kids-obsession“Apa cita-citamu…?” Iseng-iseng saya tanya anak sulung saya.
“Cita-cita…..? Ehm…. Nggak tahu, eh….pilot! Eh…bukan…pemain sepakbola!” jawabnya. Mendengar jawabannya saya tahu bahwa ia asal jawab saja. Bagaimana mungkin ia bercita-cita jadi pilot jika ia tidak pernah menunjukkan ketertarikannya pada profesi tersebut dan keterkaitannya? Ia mungkin menikmati bepergian dengan pesawat dan mengasosiasikannya dengan itu. Bagaimana mungkin pula ia bercita-cita jadi pemain sepakbola jika dalam ekstra-kurikuler di sekolahnya, dengan tubuhnya yang kecil, ia bahkan tidak pernah dipasang untuk bermain. Ia selalu hanya kebagian sebagai ‘anak gawang’ yang tugasnya disuruh-suruh untuk membantu para pemain dalam tim. Saya sering mengoloknya untuk itu meski saya sebenarnya sadar bahwa itu tidak baik bagi self esteemnya. Tapi kadang-kadang saya sulit mengendalikan keinginan jail saya untuk mengolok-ngolok anak saya. Ini mungkin penyakit ‘kampungan’ yang saya bawa sejak kecil dan sulit untuk saya sembuhkan.
Meski demikian nampaknya anak saya sudah ‘kebal’ dan tidak seberapa terpengaruh dengan olok-olok saya. Buktinya ia masih juga bercita-cita jadi pemain bola meski kami sama-sama tahu bahwa itu sekedar asbun alias asal bunyi. Belakangan ia bilang pingin jadi anak band dan ia memulai ‘karir’nya dengan berdandan ala anak band. Paling tidak cita-citanya sudah mulai diwujudkan dengan gayanya dululah! Gaya dulu, kompetensi belakangan.

Beberapa waktu sebelumnya saya memang sudah pernah menanyainya mengenai cita-cita ini dan jawabannya juga sama yaitu ‘tidak tahu’ dan belum terpikirkan’. Jawabannya tersebut membuat saya ‘gumun’ alias heran. Kok ya sama dengan saya dulu, tidak punya cita-cita dan selalu glagapan kalau ditanya soal cita-cita! ‘Emangnya semua orang harus punya cita-cita?’ Demikian pikir saya waktu itu. ‘Apa ndak ‘kemelipen’ (terlalu tinggi) kalau saya punya cita-cita? Lha wong makan sehari-hari saja susah kok mikir tentang cita-cita mau jadi dokter, guru, insinyur, tentara, dll’. (kalau yang terakhir saya emoh-emoh tenanan. Jadi tentara itu ‘out of question’ bagi saya).
‘Cita-cita itu kan ‘mainan’nya orang-orang kaya. Orang miskin kayak saya itu mbok ya yang realistis alias sadar diri gitu lho!’ Demikian pikir saya waktu itu. Dan sekarang ternyata anak saya juga tidak punya cita-cita. Kok bisa ya? Padahal sekarang kan bapaknya ini sudah jadi ‘orang’ dan mau makan berapa kali pun tidak masalah. Tapi kok anak saya cita-cita juga belum punya! Belum berhakkah kami untuk sekedar punya cita-cita? Ihik!

Bukannya saya tidak punya keinginan menjadi ‘apa’ pada waktu kecil dulu. Tapi keinginan saya menjadi ‘apa’ dulu itu bergantung pada situasi dan kondisi. Kalau saya sedang baca buku-bukunya Karl May maka cita-cita saya ya jadi Winnetou atau menggantikannya menjadi ketua suku Apache. Paling tidak ya suku Sioux lah! (‘Sioux’ itu bacanya ‘sou’ dan bukan ‘siok’. Kalau ‘Siok’ itu nama tetangga saya yang keturunan Cina). Kalau saat itu yang saya baca adalah seri pengembaraannya di Timur Tengah maka saya ingin jadi Effendi sambil membayangkan nikmatnya naik unta di tengah terik matahari di padang pasir. Jadi cita-cita saya bisa jadi Deni si Manusia Ikan, Tarzan si Raja Rimba, Suma Han si Pendekar Super Sakti, Marcopolo si pengelana dunia, sampai jadi ketua partai Kaypang. Sesekali saya bercita-cita jadi Umar bin Chattab, Zatoichi, atau Shalahuddin Al Ayyubi. Jadi cita-cita saya itu menjadi ‘siapa’ dan bukan ‘apa’.

Suatu ketika ayah saya pernah bercerita pada ibu saya bahwa ia pernah ditawari untuk menjadi ini dan itu di kantornya tapi beliau menolak. Adik saya yang waktu itu masih kecil betul dan kebetulan mendengar ini langsung saja nyletuk, :”Kenapa Bapak nggak milih jadi Superman saja? Kan enak Pak bisa terbang kesana kemari dan nggak mati-mati.” Saya yang mendengarnya tentu saja tertawa ngakak. ‘Apa enaknya jadi Superman?’, pikir saya. ‘Pakai celana dalam saja keliru dipakai di luar’. Itulah sebabnya anak-anak sebaiknya tidak boleh ada di dekat orang tua kalau mereka sedang ngomong serius. Mereka suka nyletuk tanpa juntrungan.

Ketika di SMA saya mulai punya cita-cita beneran. Karena keseringan membaca buku-buku tentang petualangan saya jadi terobsesi untuk bertualang kesana kemari. Jadi saya berpikir alangkah enaknya kalau saya jadi wartawan. Dengan jadi wartawan saya akan pergi kemana-mana untuk meliput berita dan menyampaikannya pada pembaca saya. Saya paling suka membaca kolom petulangannya Pak Tanzil (kalau tidak salah) dengan istrinya yang jago masak di Intisari di berbagai belahan dunia dan berkhayal bisa melakukan hal yang sama. Wartawan juga nampak hebat di mata saya karena mereka berhasil membongkar fakta-fakta yang tidak nampak oleh orang kebanyakan. Mungkin saya terinspirasi oleh Bob Woodward yang berhasil membongkar “Watergate” itu.

Tapi saya juga pingin menjadi guide karena saya suka belajar bahasa Inggris dan dengan jadi guide tentunya bahasa Inggris saya akan terasah. Kan wisatawan asing kebanyakan menggunakan bahasa asing. Lagipula jadi guide tentu menyenangkan karena bisa melancong kemana-mana. Pokoknya tidak jauh dari itu lah!

Belakangan saya mulai tertarik untuk menjadi psikolog karena saya suka memperhatikan bagaimana manusia bertindak dan berprilaku. Saya ingin tahu apa yang melatarbelakangi seseorang melakukan apa yang ia kerjakan dan bagaimana mereka membangun persepsi atas sesuatu. Tapi ya itu, kalau ditanya saya tetap tidak bisa menjawab dengan jelas apa sebenarnya cita-cita saya.
Jadi guru? Bah! Tidak sama sekali terlintas di benak saya untuk menjadi guru meski sebenarnya kedua orang tua saya sebelumnya berprofesi jadi guru cukup lama. Soalnya tak satupun guru sekolah yang mampu memberi kesan yang mendalam pada saya. Satu-satunya guru yang saya anggap hebat adalah gurunya Helen Keller dan sampai sekarang masih tetap membuat saya terkagum-kagum. Orang kok bisa begitu sabar menghadapi murid yang cacat macam Helen Keller dan mampu membuatnya menjadi begitu hebat. Tapi karena saya tahu bahwa saya tidak (akan) punya kesabaran dan keahlian seperti itu maka profesi guru tidak pernah masuk dalam angan-angan saya.

Kalau kemudian saya menjadi guru maka itu sungguh merupakan ‘kecelakaan’. Saya jadi ingat Katherine Schulten yang menulis buku “Tak Sengaja Menjadi Guru” dan merasa melihat diri saya sendiri membaca alasannya mengapa ia tak ingin menjadi guru. Saya sendiri tidak pernah berminat untuk menjadi guru meski pada akhirnya menikmati profesi tersebut.

Setelah menjadi guru saya bercita-cita bisa menjadi guru yang baik. Saya tahu tak mudah menjadi guru yang baik. Kalau jadi guru yang brengsek dan tidak bertanggung jawab mudah saja karena mudah ditemui di mana-mana.
Saya tidak tahu apakah saya berhasil menjadi guru yang baik atau tidak karena tidak ada penilaian untuk itu. Kalau berdasarkan penilaian untuk kenaikan pangkat sih kayaknya begitu tapi semua guru nampaknya memperoleh penilaian baik karena tak ada kepala sekolah yang benar-benar menggunakan format penilaian tersebut untuk menilai baik tidaknya seseorang menjadi guru atau tidak. Yang penting adalah loyalitas. Kalau nggak loyal ya bisa terhambat karier kita. Dan saya mengalaminya pada tahun 80-an ketika diminta (dipaksa ding!) untuk menjadi anggota Golkar dan saya menolak.
Bukan apa, saya hanya ingin menjadi seorang guru yang baik dan guru yang baik semestinya tidak berpihak pada partai politik tertentu. Ia harus netral dan tidak berpihak. Ia bukan mengabdi pada pemerintah tapi pada negara. Begitu berdasarkan apa yang saya baca di buku-buku. Susahnya, bos-bos saya di Depdiknas waktu itu tidak bisa membedakan antara ‘pemerintah’ dan ‘negara’! Bagi mereka negara itu identik dengan pemerntah. Yo wislah!
Tapi itu mungkin karena saya yang kelewat naif dan punya bakat pemberontak macam Kahar Muzakkar. Kata atasan saya di Depdikbud Golkar itu bukan partai (tapi golongan!) dan saya termasuk orang yang tidak tahu berterima kasih. Makan diberi Golkar tapi tidak mau loyal, katanya. Mana mau saya terima argumentasi begitu. Maka saya pun bertengkar dengan banyak orang sampai ke Dinas Pendidikan Propinsi. Karena saya tetap bersikeras tidak ingin masuk Golkar saya akhirnya di’non-edukatif’kan dan ditempatkan di kecamatan sebagai staf dikcam tanpa tugas apalagi posisi. Karir saya di PNS dilipat gara-gara bercita-cita jadi guru yang baik. Ihik..! Tapi saya merasa seperti Napoleon Bonaparte yang dikucilkan ke pulau Elba. Hahaha….!
Tapi itu tidak menyurutkan cita-cita saya untuk menjadi guru yang baik. Tanpa jadi PNS saya tetap bisa jadi guru yang baik, pikir saya. Dan saya pun jadi ‘ronin’
Dengan mengajar di berbagai tempat dan mendirikan bimbingan belajar di Surabaya. Bimbingan belajar tersebut bahkan pernah memiliki cabang di lima kota di Jatim. Saya berusaha untuk menjadi guru yang baik bagi siswa-siswa saya dengan berusaha menjadi teman dan mentor bagi mereka. Kalau ciri guru yang baik itu ditandai dengan akrabnya siswa kepada gurunya maka mungkin saya bisa masuk nominasi karena rumah saya tidak pernah sepi dari kedatangan mereka. Selalu saja ada siswa yang datang ke rumah untuk bertemu atau benar-benar untuk curhat.

Apakah saya sudah berhasil mencapai cita-cita saya? Nehi! Bimbingan belajar tidak memuaskan saya karena saya anggap sebagai ‘pseudo-education’ lha wong cuma melatih siswa untuk menyiasati soal-soal tes masuk kok.
Ketika ada lowongan untuk menjadi guru di sekolah internasional di Bontang saya dengan cepat melamar dan berangkat ke Jakarta untuk ikut test. Ini suatu petulangan baru bagi saya. Cita-cita saya untuk bisa memperbaiki bahasa Inggris saya dengan kumpul langsung sama native speaker akan dapat kesampaian kalau ngajar di international school. Sejak pertama mendaftar saya sudah yakin betul bahwa saya akan diterima dan akan tinggal di Bontang.

Ketika mengajar di Bontang International School saya sempat keliling ke beberapa daerah di tanah air dan merasa bersyukur bahwa cita-cita saya untuk bertualang di Nusantara dapat kesampaian. Saya juga bergaul dengan orang asing dan memperoleh keuntungan dalam bahasa karenanya. Satu demi satu cita-cita saya kesampaian.
Sebenarnya pada awal mengajar saya sempat stress karena perbedaan sistem pendidikan pada sekolah asing dan sempat shock gara-gara siswa saya dengan santainya bilang,:”Booooring…!” ketika saya mengajar. Edhian! Selama ini saya merasa sebagai guru yang baik dan selalu disukai oleh siswa-siswa saya, eh! lha kok disini saya di’sio-sio’ begini sama anak-anak bule ini, demikian pikir saya. Ternyata memang tidak mudah mengajar di sekolah internasional karena sistemnya memang berbeda dengan pengetahuan dan pengalaman saya selama ini.
Saya habis-habisan belajar dan mengubah metoda pengajaran saya dan setelah bertahun-tahun belajar dan bekerja keras pada akhirnya saya berhasil dianggap sebagai guru favorit oleh mereka. Saya tahu ketika hasil akreditasi langsung dari WASC Amerika disampaikan. Resepnya, pokoknya tiap hari siswa saya ajak bermain lha wong mereka nggak mau kalau diajar dengan pendekatan tradisional. Saking manjanya mereka sering minta saya gendong dan peluk. Maklum, murid saya rata-rata Pre-K dan elementary.

Tapi di sekolah internasional inilah yang membuat mata saya melek. Ternyata sistem pendidikan nasional kita sangat jauuuuuh ketinggalan dengan apa yang dilakukan di sekolah-sekolah international. Apa yang kita lakukan di sekolah-sekolah kita sungguh sangat konvensional dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh sekolah-sekolah di luar negeri. Setiap tahun kami dikirim untuk mengikuti konferensi guru tingkat internasional bersama dengan guru-guru dari berbagai negara. Semakin lama semakin sadar saya bahwa Indonesia memang sangat ketinggalan di bidang pendidikan dibandingkan dengan negara-negara lain, meski untuk tingkat ASEAN.
Ini seperti hantaman di kepala saya.

Pendidikan kita rasanya konvensional betul dan CBSA (Catat Buku Sampai Abis) merupakan praktek yang ‘legal’ dan bahkan paling favorit di sekolah-sekolah kita. Bagaimana mungkin kita bisa mengejar ketertinggalan pendidikan kita dengan pola tradisional seperti ini? Saya merasa bahwa saya harus melakukan sesuatu dan dorongan itu semakin lama semakin kuat.
Akhirnya saya putuskan untuk keluar dari sekolah internasional dan membuka sekolah sendiri. Saya bercita-cita untuk membuat sebuah sekolah yang modern dan mendekati praktek sekolah-sekolah internasional yang pernah saya lihat.

Itu sepuluh tahun yang lalu.

Apakah saya berhasil mencapai cita-cita saya? Tidak, eh, belum ding! Masih jauh dari harapan. Meski sekolah saya berkembang mulai dari SMP sampai perti tapi cita-cita untuk memiliki sekolah yang berkualitas macam sekolah internasional rasanya masih sangat jauuuuuuhh. Banyak hal yang membuat saya tidak bisa mencapai cita-cita tersebut tapi kelemahan terbesar, menurut saya, adalah karena rendahnya kualitas guru yang ada. Guru yang hebat yang jumlahnya memang sangat sedikit sudah dipakai di sekolah-sekolah swasta mahal dan sekolah saya yang sejak awal memang dirancang untuk membantu kalangan menengah bawah tidak mampu membayar mereka.
Kenapa tidak melatih sendiri? Saya tidak punya cukup kapasitas untuk itu. Rendahnya kualitas guru adalah masalah nasional dan untuk menyelesaikannya juga harus berskala nasional. Itu bukan pekerjaan satu dua orang tapi harus merupakan kerja banyak pihak. Harus ada upaya nyata untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi guru secara nasional.

Jadi saya mendirikan Klub Guru Indonesia.

Klub Guru berkembang pesat dan disambut dengan antusias dimana-mana. Asumsi saya bahwa setiap orang sebetulnya perduli pada masalah pendidikan terbukti. Tak ada pihak yang menolak ketika diajak untuk membantu atau bekerjasama dengan Klub Guru. Semua ingin melakukan sesuatu bagi guru dan bagi pendidikan. Pendidikan adalah harapan terbesar bagi hampir semua orang. Story goes on…!

Cita-cita saya berhenti disitu?
Ternyata Klub Guru justru baru merupakan awal!

Rendahnya minat baca bangsa Indonesia dan berbagai masalah yang mengikutinya telah lama saya ketahui dan fakta ini semakin hari semakin membuat saya seperti duduk di atas bara api. Semua statistik seperti memusuhi Indonesia. Beberapa hari yang lalu kolom Tajuk di Kompas menulis betapa dalam penerbitan buku kita bahkan kalah dengan Vietnam yang baru merdeka tersebut. Vietnam yang penduduknya cuma 80 jutaan ternyata mampu menerbitkan sekitar 15.000 judul buku sedangkan Indonesia yang penduduknya berjumlah 230 juta hanya mampu menerbitkan sekitar 8.000 judul! Pukulan apalagi yang kita butuhkan untuk membangunkan kita? Kita harus melakukan sesuatu! Tidak ada gunanya cuma mengomel.
Jadi saya ajak semua pihak untuk melakukan sebuah gerakan untuk membuat bangsa Indonesia memiliki minat dan budaya baca. Kami namakan gerakan tersebut GERAKAN INDONESIA MEMBACA. Gerakan ini harus menjadi gerakan yang menasional, melibatkan semua orang dan berjangka panjang. Saya ingin mengetuk pintu semua orang untuk mengajak mereka MEMBACA… MEMBACA… dan MEMBACA…!
Sekarang gerakan ini bukan lagi keinginan tapi telah menjadi OBSESI saya. Kalau mau tahu rasanya terobsesi adalah jika kita menginginkan sesuatu sebegitu dan itu kita pikirkan sejak kita membuka mata di pagi hari sampai kita memejamkan mata malam harinya. Makan tak enak, tidur tak nyenyak. Pikiran kita penuh dengan apa yang kita inginkan tersebut. Itu namanya TEROBSESI.

Jadi jika suatu hari ada orang yang mengetuk pintu Anda dan mengajak Anda untuk membaca (atau untuk menyumbang.buku bagi anak-anak di desa terpencil agar mereka bisa membaca buku bacaan gratis ) maka itu mungkin saya (atau orang yang bergabung dalam gerakan ini). 🙂 Jangan sampai Anda bilang tidak punya uang untuk menyumbang. Anda akan mengecewakan jutaan anak yang tidak mampu memiliki buku bacaan untuk dibaca. Mereka adalah anak-anak kita juga.

Satria Dharma
Balikpapan, 6 Februari 2009

Iklan