KeberagamanMengajarkan keberagaman melalui pendidikan multikultural semakin penting bagi bangsa Indonesia guna meminimalisasi dan mencegah terjadinya konflik di beberapa daerah. Melalui pendidikan berbasis multikultural, sikap dan pola pikir siswa akan lebih terbuka untuk memahami dan menghargai keberagaman. Selain itu pendidikan multikultural bisa menanamkan sekaligus mengubah pemikiran peserta didik untuk benar-benar tulus menghargai keberagaman etnis, agama, ras, dan antargolongan.

Sikap menghargai keberagaman harus mulai ditanamkan di sekolah. Sebenarnya, sekolah adalah tempat menghapuskan berbagai jenis prasangka yang bertujuan membuat siswa terkotak-kotak sehingga sekolah harus bebas diskriminasi.
Bagaimana mengajarkan keberagaman pada anak? Cara paling murah mungkin dengan menggunakan krayon. Krayon? Ya. Ide ini dilakukan oleh Kim Troncone di Veterans Memorial Elementary School pada siswa-siswa SD kelas 1 yang diajarnya. Inspirasi ini diperolehnya dari Martin King Luther Jr.

Sekedar untuk mengingatkan, Martin Luther King (15 Januari 1929 – 4 April 1968) adalah seorang pendeta penerima Nobel dan aktivis HAM. Dia adalah salah seorang pemimpin terpenting dalam sejarah AS dan dalam sejarah non-kekerasan pada zaman modern, dan dianggap sebagai pahlawan pencipta perdamaian dan martir oleh banyak orang di seluruh dunia.

King berjuang melawan diskriminasi rasial. Dalam seluruh aksinya, ia mengikuti prinsip-prinsip Mahatma Gandhi untuk menghindari kekerasan. Untuk beberapa tahun, ia membuat kesuksesan besar, tetapi secara berangsur-angsur orang-orang kulit hitam muda untuk menjauhinya karena mereka tidak dapat menerima paham antikekerasannya dan. Sebaliknya, King tidak pernah berhenti dan sebaliknya semakin meluaskan programnya. Untuk lebih jauh lihat di http://id.wikipedia.org/wiki/Martin_Luther_King,_Jr.

Bagaimana Kim Troncone mengajarkan pentingnya keberagaman dengan menggunakan media krayon?
Ketika siswa-siswa siap untuk menggambar mereka membuka kotak krayon dan terheran-heran karena hanya menemukan satu batang krayon! Mereka hanya mendapat satu karyon masing-masing dan mereka harus menggambar hanya dengan satu batang krayon tersebut. Ini adalah awal dari pelajaran tentang keberagaman.
Sean Aubrey mencoba sebisanya menggambar dengan hanya satu krayon. Tak lama kemudian ia langsung berkomentar,:”Satu krayon tidak asyik. Tidak banyak yang bisa kita lakukan dengan satu krayon.”
Krista dapat krayon warna hijau dan bisa menggambar lebih banyak, seperti rumput, anggur, dan bahkan mahkota. Tapi ia tidak bisa berkreasi lebih banyak lagi.
Kim kemudian memberi mereka sisa krayon yang lain.
Tak lama kemudian siswa dapat menggambar jauh lebih banyak dan lebih menyenangkan. Mereka bisa menggambar mobil biru, tempat bermain, tempat bermain gantung, dan pohon. Dengan krayon yang lengkap mereka bisa menggambar jauh lebih banyak, lebih baik, dan lebih mengasyikkan.

Setelah itu mereka membaca buku “The Crayon Box that Talked” oleh Shane DeRolf, yang menunjukkan bagaimana semua warna dalam kotak dapat berteman dan bekerjasama.
“Pada mulanya masing-masing krayon tidak suka satu sama lain.” kata Emily. ”Tapi akhirnya mereka saling menyukai satu sama lain. Masing-masing krayon punya kelebihan.” tambahnya. Pada mulanya Emily hanya punya satu krayon warna hitam dan ia hanya bisa menggambar tenda berwarna hitam.
Mereka juga mesti mengisi poster besar yang berbunyi,” Impian saya adalah …” dan mereka mengisinya dengan kata-kata,:” Orang berkulit coklat dan putih bermain bersama di taman bermain.”, “punya teman yang berbeda denganku.”, “Dr. King (Martin Luther King) hidup lagi”, dll.

Berikutnya mereka diminta untuk bercerita dan menyampaikan apa yang membuat mereka berbeda dengan yang lain, seperti warna mata, warna rambut, dll. tapi yang lebih penting adalah menyampaikan apa yang membuat mereka sama antara satu dengan yang lain.
Krista berkomentar,:”Menjadi lain adalah luar biasa.”. Suatu tanda bahwa siswa dapat menerima keberagaman tanpa harus merasa terkucil atau diperlakukan berbeda.

Balikpapan, 7 Februari, 2008
Satria Dharma