Dear all,
Banyak diantara kita umat Islam yang selalu melihat ‘Barat’ dengan pandangan curiga, marah dan bahkan benci. Seolah (negara-negara) Barat adalah musuh bagi Islam dan patut diperangi dan minimal dimusuhi atau dijauhi. Negara Amerika Serikat pun kita jadikan sebagai representasi dari negara ‘Barat’ keji yang kita anggap sebagai negara yang ingin menghancurkan Islam baik dari dalam maupun dari luar.
Memang benar bahwa pemimpin-pemimpin AS sering mengeluarkan kebijakan yang sewenang-wenang terhadap negara-negara Islam. Bahkan Bush menyerang negara Afganishtan dan Iraq yang merupakan negara Islam dan hal tersebut merupakan kejahatan dari sebuah negara adidaya kepada negara lain.

Tapi perlu diingat bahwa itu semua adalah politik yang memang bisa sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan. Politik yang kejam tidak mengenal agama. Ia bisa terjadi dimana saja bahkan pada masa Khalifaur Rasyidin. Ingatkah kita betapa Khalifah Usman dan Ali juga dibunuh dengan keji oleh lawan politiknya yang notabene adalah sesama umat Islam? Cucu Nabi bahkan diracun dan dipenggal kepalanya oleh sesama umat Islam karena politik yang haus kekuasaan.
Apakah penyerangan ke Afganishtan dan Iraq merupakan representasi dari kebencian rakyat Amerika kepada Islam sebagai agama. Tentu tidak. Boleh dikata Islam bahkan tidak banyak dikenal oleh rakyat Amerika. Justru banyak mispersepsi tentang Islam yang digambarkan sebagai agama teror karena dunia selalu disodori oleh orang-orang yang menggunakan agama Islam sebagai motif pembunuhan berkedok agama. Osama bin Laden, Imam Samudra, Dr. Azahari, dll selalu dijadikan representasi dari ajaran Islam yang menghalalkan pembunuhan orang-orang sipil tak bersalah. Banyak orang Barat awam yang akhirnya menganggap Islam sebagai agama teror.

Tapi tentu saja banyak juga yang benar-benar mau mengenal dan mempelajari Islam dan justru banyak diantara mereka yang kemudian tertarik dengan agama Islam setelah mengenalnya. Jadi tak kenal maka tak sayang. Semakin banyak orang mengeal Islam yang sesungguhnya semakin disayang ia tentunya. Bahkan saat ini banyak tentara Amerika yang justru menjadi muallaf setelah dikirim berperang ke negara-negara Islam.

Jadi mengapa harus memusuhi Amerika (atau Barat)? Bukankah Islam bisa tumbuh dimana saja karena Islam membawa pesan perdamaian dan persamaan hak? Jika benar bahwa Islam adalah agama yang “Rahmatan Lil Alamin” maka kita harus bisa menyampaikan pesan Islam sebagai ajaran yang penuh kasih dan sayang tersebut ke negara-negara Barat agar Islam dikenal dan diapresiasi.

Salah satu tokoh inteletual Islam yang tinggal di New York, Ustadz Syamsi Ali (http://media.isnet.org/isnet/Syamsi/forUSA.html dan (http://www.ntu.edu.sg/home2003/REYH0001/syamsi.htm) justru menyatakan bahwa Amerika Serikat adalah ladang yang subur bagi pertumbuhan dan perkembangan Islam.
Syamsi Ali (40) adalah imam asal Bulukumba, Sulsel, yang menjadi jurubicara Muslim di Amerika Serikat. Ia adalah penyiar Islam tidak terbatas kepada jemaah warga Indonesia saja, melainkan juga Muslim Amerika. Khususnya di New York dan Washington DC. Di New York, statistik menunjukkan terdapat lebih 800.000 kaum Muslimin.

Apa kiprah Ustad Syamsi Ali di Amerika? Bagaimana cara beliau dalam mengenalkan Islam dan memenangkan hati umat lain? Bagaimana ia seorang diri tanpa membawa senjata tapi justru dapat memenangkan hati warga Amerika?
Beliau memang bertekad untuk “mengislamkan Amerika” dengan menggunakan ‘senjata’ dakwah untuk mengenalkan islam dan memenangkan hati warga Amerika dan umat lain. http://swaramuslim.net/islam/more.php?id=5399_0_4_0_M

Berikut ini kutipan tentang kiprah ustadz Syamsi Ali.

Beliau pernah tampil berdakwah di mimbar “A Prayer for America” di Stadion Yankee, kota New York, 23 September 2004 dengan dihadiri oleh sekitar 50 ribu orang dari brbagai bangsa dan ras.
Di panggung, hadir Oprah Winfrey, mantan Presiden Bill Clinton, senator Hillary Clinton, Gubernur Negara Bagian New York George Pataki, Wali Kota New York Rudolph Giuliani, artis Bette Midler dan penyanyi country Lee Greenwood.

Di podium, Syamsi membacakan dan mengupas surat Al-Hujurat ayat 13 yang intinya bercerita tentang asal-usul manusia yang dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Tidak ada bangsa yang paling tinggi derajatnya, karena yang termulia adalah yang paling bertakwa.

Dengan mengurai makna ayat itu, Syamsi ingin menceritakan kepada publik Amerika bahwa Islam adalah agama yang mengakui persaudaraan umat manusia
Di podium, Syamsi membacakan dan mengupas surat Al-Hujurat ayat 13 yang intinya bercerita tentang asal-usul manusia yang dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Tidak ada bangsa yang paling tinggi derajatnya, karena yang termulia adalah yang paling bertakwa.

Dengan mengurai makna ayat itu, Syamsi ingin menceritakan kepada publik Amerika bahwa Islam adalah agama yang mengakui persaudaraan umat manusia.

“Islam tak membenci umat lain. Justru Islam datang untuk mengangkat derajat semua manusia,” kata Syamsi Ali, berusaha mengurangi kebencian sebagian warga Amerika terhadap Islam pasca serangan teroris 11 September 2001.

Sejak peristiwa itu, semakin banyak orang di Amerika Serikat yang ingin tahu lebih mendalam mengenai Islam. “Inilah tugas kami untuk memberi penjelasan sebenarnya tentang Islam yang rahmatan lil alamin,” katanya.

Apa katanya tentang negara Amerika ?

Dalam sebuah dialog dengan pemuka agama Yahudi Ustadz Syamsi Ali menyatakan :
“Amerika, dalam banyak hal lebih pantas untuk dikatakan negara Islam ketimbang banyak negara yang diakui sebagai negara Islam saat ini,”
Amerika, katanya, telah lebih banyak menegakkan syariat Islam ketimbang negara-negara yang mengaku mengusung syariat. Untuk itu, seorang Muslim yang paham tentang konsep masyarakat dalam Islam, tidak akan pernah mempermasalahkan itu lagi. Sebaliknya, non-Muslim juga seharusnya tidak perlu “over worried” mengenai hal tersebut.

Dalam pandangan Syamsi Ali, syariat adalah landasan hidup seorang Muslim. Berislam tanpa bersyariat adalah sesuatu yang mustahil. Hukum-hukum yang mengatur kehidupan seorang Muslim, mulai dari masalah-masalah keimanan, ritual, hingga kepada masalah-masalah mu`amalat (hubungan antar makhluk) masuk dalam kategori syariah. Untuk itu, memutuskan hubungan antara kehidupan seorang Muslim dengan syariat sama dengan memisahkan antara daging dan darahnya.

Amerika yang didirikan di atas asas kebebasan, kesetaraan dan keadilan untuk semua, sesungguhnya didirikan di atas asas nilai-nilai dasar Islam. Islam juga didasarkan kepada nilai-nilai kebebasan (al-hurriyah) , keadilan (al `adaalah) dan persamaan (al musawah).

Atas dasar itu, Syamsi Ali dengan keyakinan penuh menegaskan bahwa kehadiran Islam di Amerika adalah ibarat benih subur yang terjatuh di atas lahan yang subur. Dia akan tumbuh dengan baik dan subur karena memang lahan yang ditempatinya sesuai dengan kebutuhan benih tanaman ini.

Kelak, lanjut Syamsi, tanaman ini pasti akan dirasakan karena memang manusia yang mendiaminya telah lama marasakan kehausan untuk itu.

Syamsi Ali selalu mengatakan kehadiran umat Islam di Amerika itu tidak perlu dikhawatirkan, tapi sebaliknya harus disyukuri. Umat Islam akan memberikan sumbangsih yang besar untuk menampakkan ke seluruh penjuru dunia bahwa tanah Amerika memang subur untuk menanamkan nilai-nilai Syaria`h yang universal itu.
“Amerika bukan musuh, tapi Amerika adalah lahan subur untuk Islam”.

Pada 5 Nopember 2007 lalu, Syamsi Ali juga tampil dalam acara talk show televisi “Face to Face, Faith to Faith”. Acara yang dimoderatori oleh Ketie Couric, pembawa acara televisi AS yang masyhur itu, menampilkan tiga panelis, Rabbi Rubin Stein, Senior Rabbi pada Central Synagogue, Rev. Michael Lindvall, Senior Pastor The Brick Church dan Syamsi Ali.

Lebih 500 tamu yang hadir memenuhi ruangan Gotham building di Broadway yang terkenal rela membayar mahal. Meja utama dijual dengan harga 50.000 dolar AS per meja dengan kapasitas delapan orang.

Ketie Couric sebelum memulai acara dialog malam itu mengatakan dirinya sudah mempelajari semua agama, seperti Kristen, Yahudi dan Islam. Makin dalam ia mempelajari agama-agama itu, makin dalam pula penyesalan dirinya karena telah salah persepsi terhadap agama, khususnya Islam. Mulai saat itu, Ketie bersumpah untuk lebih menghargai dan menghormati Islam dan kaum Muslimin.

Syamsi sendiri mengaku acara itu sangat membanggakannya. Selain karena pujian terhadap agama Islam begitu besar di saat media kurang bersahabat dan masih luasnya salah paham terhadapnya, juga karena Ia telah menyampaikan agama ini secara lugas dan apa adanya.

Banyak di antara warga AS yang pernah mendengarkan syiar Islam Syamsi Ali berkunjung ke Islamic Center yang dipimpinnya. Sebagian ingin mempelajari lebih dalam lagi masalah Islam, sebagian lagi malah langsung ingin di-Islam-kan.

Amerika dan Eropa perlu diperkenalkan kepada ajaran Islam yang benar sehingga dapat membuat penduduknya yang cinta damai dan penuh toleransi tersebut yakin pada kebenaran agama Islam dan pada akhirnya mau memeluk Islam. Kita tak perlu bersikap paranoid, curiga berlebihan dan defensif. Saat ini pun Islam sudah merupakan agama yang paling cepat pertumbuhannya di Eropa ataupun di Amerika. Menurut Jerusalem Magazine (http://jerusalem-magazine.blogspot.com/2006/09/correction-percentage-of-moslems-in.html)
“Islam is Europe’s most vital and fastest-growing religion. There are more worshippers in Britain’s mosques now than in the Church of England, and there are more practicing Moslems in France than there are baptized Catholics. The most popular name in French maternity wards is Mohammed. Within a generation, many European cities will have Moslem majorities.” Baca juga (http://www.harunyahya.com/indo/artikel/067.htm) dan (http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=A2156_0_3_0_M).
Apa yang perlu kita lakukan adalah dengan membuka diri dan mulai menampilkan sosok Islam yang rahmatan lil alamin seperti yang selama ini kita dengung-dengungkan. Menutup diri dan bersikap paranoid terhadap umat dan ajaran lain samasekali tidak menguntungkan dan justru merugikan.

Bayangkan jika kita berupaya sungguh-sungguh untuk mengenalkan Islam kepada mereka dengan ratusan da’i sekaliber Ustadz Syamsi! Islam tidak memerlukan senjata penghancur untuk menaklukkan musuh karena musuh Islam adalah : Kelaliman, penjajahan, penindasan, kebodohan, ketidaktoleranan, dan kesewenang-wenangan.
Semoga kejayaan Islam segera tiba dengan upaya kita untuk membuka diri terhadap umat lain. Amin!

Balikpapan, 11 September 2008
Satria Dharma

Sumber :
http://www.oyr79.com/news/amerika-negeri/
http://musadiqmarhaban.wordpress.com/2007/11/26/ustadz-syamsi-ali-dai-asal-indonesia-di-negeri-paman-sam/
http://dwiwahyono.blogspot.com/2007/08/ustad-indonesia-tampil-di-prayer-for.html