img.jpgMeski belum ada riset secara nasional, fakta di lapangan jelas-jelas menunjukkan bahwa Ujian Nasional yang diselenggarakan oleh pemerintah mau tidak mau membuat pembelajaran ilmu-ilmu sosial yang tidak diujikan menjadi mengkeret (squeezed) di sekolah-sekolah menengah. Hal semacam ini tentu saja sudah merupakan konsekuensi logis dari tidak mengkutsertakan ilmu-ilmu sosial pada ujian nasional, apalagi yang menjadikan nilai UNAS sebagai syarat kelulusan. Ilmu-ilmu sosial termarginalkan oleh kebijakan UNAS tersebut.

Bagaimana bentuk pemarginalan ilmu-ilmu sosial tersebut? Yang jelas kita lihat adalah menyusutnya jam-jam pelajaran ilmu sosial di sekolah-sekolah. Hal ini bahkan nampak sangat ekstrim ketika siswa berada di tingkat terakhir dimana mereka harus mempersiapkan diri untuk mengikuti UNAS nantinya dimana sekolah bahkan telah menghapus pelajaran ilmu-ilmu sosial di kelas 3! Dengan menjadikan ilmu-ilmu sosial tidak diujikan bersama dengan ilmu-ilmu yang lain artinya secara terstruktur pemerintah telah menjadikan ilmu-ilmu sosial sebagai ’second class importance’. Sebuah pengingkaran terhadap pentingnya ilmu-ilmu sosial dalam kehidupan.

Apa bahayanya jika ilmu-ilmu sosial diabaikan dan diperlakukan secara marginal? Kita akan berada dalam bahaya kehilangan generasi yang memiliki landasan pemahaman demokrasi yang kuat, dan hanya akan menciptakan generasi yang terdidik secara parsial, tidak terdidik secara utuh dan holistik. Dan ini suatu kerugian besar.

Contoh mengenai hal ini bisa dilihat di AS dengan kebijakan NCLB (No Child Left Behind) yang lebih mementingkan pada penguasaan bahasa dan matematika sehingga mengakibatkan menciutnya kurikulum ilmu-ilmu sosial. Beberapa negara bagian di AS telah mulai mengenyahkan pelajaran ilmu sosial dari kurikulumnya di sekolah dasar dan sekolah menengah. Banyak siswa yang tidak memperoleh pelajaran ilmu sosial sampai kelas 10! Bahkan para guru baru ilmu sosial kesulitan untuk mencari tempat magang dan bahkan untuk sekedar mengamati praktek pembelajaran ilmu sosial di beberapa negara bagian AS. Akibatnya, bukan hanya materi ilmu-ilmu sosial menjadi menciut dan tidak dipelajari lagi di sekolah tapi elemen dari pembelajaran yang penuh pemikiran dan reflekstif dari ilmu-ilmu sosial jadi menghilang. Allan Kullen, President People of America Foundation bahkan menyatakan bahwa hal ini dapat menyebabkan ‘A New Crisis in America’s School’. Ia mengutip David McCullough, pemenang the Pulitzer Prize penulis biografi Truman and John Adams yang menyatakan bahwa jika kecenderungan menciutnya pembelajaran ilmu-ilmu social di sekolah tidak diperhatikan akan dapat membawa dampak besar. “We are losing our story, forgetting who we are and what it’s taken to come this far . . . . Our story is our history, and if ever we should be taking steps to see that we have the best prepared, most aware citizens ever, that time is now,”, alias Amerika akan kehilangan jati diri kata McCullough.

Selama ini kita sudah mengeluhkan betapa kualitas pembelajaran ilmu-ilmu sosial menjadi begitu kering dan tak bermakna. Guru-guru ilmu sosial hanya mengajarkan fakta-fakta dan meminta murid mereka sekedar menghafalkan fakta-fakta tersebut tanpa berusaha untuk memperoleh hikmah dan pemahaman yang mendalam tentang apa dibalik fakta-fakta tersebut. Para guru ilmu-ilmu sosial juga tidak menemukan alasan apalagi misi untuk menjadikan ilmu yang diajarkannya sebagai sumber kebijaksanaan dalam menjawab tantangan berabgai masalah social di masa depan. Mereka hanya menjejali otak siswa-siswa mereka dengan tumpukan fakta tanpa makna dan kini mereka memperoleh pembenaran. Bukankah ilmu-ilmu sosial tidak diujikan secara nasional yang berarti tidak penting? Jika ia tidak penting maka para guru ilmu-ilmu sosial tidak menemukan alasan untuk apa mengajarkan ilmu-ilmu tersebut dengan sebaik-baiknya. Ilmu-ilmu sosial pada akhirnya hanya akan menjadi sekedar usus buntu yang sewaktu-waktu bisa kita potong karena mengganggu. Kita telah membunuh ilmu-ilmu sosial di sekolah-sekolah kita dan kita juga mematikan karir guru-guru ilmu sosial.

Saat ini sungguh sulit untuk menemukan guru-guru ilmu sosial yang berkualitas. Sekolah-sekolah tidak perduli dan pemerintah juga tidak perduli. Mereka toh hanya sebagai pelengkap dalam kurikulum. Jadi siapa yang perduli apakah pembelajaran ilmu sosial kita berkualitas atau tidak? Siapa yang perduli apakah para guru ilmu sosial berkualitas atau tidak? Mengajar dengan penuh semangat dan inspiratif? Tak ada yang perduli saat ini. Perhatian kita semua tertuju pada bidang-bidang yang diujikan pada UNAS.

Apa yang terjadi jika hal ini kita biarkan? Mari kita lihat pada apa yang terjadi di Amerika dimana program NCLB juga telah menciutkan ilmu-ilmu sosial. Berdasarkan survei di Amerika :

  • Lebih dari separoh siswa SMU tidak bisa menyebutkan negara-negara mana saja yang terlibat dalam PD II. Tragis mengingat AS merupakan negara utama yang terlibat.
  • Siswa AS berada di peringkat kedua terbawah dalam survei di sembilan negara dalam penguasaan ilmu-ilmu sosial.
  • Meski negaranya berperang di Iraq dan Afganishtan 87% siswa tidak dapat menemukan letak Negara Iraq dan 83 % tidak tahu letak Negara Afganishtan di peta!
  • 40% siswa tidak tahu pertengahan abad yang mana Perang Sipil di Amerika terjadi.

Meski belum pernah ada survei tentang kemampuan siswa sekolah menengah kita dalam ilmu sosial tapi diyakini bahwa hasilnya tentu tidak akan lebih baik daripada di AS. Bahkan ada seorang teman guru yang berani bertaruh bahwa lebih dari 50% siswa sekolah menengah tidak tahu berapa propinsi sekarang yang ada di Indonesia!

Apakah benar bahwa ilmu sosial tidak penting bagi siswa-siswa kita? Tentu saja itu tidak benar. Semakin intensnya permasalahan politik dan sosial di negara kita dari hari ke hari justru semakin meneguhkan betapa pentingnya pemahaman akan pentingnya peran sejarah, politik, dan budaya pada siswa-siswa kita sebagai pemegang estafet kepemimpinan di masa depan.

Ilmu-ilmu social tidak boleh ‘dimatikan’ di sekolah-sekolah kita dan justru harus diperkuat dengan pembelajaran yang berkualitas yang merangsang siswa untuk berpikir kritis dengan menelaah sejarah, budaya, dan politik yang telah dan sedang terjadi saat ini. Hanya dengan pembelajaran ilmu sosial yang bermakna dan berkualitaslah kita bisa menghasilkan pemimpin-pemimpin masa depan yang mampu menyelesaikan permasalahan bangsa dengan secara holistik dan komprehensif. Siswa yang buta ilmu sosial pada akhirnya hanya akan menghasilkan pemimpin-pemimpin yang tak mampu menghasilkan keputusan yang tepat bagi bangsa kelak.

Sudah saatnya para ilmuwan ilmu-ilmu sosial turun dan membuat riset tentang dampak menciutnya kurikulum dan merosotnya kualitas pembelajaran ilmu-ilmu sosial ini di sekolah-sekolah menengah dan berusaha untuk mencari solusinya. Jika tidak maka kita akan mengalami masalah kehilangan jati diri yang jauh lebih buruk daripada yang dihadapi oleh AS tanpa tahu apa yang terjadi.

Jakarta, 23 Desember 2007
Satria Dharma
Direktur
Centre for the Betterment of Education (CBE)
JAKARTA