“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, mereka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikulllah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.
(Al-Ahzab :72)

Ayat ini selalu membuat saya penasaran dan bertanya-tanya setiap kali membacanya. Saya sering bertanya dalam hati apa maksud Allah dengan ayatnya ini. Mengapa manusia yang bersedia menerima amanat – yang bahkan langit, bumi dan gunung pun takut untuk menerimanya – justru dikatakan sebagai mahluk yang zalim dan bodoh? Mengapa Allah tidak justru memberi ‘penghargaan’ kepada orang-orang yang bersedia untuk menerima amanat, yang bahkan mahluknya yang lain takut dan menolak untuk menerimanya? Bukankah setiap dari kita itu ditunjuk untuk menjadi khalifah, menjadi pemimpin, yang artinya mendapat amanat untuk memimpin dan mengelola alam ini? Lantas mengapa manusia yang bersedia menerima amanat lantas disebut zalim dan bodoh? Syukur-syukur kita sebagai manusia sudah bersedia menerimanya! Demikian pikir saya yang naif ini.
Itu adalah salah satu ayat Al-Qur’an (dari banyak sekali ayat) yang tidak saya pahami maknanya. Ayat-ayat yang tidak saya pahami maknanya dan menimbulkan pertanyaan saya beri tanda tanya di AlQur’an saya dan berharap suatu saat saya akan memahaminya. Sampai suatu ketika saya membaca koran dan membaca berita di koran.


Kemarin saya membaca berita tentang seorang teman yang merupakan redaksi dari koran tersebut yang nampaknya sedang didorong-dorong untuk menjadi calon orang kedua di Kaltim, alias calon wakil gubernur, mendampingi seorang calon kuat untuk memenangkan pemilihan gubernur. Hal ini terutama karena saingan beratnya masih belum lolos dari jeratan hukum karena tuduhan korupsi. Dengan menjadi calon wakil dari tokoh ini tentu saja kemungkinan besar untuk menang sangat besar. Dan, masya Alah!, bukan main banyaknya orang yang berharap untuk dapat mendampingi beliau maju ke pemilihan gubernur tersebut. Siapa yang tidak tergiur untuk dapat mendampingi calon kuat ke tangga kekuasaan? Teman redaktur itu pun nampaknya tergiur untuk dapat ’bermain’ di wilayah politik dan menunjukkan keinginannya menjadi ’the second man’ di propinsi. Ini tentu lompatan yang luar biasa. Mungkin semacam ’quantum leap’ dalam karir seseorang. Dan ia telah belajar melihat beberapa seniornya yang juga telah meniti jalan yang sama. Bekas bosnya saat ini telah menjadi wakil walikota di kota kami. Seorang redaktur dari koran satu groupnya di Surabaya juga telah menjadi wakil walikota. Seems like politics is the next step for a journalist. Right? Jadi siapa tahu ia bisa menjadi wakil gubernur? Bukankah peluang untuk menjadi apa saja sangat terbuka di negara Indonesia yang sangat demokratis ini? Bahkan di TV pun saya melihat betapa seorang bekas rektor PTN di Jawa Tengah melamar Bupati Rustriningsih agar dapat menjadi pasangannya dalam pemilihan gubernur di Jawa Tengah karena tahu betapa besarnya pengaruh Ibu Bupati ini di mata masyarakat dan partai politik yang berkuasa. Kekuasaan adalah godaan yang sangat sulit untuk ditolak. Siapa yang tidak ingin menjadi bupati, walikota, atau gubernur? Bukankah dengan kekuasaan yang digenggamnya maka semua impian, khayalan, harapan, kemauan yang selama ini tidak dapat dipenuhi akan dapat diraih?
Tapi tunggu dulu! Bukankah kekuasaan juga merupakan amanat yang bukan main beratnya bagi siapa pun yang memegangnya? Kekuasaan sebagai pemimpin adalah amanah yang tidak main-main beratnya. Dan bagi mereka yang percaya pada hari akhir tentu sadar bahwa jika mereka tidak dapat memenuhi amanat tersebut, dan sebaliknya justru menggunakannya untuk kepentingan pribadi, maka nerakalah bagiannya kelak di akhirat. Neraka, man! Bukan main-main. Sedangkan masuk penjara saja rasanya sudah tidak terperikan penderitaannya. Apalagi ini neraka yang beyond imagination dahsyatnya. Itulah sebabnya mengapa para sahabat di jaman Rasululah dan Khulafaur Rasyidin dahulu tidak ada yang bersedia untuk menerima amanat untuk menjadi pemimpin, baik itu sebagai gubernur atau jabatan lain apa pun. Mereka menolak keras setiap jabatan yang ditawarkan pada mereka karena tahu betapa beratnya konsekuensi dari kegagalan mereka dalam menerima amanah. Mereka takut akan justru masuk neraka karena menerima jabatan tersebut. Mereka tahu bahwa dengan menerima amanat untuk menjadi pemimpin maka besar kemungkinan bahwa mereka akan gagal mempertanggungjawabkannya kelak di akhirat. Mereka takut mengkhianati amanat tersebut. Padahal mereka adalah orang-orang yang alim dan soleh belaka! Ketaatan mereka pada perintah Tuhan dan sunnah Rasul tak usah diragukan lagi. Mereka adalah tangan-tangan pertama yang menerima ajaran moral dari Rasul, the Best Man in the World ever! Tapi mereka takut menerima resiko dan konsekuensi menjadi pemimpin. Mereka sampai harus dibujuk dan dipaksa, ya dipaksa!, agar mau menerima amanah tersebut. Mereka adalah orang-orang yang cerdas!
Orang-orang yang menguber dan mendambakan ’amanat’ sejatinya adalah orang-orang yang bodoh. Mereka tidak paham betapa besarnya konsekuensi dari manah yang mereka terima tersebut. Mereka tidak tahu betapa panjangnya proses yang akan mereka lalui dalam mempertanggungjawabkan amanah tersebut kelak di akhirat. Itu pun kalau mereka berhasil lolos dari skrutini yang luar biasa njelimet dan rincinya. Padahal para tersangka korupsi yang diperiksa berjam-jam saja di kantor polisi sebagian besar terpaksa harus digotong ke rumah sakit karena tidak tahan dengan penderitaannya. Apatah lagi kelak di akhirat.
Tapi mengapa manusia yang katanya mengaku beriman dan tahu konsekuensi tersebut justru berbondong-bondong menguber amanat dan bahkan menggunakan segala macam cara agar dapat memperoleh amanat tersebut? Ya karena bodoh! Sudah tahu bahwa amanah tersebut bakal menyulitkan mereka kelak di akhirat dan bahkan cenderung akan membuat mereka masuk neraka tapi mereka justru menginginkannya. Apa namanya itu kalau bukan kebodohan? Bodoh karena dengan sukarela mau mencelakakan diri. Orang yang pintar tentu akan berusaha menghindarkan diri dari kecelakaan dan kerugian yang fatal semacam ini. Bagaimana kita bisa tahu bahwa kita PASTI akan bisa memegang amanat tersebut dengan baik tanpa tergelincir dalam kesalahan dalam memimpin dan mengkhianati amanat tersebut? Sedangkan orang yang pintar macam Habibie saja dianggap ’gagal’ dalam memimpin. Suharto tak usah ditanya. Padahal ia dianggap sebagai orang yang luar biasa karismatik dan bijak. Bahkan Gus Dur yang dianggap sebagai pentolan ulama dan diagung-agungkan sebagai ‘setengah wali’ oleh pengikut fanatiknya ‘digulingkan’ karena dianggap ‘tidak mampu melaksanakan amanat’. Lantas kualitas dan kualifikasi manusia macam apa yang kira-kira dianggap ‘mampu memegang amanat’? Saya tak habis pikir mengapa teman saya yang redaktur koran tersebut menganggap dirinya ‘kualifait’ untuk menjadi wakil gubernur? What the heck is in his mind that he thinks he is capable of being a vice governor? Tak sadarkah dirinya betapa besar amanat yang ia impikan tersebut? Tak tahukah ia betapa besar kemungkinan ia gagal memenuhi amanah tersebut? Darimana kira-kira ia memperoleh ide bahwa ia, meski seorang redaktur koran yang cakap, layak dan kapabel untuk menjadi wakil gubernur sebuah propinsi besar macam Kaltim? Memikirkannya saja telah membuat saya gemetar seperti gemetarnya langit, bumi dan gunung-gunung ketika ditawari amanat tersebut. Ya. Tuhan! Jangan sampai saya mendapat amanah yang tak terperikan besarnya itu.
Tapi orang yang bodoh justru berbondong-bondong mendorong dirinya sendiri masuk ke dalam jurang neraka. Ya! Mereka menggunakan segala cara agar mendapatkan amanat tersebut tanpa sadar bahwa itu adalah awal dari kecelakaan yang fatal bagi dirinya kelak di akhirat. Disinilah saya baru paham apa maksud dari ayat di atas. Sesungguhnya manusia itu bodoh karena mau menerima amanat yang bahkan langit, bumi dan gunung-gunung saja menolaknya. Langit, bulan dan gunung ternyata lebih pintar ketimbang manusia!

Tentu saja penafsiran saya atas ayat tersebut adalah penafsiran pribadi. Penafsiran seseorang yang sangat cetek pengetahuan agamanya dan sama sekali tidak pernah belajar tafsir Al-Qur’an. Kemungkinan saya salah dalam menafsirkan ayat tersebut sangatlah besar. Tapi itu adalah hikmah yang saya peroleh dari membacanya setiap hari.

Balikpapan, 9 November 2007
Satria Dharma