Bulan Ramadhan ini merupakan tahun pertama Tara, anak bungsu kami, berpuasa sehari penuh. Tahun sebelumnya Tara hanya berpuasa setengah hari sebagaimana anak-anak lainnya. Sebetulnya kami tidak menyuruh Tara, yang baru kelas 1 SD itu, untuk berpuasa penuh dan menganggap berlatih berpuasa setengah hari sudah cukup baginya yang under-weight itu. Tapi nampaknya Tara memang anak yang istimewa. Ia punya semangat yang besar untuk melakukan hal-hal yang bagi orang lain cukup berat. (Saya ingat komentar murid-murid saya di tingkat elementary di Bontang International School dulu ketika tahu bahwa saya berpuasa seharian penuh selama sebulan ketika Ramadhan. Mereka mengatakan, :”Really? You don’t drink or eat even a bit the whole day? How could you do that, Mr Satria! I would die if I did that!” Ketika saya katakan bahwa banyak anak-anak muslim yang lebih muda darinya yang berpuasa seperti saya dan mereka pun semakin melongo! Mungkin mereka berpikir bahwa anak-anak muslim adalah calon-calon superman atau mungkin rahib petapa di masa depan.)

Tahun ini Tara bertekad untuk berpuasa sehari penuh. Dan itu diputuskannya ketika kami iseng-iseng menanyainya apakah ia tidak ingin mencoba berpuasa sehari penuh pada malam Tarawih pertama. Sambil bergurau saya menambahkan bahwa kami akan membuatkannya sebuah bintang yang dapat ia pasang dimana saja ia suka atas setiap hari dari puasa penuhnya itu. Bintang “Full Day Fasting Award”! Ia boleh pilih sendiri warnanya. Matanya langsung berbinar-binar. Entah apa yang ada di benaknya tapi janji untuk membuatkannya sebuah bintang sebagai penghargaan atas puasanya sehari penuh sungguh menggetarkan hatinya. Dan ia berjanji untuk melakukannya.

Dan begitulah. Ia ikut bangun saur dengan bersemangat. Ia berjanji untuk berpuasa penuh hari itu dan ia menyelesaikan hari puasa pertamanya dengan susah payah. Siang hari setelah lelah bermain ia hampir saja menyambar segelas air segar untuk meredakan hausnya ketika ia tiba-tiba ingat bahwa ia sedang berpuasa. Ia pun mengurungkan niatnya dan menceritakan hal tersebut kepada kami. Saya katakan padanya bahwa kalau lupa maka minuman tersebut tidak membatalkan puasanya. Ia boleh meneruskan puasanya dan tetap dianggap berpuasa. Tapi ia bilang bahwa ia langsung ingat sebelum meneguknya. “Sayang sekali!” kata saya sambil tertawa.
Untuk melawan rasa lapar dan hausnya ia menuju kamar tidurnya dan berusaha tidur. “Tidur pun berpahala bagi orang yang berpuasa.” Kata saya padanya. Ia mengucapkan “Selamat Tidur, Bapak!” seperti biasanya pada saya, membaca doa tidur, memeluk guling dan segera terlelap. Ia kami bangunkan pada pukul lima sore dan merasa lebih segar.

Ketika berbuka puasa tiba ia dengan lahap meneguk minuman yang disediakan oleh Ibunya dan menghabiskan kue takjil dengan nikmat. What a victory! Ia telah membuktikan dirinya mampu untuk berpuasa seharian penuh.
Belum lagi kami melaksanakan sholat maghrib berjamaah ia sudah menagih bintang yang kami janjikan. Saya tergagap karena lupa untuk mempersiapkannya. “Nanti setelah kita selesai taraweh. Kamu mau bintang berwarna apa?” janji saya. “Biru”, katanya.
Sebelum berangkat sholat taraweh di rumah ayah saya yang letaknya hanya beda satu rumah dengan rumah kami, saya meminta istri saya membuatkan ‘Full Day Fasting Award’ berupa bintang berwarna biru yang kami buat dari guntingan kertas berwarna biru yang kami ambil dari undangan pengantin yang sudah lewat.
Ketika kami pulang dari sholat Tarawih ia segera menagih janji kami. Matanya berbinar-binar melihat bintang kertas berwarna biru yang kami buatkan untuknya. Ia menatapnya dengan takjub seolah baru sekali itu ia melihat bintang kertas berwarna biru dalam hidupnya.
“Dimana kamu ingin meletakkannya?’ tanya kami.
“Di kamarku,” sahutnya. “Tempel di papan tulisku”. Dan disitulah Bintang “Full Day Fasting Award”nya bertengger.

Sejak itu ia tidak pernah lagi mau berpuasa setengah hari. Ia ingin mengumpulkan Bintang “Full Day Fasting Award” sebanyak-banyaknya. Rupanya ia tertantang oleh cerita saya bahwa saya dulu bisa berpuasa sebulan penuh ketika masih kelas 2 SD. Jadi saya bisa mengumpulkan 30 Bintang sejak kelas 2 SD (seandainya dulu ada penghargaan semacam itu). Kalau ia bisa berpuasa sebulan penuh ketika kelas 1 SD maka ia akan dapat mengumpulkan 30 buah Bintang “Full Day fasting Award” berwarna-warni dan juga sekaligus dapat mengalahkan prestasi bapaknya. Saya juga tambahkan , “Kamu boleh minta hadiah apa saja.” (Apa saja? Kami bahkan tidak tahu apa yang mungkin akan dimintanya kelak pada akhir bulan puasa. Mudah-mudahan sesuatu yang kami bisa penuhi). Entah mana yang lebih memotivasinya, 30 buah Bintang “Full Day fasting Award” berwarna-warni atau memecahkan ‘rekor’ ayahnya, tapi ia berjanji untuk berpuasa sebulan penuh setelahnya.

Tara begitu bangga dengan bintangnya tersebut. Ketika Alif, sepupunya, datang untuk mengajaknya bermain, ia segera memamerinya. Tentu saja Alif merasa iri dengan bintang penghargaan berpuasa penuh tersebut. Meski ia setahun lebih tua tapi ia masih berpuasa setengah hari. Ketika ia mengetahui hal tersebut ia segera berkata pada Tara,:”Lihat saja besok. Aku akan berpuasa penuh juga dan aku juga akan mendapat bintang seperti kamu. Lihat saja besok!” kata Alif bersungguh-sungguh. Tapi ketika keesokan harinya ia belum juga berpuasa penuh, ia berkata,:”Soalnya ayahku itu tidak bisa membuat bintang.” sambil mengeluh. Ayahnya tertawa ketika mendengar itu.

Hari demi hari Tara mengumpulkan Bintang “Full Day Fasting Award’ dan menempelkannya di papan tulis di kamarnya. Dan ia sangat bangga dengannya. Anak-anak memang hidup dalam imajinasinya dan dalam imajinasi Tara bintang kertas yang bentuknya tidak begitu sempurna tersebut nampak begitu hidup, begitu indah, begitu menggetarkan, begitu menginspirasi, dan begitu menguatkan jiwanya sehingga dapat mengalahkan rasa lapar dan hausnya. Amazing!

Sekarang sudah hari ke 12 dan Tara belum berniat sedikit pun untuk mengendorkan niatnya berpuasa sebulan penuh. “Aku akan punya 30 buah Bintang segala warna pada akhir bulan puasa nanti!” katanya berulang-ulang. Dan kami mempercayainya sepenuhnya.

Satria Dharma
Balikpapan 12 September 2008