Dulu saya tinggal di daerah Wonokromo di Surabaya. Waktu itu tidak banyak anak di kampung saya yang meneruskan sekolah hingga perguruan  tinggi. Paling banter mereka hanya bersekolah sampai SMA dan sebagian besar hanya lulusan SMP. Mereka berpikir praktis saja. Kalau bisa bekerja untuk apa sekolah? Lagipula sekolah memang membutuhkan biaya yang keluarga mereka tidak miliki. Idaman pemuda kampung saya adalah jika bisa bekerja di PT Colibri (sekarang PT Unilever). Tapi memang tidak banyak yang bisa bekerja di sana karena perusahaan tersebut juga punya persyaratan. Biasanya hanya mereka yang punya keahlian di bidang olahraga, seperti volley atau sepakbola, saja yang bisa diterima. Tak
heran jika banyak teman saya yang giat berlatih sepakbola atau volley jaman itu. Tapi memang tidak banyak yang bisa lolos seleksi. Sebagian besar ya terpaksa menganggur.  Karena dekat dengan terminal Joyoboyo maka banyak dari teman-teman saya yang nongkrong dan jadi anak terminal. Sebagaimana umumnya anak-anak  terminal kemudian banyak yang jadi preman. Tak heran jika kampung saya dulunya banyak premannya. Bagi preman siapa yang paling berani maka itu yang paling disegani. Otot (keberanian berkelahi) sangat dihargai.

Saya termasuk yang terus bersekolah dan kuliah setara D-1 di IKIP sehingga dianggap sebagai ‘anak sekolahan’. Tapi ini tidak menghalangi saya untuk bergaul dengan mereka (lagipula saya mau bergaul dengan siapa lagi? Bergaul dengan anak orang kaya juga tidak mungkin). Satu hal yang saya sukai bergaul dengan mereka adalah karena mereka setia kawan, berani dan ‘adventurous’. Berkelahi merupakan hobi saja bagi mereka. Beda dengan saya yang tidak punya nyali untuk berkelahi dengan siapa pun.

Suatu ketika saya dan dua orang teman memutuskan untuk ‘jalan-jalan’ ke Jakarta. Meski tak seorang pun di antara kami yang punya uang ongkos ataupun uang saku kami bertiga yakin bahwa kami akan bisa sampai Jakarta dan bisa ‘urip’ di Jakarta. “Wis, pokoke melok aku ae.” Kata teman saya yang preman terminal tersebut. “Saya punya banyak teman yang jadi preman di Blok M”, katanya, “Mereka bisa kita mintai bantuan setiba kita disana.”, tambahnya yakin. Saya menurut saja.
Kami memutuskan untuk naik kereta api “Gaya Baru” waktu itu. “Gaya Baru” adalah nama kereta api kelas ekonomi yang sesaknya luar biasa. Saya pernah naik dari Jogya sampai Surabaya berdiri terus menerus dihimpit dari kiri-kanan-muka dan belakang karena penuhnya. Bahkan untuk duduk pun tidak bisa. Jangan tanya panasnya. Badan ditanggung ‘lencu’ sesampainya kita di tujuan.

Waktu berangkat kereta tidak terlalu penuh dan kami menguasai pintu masuk (karena tidak beli karcis tentu saja kami tidak duduk di kursi yang tersedia). Ketika saya tanya bagaimana cara teman saya nantinya menghadapi kondektur jika ditanyai karcis, ia hanya nyengir dan bilang,”Tenang ae.” Sambil menunjuk ke tas bututnya. Tentu saja saya cemas karena saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan nanti. Saya ingin tahu apa ‘Plan A’ nya agar saya bisa mempersiapkan ‘Plan B’ (Ceile! Sok ‘well planned’ nih ye!). Tapi jawaban ‘tenang saja’ plus nyengirnya itu sungguh membuat saya penasaran. “Apa kira-kira yang ada di buntalannya tersebut sehingga membuatnya yakin dapat menghadapi kondektur?” tanya saya dalam hati.
Ketika kondektur memeriksa karcis dan telah tiba di tengah gerbong teman saya segera membuka buntalannya dan mengeluarkan isinya, sebotol minuman keras! Entah apa mereknya tapi pastilah yang paling murah dan paling keras aroma alkoholnya (biasanya yang paling banyak campuran spiritusnya! ).

Dengan tenang ia segera menenggak isinya, hanya seteguk, dan kemudian dikumur-kumurnya baru ditelan. Bau alkohol murahan langsung menyengat tercium dari mulutnya. Ia lalu mengambil posisi duduk setengah tertidur seolah mabuk dan meminta saya melakukan hal yang sama (seolah tertidur karena mabuk). Ia tidak meminta saya menenggak alkohol tersebut karena ia tahu saya tidak minum dan terkenal sebagai ‘arek sekolahan’ yang tidak minum di kampung. Saya benar-benar tidak tahu apa yang akan dikerjakannya, tapi saya mengikuti anjurannya dan pura-pura tertidur. Terus terang jantung saya berdebar keras karena tidak tahu apa yang bakal terjadi.

Ketika kondektur datang ia segera meminta karcis kepada kami. Tapi kami sedang ‘mabuk’. Usahanya menggoyang-goyang tubuh teman saya sambil minta karcis hanya diladeni dengan dengusan dan sendawa dari teman saya tersebut yang nampaknya sengaja diarahkan ke hidung kondektur tersebut, yang tentunya kemudian tercium bau alkohol tersebut. Apalagi secara demonstratif teman saya menunjukkan botol alkohol yang dipegangnya. Si kondektur kemudian bergumam,”Arek mendem.” kepada asistennya untuk mengatakan bahwa kami teler karena minuman keras. Mereka pun berlalu dan tidak memperdulikan kami. Ketika mereka cukup jauh barulah saya berani untuk bangkit dari ‘mabuk’
saya. Sungguh saya merasa ketakutan saat itu tapi teman saya itu tertawa geli melihat muslihatnya berhasil.
Ketika pemeriksaan berikutnya saya memilih untuk naik ke atap gerbong untuk menghindari kondektur. Bagi saya lebih baik naik atap kereta ketimbang menghadapi kemungkinan dipanggilkan polsuska (polisi khusus kereta api). Bisa-bisa kami digelandang di stasiun terdekat dan dijebloskan kurungan. Saya tidak punya cukup keberanian untuk menerima resiko tersebut. Teman saya tersebut masih tetap  menggunakan ‘gaya preman’nya untuk menekan kondektur. Karena ia memang pemberani dan berwajah sangar maka nampaknya kondektur tidak mau ambil resiko untuk berhadapan ‘adu nyali’ dengannya. Karena saya tidak punya keduanya, keberanian dan wajah sangar, maka saya memilih menghindari kemungkinan ‘konflik’ dengan kondektur.  “Gocik, kon! (Penakut kamu!)” kata teman saya itu sambil tertawa lebar. Biar saja.

Di Jakarta gaya premannya tetap dibawanya. Kami tidak pernah bayar karcis kalau naik bis kemana-mana. “Numpang!” begitu saja katanya dengan nada setengah marah ketika kenek meminta pembayaran. (Ini gimana sih? Udah numpang, marah pula!) Tapi tak ada kenek yang mau ambil resiko dengan wajah sangarnya tersebut.  Begitulah! Teman preman saya tersebut menjadi pemimpin karena ia memiliki keberanian dan mengambil alih tanggung jawab. Ia mengejek saya karena saya tidak mampu menunjukkan kelebihan pendidikan saya dalam menghadapi masalah yang kami hadapi. “Ilmu sekolahan gak kanggo (Ilmu sekolah tidak terpakai).” katanya setengah mengejek.

Tapi pandangannya terhadap saya berubah ketika ada masalah dimana salah seorang kenek yang digertak ternyata melawan dan memanggil teman-temannya yang ternyata banyak. Saya yang tahu keadaan menjadi berbalik tersebut akhirnya mengambil inisiatif untuk mendatangi kenek tersebut untuk minta maaf. Saya katakan bahwa kami benar-benar lagi tidak punya uang dan tidak berniat untuk melecehkan kenek tersebut. Hati mereka luluh mendengar kata-kata (dan mungkin wajah memelas) saya dan urusan selesai sampai disitu. Seandainya saya tidak minta maaf pada mereka mungkin akan terjadi perkelahian dan siapa yang tahu apa yang akan terjadi di tempat yang asing bagi kami tersebut. Teman saya memang jagoan dan punya banyak teman. Tapi itu di terminal Joyoboyo Surabaya, sedangkan kami saat itu ada di terminal Jakarta yang asing dengan lawan kenek yang banyak teman dan mengenal daerah tersebut. Dari situ teman saya kemudian mulai menaruh hormat pada saya. ‘Arek sekolahan’ ini ternyata ada juga ‘ilmu’nya dan berhasil menyelamatkannya. Hehehe…

Malam harinya kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Jakarta Fair. Kata teman saya ia biasa masuk begitu saja tanpa bayar karcis. Tentu saja dengan pendekatan premannya. Tapi ketika kami tiba di lokasi Jakarta Fair ternyata yang berjaga bukanlah petugas biasa melainkan tentara berpakaian loreng! Entah kenapa Jakarta Fair tiba-tiba dijaga oleh petugas tentara berpakaian loreng. Mungkin karena banyak orang yang nekad menyerobot jika penjaganya cuma sekedar petugas biasa maka kali ini Jakarta Fair dijaga enam tentara berpakaian loreng!. Seberani-beraninya teman saya ia keder juga melihat tentara menjaga pintu masuk. Tak ada orang yang cukup gila untuk melawan tentara pada saat itu. Tentara itu ‘kalah menang nyirik’, pokoknya kuasa bangetlah! Jangankan dengan tentaranya, dengan tetangganya saja orang sudah takut. Hehehe…

Akhirnya kami duduk-duduk saja agak jauh dari pintu masuk tersebut sambil lihat-lihat situasi barangkali ada kesempatan untuk bisa masuk. Tapi ternyata penjagaan memang sangat ketat.  Melihat situasi ini saya akhirnya menantang mereka dan bilang bahwa saya bisa memasukkan mereka tanpa bayar. Tentu saja mereka penasaran dan tanya bagaimana cara saya. “Tenang ae!” kata saya, gentian menggunakan ungkapan ini kepada mereka. Sekarang gantian mereka yang bertanya-tanya dalam hati. “Pakai ini.” Kata saya sambil menunjuk kepala. Mereka tentu saja semakin penasaran. Saya pun kemudian mendekati salah seorang tentara yang menjaga tersebut sambil mengucapkan, : ‘Selamat Malam, Pak!’ dengan melemparkan senyum termanis yang pernah saya miliki. Si tentara nampaknya senang saya tegur dengan sopan dan kami pun terlibat dalam percakapan. Ketika ditanya saya pun kemudian bercerita bahwa saya datang dari Surabaya dan sudah lama bermimpi untuk bisa bisa menonton Jakarta Fair. Selama ini saya hanya mendengar cerita tentang Jakarta Fair dan belum pernah sekali pun melihatnya sendiri. Ketika ia bertanya kenapa saya tidak masuk dan menontonnya saya pun berkata bahwa saya tidak punya uang untuk beli karcis (ehem!). Silakan tebak bagaimana kelanjutannya.

Entah karena iba melihat wajah memelas saya, tapi punya senyum yang manis, atau karena bisa merasakan betapa besarnya keinginan saya yang dari jauh ini untuk bisa menonton Jakarta Fair, ia pun kemudian menawari saya untuk masuk. “Sudah, masuk saja. Saya yang tanggung.”
Katanya. Mendengar itu saya langsung memanggil kedua teman saya untuk ikut masuk. Tentara tersebut terkejut karena ternyata saya bawa teman.

Tapi ia tidak mungkin menelan ludahnya sendiri. Ia telah berusaha untuk menjadi ‘pahlawan’ bagi seorang ‘ndeso’ macam saya dan tidak ingin kehilangan muka. Ia akhirnya membantu kami untuk masuk tanpa karcis. Akhirnya kami masuk dan nonton Jakarta Fair juga malam itu. Sekali lagi saya menunjukkan bahwa ‘otak’ lebih berhasil ketimbang ‘otot’. Mereka benar-benar mengakui kelihaian saya karena dapat membawa mereka masuk Jakarta Fair yang dijaga tentara. Menghadapi tentara benar-benar diluar kemampuan mereka.

Di Jakarta kami menggelandang dari satu terminal ke terminal lain untuk menemui preman-preman Surabaya yang ‘berkarir’ di Jakarta. Waktu itu Blok M dikuasai oleh preman Surabaya dan kami dijamin sehari-harinya oleh mereka. Saya mesti mengakui solidaritas mereka yang tinggi begitu mereka mengetahui bahwa kami sedang ‘studi banding’ ke Jakarta dan  tidak punya uang bahkan untuk makan sekalipun. Seorang preman tukang kutip sopir bahkan menyerahkan hasil kutipannya sore itu kepada kami (semua yang diperolehnya sore itu!) begitu kami minta tolong padanya.  Such a generous friend.

Hal ini membuat teman saya tersebut agak sombong karena ia tahu bahwa saya bergantung padanya. “Arek sekolahan gak kanggo, arek terminal sing kanggo” katanya sekali lagi sambil tertawa. Saya diam saja dan bertekad untuk membuktikan bahwa ‘arek sekolahan’ bisa lebih menghasilkan ketimbang ‘arek terminal’.

Saya kemudian mengajaknya untuk mendatangi rumah salah seorang artis Jakarta yang saya ketahui alamatnya lewat koran yang pernah saya baca. Yang saya datangi adalah almarhum Bagyo, pelawak terkenal jaman itu, yang tinggal di daerah Setia Budi. Ia kebetulan ada dan kami diterima dengan ramah. Kami mengenalkan diri sebagai ‘big fans’ dan ia tentu saja senang menerima kami. Ketika percakapan berlanjut dan ia bertanya-tanya tentang kami, saya akhirnya mengatakan bahwa kami hanya ‘bonek’ alias berbekal nekad saja datang ke Jakarta karena ingin bertemu dengannya (ehm..!). Kami tak punya bekal untuk pulang.

Entah karena kasihan pada kami atau karena almarhum Bagyo memang seorang yang dermawan kami akhirnya diberi uang saku cukup besar untuk pulang ke Surabaya. Saya sangat tersentuh dengan kebaikan hatinya tersebut dan mengingat-ingatnya dalam hati. Saya harus bisa membalas kebaikan budinya tersebut kepada orang lain kelak, demikian janji saya dalam hati.

Sekali lagi diplomasi saya membuahkan hasil dan teman saya mengakui bahwa ‘arek sekolahan’ tidak kalah dengan ‘arek terminalan’. Uang pemberian dari almarhum pelawak Bagyo tersebut akhirnya kami pakai untuk memperpanjang ‘liburan’ kami di Jakarta dengan cara yang lebih elegan. ‘Nyekel duwik, rek!”  Akibatnya kami kembali tak punya uang untuk beli karcis pulang. Tapi teman-teman saya tidak terlalu perduli karena mereka yakin bahwa pendekatan preman mereka pasti dapat mereka gunakan lagi untuk dipakai pulang ke Surabaya. Tapi saya memutuskan untuk tidak lagi naik gerbong ketika kondektur tiba. Saya sungguh lelah berjaga kapan kondektur datang dan harus lari-lari naik atap gerbong. Naik gerbong kereta ketika kereta berjalan sungguh berbahaya (meski juga mengasyikkan kalau kita sudah bisa mengalahkan rasa takut kita). Saya putuskan untuk pulang dengan cara yang lebih manusiawi.

Saya kemudian mendatangi sebuah kantor Dinas Sosial di Jakarta dan minta bantuan mereka. Saya jelaskan bahwa saya seorang perantau dari Surabaya yang mencari keluarga di Jakarta tapi ternyata keluarga sudah pindah dan tidak tahu kemana pindahnya. Hal ini membuat saya lontang-lantung dan ingin kembali ke Surabaya. Saya butuh bantuan mereka. Bukankah mereka Dinas Sosial? Tentu saja mereka tidak bisa membantu saya secara finansial karena mereka tidak punya dana maupun skema untuk itu. Mereka juga tidak tahu bagaimana mereka bisa membantu saya. Saya kemudian minta agar mereka membuatkan saya selembar surat yang menyatakan keadaan saya saat itu dan mohon agar saya dibantu sebisanya agar bisa kembali ke Surabaya. Entah bagaimana cara saya meyakinkan mereka tapi akhirnya mereka bersedia membuatkan surat tersebut di atas kertas berkop Dinas Sosial lengkap dengan stempelnya!

Dengan bekal surat tersebut kami naik kereta Gaya Baru kembali dan ketika kondektur menanyakan karcis saya segera menyodorkan surat tersebut. Tentu saja mereka bingung dan tidak paham maksud surat tersebut . Saya sampaikan bahwa itu adalah surat resmi dari Depsos lengkap dengan tandatangan dan stempelnya yang menyatakan bahwa kami adalah orang yang kehabisan bekal yang ingin pulang ke Surabaya dan perlu bantuan (!). Semula kondektur tentu saja tidak bisa menerima (karena baru kali itu mereka menerima surat semacam itu). Tapi kami ngotot bahwa itu adalah surat resmi dari suatu departemen negara yang resmi dan tidak selayaknya mereka meragukan otentisitas surat tersebut
(!). Mereka terlalu bingung untuk adu argumen dengan saya. Mereka akhirnya mengalah dan kami selamat sampai kembali ke Surabaya, tanpa perlu akting mabuk dan lari-lari di atas gerbong lagi!.

Sejak itu kawan-kawan saya angkat topi terhadap saya si “arek sekolahan” yang mampu membuktikan bahwa ‘otak’ lebih perkasa ketimbang ‘otot’.

Balikpapan, 22 Februari 2007

Satria Dharma