sainsIlmuwan Inggris menemukan bahwa anak terlahir sudah beriman pada Tuhan atau mengimani Tuhan merupakan tabiat bawaan anak sejak lahir. Laporan ini diliput Martin Beckford di media kondang Inggris, Telegraph, 24 November 2008 dengan judul “Children are born believers in God, academic claims” (Anak terlahir mengimani Tuhan, kata akademisi). Menurut Dr. Barrett, manusia berusia muda menganggap bahwa setiap sesuatu di dunia diciptakan dengan sebuah tujuan. Ini menjadikan mereka memiliki kecenderungan meyakini keberadaan Dzat Mahatinggi. Baca selanjutnya di
http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8125:ilmuwan-inggris-anak-terlahir-sudah-mengimani-tuhan&catid=103:iptek&Itemid=56

Hasil penelitian semacam ini sebetulnya bukan barang baru. Pada tahun 1997 kita sudah diperkenalkan dengan istilah ‘God Spot’.
 A team of neuroscientists from the University of California at San Diego believe they have discovered a “God module” in the brain which could be responsible for man’s evolutionary instinct to believe in religion.
Penelitian ini dilakukan pada tahun 1997 dan dituliskan pada artikel berjudul “God Spot is found in the Brain,”
oleh Dr. Vilayanur Ramachandran of the University of Ca lifornia at San Diego yang menyatakan bahwa  :“the phenomenon of religious belief in God is hardwired into the brain..”
http://cas.bellarmine.edu/tietjen/images/new_page_2.htm
 
Tapi penelitian lain menunjukkan bahwa bukan hanya satu ‘God spot’ saja tapi ‘a number of brains region’ http://www.guardian.co.uk/science/2006/aug/30/medicalresearch.neuroscience
The findings contradict previous suggestions that human brains may have evolved with a “God spot” – a single region that lights up in response to deeply religious thoughts. “Rather than there being one spot that relates to mystical experiences, we’ve found a number of brain regions are involved,” said Dr Beauregard.
(ada juga yang menyatakannya sebagai ‘God Net’. . http://brainwaves.corante.com/archives/2006/09/12/god_net_not_god_spot_says_latest_neurotheological_experiment.php)
 
Tapi penelitian ini dibantah oleh penelitian lain.
The human brain DOES NOT contain a single “God spot” responsible for mystical and religious experiences, a new study finds.
Instead, the sense of union with God or something greater than the self often described by those who have undergone such experiences involves the recruitment and activation of a variety brain regions normally implicated in different functions such as self-consciousness, emotion and body representation.

http://www.msnbc.msn.com/id/14587036/
baca juga
http://www.livescience.com/health/060829_god_spot.html
baca juga
http://news.softpedia.com/news/No-039-God-Spot-039-in-the-Brain-of-Christian-Believers-34290.shtml
Masalah ‘God Spot’ atau ‘God Region’ ini anehnya justru dijelaskan dengan baik di http://www.atheistempire.com/reference/brain/main.html

Jadi bantah membantah dalam dunia ilmu pengetahuan adalah hal yang biasa. Ada yang tidak biasa, yaitu jika kita ingin mengikutsertakan Tuhan dalam teori sains. Meski dulu di SMA saya masuk di jurusan Sosial tapi membaca komentar ini ‘Teori evolusi menolak keberadaan Pencipta, penciptaan dan adanya perancangan sengaja di balik keberadaan alam semesta dan kehidupan ini. Dalam kacamata teori evolusi, dunia seisinya adalah mutlak bersifat materi semata. Keberadaannya bukan karena ada Tuhan yang menciptakan, namun muncul menjadi ada dengan sendirinya, tanpa tujuan dan tanpa makna keberadaan.’  di Hidayatullah.com saya jadi ketawa geli.

Setahu saya teori evolusi itu SAMA SEKALI tidak bicara tentang Sang Pencipta dan Penciptaan. Jadi bagaimana mungkin dikatakan bahwa teori ini MENOLAK keberadaan Pencipta, penciptaan, etc? Jika Anda mempelajari teori saintifik apa saja sejak jaman dahulu sampai sekarang maka tentu akan tahu bahwa TAK PERNAH ADA saintis yang akan mengikutsertakan Sang Pencipta dalam menuliskan teorinya. Bahkan ilmuwan Islam macam Ibnu Sina (wafat thn 1037) ilmuwan ensiklopedi, dokter, psikolog, penulis kaidah kedokteran modern (dipakai sebagai referensi ilmu kedokteran barat), menulis buku tentang fungsi organ tubuh, meneliti penyakit yang ditimbulkan efek fikiran, Ibnu Rusydi (wafat thn 1198) dikenal oleh Barat dengan nama Averusy; ahli fisika, ahli bahasa, ahli filsafat Yunani kuno, Fakhruddin Razi ((wafat thn 1290); matematika, fisika, tabib/dokter, filosof, penulis ensiklopedia ilmu pengetahuan modern), Al Khwarizmi (w.thn 850); menemukan logaritma (berasal dari nama Al Khwarizmi) dan aljabar (Al Jabr), ilmu bumi dengan menyatakan bumi itu bulat sebelum Galileo dengan bukunya Kitab Surah al Ardh, tentulah tidak akan mengikutsertakan Allah dalam teori yang mereka susun. Dalam rumus logaritmanya AlKhawarizm tentu tidak akan menyatakan keberadaan Sang Pencipta di dalamnya.

Apa sih yang disebut sebagai ‘scientific theory’ itu? Baca ini :
‘A scientific theory is a well-substantiated explanation of some aspect of the natural world, based on a body of facts that have been repeatedly confirmed through observation and experiment. Such fact-supported theories are not “guesses” but reliable accounts of the real world. The theory of biological evolution is more than “just a theory.” It is as factual an explanation of the universe as the atomic theory of matter or the germ theory of disease. Our understanding of gravity is still a work in progress. But the phenomenon of gravity, like evolution, is an accepted fact’.[5] http://en.wikipedia.org/wiki/Theory

Jadi kalau ada saintis yang menyatakan perlunya Tuhan dilibatkan dalam teori ilmiah apa pun maka itu sungguh ganjil. Itu dua ranah yang berbeda bidang operasinya.
Berikut ini adalah list tentang scientific theories. Coba cari apakah ada di antara teori tersebut yang mengikutsertakan Sang Pencipta, Penciptaan dan adanya perancangan sengaja seperti yang dituntut pada Teori Evolusi.
http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_scientific_theories_and_laws

di astronomi  ada ‘Big Bang Theory’, di biologi ada ‘Cell Theory’, di mikrobiologi ada ‘Germ Theory’, dst. TAK ADA SATU PUN teori tersebut yang bicara tentang kehadiran Tuhan sebagai Sang Pencipta dan TAK ADA SATU PUN orang yang usil mempertanyakan mengapa Tuhan tidak hadir di teori tersebut, kecuali pada Teori Evolusi (Aneh, kan?! ).

Teori Evolusi dianggap sebagai teori yang ‘kafir’ dan yang mempercayainya otomatis dianggap mempercayai atau penganut teori yang ‘kafir’. Tak pelak jika banyak umat Islam yang kemudian ikut mengecam Teori Evolusi karena dianggapnya bertentangan dengan akidah Islam. Adnan Oktar atau nama populernya Harun Yahya, penentang paling serius dari teori ini, lantas didapuk menjadi ‘pahlawan penyelamat akidah’ yang selama ini telah dibikin sesat oleh teori Evolusi. Sungguh menggelikan sebenarnya.

Balikpapan, 11 Desember 2008

Satria Dharma

Iklan