IlustrasiDear all,
Saya tidak suka menyebarkan pesimisme tapi resesi global ini nampaknya memang kelabu. Joseph Stiglitz, pemenang Nobel Ekonomi th 2001, meramalkan bahwa akan ada 30 juta pekerja yang akan terpaksa tersingkir dari pekerjaannya dan bahkan bisa meningkat menjadi 50 juta orang. Jangan tanya soal angkatan kerja baru yang akan melongo melihat begitu panjangnya antrian dan sengitnya persaingan untuk mendapatkan pekerjaan yang paling remeh sekali pun. Dan ini akan berdampak lebih besar pada negara-negara sedang berkembang seperti negara kita. Gambaran yang lebih kelabu adalah bahwa akan ada sekitar 200 juta manusia di dunia ini yang akan turun derajat menjadi kelompok ‘rakyat miskin’ jika penanganan resesi ini tidak cepat dan tepat (1)

Dalam kondisi resesi begini jelas setiap negara akan berusaha untuk mengurusi negara masing-masing dulu dan untuk sementara tidak akan terlalu perduli dengan penderitaan negara-negara tetangga. Jadi kita memang tidak bisa terlalu berharap pada bantuan luar negeri dan mesti berupaya untuk mencari solusi dari dalam sendiri. Saat ini Amerika sudah meluncurkan program ‘buy America’ agar rakyat AS yang suka belanja barang import tersebut lebih mengutamakan berbelanja barang buatan dalam negeri mereka sendiri. Program stimulus ekonomi Obama diarahkan agar bantuan ekonomi yang diberikan kepada rakyatnya dibelanjakan pada barang-barang produk Amerika. Tentu saja! Bayangkan kalau bantuan ekonomi tersebut justru dibelanjakan pada produk luar, yang meskipun mungkin jauh lebih murah dan jauh lebih baik, jelas akan membuat produk sendiri menjadi tidak laku dan membuat pengangguran semakin meningkat. Meski program ini sendiri mendapat banyak tentangan karena dianggap sebagai program proteksionisme yang tidak sejalan dengan ruh perdagangan bebas yang digadang-gadang oleh AS sendiri program ini juga dianggap akan membuat perekonomian negara lain jadi goyah. (2 & 3) Jadi … please please please…! jika Anda suka berbelanja barang import tolong dihentikan dulu kebiasaan itu dan alihkan konsumsi Anda pada produk dalam negeri. Meski mungkin kalah cantik dan kalah murah dibandingkan produk dari negara China, misalnya, tapi kelebihan itu bisa dipakai untuk sarapan pekerja kita sendiri. Bayangkan jika kita sudah tidak bisa sarapan lagi (apalagi tadi malam juga tidak sempat mengisi perut).

Kenapa resesi ekonomi belum terasa betul di negara kita? Ada banyak alasan baik yang akademis maupun yang tidak. Tapi saya melihat bahwa faktor Pemilu memainkan peran yang besar hingga sampai saat ini kita belum merasakan betul dampak dari resesi ini. Pemilu…? Ya! Sistem pemilu kita saat ini ternyata ada manfaatnya bagi rakyat miskin dan para pengangguran (Dalam kampanyenya baru-baru ini Jusuf Kalla menyatakan keheranannya karena peserta kampanyenya ketika ditanya profesinya ternyata para pengangguran! Not so surprising actually). (4)

Karena para caleg mesti berburu suara langsung ke pemilik suara maka berbagai cara dilakukan agar mereka mau memilih mereka. Salah satu cara yang dianggap paling efektif adalah dengan membeli suara mereka. Membeli artinya benar-benar memberi sejumlah uang kepada para pemilih agar mereka mau memilih si pembeli. Dari berbagai daerah saya mendengar bahwa seorang kontestan mesti memberi sekitar 25 ribu rupiah untuk setiap pemilih agar mereka mau memilihnya (padahal saya dengar butuh sedikitnya 2500 suara agar bisa lolos jadi anggota legislatif di daerah). Itu baru uang tunainya dan belum termasuk konsumsi seperti nasi bungkus, nasi kotak, berkatan, kue-kue, natura, sarung, jilbab, dlsb. Selesai? Tidak. Calon lain (yang juga pingin dipilih) akan datang ke pemilih yang sama dan memberi jumlah uang yang lebih besar plus bonus lain-lain. Dan begitulah yang terjadi terus menerus. Jadi untuk sementara problem ekonomi rakyat miskin kita sedang mendapatkan ’bail-out’ dan ’BLT swasta’ dari para kontestan pemilu. Jadi ada semacam aliran dana dari orang-orang yang lebih mapan ekonominya ke kalangan bawahnya. Lebih mapan? Ya, tentulah! . ‘Nyaleg’ itu butuh biaya besar jadi kalau tidak punya biaya lantas ikut-ikutan ‘nyaleg’ ya resiko mesti ditanggung sendiri dengan ngutang kesana kemari. Pokoknya harus ada dana yang dikeluarkan untuk biaya ‘nyaleg’. Dan dana itu mengalir kemana-mana. (5 & 6)

Akibatnya ada semacam ’unexpected trickle down’ akibat pemilu yang berlaku di se antero nusantara! Pemilu ini menjadikan para kaum dhuafa sebagai ladang aksi ’kedermawanan’ dadakan dari para caleg yang terjadi di semua daerah, baik di kota-kota besar maupun di desa-desa terpencil. Suara adalah suara dan itu tidak gratis. (7)

Apa yang akan terjadi setelah pemilu? Yang jelas kita akan melihat banyak orang kecewa, sakit hati, dan menyimpan dendam karena ’nyaleg’ tapi tidak terpilih. Tentu saja akan ada cukup banyak kontestan pemilu yang jatuh miskin akibat aksi ’kedermawanan’nya tersebut. Itu sebabnya di berbagai daerah kita mendengar kesiapan beberapa daerah untuk menyediakan fasilitas perawatan medis bagi mereka yang diperkirakan akan tidak mampu menanggung beban psikis karena tidak terpilih tersebut. Pemerintah telah menyediakan fasilitas perawatan bagi orang-orang yang stress berat dan depresi akibat pemilu. Ini yang disebut antisipasi! (8)

Selain itu jelas bahwa tidak akan ada lagi orang-orang dermawan dadakan dan para pengangguran mesti cari cara lain untuk bisa bertahan hidup. Jika pemerintah tidak bisa mengeluarkan kebijakan ekonomi untuk menangani masalah ini maka kita akan melihat banyak masalah bermunculan yang jika dibiarkan akan menjadi kerusuhan massal. Kita tidak bisa main-main dengan orang lapar.
Apa usulan saya? Karena saya bukan akademisi dan tidak mungkin mengeluarkan kebijakan ekonomi makro maka usulan saya adalah mengajak semua orang (utamanya yang tidak ikut ‘babak belur’ secara ekonomi karena ikut ‘nyaleg’) untuk sebisa-bisanya menggantikan posisi para dermawan dadakan tersebut dengan menyantuni para dhuafa yang kebanyakan memang para pengangguran. Jika sekilo beras bisa dikonsumsi oleh 10 orang sekali makan maka jika setiap dari kita bisa membagikan 20 kilo beras setiap bulan kepada para tetangga maka minimal kita sudah membantu 4 orang untuk bisa makan setiap bulannya. (9)
Hal ini tentu tidak akan mengubah resesi global menjadi lebih prospektif tapi paling tidak ini akan membantu pemerintah mencari cara untuk menyelesaikan masalah kemiskinan rakyatnya secara lebih makro.

Jadi kalau Anda tidak ikut ‘nyaleg’ dan secara ekonomi masih lebih beruntung (karena masih punya pekerjaan dan gaji tetap) mari kita bersiap-siap untuk menggantikan posisi para dermawan musiman tersebut agar dampak resesi global tidak terlalu keras menghantam lingkungan kita dan suasana kebersamaan tetap terjaga.

Balikpapan, 29 Maret 2009
Satria Dharma

Bacaan :
1. http://www.truthout.org/032809Y
2. http://www.kontan.co.id/index.php/Nasional/news/8686/Program_Buy_America_Dapat_Tentangan_Hebat.
3. http://www.kapanlagi.com/h/jepang-khawatirkan-program-buy-american.html)
4. http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/03/22/16194884/Kalla.Heran.Peserta.Kampanye.Golkar.Banyak.Pengangguran
5. http://kebumendiary.info/Pemilu2009/mari-berhitung-biaya-kampanye-caleg-2009/
6. http://isnuansa.com/biaya-kampanye
7. http://nasional.kompas.com/read/xml/2008/10/26/16570971/caleg.harus.siapkan.biaya.kampanye.minimal.rp400.juta
8. http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/03/23/15320259/rumah.sakit.jiwa.siap-siap.tampung.caleg.gagal
9. http://www.suaramerdeka.com/harian/0402/23/eko4.htm

Ilustrasi: http://www.strategydesk.co.id

Iklan