dsc00045a.JPG

Seminggu sebelum lebaran saya berkesempatan berkunjung ke beberapa sekolah menengah di dua kota di Sarawak, yaitu di Kuching dan Miri. Tujuan saya adalah untuk mencari sekolah partner dalam program pertukaran pelajar.

Dalam kunjungan tersebut saya bisa melihat betapa majunya kualitas sekolah-sekolah di Malaysia, baik itu sekolah swasta (private schools) maupun sekolah negeri (Sekolah Menengah Kebangsaan/Kerajaan ataupun Berbantuan). Sekolah Negerinya gratis seluruhnya dan sekolah swastanya yang setingkat dengan National Plus School kita tidak semahal di Indonesia. Bahasa pengantar yang dipakai adalah bahasa Inggris karena bahasa Inggris nampaknya merupakan bahasa kedua bagi mereka. Jarang saya dengar bahasa Melayu digunakan dalam pertemuan apapun. Nampaknya bahasa Melayu hanya digunakan sebagai bahasa nasional tapi bukan sebagai bahasa resmi dalam pertemuan-pertemuan. Bahasa Melayu memang menjadi bahasa pengantar di sekolah tapi dalam pergaulan sehari-hari hampir semua orang menggunakan bahasa Inggris. Kefasihan mereka dalam berbahasa Inggris? Jangan tanya. Mereka menggunakan bahasa Inggris seperti kita menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari. Meski bahasa Ingris adalah mayor saya di bangku kuliah tapi jika dibandingkan dengan mereka dalam masalah kefasihan ternyata ‘tidak ada apa-apanya’. Saya sempat berkenalan dengan seorang staf Student Services dari Curtin University of Technology di Miri yang berasal dari suku Iban yang sangat fasih berbahasa Inggris sehingga saya pikir ia pastilah lulusan luar negeri seperti rekan-rekan lainnya yang hampir seluruhnya lulusan luar negeri. Tapi setelah saya tanya ternyata ia ‘hanya’ lulusan S-1 universitas di Kuala Lumpur jurusan bisnis. Karena masih tidak percaya saya berkesimpulan ia pastilah telah tinggal di luar negeri cukup lama karena kefasihan seperti itu biasanya diperoleh karena pernah tinggal di negara yang menggunakan bahasa tersebut sebagai bahasa sehari-hari.
Teman-teman yang lain yang kebetulan memiliki ras Chinese memang fasih berbahasa Inggris karena bahasa tersebut merupakan bahasa kedua mereka setelah bahasa Mandarin atau bahasa Canton. Tapi teman yang satu ini berasal dari Iban yang tentunya tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di lingkungannya. Ketika saya tanya ternyata ia memang pernah tinggal di Australia tapi ‘cuma’ sebulan dalam rangka praktek kerja ketika masih kuliah dulu. Sampai sekarang saya masih tak habis pikir bagaimana mereka bisa menguasai bahasa Inggris begitu baik yang saya pikir tidak akan mungkin bisa kita saingi karena bahasa Inggris memang tidak akan pernah menjadi bahasa kedua kita. Bahasa Inggris akan tetap menjadi bahasa asing bagi kita sehingga kemungkinan bagi kita untuk sefasih bangsa Malaysia adalah tidak mungkin (saya tidak bicara kemampuan individual ataupun per kasus).
Ketika saya masuk ke sekolah menengah mereka barulah saya sadar bahwa penggunaan bahasa Inggris dalam komunikasi memang sudah menjadi bagian integral dalam kehidupan mereka. Buletin bulanan sekolah mereka menggunakan bahasa Inggris, meski masih ada berita tertentu yang menggunakan bahasa Melayu. Text-book mereka sebagian besar sudah menggunakan bahasa Inggris dan pengajaran Math dan Science disampaikan dalam bahasa Inggris di kelas. Dan itu keputusan dari Ministry of Education untuk memacu peningkatan kualitas pendidikan mereka.

Fasilitas yang dimiliki oleh beberapa sekolah pemerintah di Kuching dan Miri sangatlah maju untuk ukuran kita dan setara dengan sekolah-sekolah swasta paling maju di Indonesia. Kelas-kelas ber AC, ada fasilitas gym, sports hall, library yang lengkap dengan fasilitas internet 24 hours, kelas dengan fasilitas in-focus terpasang, text-book dan buku-buku referensi melimpah, klab-klab kegiatan pelajar yang well-organized, guru-guru yang berdedikasi sangat tinggi, dan tentu saja semuanya itu gratis! Pemerintahlah yang menyediakan semua fasilitas tersebut. Hebatnya, sekolah-sekolah tidak tinggal diam dan pasif macam sekolah-sekolah kita tapi mereka aktif mencari sponsor-sponsor terutama dari para alumni yang sudah kaya dan terkenal. Jadi tidak ‘mencekik’ orang tua siswa dengan sumbangan ini dan itu.
Dengan donasi tersebut mereka membangun sekolah mereka dan they have a great pride on it! Salah sebuah sekolah yang bernama St. Thomas (jangan dikira ini sekolah Katolik hanya karena namanya. It’s fully ‘negeri’ dibiayai pemerintah dan gratis. Bahkan punya ruang khusus untuk pengajaran dan pengembangan agama Islam karena agama Islam merupakan satu-satunya agama resmi yang diajarkan di sekolah) memperoleh penghargaan Juara 3 K (Kebersihan, Keindahan, dan Kenyamanan, kalau tidak salah) untuk tingkat nasional Malaysia. View dari sekolah tersebut sangatlah indah! Kita merasa seperti berada di sebuah resort yang indah, bersih dan nyaman. Padahal sekolah tersebut sebelumnya kondisinya memprihatinkan dan tidak memiliki spirit kebanggaan. Oleh kepala sekolah barunya, Mr. Peter Foo Chee Hui, sekolah tersebut ‘disulap’ menjadi sekolah yang sangat menyenangkan, bertradisi juara, dan membanggakan setiap alumninya.
Kebetulan saya diantar oleh Mr. Alex Ting, seorang alumni yang juga salah seorang donor, yang sangat bangga dengan sekolah tersebut. Metodenya sederhana saja. Beliau bersama wakaseknya merancang disain arsitektur pertamanan sekolah sampai detil setelah itu dibuat menjadi bagan-bagan yang kemudian dibagi kepada setiap kelas untuk mengisinya. Setiap sudut dibagi-bagi menjadi taman yang berbeda. Ada gaya klasik dengan pilar-pilar tinggi, ada model Jepang lengkap dengan sungai dan jembatan kecilnya. Ada yang khusus untuk tempat duduk-duduk siswa bersantai. Pokoknya digarap secara sangat teliti. Jadi setiap kelas mendapat sebuah blok yang harus mereka tanami dan rawat sesuai dengan desain yang telah ditetapkan tersebut. Siswalah yang bertanggung jawab untuk mencari tanah, pupuk, tanaman, batu-batu, dll yang diperlukan untuk mengisi blokyang menjadi tanggung-jawab mereka. Setelah itu mereka jugalah yang menanam dan bertanggungjawab terhadap perawatannya. Untuk itu mereka melakukan tugas giliran setiap harinya sehingga boleh dikata tidak ada satu blokpun yang tidak terawat karena merupakan kebanggaan seluruh kelas. Bahkan selembar daun yang rontok akan dengan segera dipungut dan dibuang ke tempat sampah. Mereka juga mengatur tempat sampah sesuai dengan jenis sampahnya.
Ketika saya datang sekolah sedang libur sehingga tidak ada siswa belajar tapi taman-taman tetap terawat dan dalam keadaan sangat bersih. Rupanya cukup banyak siswa datang ke sekolah sekedar untuk bertemu dengan teman-teman mereka. Rupanya sekolah merupakan tempat favorit mereka karena telah menjadi tempat yang nyaman untuk bersantai. Hanya itu andalan mereka ? Tidak. Keunggulan akademis juga berusaha mereka kejar. Mereka mendorong setiap guru untuk membuat presentasi setiap kali mereka mengajar dengan menyediakan komputer dan in-fokus di kelas-kelas. Kelas-kelas mereka sendiripun adalah ‘moving class’ dimana siswa setiap ganti pelajaran ganti kelas sesuai dengan mata pelajarannya. Jadi setiap guru punya kelas masing-masing dan mereka tinggal di kelas dan siswanya yang berpindah.
Pada saat saya datang ada kiriman 10 buah lap-top yang merupakan usaha dari kepala sekolah untuk memperoleh sumbangan dari para donatur yang akan dibagikan sebagai pinjaman kepada guru-guru agar mereka dapat membuat persiapan mengajar mereka jauh lebih sempurna. Guru-guru tidak hanya bergantung pada buku teks tapi juga mengambil bahan-bahan dari internet yang menurut mereka tersedia melimpah ruah. Mereka juga membeli bahan-bahan presentasi dari setiap mata ajaran yang sudah jadi dan siap dipresentasikan dari penerbit-penerbit macam LIPI kita.

Bahan tersebut saya lihat sangat bagus, sistematis, penuh ilustrasi, dan tinggal dipresentasikan di OHP. Tapi menurut mereka di internet jauh lebih bagus dan tersedia secara gratis. Dengan kemampuan bahasa Inggris mereka yang tinggi jelas mereka bisa dengan mudah mengambil bahan dan memberikannya kepada siswa dengan mudah. ini yang mungkin sulit untuk kita kejar. Boro-boro siswa kita memahami materi dalam bahasa Inggris, gurunya sendiripun belum tentu paham. Jadi kalau di tanah air siswa kita baru belajar komputer, mereka sudah belajar melalui komputer. Mereka sudah masuk dan memanfaatkan dunia IT secara global.
Ketika saya tanyakan kepada Pak Alex Ting, pengusaha Sarawak yang menjadi tuan rumah saya ketika berkunjung kesana, beliau menyatakan bahwa Kuching memiliki banyak tenaga pengajar yang berkualitas. Saya tidak meragukan itu karena hampir semua guru yang saya temui disana nampak professional, bersemangat dan penuh dedikasi. Mereka dengan bangga menceritakan apa-apa yang telah mereka lakukan dan dedikasikan pada sekolah mereka. Mereka bahkan melakukan hal yang mungkin tidak terpikirkan oleh kita yaitu membuat ruang musium kecil bagi semua benda-benda bersejarah bagi sekolah tersebut seperti meja kepala sekolah pertamakali, contoh seragam, badge, dan dasi sekolah sejak awal sampai saat ini, foto-foto kenangan sejak awal sekolah berdiri, penghargaan-penghargaan yang pernah diterima, dll. Sungguh menarik! Pak Ting yang merupakan alumni St Thomas dengan bersemangat menceritakan betapa beliau memakai seragam ini pada tahun 60-an, foto-foto rekannya yang sekarang sudah menjadi ini dan itu, dlsb.

Ketika saya ke Miri dan berkunjung ke SMK Chung Hwa saya agak surprise ketika mengetahui bahwa kepala sekolahnya bergelar Doktor dan Dato’ sekaligus. Perlu diketahui bahwa gelar Dato’ sangatlah dihormati karena merupakan penghargaan dari kerajaan bagi orang-orang yang dianggap berjasa pada negara. Meski surprise saya masih berpikir bahwa gelar doktornya tersebut mungkin diperoleh dari PTS lokal. Maklumlah karena akhir-akhir ini di Indonesia kita sering melihat orang dengan mudah menyandang gelar Doktor meski honoris causa dari PTS antah berantah.

Beberapa sekolah di Indonesia seperti SMU Al-Muthahari dan SMU Dwi Warna juga dipimpin oleh kepala sekolah yang bergelar doktor. Kalau Kang Jalal dan Ibu Carmen Jahja sih kualitas keilmuannya tak perlu diragukan. Tapi mungkin masih sangat langka doktor yang mau turun ke jenjang sekolah menengah. Tetapi ketika saya masuk ke kantor Dato’ DR. Fon Ong Ming dan melihat ke papan di dinding disitu tertulis darimana beliau memperoleh gelar MA dan Doktornya. Ternyata beliau memperoleh gelar Master dan Doktor di bidang sains dari UCLA! Gile cing! Saya pikir tak kan ada Doktor lulusan UCLA yang mau ‘hanya’ berkarir sebagai kepala sekolah di Indonesia.

Ketika saya menuju ke Sekolah Menengah Kolej Haji Bujang saya menemui kepala sekolahnya seorang ibu yang bergelar Master di bidang kimia dari PT luar negeri juga. Nampaknya gelar master dan Doktor bukan hal yang langka lagi bagi guru-guru di sekolah-sekolah menengah mereka. Di Indonesia sendiri lebih dari 50 % guru-guru SD tidak layak untuk mengajar karena tidak memiliki kualifikasi yang layak untuk itu. Ini kata statistik lho! (saya pernah ‘dimarahi’ oleh seorang guru SD karena manyampaikan fakta ini. Jadi saya mesti hati-hati kalau menyampaikan hal ini!)
Saya dengar ada usaha dari pemerintah untuk menyekolahkan lagi guru-guru mereka agar bisa mendapatkan gelar sarjana. Tapi belum apa-apa kita sudah membaui adanya gejala bahwa usaha itu sekedar untuk ‘membagi-bagi’ gelar dan bukan sungguh-sungguh untuk meningkatkan kualitas guru kita setar dengan sarjana S-1. Ketika Pak Alex Ting menyatakan bahwa ia bisa membantu saya jika saya membutuhkan tenaga pengajar bahasa Inggris yang qualified saya jadi sangat tertarik. “Why not.”, pikir saya. Roda memang berputar. Kalau dulu Malaysia mengimpor guru-guru dari negara kita karena kualitas guru-guru kita lebih bagus daripada guru-guru mereka, sekarang keadaannya jadi terbalik. Sudah waktunya kita berpikir untuk menggunakan tenaga-tenaga pengajar dari negara tetangga kalau kita benar-benar berpikir tentang kualitas pendidikan. Guru-guru dengan kualitas ‘national plus’ masih sangat langka di negara kita dan sekolah-sekolah ‘national plus’ di tanah air masih saling bajak membajak guru untuk mengisi kebutuhan mereka. Ironis! Soalnya IKIP sudah ganti haluan sehingga kita semakin tak tahu lembaga mana yang bisa memasok tenaga pengajar berkualitas bagi kebutuhan negara kita.

“So, is it possible for us to use your teachers, Pak Ting?” tanya saya antusias. Yes, of course, jawabnya, sepanjang cocok harganya saja. Saya jadi tersadar dan malu sendiri. Kita sudah memasuki dunia profesionalisme, termasuk pada bidang pendidikan. Era pengabdian murni sudah ‘out of date’ dan mereka yang merindukan romantisme masa-masa ketika orang terbaik memasuki karir sebagi guru dengan honor tak layak sebaiknya bangun dari tidurnya. “Ini jaman modern, Bung!” kata saya dalam hati menirukan slogannya orang Medan. “OK!”, kata saya banting setir ke suasana ‘real business’,”Berapa gaji yang mereka minta jika saya minta mereka untuk datang mengajar di Balikpapan?” “Apa ekspektasi Anda dan bagaimana kondisi pekerjaannya?” tanya Pak Ting professional. Saya jadi gelagapan karena ternyata saya tidak benar-benar siap dengan pertanyaan saya. Tapi Pak Ting kemudian memberi ancar-ancar sekitar 3000 RM/bulan (dengan kurs sekitar Rp.2.300,- per ringgitnya) untuk dapat membuat mereka mau datang ke Indonesia. tentu saja itu masih ditambah dengan fasilitas akomodasi dan transportasi.

Terus terang saat itu saya teringat pada SD Istiqamah, sekolah di mana dua anak saya belajar. Sebagai sekolah islam terpadu yang dianggap terbaik oleh masyarakat Balikpapan kualitas pengajaran bahasa Inggrisnya masih belum bisa dianggap ideal, dalam arti dapat menjamin siswa-siswanya fasih menggunakannya. Penyebabnya masih pada kualitas guru pengajar bahasa Inggrisnya yang masih belum ideal. Idealnya seorang tenaga pengajar bahasa Inggris mestilah fasih menggunakan bahasa tersebut baik lisan maupun tertulis. Selain itu ia harus mampu menyusun materi pengajarannya secara baik dan organized dan mampu mengajarkannya dengan metodologi dan media pengajaran yang mutakhir. Saya melihat bahwa pengajaran bahasa Inggris di SD Istiqamah masih konvensional, meski mungkin kualitas pengajarnya lebih baik daripada di sekolah-sekolah lain.

Materi pelajarannya disusun sendiri oleh gurunya dalam bentuk kopian dan tidak jelas organisasi dan sistematika penyusunannya. Atau itu mungkin hanya penilaian sepihak dari saya yang mengharap terlalu banyak pada pengajaran bahasa Inggris di SD Istiqamah. Pemikiran saya sederhana saja. Jika siswa SD Istiqamah bisa memperoleh tenaga pengajar sebaik guru-guru bahasa Inggris di Malaysia tentulah kualitas penguasaan bahasa Inggris anak-anak saya akan lebih baik ketimbang diajar oleh guru-guru lokal. Saya jadi teringat pada Pak Susilo, Ketua Komite Sekolah dimana anak saya belajar yang mengkursuskan anaknya di English First dengan membayar 800 ribu sebulan untuk pengajaran bahasa Inggris 2 X seminggu. Kalau untuk 2 X seminggu @ 90 menit saja ia bersedia membayar 800 ribu tentunya orang tua lain juga bersedia membayar sediki tambahan jika sekolah mampu menyediakan tenaga pengajar kelas ‘import’. Saya kemudian menghitung jika dalam satu kelas di sekolah anak saya ada sekitar 30 siswa dan ada dua kelas paralel pada masing-masing tingkatan. maka jika seorang guru ‘import’ tadi mengajar kelas 5 dan kelas 6 sebanyak 6 jam pelajaran @ 45 menit setiap kelasnya maka ia hanya akan mengajar sekitar 24 JP @ 45 menit perminggunya. Tidak terlalu banyak. Artinya, guru tersebut masih bisa ditambahi tugas lain umpamanya mengajar teman-teman koleganya sesama guru bahasa Inggris bagaimana menyusun materi pelajaran dan mengajarkannya pada siswa dengan menarik dan menyenangkan. Dengan demikian sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Siswa memperoleh guru kualitas impor, guru-guru juga memperoleh tutor kualitas istimewa. baik siswa maupun guru akan memperoleh manfaat yang besar dari adanya guru import tersebut. Diyakini dalam jangka waktu enam bulan saja pengajaran bahasa Inggris di sekolah tersebut akan terdongkrak cukup signifikan.

Melihat manfaatnya tersebut maka angka 3000 RM tersebut menjadi tidak berarti karena saya yakin setiap orang tua siswa akan bersedia menambah uang pembayaran sekolahnya sebesar Rp.50.000,-/bulan asal dapat guru bahasa Inggris kualitas import tadi. Lha wong kursus di EF aja berani bayar 800 ribu/bulan je! Dengan Rp.50.000,-/bulan/siswa maka akan terkumpul Rp. 50.000,- X 4 kelas X 30 siswa = Rp.6.000.000,-/bulan. Tentu saja dana ini masih kurang tapi dapat ditutupi tambahannya oleh yayasan SD Istiqamah yang memperoleh training pengajaran bahasa Inggris bagi guru-gurunya setiap hari sore hari setelah siswa pulang pada jam 15:00.
Ketika saya sampaikan bahwa sekolah anak saya mungkin berminat untuk mengontrak seorang guru bahas Inggris berpengalaman Pak Ting menyatakan bersedia membantu untuk mencarikan dengan membukakan lowongan di koran lokal yang tentunya biayanya akan ditanggung oleh user.

Saya ingin melemparkan ide ini kepada rekan-rekan di SD Istiqamah Balikpapan. Jika kita ingin benar-benar meningkatkan mutu pengajaran bahasa Inggris di sekolah kita maka kesempatan ini sangat menarik untuk dicobakan. Saya, bersama pengurus dan anggota Komite Sekolah tentunya, mungkin dapat meyakinkan para orang tua siswa kelas 5 dan 6 untuk menambah iuran sekolah Rp. 50.000,-/bulan untuk memperoleh tenaga pengajar bahasa Inggris dari Malaysia. Itu kalau yayasannya mau meresponnya lho!. Kalau tidak, maka ide ini akan tetap menjadi sekedar ide.

SD

Iklan