Anak-anak sehat di dunia

Ilustrasi: Keceriaan Anak-anak

Seorang ibu datang ke dokter gigi dan mengeluhkan gigi anaknya yang kropos. Si dokter memeriksa gigi anak tersebut dengan cermat. Ternyata gigi si anak memang kropos. Ada delapan buah gigi si anak yang kropos dan berlubang. Dua diantaranya tidak bisa ditambal karena tinggal separoh.

Ketika si ibu mengeluhkan gigi anaknya dan membela diri bahwa si anak sebenarnya rajin dan teratur menyikat giginya dengan cara menyikat yang benar dan dengan pasta gigi yang berflorida si dokter hanya senyum-senyum saja.

Ketika selesai mengerjakan gigi si anak sang dokter gigi kemudian berkata bahwa masalahnya bukan terletak pada perawatan gigi si anak yang kurang tepat atau pasta gigi yang digunakan kurang berkualitas tapi memang pada kondisi gigi si anak yang memang dari asalnya kurang bagus. Gigi si anak memang buruk kualitasnya karena kurang kalsium. Si ibu kurang asupan kalsiumnya ketika sedang hamil dulu. Jadi masalahnya jauh lebih kompleks. Karena kurang asupan kalsium (dan kemungkinan kurang asupan gizi) ketika hamil maka dampaknya mengenai si anak ketika ia lahir dan beberapa dampak dari kekurangan gizi pada masa kehamilan tersebut akan terbawa sampai si anak lahir dan tumbuh dewasa. Dalam kasus di atas gigi si anak akan bisa cacat permanen. Tak banyak yang bisa dilakukan oleh si ibu agar gigi anaknya bisa tumbuh sehat dan kuat seperti anak-anak yang memiliki asupan kalsium yang cukup ketika masih dalam kandungan. Apa yang bisa dilakukannya hanyalah menjaga agar kualitas gigi yang ada sekarang tidak semakin merosot karena perawatan yang salah.

Si ibu tercenung dan langsung lemas. Seandainya saja waktu bisa diputar… . Ingin sekali rasanya ia melahap asupan kalsium dan apa saja yang dibutuhkan agar anaknya tumbuh sehat dan kuat baik gigi maupun tubuhnya ketika masih hamil dulu. Tapi nasi telah menjadi bubur!

Mendengar cerita ini saya langsung merasa bersyukur bahwa saya memiliki gigi yang bagus dan kuat (you must see my beautiful smile). Saya merasa sangat berterima kasih pada ibu saya yang telah membekali saya dengan gigi yang bagus dan kuat. Semua saudara saya punya gigi yang bagus dan kuat. Rupanya Ibu saya waktu dulu sudah paham benar betapa pentingnya mengkonsumsi tambahan kalsium (dan vitamin) bagi anak yang ada dalam kandungannya sehingga dengan penuh kesadaran beliau mengkonsumsi berbagai macam tambahan makanan yang diperlukan oleh bayi yang ada di dalam kandungannya tersebut. Itu baru konsumsi makanan bagi si bayi dalam kandungan. Tentunya ada konsumsi psikologis juga bagi anak dalam kandungan agar kita memiliki anak yang bukan hanya sehat lahiriah tapi juga sehat batiniah. Ibu saya benar-benar mempersiapkan diri dalam menyambut kelahiran anaknya. Dan saya (dengan gigi sehat dan senyum menawan) adalah hasilnya!

Seketika mengalir air mata saya membayangkan betapa banyaknya ibu yang tidak mampu memperoleh asupan gizi baik bagi dirinya mau pun bagi anak dalam kandungannya. Begitu banyak orang miskin yang tidak memperoleh asupan gizi yang cukup bagi kehidupan sehari-harinya, apatah lagi mendapat tambahan gizi bagi anak dalam kandungannya. Bahkan banyak di antara mereka yang tidak tahu kalau sedang hamil dan baru tahu beberapa bulan kemudian. Artinya mereka tidak (atau tidak bisa) mempersiapkan kehamilannya dengan sebaik-baiknya agar bayinya bisa lahir sempurna tanpa kekurangan apa pun dan kelak bisa tumbuh dengan sehat lahir dan batin. Semakin mengalir air mata saya membayangkan betapa banyak ibu yang justru menderita dan mendapat perlakuan buruk dari suaminya yang sama melarat dan tidak pahamnya dengan dirinya betapa penting suasana batin yang damai bagi anaknya yang akan lahir. Betapa banyak bayi-bayi yang lahir dengan membawa berbagai kekurangan fisik dan mental. Ya Allah…! Simpati saya bagi mereka, ya Allah!

Apakah yang bisa kita lakukan…?! Apakah yang Negara bisa lakukan…?

Saya lantas teringat pada cerita seorang teman yang sempat melanjutkan studinya di Australia dan membawa keluarganya serta. Karena mendapat beasiswa penuh dari pemerintah Australia maka keluarganya juga mendapat tunjangan kesehatan dan itu gratis sama sekali.

Ketika istrinya memeriksakan diri ke rumah sakit dan berdasarkan pemeriksaan ternyata ia hamil maka ia langsung mendapat perawatan penuh untuk persiapan kehamilannya tersebut. Keesokan harinya istrinya langsung mendapatkan paket lengkap makanan tambahan untuk dirinya dan bayi (masih embryo sebenarnya) yang dikandungnya dan buku-buku tentang kehamilan dan tentang merawat bayi yang perlu dipahami. Paket tersebut diantarkan ke rumahnya dengan penuh hormat dan kasih sayang (mestinya). Negara Australia berkepentingan dengan bayi yang akan dilahirkannya. Setiap bayi yang akan lahir adalah asset yang penting dan harus mendapatkan perawatan terbaik yang bisa diberikan oleh negara agar bayi yang berada dalam kandungan benar-benar sehat dan dapat lahir dengan sempurna. Dengan tambahan makanan dan pengetahuan tentang bagaimana merawat bayi yang ada dalam kandungan pemerintah Australia berharap agar setiap bayi yang lahir berada dalam kondisi yang terbaik yang bisa mereka terima. Tidak perduli bahwa si ibu bukanlah warga Australia.

Mendengar cerita ini tanpa terasa air mata saya mengalir lagi. Oh Australia…! Betapa baiknya Engkau pada para ibu yang hamil! Tak salah jika pendudukmu lebih sehat dan kuat karena Engkau sangat memerdulikannya sejak mereka masih berupa embryo. Engkau bahkan tak perduli bahwa si ibu akan membawa pulang anaknya nanti ke Indonesia dan tidak akan tinggal di negaramu. Betapa baiknya Engkau…!

Dear all,

Jika Anda menemui seorang ibu hamil yang memerlukan tambahan asupan gizi (yang tidak bisa diperolehnya karena kemiskinannya), maukah Anda membantu sekedarnya semampu Anda agar bayi yang dikandungnya dapat lahir dengan sempurna kelak? Siapa tahu suatu saat Anda akan menemui anak tersebut dan ketika anak itu tersenyum pada Anda dengan giginya yang sehat dan sempurna maka Anda akan bersyukur karena Anda telah membantu asupan gizi gigi anak tersebut.

Satria Dharma
Balikpapan, 11 Juni 2010

Iklan