IlustrasiPernah dengar istilah OLPC? OLPC itu singkatan dari One Laptop Per Child (Satu Laptop untuk Setiap Anak). OLPC atau The Children’s Machine atau XO-1 atau Laptop $100 adalah sebuah program penyediaan laptop dengan harga terjangkau untuk anak-anak di seluruh dunia, khususnya anak-anak di negara berkembang dengan harapan agar mereka dapat mengakses pengetahuan dan pendidikan modern.
OLPC adalah ide dari Nicholas Negroponte (1943) seorang ilmuwan komputer yang dikenal sebagai pendiri dan direktur dari Media Lab di MIT (Massachusetts Institute of Technology). Organisasi ini bertugas mendesain , membuat dan mendistribusikan laptop yang dimaksud.

Laptop pada program OLPC-nya Negroponte ini sebetulnya berupa komputer mini yang membutuhkan tenaga sangat minim, menggunakan flash memory sebagai pengganti dari harddisk serta menggunakan Linux sebagai sistem operasinya. Mobile-adhoc networking akan digunakan untuk memungkinkan beberapa laptop dapat mengakses internet secara bersama-sama dari satu akses internet. Laptop ini diciptakan untuk mendorong cara ‘belajar untuk belajar’, sebagai pengalaman pendidikan yang fundamental. (Baca selanjutnya di : https://satriadharma.wordpress.com/2008/02/07/revolusi-pendidikan-di-peru/#more-101)
Ide ini membuat saya berpikir alangkah bagusnya jika kita bisa mempunyai program OLPT (One Laptop Per Teacher) atau satu laptop untuk setiap guru. Mengapa guru dan bukan murid saja seperti di Peru?
Menurut saya revolusi pendidikan haruslah dimulai dari guru karena gurulah yang harus memulai perubahan dan bukan siswanya. Guru haruslah menjadi pemimpin dan pelopor dalam perubahan. Dan untuk dapat menjadi pemimpin perubahan maka guru haruslah melakukan perubahan dulu dari dalam dirinya sendiri. Perubahan harus datang dari diri guru dulu baru kita bisa berharap terjadi perubahan pada siswa mereka.
Hal ini bisa kita lihat pada semua negara maju yang perduli dengan pendidikannya. Mereka benar-benar perduli dengan kualitas gurunya. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan ketika dimintai pendapatnya tentang perkembangan pendidikan Indonesia pernah berkata. “Jangan terlalu ribut soal kurikulum dan sistemnya. Itu semua bukan apa-apa, justru pelaku-pelakunya itulah yang lebih penting diperhatikan,” Sebagai mantan Mentri Pendidikan beliau tentu sadar betul bahwa kualitas gurulah yang justru menjadi permasalahan pokok pendidikan dimana pun. Baik itu di Indonesia, di Jepang, Finlandia, di AS, di manapun di dunia ini kualitas pendidikan ditentukan oleh kualitas gurunya, bukan oleh besarnya dana pendidikan dan juga bukan oleh hebatnya fasilitas. Jika guru berkualitas baik maka baik pula kualitas pendidikannya.

Saat ini kualitas guru kita secara umum sangatlah menyedihkan dan jika tidak ada sebuah perubahan mendasar yang revolusioner maka Indonesia akan jadi negara terkebelakang. Sebuah survei yang dilakukan oleh Pustekkom tentang pengguna internet oleh para guru di SMU ternyata sangat mengenaskan. Hanya ada segelintir guru yang mengenal dan menggunakan internet sesekali. Artinya dunia internet benar-benar masih asing bagi guru. Padahal kita tahu belaka bahwa ketertinggalan bangsa kita dalam memanfaatkan internet akan semakin menjadikan bangsa kita tertinggal dalam berbagai kemajuan di sektor lain.
Oleh sebab itu para guru haruslah segera melakukan perubahan yang mendasar dan revolusioner dalam menjalankan proses belajar mengajarnya. Sekali para guru melakukan perubahan dalam dirinya maka selanjutnya roda perubahan akan bergerak dengan sendirinya. Justru gurulah yang mampu menggerakkan bangsa ini, apalagi kalau hanya menggerakkan dirinya sendiri. Gurulah yang harus menyelesaikan masalah pendidikan dan bukan para birokrat di Depdiknas. Pemerintah hanya bertugas sebagai lembaga yang mengurus dan mengelola administrasi pendidikan.
Jadi mari kita melakukan revolusi pendiidkan melalui revolusi pembelajaran guru dulu. Guru perlu melakukan emigrasi dari sistem pembelajaran ‘chalk and talk’ yang tradisional ke sistem pembelajaran yang berbasis IT. Paradigma pembelajaran modern perlu diperkenalkan dan mulai diinduksi dalam sistem pendidikan kita secara massif dan bukan hanya dilakukan pada sekolah-sekolah dengan program SBI (Sekolah Bertaraf Internasional). Perubahan harus terjadi dalam gerakan yang cukup massif agar inisiatif tidak kempes di tengah jalan karena kurangnya dorongan atau karena selesainya proyek.
Untuk itu para guru perlu diberi perangkat untuk ‘belajar untuk belajar’. Perangkat laptop bagi guru ini haruslah menjadi jendela bagi guru untuk melihat dunia luar, alat yang bisa diprogram untuk menjelajah dunia secara maya, dan membuat pemecahan masalah dengan menggunakan potensi kreatif dan imajinatif para guru sendiri. Laptop untuk guru ini haruslah dapat untuk memberdayakan para guru di wilayah Indonesia bagian mana pun untuk berkomunikasi satu sama lain dalam jaringan agar dapat berkontribusi pada komunitas dunia yang lebih produktif dengan cara yang lebih baik dan tepat kelak.
Laptop ini haruslah praktis, murah, tahan banting, dan berisi segala materi yang dibutuhkan guru dalam belajar dan mengajar di kelasnya. Jika perlu ia bebas hard drive, pakai Linux, dan jaringannya tanpa kabel dengan teknologi ”mesh” yang membuat setiap komputer di desa dapat merelay data satu sama lain seperti XO. Jika kita dapat membuat harga laptop ini tidak lebih dari 2 juta rupiah perbijinya maka saya yakin para guru akan mampu untuk membelinya meski harus mencicil. Kita toh bisa mengajak berbagai bank untuk memfasilitasi program kredit laptop murah untuk guru ini. Ingat bahwa laptop ini akan mengubah total metode pembelajaran guru menjadi jauh lebih baik, lebih efektif, lebih modern dan lebih mudah. Sebuah lompatan besar dalam sistem pendidikan. Anak-anak pedalaman Peru telah membuktikan bahwa kita bisa merevolusi pendidikan dan mendemokratisasikan internet dengan memberi laptop yang sederhana, tahan banting, irit energi, tapi penuh dengan berbagai fitur kepada anak-anak termiskin di pegunungan yang terpencil.
Apa keuntungan guru jika mereka beremigrasi dari pola belajar mengajar yang tradisional ke pola pembelajaran yang berbasis teknologi informasi? Ada beberapa alasan untuk itu. Pertama, pembelajaran akan lebih menarik sehingga akan dapat menumbuhkan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran dari guru. Dengan segala kelebihan dari visualisasi dan animasi materi pelajarannya jelas akan membuat siswa lebih mudah untuk memahami dan lebih tertarik untuk lebih mendalami materi.
Kedua, jika semua materi pembelajaran dapat dikemas dalam sebuah laptop maka itu sama dengan menjinjing dunia dalam satu genggaman. Bayangkan berapa banyak informasi yang bisa dimasukkan dalam laptop tersebut dan ditampilkan oleh guru pada siswa-siswanya. Bahkan berbagai kamus dan ensiklopedia dapat ditanamkan dalam laptop tersebut sebagai sumber belajar yang luar biasa kapasitasnya.
Ketiga, memiliki laptop dengan kumpulan informasi yang diperlukan untuk mengajar jelas akan memudahkan guru dalam melakukan persiapan. Persiapan mengajar akan lebih ringan karena tinggal seleksi, salin, edit, dan tempel materi persiapan yang telah ada dan sajikan. Hal ini akan memberikan guru waktu lebih utk menyiapkan materi pengayaan dan remidial yang dibutuhkan siswa.
Keempat, pembelajaran jelas akan lebih relevan dengan dunia nyata karena materi yang ada pada laptop tersebut adalah materi-materi yang terbaru dan dapat selalu diupdate. Dengan demikian guru dan siswa dapat melakukan proses belajar mengajar dengan materi yang terkini dan tdak akan ketinggalan dengan materi dari belahan dunia mana pun. Guru dapat menyusun materi sesuai dengan kebutuhan siswa akan kehidupan nyata.

Kelima, pembelajaran jelas akan lebih kontekstual dan bermakna. Guru dan siswa akan saling belajar pada materi-materi yang memiliki hubungan dengan dunia nyata. Guru juga akan lebih terdorong dan tertantang untuk mencari sumber-sumber belajar lain sehingga akan mendorong mereka untuk menjadi lebih aktif dan kreatif.
Keenam, pembelajaran berbasis teknologi informasi ini akan mendorong guru untuk dapat menciptakan sendiri materi-materinya dengan berusaha menyempurnakan materi-materi yang ada dalam laptopnya. Dengan demikian para guru akan membutuhkan kerjasama dengan guru-guru lain dalam menyesuaikan mater yang ada dengan kebutuhan natanya di kelas. Hal ini akan mendorong terwujudnya prinsip belajar seumur hidup atau ‘Life long learning’ karena guru akan tertantang utk selalu mencari bahan-bahan dari sumber manapun yang dapat digalinya.

Jadi apalagi yang kita pikirkan? Mari kita kumpukan para pakar dan semua pihak terkait untuk duduk bersama merumuskan spesifikasi apa yang harus ada dalam laptop tersebut dan bagaimana memproduksinya. Saya yakin ada banyak Negroponte-Negroponte di Indonesia ini. Mari kita wujudkan program Laptop untuk Guru ini demi revolusi pendidikan di Indonesia.

Balikpapan, 26 Februari
Salam
Satria