Pernahkah Anda bertanya-tanya dalam hati dimana sekarang teman-teman sekolah Anda dulu, 10 … 20… 30 tahun yang lalu? Dimana mereka sekarang berada dan apa pekerjaan mereka? Saya sering bertanya-tanya dalam hati saya kemana perginya teman-teman sekolah saya dulu ketika SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi. Kalau teman-teman kuliah masih bisa saya jejaki sebagian meski banyak juga lainnya yang saya tidak tahu informasinya. Saya bahkan sering menghubungi mereka satu persatu jika saya mampir ke Surabaya dan kamipun mengadakan reuni kecil-kecilan. Saat-saat yang selalu menyenangkan bertemu dengan teman-teman lama. Tapi teman-teman SMA? Hampir tidak ada satupun yang saya ketahui kemana perginya mereka sekarang. Saya benar-benar kehilangan jejak dan tidak tahu kemana harus mencari mereka.

Tapi kemarin secara tidak terduga saya menemukan salah seorang teman sekolah SMA saya, Martin namanya. Bukan benar-benar teman melainkan salah seorang siswa SMA dimana kami sama-sama bersekolah dulu. Ia satu tingkat dengan saya meski ia di jurusan IPA dan saya di jurusan Sosial. Ia adalah ‘the brightest student’ di sekolah. Ia begitu populernya sehingga hampir setiap siswa mengenalnya. Bahkan rumor mengatakan bahwa ia sering membuat para guru berkeringat dingin kalau mengajarnya karena saking pintarnya ia.

Waktu itu saya lulus SMA jurusan Sosial dengan nilai terbaik. Bukan karena saya cerdas atau bekerja keras untuk itu tapi lebih karena begitu rendahnya motivasi dan prestasi teman-teman saya di jurusan Sosial waktu itu. Siswa-siswa bermotivasi dan berprestasi terendah biasanya dijadikan satu di jurusan tersebut dan diajar oleh guru-guru yang sama kualitasnya. Begitu kaburnya tujuan sekolah kami sehingga kami mengembangkan kesenangan untuk membuat para guru kami marah besar atau menangis jika mengajar kami. It was more a hell than a classroom.  Para guru selalu mencari alasan untuk tidak masuk ke kelas kami dan kami dengan senang hati memberi mereka alasan untuk itu. Satu-satunya ‘literatur’ yang bisa kami nikmati di kelas adalah cerpen stensilan dengan cerita paling jorok yang bisa Anda bayangkan. Saya masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana ekspresi wajah teman-teman perempuan kami ketika pertama kali membaca ‘literatur’ tersebut di kelas. Wajah mereka berubah menjadi traffic light, merah-kuning-hijau berganti-ganti. Full adrenaline. Ekstra kurikuler paling populer adalah bolos bareng-bareng untuk taruhan di rumah bilyar dekat sekolah.

Untuk praktek pelajaran ‘human relations’ dan ‘etiquette’ malamnya kami kumpul lagi untuk beramah-tamah dengan para waria di tempat mereka biasa mangkal. You don’t really need to work hard to be the best.

Tapi itu jurusan IPS. Di jurusan IPA profil siswanya berbeda 180 derajat. Jurusan IPA adalah tempat bagi para ‘putra harapan bangsa’ berkumpul. Di pundak merekalah cita-cita bangsa dan negara dibebankan. (Thanks God we don’t belong to them!). Siswa-siswa berlomba untuk berprestasi menjadi yang terbaik dalam segala bidang, termasuk dalam bidang sastra  dimana seharusnya jurusan IPS yang berbicara. Banyak teman-teman sekolah kami yang mendapatkan bermacam-macam penghargaan atas prestasi mereka. But Martin ‘The Genius’ is the superstar among the stars.
Saya lulus terbaik di kelas ‘neraka’ tersebut dengan nilai yang cukup membuat saya bangga karena bertaburan dengan nilai 8 dan ada satu nilai 9, yaitu bahasa Inggris yang memang saya sukai. Saking bangganya ijazah tersebut saya laminating dan selalu saya jadikan sebagai bukti atau dokumen resmi ‘keberhasilan’ saya di sekolah. Meski demikian, nilai saya tersebut masih belum ada apa-apanya dengan si Martin ini. Perbedaan nilai ijasah saya dengannya adalah 16 angka! Itu artinya nilainya bertaburan nilai 9 dan 10! Ia meraih nilai tertinggi yang bisa dicapai pada setiap mata pelajaran.
Untuk melengkapi kehebatannya, ia diterima di 5 perguruan tinggi ternama dimana ia mendaftar. Saat itu sistem penerimaan mahasiswanya bernama SKALU (Sistem Kerjasama Antar Lima Universitas)  dan kami boleh mendaftar pada lima universitas yang tergabung pada SKALU tersebut (sistem yang menggelikan sebetulnya). Dan ia lulus pada ke lima universitas tersebut. Ia kemudian memilih masuk ke Teknik Elektro ITB, jurusan paling bergengsi pada waktu itu. Sejak itu saya tidak pernah mendengar berita tentang dirinya lagi. Saya sendiri Alhamdulillah bisa diterima di PGSLPYD, sekolah bagi calon guru SMP, dimana seterusnya menjadi awal karir saya selanjutnya.

Sering saya bertanya dalam hati kemana nasib membawa Martin ‘The Genius’ ini setelah ia lulus dari ITB. Dengan prestasinya tersebut tentunya masa depan terbentang luas dihadapannya. Apalagi ia masuk ke jurusan paling top di ITB. Tapi saya tidak pernah mendengar beritanya karena saya juga tidak pernah berhubungan dengan satu pun teman SMA lagi.

Tiba-tiba saja saya kemarin mendapatkan informasi tentang si Martin ini di meja makan di mana anak saya sedang belajar. Karena anak saya mendapatkan kesulitan dengan mata pelajaran Fisika, padahal ia baru kelas 1 SMP (like father like son, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, dll.) maka saya memanggilkan guru les Fisika untuknya. Ketika selesai belajar itu saya kemudian ikut duduk bersama mereka sambil melihat buku Fisika yang dipakai anak saya. Ternyata pelajaran Fisikanya sudah begitu sulit dan banyak materinya sehingga begitu melihat beberapa halaman saja saya sudah merasa mual. Pantas anak saya juga sudah putus asa mempelajarinya! Memberi materi yang begitu banyak dan begitu sulit bagi anak berusia 12 tahun bagi saya is almost a crime.

Nah! Ketika iseng membaca riwayat hidup penulis buku Fisika tersebut tiba-tiba saya sadar bahwa penulisnya ternyata adalah si Martin teman satu SMA saya dulu. Ia memperoleh gelar insinyur maupun masternya dari ITB. Setelah lulus dari Teknik Elektro ITB ia kemudian menjadi pengajar di perguruan tinggi dan juga mengajar mahasiswa yang akan kuliah ke luar negeri. Dari riwayat hidup yang tertulis disebutkan bahwa saat ini ia memiliki lembaga bimbingan belajar dengan namanya sendiri di Bekasi.  Terjawab sudah satu misteri yang ada di benak saya selama ini!

Saya gembira mengetahui bahwa Martin ‘the genius’ sekarang berprofesi sebagai guru dan penulis buku pelajaran Fisika. Berdasarkan guru Fisika anak saya bukunya bagus dan digemari karena mudah dipahami (not for me!) dan komprehensif (sangat tebal, tepatnya). Ia tentulah seorang guru dan penulis buku yang baik karena ia sangat menguasai materi yang ia tulis maupun ajarkan. Dengan kecerdasan dan pengetahuannya yang dalam dan keluasan pengalamannya selama bergelut dengan materi pelajaran Fisika ia tentu bisa menulis buku dan mengajarkannya dengan sangat baik pula. Ia adalah figur guru ideal dalam khayalan saya. The smartest student with the best education to become a teacher. Saya membayangkan seandainya saja profesi guru di negeri kita diisi oleh orang-orang terbaik seperti Martin ini maka pendidikan kita tentunya akan jauh lebih baik daripada sekarang. Para guru kita akan berasal dari siswa-siswa terbaik di sekolah menengahnya, ditempa penguasaan materi bidang studinya di perguruan tinggi terbaik, macam ITB umpamanya, dan diberi pelatihan pedagogik terbaik (saya tidak akan merekomendasikan perguruan tinggi dimana saya dicetak jadi guru) dan setelah itu diterjunkan ke sekolah-sekolah untuk mengajar. Inilah impian yang sedang dijalankan oleh Malaysia dengan program ‘super teacher’nya. Malaysia merekrut sekitar 100 siswa-siswa terbaik dari sekolah menengahnya setiap tahun yang kemudian diberi bea-siswa untuk menuntut ilmu di sekolah terbaik di Malaysia dan kemudian dikirim lagi ke luar negeri selama dua tahun sebelum diterjunkan ke sekolah-sekolah untuk mengajar menjadi ‘super teacher’. Mereka berharap dari guru-guru super ini akan dapat dididik murid-murid super pula. Saat ini mereka sudah mencetak sekitar 500 orang ‘guru super’ semacam ini. Bayangkan impaknya pada kualitas pendidikan di Malaysia nantinya!

Meski Indonesia belum punya program seperti itu tapi mengetahui bahwa Martin ‘The Genius’ menjadi guru adalah kegembiraan yang luar biasa bagi saya. Kegembiraan lainnya adalah karena saya bisa mengatakan dengan bangga pada anak saya dan guru Fisikanya,”Saya kenal dengan penulis buku ini! Ia adalah teman sekolah saya dulu. Maksud saya, kami satu SMA dulu. Ia adalah siswa paling pintar di sekolah kami.” I wish I knew him better so I can tell more about him. Mudah-mudahan saja anak saya bisa menahan dirinya dan tidak berkomentar :”Bapak mau numpang beken ya!”

Balikpapan, 6 Desember 2005

Satria Dharma

Iklan