sangat populer dan menjadi idaman para siswa karena cantik dan keibuan. Kami akhirnya juga tahu bahwa ada hubungan rahasia antara guru A dengan siswanya. Entah bagaimana perasaan sang guru ketika rahasianya tersebut dibongkar oleh siswa setelah berpuluh tahun kemudian. Tapi karena suasana saat itu sangat cair dan akrab nampaknya tidak ada yang merasa dipermalukan. Hingga suatu cerita. yang membuat saya terhenyak.

Salah seorang bekas siswa maju ke panggung dan bercerita tentang masa-masa ketika ia masih bersekolah dan diajar oleh salah seorang guru. Ia berterima kasih pada sang guru tersebut karena pada waktu diajar olehnya ia juga ikut les di rumah yang diselenggarakan oleh guru tersebut bersama 2 orang teman lainnya. Selama mereka ikut les bersama sang guru tersebut mereka tidak pernah merasa kuatir tentang ulangan mereka karena malam sebelum ulangan, mereka telah mendapatkan ‘bocoran’ soal ulangan dari sang guru lengkap dengan jawabannya. Tentu saja itu membuat mereka bertiga selalu memperoleh nilai tinggi dalam ulangan dan di raport. Dan ia berterima kasih atas hal tersebut!

Suasana mendadak sunyi sekejap (atau mungkin ini hanya perasaan saya,) dan kemudian hadirin kembali tertawa. Saya tidak tahu bagaimana reaksi sang guru waktu mendengar cerita nostalgia tersebut tapi saya merasa bahwa cerita tersebut tentunya sangat memalukan baginya. It’s truly an embarrasing moment. Prilaku guru yang membantu siswa dalam ulangan secara ilegal tentunya suatu hal yang merupakan aib dan tentunya ingin disembunyikan oleh si guru. Tapi si siswa tadi dengan enaknya menceritakan hal aib tersebut di depan semua orang tanpa merasa bersalah! Moralitas kita memang sudah jungkir balik. Cerita tersebut jelas menghancurkan integritas sang guru, kalau dia punya.

Tapi itulah buah dari perbuatan kita. Apa yang kita tanam suatu saat akan kita petik buahnya. Guru yang membantu siswa agar berhasil dalam ulangan secara curang pada akhirnya ketahuan juga justru setelah lama ia tidak lagi mengajar. Ia dikenang siswanya karena perbuatan curangnya tersebut. Meski sang siswa nampaknya masih menganggap itu sebagai hal yang wajar. Ironis memang.

Peristiwa ini membuat saya belajar suatu kenyataan hidup bahwa kita suatu saat bakal dikenang berdasarkan apa yang kita perbuat sebelumnya, baik ataupun buruk. Saya sungguh berharap bahwa saya tidak dkenang oleh bekas siswa saya dengan kenangan perbuatan buruk yang pernah saya lakukan. It’s a disgrace which I cannot bear. Saya ingin dikenang sebagai seseorang dengan integritas, meski untuk itu saya harus mengorbankan kenyamanan-kenyamaan hidup yang mungkin bisa saya peroleh dengan mengorbankan integritas saya. Saya tahu ini tidak mudah. Tapi saya memang tidak memilih hidup yang mudah. I took the long and hard way.

Balikpapan, 11 April 2006
Satria Dharma