macet.gifBagi orang yang tidak tinggal dan bekerja di Jakarta kata ‘Macet’ mungkin tidak begitu bermakna. Tapi bagi orang yang tinggal dan bekerja di Jakarta maka kata ‘Macet’ memiliki makna yang sama intensnya dengan kata ‘makan’, ‘nongkrong’, ‘bekerja’, dll.
Saya tidak tinggal di Jakarta tapi sekarang bekerja disana dan hampir setiap minggu terbang ke Jakarta untuk bertugas. Meski diusahakan agar hotel dimana saya diinapkan tidak terletak jauh dari kantor saya bekerja di Sudirman tapi saya tetap harus menggunakan taksi untuk ke pulang pergi ke kantor. Saya hanya berjalan kaki kalau menginap di Sahid yang terlalu dekat untuk naik taxi. Tapi saya lebih memilih Atlet Century karena suasananya yang lebih ‘familiar’ dan lebih dekat kemana-mana.
Meski demikian dekatnya hotel saya menginap dan kantor saya bekerja tapi saya tetap mengalami macet ketika pulang kantor. Sebetulnya jalan Sudirman sangat jarang macet dan hanya tersendat sesekali karena jalan tersebut termasuk jalur ‘three in one’ dan taxi boleh meluncur disitu kapan saja.

Kemacetan justru terjadi dari depan gedung saya bekerja sampai mau masuk ke jalan Sudirman. Jaraknya hanya sekitar 200 meter sampai masuk ke jalan Sudirman tapi macetnya minta ampun…! Rasanya
hampir setiap jengkal jalanan dipenuhi oleh kendaraan berbagai macam mulai dari sepeda motor yang jumlahnya ratusan sekali lepas dari lampu merah dan masuk menyelip-nyelip ke setiap ruang kosong, bis-bis besar yang membuat jalan kecil langsung jadi terasa begitu sesak, berbagai macam mobil dari yang kusam sampai yang mewah, dan mobil-mobil boks yang tidak mau kalah ikut mendesak dari kiri dan kanan. It’s sometimes amazing to see bagaimana mereka bisa menempatkan kendaraan mereka begitu rapat tapi tidak sampai bersenggolan! Tentu saja sesekali kita menemukan kendaraan yang bersenggolan sehingga membuat mereka
bertengkar dan semakin memacetkan jalanan. Tapi saya harus mengacungkan dua jempol pada para pengendara di Jakarta yang begitu ahli menyodokkan ujung kendaraannya pada ruang kosong di depan atau disamping mereka meski menurut perhitungan saya (yang tidak tinggal dan berkendara sendiri di Jakarta) adalah tidak mungkin masuk. But they manage every time!
Karena tidak pernah mengalami macet yang parah, dan juga tidak perlu kesana kemari dengan janji temu dengan siapa pun (paling banter cuma ke Depdiknas di Cipete) maka saya selalu bisa menikmati macetnya jalanan di Jakarta. Bisa jadi hiburan bagi saya melihat begitu banyaknya kendaraan dimana-mana. 🙂 Begitu masuk jalan Sudirman taxi saya akan meluncur, berputar balik di bundaran patung apa namanya dan masuk ke Senayan. No sweat! Paling banter saya akan bayar dibawah 20 ribu rupiah.
Tapi beberapa hari pada bulan puasa ini kemacetan menjadi semakin parah sehingga bahkan jalan Sudirman macet pada dua arah. Kendaraan benar-benar tidak bergerak. Ini baru yang disebut macet! You stop completely and can do nothing. Saya juga tidak bisa menebak-nebak apa yang terjadi di depan sehingga membuat semua kendaraan berhenti total.
Kecuali busway tentunya! Busway tetap melaju kencang di jalurnya. Mak wuuuus…! Bukan main enaknya kalau bisa seperti itu! Sementara kami terpaku di kendaraan kami masing-masing. Saya mulai senewen. I’m not a Jakartan and it shouldn’t happen to me.
Saya melirik ke argometer… wuih! ternyata sudah 22 ribu lebih. Saya tidak tahu berapa yang harus saya bayar jika sampai di hotel nanti.

Belum ada tanda-tanda kendaraan di depan taxi saya bakal bergerak. And the argometer is still ticking of course…!
Akhirnya saya mengambil keputusan untuk turun dari taxi dan berjalan kaki saja. Saya ambil uang di dompet 25 ribu dan saya serahkan ke sopir. “Saya turun di sini saja.” Kata saya. Saya lantas berjalan dan menyeberang jalan lewat jembatan dan meneruskan perjalanan ke hotel jalan kaki. Sementara itu saya perhatikan dari atas jembatan kemacetan belum juga terurai. Saya bersyukur mengambil keputusan untuk turun dan jalan kaki tadi. Masalahnya bukan hanya berapa banyak uang yang harus
saya bayarkan untuk taxi saja tapi doing nothing or bengong not knowing what to do justru yang menjadi concern saya. Saya memang tidak tahan dengan segala hal yang dead-lock. I’m a man of action. Saya selalu segera mengambil keputusan dan tidak suka membiarkan masalah menggantung tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Suatu tanda ketidaksabaran memang. Tapi saya selalu menghibur diri saya sebagai orang yang selalu berani mengambil keputusan pada saat apa pun. Mungkin keputusan yang saya ambil bukan keputusan yang paling baik tapi…who knows? Bisa saja justru keputusan yang paling tepat. Selalu ada plus
minus dalam hidup ini.

Sesampai di hotel yang nyaman dan leyeh-leyeh di ranjang hotel yang king-size saya kembali teringat pada situasi macet tersebut. Betapa banyaknya waktu, energi, biaya dll yang terbuang percuma dalam kemacetan tersebut. Dan kita benar-benar tidak berdaya dengan itu semua. Kemacetan adalah masalah akut bagi penduduk Jakarta (dan kota-kota besar lainnya) yang sampai saat ini belum bisa diselesaikan. Begitu banyak orang pintar, berkuasa, dan uang yang berlimpah tapi ternyata tak juga mampu menyelesaikan satu masalah ini.

Pikiran saya kemudian nggladrah kemana-mana. Saya membayangkan kemacetan yang lain. Dalam hidup kadang-kadang kita juga mengalami kemacetan. Pekerjaan dan karir kita terkadang juga macet dan kita juga tidak tahu harus berbuat apa. Sesekali pekerjaan dan karir kita melaju seperti di jalan tol tapi kemudian ada saat pekerjaan dan karir kita mengalami kemacetan meski kita berada di jalur ‘three in one’. Seandainya itu terjadi, apakah kita bisa mengambil keputusan untuk turun dan jalan kaki saja (apakah kita punya pilihan untuk itu)?
Ataukah kita akan membiarkan diri kita terjebak pada situasi yang ada dan membiarkannya mengalir mengikuti arus (dan kalau arusnya terhenti kita juga ikut berhenti)? Saya jadi teringat pada ribuan orang yang hidupnya tiba-tiba mengalami
kemacetan total yang tidak pernah diduganya seperti dalam kasus lumpur Lapindo. Masya Allah! Itu benar-benar kemacetan total yang menimpa puluhan ribu manusia yang sampai sekarang tidak ada jawabnya juga [1]
dan katanya lumpur baru akan berhenti 31 tahun kemudian. [2] ). Lebih parah lagi adalah bahwa mereka tidak pernah tahu dan tidak pernah sadar bahwa hidup mereka tiba-tiba saja bisa macet begitu. Kemacetan hidup yang tidak pernah diduga sebelumnya sehingga mereka juga tidak pernah mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Seandainya pun mereka telah
tahu sebelumnya, mampukah mereka menghadapi kemacetan hidup macam begitu? Membayangkan ini tiba-tiba pikiran saya menjadi buntu. Seandainya saya disana saya mungkin tidak akan bisa mengambil keputusan untuk turun dari kendaraan yang membawa saya dan just take a walk to continue my life. It’s not that simple.

Sayup-sayup terdengar adzan tanda waktu maghrib dan berbuka puasa telah tiba. Saya menyambar green-tea dan mereguk isinya. Begitu dingin dan segar…! Alangkah senangnya bisa berbuka puasa dengan sesuatu yang menyegarkan. Ketika hendak meneguk keduakalinya tiba-tiba saya teringat pada penduduk Sidoarjo yang terkena bencana lumpur tersebut. Bagaimana cara
mereka melewatkan Ramadhan dan berbuka puasa ya…? Bukankah rumah-rumah mereka telah terendam lumpur…? Saya terhenyak dan tidak mampu meneguk untuk keduakalinya.

Melalui tulisan ini saya hendak menyampaikan simpati saya yang dalam sekali lagi pada penduduk Sidoarjo yang terkena bencana lumpur dan pada semua orang yang mengalami ‘macet’ dalam hidupnya. May God Bless You All! May Ramadhan Bring You Happiness.

Jakarta, 4 Oktober 2007
Satria Dharma