Konferensi Guru Indonesia (KGI) 2007 yang diselenggarakan di Balai Kartini Jl Gatot Subroto Jakarta selama dua hari berturut-turut pada tanggal 27 dan 28 November kemarin brakhir dengan sangat baik. Ini adalah KGI kedua yang diselenggarakan oleh kerjasama Sampoerna Foundation dan Provisi Education dengan jumlah peserta tidak kurang dari 1000 orang dari hampir seluruh pelosok tanah air. Konferensi tahun ini jelas jauh lebih baik, lebih terorganisir, lebih megah, dan lebih berbobot ketimbang KGI pertama yang diselenggarakan pada tahun lalu di arena Jakarta Fair. Pada tahun lalu terjadi kekacauan karena banyaknya peserta yang mendaftar pada saat penyelenggaraan sehingga membuat panitia terkaget-kaget dan sulit untuk menolak karena mereka berdatangan dari daerah-daerah yang jauh dan untuk menolak mereka sungguh tidak tega rasanya. Akibatnya peserta memang melebihi kapasitas ruangan dan banyak peserta yang terpaksa berdiri pada acara pembukaan yang dibuka sendiri oleh Mendiknas pada saat itu. Seperti tahun lalu, peserta kali ini juga berdatangan dari semua penjuru mulai dari Aceh sampai Papua. Ada yang datang sendirian dan dengan biaya sendiri dan ada yang datang berombongan mengenakan seragam PGRI.

Kali ini Mendiknas tidak bisa membuka acara sendiri karena tiba-tiba harus rapat kabinet di istana negara. Tapi hal ini tidak mengurangi bobot dari acara perhelatan besar untuk para guru ini. Dengan tema “Better Community Through Better Education” digelar puluhan sesi baik pada ‘plenary session’, ‘parallel session’ , maupun acara ‘Job A Like’ di ruang-ruang pertemuan Balai Kartini yang megah tersebut. Sungguh menggetarkan melihat para pembicara baik dari dalam maupun luar negeri saling menyampaikan pengalaman dalam mengajar maupun mengelola pendidikan di tempat masing-masing. Ini pengalaman yang sungguh memberikan kepuasan intelektual dan batin bagi para guru yang selama ini disibukkan oleh tugas sehari-hari. Di sinilah para guru dapat menimba ilmu dari para pakar maupun dari sesama guru lain dari berbagai daerah di tanah air dan pulang ke daerah masing-masing dengan rasa puas karena telah tercerahkan.

Materi yang disampaikan pada KGI tahun ini memang lebih luas dan bervariasi. Pembicaranya pun juga lebih bervariasi dengan berusaha untuk mengakomodasi kebutuhan guru-guru dari sekolah internasional maupun sekolah nasional plus sehingga sesi-sesi yang menggunakan bahasa Inggris juga bertebaran. Bahkan sesi-sesi Plenary pada hari kedua hampir semuanya disampaikan dalam bahasa Inggris mengingat para pembicaranya datang dari negara-negara asing seperti Prof Dr Jurgen Zimmer dari Jerman Barat, Rilta-Liisa Gerlander dari Finlandia, Rusli Bin Sakimin dan Datuk Kamal Quadra dari Malaysia, Jude Soper dari Sekolah Academic College Group dan Helen Morschel dari sekolah Ciputra Surabaya. Suasana ini kembali mengingatkan saya pada konferensi SEATCCO (South East Asian Teachers Counselors Conference) yang pernah saya ikuti dulu ketika masih mengajar di Bontang Internastional School bertahun-tahun yang lalu. SEATCCO adalah konferensi bagi para guru sekolah internasional di kawasan Asia Pasifik yang digelar setiap tahun juga dengan tempat bergiliran di negara-negara Asia Pasifik tapi hanya bisa saya ikuti jika diselenggarakan di Jakarta. Konferensi semacam ini adalah sebuah forum bagi para guru untuk saling mengisi dan menginspirasi. Begitu bagusnya sehingga saya bermimpi untuk mengadakan hal yang sama untuk lingkup Indonesia. Saya bahkan masih menyimpan semua materi dan dokumen yang saya peroleh pada acara SEATCCO tersebut dengan harapan suatu saat jika saya ikut menggagas acara yang sama maka dokumen-dokumen tersebut akan sangat bermanfaat. Gagasan ini kemudian saya ajukan ke Ibu Kathryn Rivai di Sampoerna Foundation dan disepakati untuk dilaksanakan tahun lalu. Saya bahkan sempat menjadi moderator sesi plenary dan sekaligus pembaca doa! Acara tahun lalu dibuka sendiri oleh Mendiknas dan DR Fasli Jalal, Dirjen Mutendik Depdiknas, membawa hampir semua direkturnya untuk hadir dan mengisi acara ini. Sebuah acara yang sangat bergenggi! Ini adalah ‘A Dream Comes True’ bagi saya. Tuhan mengabulkan keinginan saya melalui Sampoerna Foundation.

KGI ini sungguh tidak kalah berbobotnya dengan SEATCCO. Hanya satu hal yang tidak dilakukan oleh KGI, yaitu acara tur pada akhir konferensi dan Gala Dinner pada malam harinya. Karena peserta SEATCCO berdatangan dari berbagai negara maka diadakan tur ke berbagai tempat pariwisata di Jakarta dan sekitarnya dan pada malam harinya acara ditutup dengan sebuah Gala Dinner yang mewah dan hidangan yang berlimpah. Sebuah acara ‘mak nyus’ untuk menutup dua hari kegiatan intelektual yang cukup melelahkan. Dua acara ini memang tidak ada dalam KGI tapi apa yang telah dilakukan oleh Sampoerna Foundation dan Provisi ini sudah jauh melampaui harapan saya pada awal gagasan ini saya lemparkan.

Selama dua hari itu saya berusaha untuk mengikuti sebanyak mungkin acara dan presentasi. Untuk itu sejak buku panduan dibagikan saya sudah memilih-milih mana kira-kira acara dan presentasi yang akan saya ikuti. Beberapa pembicara sudah saya kenal dan tahu reputasinya dan ada beberapa pembicara yang sudah jadi langganan sejak KGI 2006 lalu. Jika presentasi yang saya ikuti ternyata tidak menarik maka saya tidak segan-segan untuk keluar dari ruangan dan masuk ke ruangan lain dengan materi yang lain. Sungguh mengasyikkan memilih begitu banyak ‘menu’ hidangan intelektual seperti ini!

Bagaimana kualitas pembicara KGI 2007 ini? Tentu saja jauh lebih baik daripada tahun lalu. Tapi, meski panitia menyatakan bahwa materi yang disuguhkan telah dipilih dengan cermat dan hanya yang benar-benar berbobot saja yang masuk dan lolos, saya mesti menyatakan bahwa beberapa materi ‘fully boring’ dan ada beberapa materi yang hanya promosi terselubung belaka. Saya cepat-cepat keluar jika ternyata presentasi yang saya ikuti ternyata tidak menarik dan bagi saya tidak bermanfaat. Banyak presentasi lain yang bisa saya ikuti. Itu enaknya konferensi semacam ini. Tapi tentu saja banyak peserta yang ‘terlalu sopan’ untuk meninggalkan ruangan meski sadar bahwa materi yang ia dengarkan sebenarnya ‘kurang bermutu’.

Materi yang tidak menarik biasanya karena materinya sudah ‘out of date’ dan pembicaranya tidak memberikan perspektif baru dan hanya merupakan pengulangan belaka, sekedar promosi orang atau produk, ataupun karena gaya pembicaranya yang seolah mendikte siswanya di kelas. Sebuah pendekatan yang sebetulnya dikritik habis-habisan dalam acara konferensi ini. Tapi mungkin masih banyak orang yang berpendapat berbeda dengan saya dan menganggap hal seperti ini justru menarik. Who knows?

Salah satu materi yang saya tinggalkan adalah topik ‘Equipping Children with Life-long Skills’ yang dibawakan oleh Deputy Director Australian Embassy. Jangan mengira pembicaranya seorang bule berdasi dan berwibawa karena ternyata ia seorang gadis muda dengan dandanan casual. Judulnya sangat menarik bagi saya karena Life-long Skills atau penanaman nilai-nilai pada siswa adalah masalah yang sangat penting bagi pendidikan di manapun. Tapi penyampaiannya sungguh membosankan karena ia sekedar membaca makalahnya dan tidak mampu menjalin komunikasi dengan pendengarnya. Saya tahu bahwa ia bukanlah guru tapi berharap mungkin ia pernah mengajarkan apa yang ia sampaikan tersebut di negaranya di Australia dan saya ingin sekali mendengarkan pengalamannya dalam memasukkan kurikulum tentang nilai-nilai yang ia sampaikan tersebut di sekolah di Australia. Tapi ketika saya bertanya apakah ia pernah punya pengalaman dalam mengajarkan hal tersebut di sekolah ia menjawab bahwa ia bukan guru dan tidak punya pengalaman dalam mengajarkannya maka saya langsung saja pamit untuk keluar dari ruangan. Ia tentu tidak paham dengan apa yang ia sampaikan sendiri lha wong ia bukan guru dan juga bukan akademisi yang menekuni masalah pendidikan. Saya langsung bergegas ke Auditorium untuk mengikuti sesinya Ahmad Bahruddin, Pendiri Qaryah Tayyibah Sekolah Alternatif di Salatiga. Meski hanya dapat sedikit tapi cukup untuk mengobati kekecewaan saya pada sesi sebelumnya.

Saya sebenarnya tahu bahwa sesi Ahmad Bahruddin yang akan menjelaskan bagaimana ia mengelola sekolah alternatifnya adalah sangat menarik. Saya pernah mengunjungi sekolahnya (bahkan ratusan akademisi, pengamat, dan guru yang telah berkunjung ke sekolahnya yang fenomenal tersebut) dan sungguh terkesan dengan gagasannya yang brilian itu. Bahkan anak saya yang masih SMP kelas 3 pernah saya titipkan selama satu bulan di desanya yang kecil di Salatiga untuk menikmati sistem pendidikan Qaryah Tayyibah yang luar biasa membebaskannya itu. Anak saya sangat menikmatinya dan sebenarnya ingin tinggal seterusnya di sana. Tapi saya dan istri belum ingin melepaskan anak kami lebih lama sehingga keinginannya kami tolak. Tapi karena saya sudah banyak mengenal Ahmad Bahruddin dan Qaryah Tayyibahnya maka saya memilih topik lain.

Seperti yang saya duga, presentasi Ahmad Bahruddin membuat para peserta tercengang dan seperti baru sadar bahwa ternyata pendidikan berkualitas itu bisa dilakukan dalam kondisi yang paling minim sekali pun selama Anda memahami esensi tentang pendidikan itu sendiri dan mau bersusah payah untuk mewujudkannya. Pemahaman yang luas tentang esensi dan praktek pendidikan, komitmen tinggi dan kerja keras untuk mewujudkannya akan dapat menghasilkan outcome pendidikan yang berkualitas tinggi meski dilakukan dengan fasilitas yang minim sekali pun. Ahmad Bahruddin telah membuktikannya dan banyak orang yang telah terinsipirasi olehnya. Ahmad Bahruddin adalah sebuah fenomena langka dalam anomali pendidikan di Indonesia.
Contoh yang sama dengan setting berbeda adalah apa yang dilakukan oleh Prof Dr Jurgen Zimmer yang mendirikan School for Life di pedalaman Thailand. Dengan bantuan dari jaringannya di Jerman Barat ia mendirikan ‘sekolah tanpa kelas’ bagi anak-anak yang tidak beruntung di pedalaman dan korban Tsunami di Thailand. Apa yang dilakukannya sungguh memberikan inspirasi bahwa setiap anak di setiap tempat sebetulnya berhak untuk mendapatkan pendidikan yang akan membebaskan mereka kelak dari kemiskinan yang menjerat mereka saat ini. Dibutuhkan Ahmad Bahruddin- Ahmad Bahruddin dan Jurgen Zimmer-Jurgen Zimmer baru sebanyak-banyaknya untuk membantu negara-negara sedang berkembang dalam problema pendidikannya.

Selain sesi mereka, sesi yang menarik lainnya adalah sesinya Helen Morschel dari Ciputra School yang berbicara tentang ‘International Education’, sebuah topik yang sedang hot-hotnya di Indonesia sehubungan dengan diluncurkannya program Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (SBI) di seluruh Indonesia dengan biaya begitu besar tapi tidak jelas juntrungannya tersebut. Sebagai seorang pendidik yang telah berkecimpung lama di sekolah-sekolah International Baccalaureate (IB) ia jelas memahami benar esensi dari sekolah dengan sistem pendidikan internasional. Ia mampu menjelaskan apa itu ‘International School’, ‘International Standard of Education’ dan ‘International Education’ dengan sangat baik yang tidak mampu dipahami oleh Depdiknas.

Bagi saya sesi ini sangat baik untuk membuka mata para guru dan kepala sekolah yang selama ini dibingungkan dengan istilah dan program Depdiknas ‘Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)’ yang diterjemahkan secara sempit sebagai sekolah yang mengajarkan materinya dalam bahasa Inggris dan ikut ujian Cambridge itu! Oleh Helen Morschel dengan tegas dikatakannya bahwa itu persepsi yang keliru dan ia tunjukkan apa sebenarnya yang dimaksud dengan ‘Pendidikan Internasional’ itu. Saya akan jelaskan hal ini dalam tulisan tersendiri nantinya.

Apa materi yang paling menarik bagi saya? A breath taking presentation justru dibawakan oleh sobat muda saya Jalu Noor Cahyanto dan Sopyan Kosasih Maolana yang membawa topik tentang “Pemanfaatan ICT dalam Membangun Jaringan Pembelajaran Internasional”. Sungguh memuaskan!

Mereka berdua berkolaborasi untuk menyampaikan pengalaman mereka dalam memanfaatkan ICT dalam pembelajaran mereka di kelas. Mereka menyusun suatu program pembelajaran dengan mengajak siswa-siswa mereka berhubungan dengan siswa-siswa lain dari berbagai negara melalui internet. Melalui portal http://www.englishclub.com, http://www.learn.org, http://www.aec.asef.org, dan http://www.epals.com mereka mengajak siswa-siswa mereka belajar secara berkolaborasi dengan siswa-siswa dari berbagai negara melalui internet. Dulu saya anggap itu hanya bisa dilakukan oleh para guru sekolah internasional dengan fasilitas yang berlimpah tapi apa yang mereka sampaikan sungguh membuat saya tercengang. Ternyata Sopyan guru SMP Negeri 3 Bogor mampu membawakan program pembelajaran intenasional dengan sangat baik meski hanya memanfaatkan internet sekolah seadanya dan warnet yang tersedia di sekitar! Tak salah jika mereka berdua pernah memenangkan kompetisi untuk menimba ilmu di manca negara. Jalu yang kini bekerja sebagai trainer di Sampoerna Foundation Teacher Institute pernah mengikuti tiga bulan training di Amerika Serikat sebelumnya dan Sopyan pernah memenangkan kompetisi penyusunan program pembelajaran internasional di Yunani. Materinya bahkan menduduki peringkat pertama dari semua materi yang masuk dari seluruh dunia! Bagi saya mereka adalah model sosok guru Indonesia masa depan. Masih muda, cerdas dan penuh percaya diri, bahasa Inggrisnya bahkan lebih bagus dari kebanyakan guru bahasa Inggris yang saya kenal (padahal mereka bukan berasal dari jurusan bahasa Inggris), menguasai dan menggunakan ICT dalam proses KBM dengan sangat baik, mempunyai jaringan dengan para guru dari berbagai negara dan mampu mengajak siswa mereka untuk mulai berkomunikasi dengan sesama siswa dari berbagai negara. Mereka juga guru-guru muda yang berpandangan positif, santun dan rendah hati belaka. Apa yang mereka lakukan sungguh inspiratif dan membukakan mata bagi para guru yang mengikuti presentasinya. Inilah guru ideal bangsa Indonesia di masa depan! Saya sungguh bangga mengenal mereka. Seandainya saja Indonesia mampu mencetak guru-guru sekaliber mereka sebanyak-banyaknya maka dunia pendidikan Indonesia saya jamin cerah. Tak usah kuatir bersaing dengan negara-negara lain yang sudah jauh mendahului kita.

Hal yang menarik lainnya dari acara konferensi ini adalah bahwa saya bertemu dengan beberapa orang yang sebelumnya sudah saling berkomunikasi melalui milis-milis yang saya ikuti baik di milis sd-islam, CFBE, keluarga UNESA, ataupun milis lain tapi baru bertemu pada saat itu. Contohnya adalah Zamzam dan Ibu Nunny B. dari milis sd-islam dan Dina Mufidah dari Keluarga UNESA. Ketika saya sodorkan kartu nama saya mereka lantas bilang “Oh! Saya sudah kenal Anda di milis.” Lantas mereka menyebutkan milis mana yang mereka maksud. Ternyata aktif di milis itu ada untungnya juga.

Sebenarnya saya memang mengenal cukup banyak guru yang datang karena semua sekolah yang ikut program USP (United School Program) Sampoerna Foundation mengirimkan beberapa orang guru dan kepala sekolahnya. Bahkan beberapa kepala Dinas Pendidikan yang saya kenal seperti Pak Sardjono dari Balikpapan dan Pak Bambang Pudjiono dari Pasuruan juga hadir dalam acara tersebut. Selain itu hadir juga beberapa perwakilan dari perusahaan-perusahaan yang menjadi sponsor acara ini, termasuk Pak Edward Gerungan Presdir BHP Biliton dan wakil Bupati Aceh Utara. KGI ini memang acara untuk semua yang perduli pada pendidikan Indonesia yang lebih baik di masa depan.

Two thumbs up untuk Sampoerna Foundation dan Provisi Education. KGI is a magnificent thing to do.

Jakarta, 29 November 2007
Satria Dharma

Iklan