Ilustrasi: Sekolah Internasional

Ilustrasi: Sekolah Internasional

Suatu ketika di masa yang belum terlalu lama datanglah se rombongan guru SBI ke Jepang. SBI itu singkatan dari Sekolah Bertaraf Internasional. Jika Anda masih awam dengan istilah tersebut sila baca di sini. Salah satu alasan dibentuknya program ini adalah agar devisa bangsa tidak tersedot oleh banyaknya siswa yang sekolah ke luar negeri seperti yang terjadi selama ini. Katanya sih setiap bulan satu juta dolar AS atau lebih dari 10 miliar rupiah mengalir keluar negeri untuk biaya sekolah anak-anak di luar negeri. Baca di : sini

Jadi alangkah mulianya jika kita bisa membuat sendiri sekolah yang bertaraf internasional agar siswa-siswa kaya tersebut tidak perlu harus ke luar negeri bersekolah dan devisa kita tidak tersedot. Tapi itu hanya satu alasan. Ada alasan lain yang tentunya tidak kalah mulianya tujuannya.

Meski demikian tentu saja ada orang-orang usil yang mempertanyakan mengapa harus ada sekolah bertaraf internasional segala. Kritik tentang ini bisa dilihat di sini
dan sini
Salah satu komponen paling penting dari SBI ini katanya adalah kurikulumnya mengacu ke kurikulum yang digunakan oleh negara-negara OECD. Dan karena sekolah tersebut menyandang nama ‘Internasional’ maka para gurunya mesti sering mengadakan studi banding ke negara-negara yang pendidikannya maju macam Singapore, Jepang, Belanda, dll. Pokoknya negara-negara OECD lah! (Bagi yang belum tahu apa itu dan mana saja negara OECD itu silakan lihat ke sini

Kenapa Negara-negara OECD dijadikan sebagai acuan? Ya karena mereka adalah negara maju dunia dan semestinya mempunyai kualitas pendidikan yang toplah! (Tapi kalau Anda sudah mengecek negara mana saja yang termasuk negara OECD maka saya minta maaf karena salah satu nama negara yang saya sebutkan di atas ternyata bukan termasuk anggota OECD). Oh ya, OECD itu singkatan dari Organisation for Economic Co-operation and Development.

Jadi begitulah… Once upon a time beberapa orang guru SBI kita berkunjung ke sebuah sekolah di negara OECD, yaitu Jepang. Dan seperti jamaknya dalam sebuah kunjungan maka kita tentu akan menjelaskan asal kita dan dimana kita mengajar..

“ Kami adalah guru-guru dari Indonesia yang datang ke negara Anda untuk belajar dan menyerap ilmu dari sekolah Anda yang termasuk dalam Negara OECD. Kurikulum kami mengacu pada negara-negara tersebut” Bu Murni, liaison officer rombongan ini mengawali dengan kerendahan hati.

Tentu saja para guru Jepang tersebut senang dan bangga bukan main disebut sebagai sekolah rujukan karena menyandang predikat sebagai Negara OECD (meski mereka juga kurang tahu apa itu OECD dan mengapa kurikulum sekolah mereka dianggap unggul dan hebat). Kembang kempis hidung mereka mendengar hal ini. “Arigato… Arigato Gozaimas…!’ ucap mereka berkali-kali sambil membungkukkan badan berkali-kali. Tanpa mereka sadari ternyata sekolah mereka adalah sekolah rujukan bagi sekolah negara lain, paling tidak bagi negara Indonesia yang dulunya merupakan Saudara Muda. Siapa sangka…?!

“Kami berasal dari Sekolah Bertaraf Internasional!” lanjut Bu Murni dalam bhs Inggris.
“Oh ya…! Ini sungguh menarik.” sahut seorang guru Jepang,”Mengapa sekolah Anda disebut sekolah bertaraf internasional? Apakah Anda mengajar anak-anak para expatriate?”
“ Tidak. Siswa kami semuanya anak-anak Indonesia belaka. Sekolah kami adalah Sekolah Bertaraf Internasional dan bukan Sekolah Internasional.” Bu Murni menjelaskan perbedaannya.
Tentu saja guru Jepang ini heran karena mereka hanya tahu istilah ‘Sekolah Internasional’ di mana anak-anak dari berbagai negara asing belajar dengan menggunakan standar negara yang mendirikannya. “Lantas apa maksud dari ‘bertaraf internasional’ tersebut?” tanya mereka lebih antusias.’Apakah sekolah Anda mengajarkan budaya-budaya internasional?”
“Tidak juga.” Jawab Bu Murni. “Kami tidak mengajarkan budaya internasional atau internasionalisme.
“Lantas dimana letak internasionalnya?’ tanya mereka dengan kening berkernyit. Ini sungguh berbeda dengan apa yang mereka pahami sebelum ini. Dan mereka sungguh ingin tahu.
“ Mmm… karena sekolah kami menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya.” Jawab Bu Murni dengan percaya diri. (atau ada yang bisa menjawab dengan lebih baik…?!)
“Bahasa pengantarnya bahasa Inggris…? Mengapa harus dalam bahasa Inggris…?” si Jepang kembali bertanya dengan penuh minat.
“Ya karena kami bertaraf internasional (gitu loh!)…. . Maksud kami… karena bahasa Inggris adalah bahasa internasional dan untuk dapat berperan aktif dalam pergaulan dunia internasional maka siswa-siswa kami harus menguasai bahasa Inggris. Untuk itu kami membiasakan siswa-siswa kami untuk berkomunikasi dalam bhs Inggris.” Bu Murni tentu masih percaya diri dengan jawaban ini. Si Jepang manggut-manggut berusaha untuk memahami logika ini. Sungguh logis! Kalau mau diterima dalam percaturan dunia internasional ya mesti bisa bahasa Inggris dong!

Sungguh kagum para guru Jepang ini dengan konsep ini. Beberapa diantara mereka mendecakkan lidahnya. ‘Sekolah bertaraf internasional berarti menggunakan bahasa Inggris yang internasional tersebut’. Sungguh pas!
Alangkah hebatnya para guru di sekolah-sekolah di Indonesia! Pikir mereka. Mengajar di kelas dengan menggunakan bahasa Inggris sungguh tidak terbayangkan oleh mereka. Benar-benar internasional…! Berantakan otak mereka membayangkan bahwa mereka harus mengajar pakai bahasa Inggris dengan lidah cedal sushi ala Okinawa.

Tapi tunggu dulu…! Apakah para negara OECD tersebut menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar di sekolah mereka? Ternyata tidak! Setiap negara OECD tersebut menggunakan bahasa daerah atau bahasa nasional mereka sendiri-sendiri. Di Jepang ya pakai bahasa Jepang, di Prancis ya bahasa Prancis, di Meksiko ya pakai bahasa Meksiko, orang Korea ya tetap pakai bahasanya, dst. Berarti mereka tidak ‘internasional’ dong! Tapi si guru Jepang mungkin tidak berani ‘menggugat’ konsep ‘international means English as language of instructions’ tersebut. Lagipula mana bisa para guru Jepang tersebut bersilat lidah dalam bahasa Inggris yang intenasional itu! Ngomong ‘welcome’ dengan benar saja susah kok. Jadinya malah ‘were kamu’. Jadi guru tersebut diam dan manggut-manggut saja. Sedikit demi sedikit kebanggaan mereka sebagai sekolah rujukan meleleh. “Ternyata mereka lebih hebat dari kami yang dirujuk…!” pikir mereka. Tanpa mereka sadari keringat dingin mengalir di balik jas sederhana mereka.

“Apalagi ciri dari sekolah SBI Anda…?!” Tiba-tiba seorang guru Jepang lain bertanya dengan bahasa Inggris terbata-bata. Kalau dites TOEFL mungkin guru tersebut tidak akan mencapai 400 nilainya. Bandingkan dengan guru SBI kita yang mesti mencapai nilai TOEFL di atas 500!
Bu Murni menarik nafas dan menjawab,”Sekolah kami itu menggunakan standar ISO 9001, versi sesudahnya, dan ISO 14000…. . “.
“Oooo…!” si guru Jepang cuma bisa melongo mendengar deretan angka ISO tersebut dan tiba-tiba merasa minder karena sekolahnya tidak pakai ISO-ISO-an. Bukankah itu berarti sekolah Jepang itu termasuk ‘Sekolah Ora ISO”…?! Diam-diam ia berjanji dalam hati akan belajar tentang “Kurikulum Negara OECD” yang begitu hebatnya sehingga menyaratkan ISO tersebut. Jepang rupanya sudah ketinggalan jauh dari Indonesia dalam soal ISO dan kini mereka tercampak dalam golongan sekolah “Ora Iso”.
Ketika para guru Jepang ini pada terdiam karena menyadari mereka masuk dalam golongan ‘Ora Iso’ maka semakin percaya dirilah para guru SBI kita.

“Sekolah kami mensyaratkan skor IQ minimal 130 bagi siswa untuk bisa diterima.” Sahut seorang guru.
“Untuk bisa diterima di sekolah kami siswa mesti membayar mahal. Tidak sembarang orang bisa masuk sekolah ini. Namanya juga ‘internasionaaaal…! Uangnya juga mesti internasionaaaal…!” sahut yang lain dengan nada teatrikal
“Sekolah kami mewajibkan siswanya memakai laftof!” sahut seorang guru dengan bangga. (mungkin maksudnya adalah ‘laptop’).
“Kelas kami semua sudah pakai LCD dan Infocus. Kami sudah lama meninggalkan papan tulis dan kapur karena sudah kuno dan tidak bertaraf internasional. Spidollah mainan kami sekarang.” Sahut guru SBI lainnya.
“Kami berencana untuk membuat kelas yang full AC, ada toiletnya dan reclining seat. Pokoke lengkaplah!” sahut seorang guru yang terinspirasi oleh bis malam eksekutif jurusan Jakarta – Medan.
“Eeee.. eta mah nothing. Nothing at all… In my classroom epri student pada main internet dan brosing-brosingan.” Sahut seorang guru SBI dari Cimahi tak mau kalah. Hatinya panas mendengar koleganya adu sesumbar.

Mendengar kehebatan sekolah SBI ini para guru Jepang semakin ciut hatinya. Ternyata Indonesia sudah demikian maju dibandingkan Jepang. “Apanya yang hendak dirujuk ke kami kalau begini…?!” keluh mereka dalam hati. Sampai saat ini mereka masih pakai papan tulis dan kapur. LCD dan proyektor…?! Mengajar pakai bhs Inggris…?! Siswa bawa laptop ke sekolah…?! Ini sungguh di luar pemahaman guru-guru Jepang yang lugu tersebut. Pantas saja bangsa Indonesia semakin pintar membajak produk Jepang! Demikian pikir mereka.
Hal ini tidak bisa dibiar-biarkan. Mereka harus membangkitkan kembali jiwa Bushido, Samurai, Ninja, Musashi, dioplos dengan Honda, Suzuki, Sanyo, dan Ajino Moto sekaligus. Mereka harus dapat mengejar ketertinggalan mereka dibandingkan sekolah-sekolah SBI ini!

Demikianlah saudara-saudara akhir dari cerita ini. Bukannya para guru kita belajar dari para guru dan sistem pendidikan di Jepang tapi yang terjadi adalah malah sebaliknya. Mereka berhasil membuat para guru di Jepang terbungkuk-bungkuk karena malu. Predikat Negara OECD yang disandangnya ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan Indonesia. Jepang harus belajar balik ke Indonesia, khususnya tentang program SBI ini.

Satria Dharma
Balikpapan, 5 Maret 2010

Iklan