Singapore, June, 2010 Rabu, 2 Juni 2010, Saya dan Ika mengadakan tur ke Singapore selama 3 hari.

Tour ini kami lakukan tanpa persiapan jauh-jauh hari seperti biasanya dan boleh dibilang cukup mendadak. Persiapan matang jauh-jauh hari sebelumnya adalah ciri khas Ika sedangkan saya lebih suka mempersiapkan diri last minute seperti ini. 🙂

Entah kenapa tiba-tiba saya ingin jalan-jalan ke Singapore. Mungkin karena ingin menemani orang tua saya yang ingin berobat ke Singapore tapi tidak bisa karena saya ada jadwal rapat yayasan di STIKOM Bali. Akhirnya adik saya yang menemani mereka. Tapi ternyata mereka samasekali tidak bisa menikmati perjalanan karena sepenuhnya berada di rumah sakit Mount Elizabeth.

Sebenarnya minggu ini jadwal kerja saya adalah mengikuti rapat pembahasan Naskah Kurikulum di Kemendiknas karena diundang oleh seorang teman. Saya diundang dalam kapasitas sebagai Ketua IGI, katanya.

Saya sudah pesan tiket untuk berangkat Rabu hari ini karena rapatnya pada hari Kamis dan Jum’at. Entah kenapa tiba-tiba saja kemarin pagi teman saya tersebut mengirim SMS memberitahu bahwa ternyata nama saya tidak ada dalam undangan dan ia sangat malu akan hal tersebut. Bagi saya hal tersebut justru sebuah kebetulan yang menyenangkan karena saya tidak terlalu tertarik dengan acara tersebut. Saya sudah bosan melakukan rapat-rapat akademis seperti itu dan biasanya kami cuma jadi stempel saja. Semuanya sudah diatur oleh mereka dan tidak ada masukan berarti yang akan diterima.

Karena sudah terlanjur punya tiket ke Jakarta Rabu, 2 Juni 2010 dan kembali ke Balikpapan Sabtu malam (yang berarti saya akan berada di Jakarta selama 4 hari tanpa ada acara yang jelas) maka terpikir kembali keinginan saya untuk jalan-jalan ke Singapura. Saya pun browsing di internet dan dapat penawaran tiket promo dari Jakarta ke Singapura hanya 250 ribu rupiah! Berarti lebih murah daripada dari Balikpapan ke Surabaya sekalipun! Tiket kembalinya yang biasanya jauh lebih mahal juga ternyata tidak mahal dan harganya cuma 430 rb rupiah. Akhirnya saya mengajak Ika untuk ikut. Saya memang punya janji untuk mengajaknya ke Thailand sebelumnya. Tapi karena situasi Thailand yang bergolak maka rencana ke Thailand saya coret dan saya ganti ke Singapore (dan Malaysia kalau mau). Saya bahkan sudah membeli buku travelling dengan judul “Keliling Singapore dengan Rp 500 rb” tulisan Claudia Kaunang dan berharap bisa mengikuti cara tersebut. Jadi tour ke Singapore ini anggaplah sebagai ganti dari janji saya mengajaknya ke Thailand. 🙂

Setelah booking tiket via internet dan harus dibayar via ATM Mandiri paling lambat jam 14:00 saya pun mulai browsing hotel. Saya tentu tidak ingin tinggal di backpacker hostel atau apartemen murah. Saya ingin menikmati perjalanan kami dengan biaya murah tapi tetap nyaman. Seorang teman yang saya kabari tentang perjalanan saya ini bertanya apakah perjalanan saya ini ‘backpacking’ atau ‘guided tour’ dan saya jawab di antaranya. Kami akan mengadakan perjalanan tanpa guide tapi tidak dengan fasilitas backpacking yang serba terbatas tersebut. Kami ingin tetap menikmati makan yang enak dan fasilitas hotel yang nyaman. ‘Balung tuwo’ yang sudah oversek seperti saya ini tidak perlu lagilah terlalu adventurous. Bagaimana pun usia overseket (di atas lima puluh) seperti saya ini sudah tidak bisa disamakan dengan ‘balung nom’.

Akhirnya saya menemukan sebuah hotel kecil di jaringan hotel 81 yaitu Dickson Hotel di daerah Little India. Ketika saya lihat ternyata ada satu kamar superior yang tersisa untuk tanggal yang saya inginkan. Kamar tersebut segera saya pesan melalui internet dan membayar pakai kartu kredit. Kalau saya batal menggunakan kamar tersebut maka saya akan dikenai denda biaya menginap 1 malam. No problem. Toh saya pasti berangkat dan sudah punya tiket.

PERSIAPAN

Karena kami ingin agar perjalanan kami benar-benar praktis maka kami harus membawa tas yang tidak perlu dibagasikan. Saya bawa tas punggung dan Ika membawa tas kecil yang biasa saya bawa kalau bepergian satu atau dua hari. Meski kecil dan masuk kabin tapi tas tersebut pakai roda. Kami tidak berencana untuk membeli oleh-oleh. Ini perjalanan ‘No Shopping’. Orchard Road tidak masuk dalam daftar perjalanan kami. Meski demikian saya sudah berencana untuk membawa sebanyak mungkin brosur turisme dari Singapore nantinya. Kami telah berencana untuk mendorong anak-anak agar bisa datang ke Singapore bersama sepupu-sepupunya dengan cara backpacking suatu waktu nanti. Brosur tersebut akan membuat mereka lebih mudah mengenal daerah tujuan wisata mereka nantinya. Lagipula kami akan membutuhkannya selama di Singapura.

Saya sendiri telah browsing di internet dan telah mengambil materi-materi traveling yang akan kami datangi nantinya di Singapura dan saya masukkan di laptop. Kami sudah sepakati bahwa kami tidak akan mendatangi lagi tempat yang dulu sudah kami datangi seperti Sentosa Island dan pusat-pusat perbelanjaan termasuk Orchard. Kali ini kami akan lebih banyak melihat kota Singapura dan kebudayaannya. Kami merencanakan akan mengikuti tour sbb :

  1. Singapore Flyer
  2. Ducktours dan Hippotour
  3. Singapore National Museum
  4. Singapore Discovery Center
  5. Night Safari
  6. Asian Civilisation Museum
  7. Singapore Science Center
  8. Mustafa Center
  9. Little India

Kami tidak tahu apakah waktu kami yang hanya 3 hari (tapi kalau dihitung dengan saat kami sampai di Singapura sebetulnya cuma 2,5 hari) tersebut cukup untuk mendatangi semua tujuan tersebut atau tidak tapi kami sudah berencana untuk membeli Singapore Pass untuk mengirit biaya dalam mengikuti semua tour dan juga sudah berencana untuk membeli EZ Link sebagai kartu voucher transportasi. Kami pasti akan banyak menggunakan MRT dan City Bus dalam perjalanan kami. Lagipula EZ Link yang kami beli bisa berlaku untuk 5 tahun. Bisa kami berikan pada keluarga yang mau kesana kapan-kapan.

Singapore, June, 2010

Foto di MRT Bugis

Kemarin waktu menjemput orang tua dari airport kami diberi beberapa dollar Singapore sisa mereka di sana. Kami sendiri membawa US $200 dan 5 juta rupiah sebagai uang saku. Kami baru akan menukarkan uang nanti setiba di Changi.

Kami berangkat ke Jakarta naik Lion Air pada pukul 8:15. Seperti biasa pesawat tidak berangkat tepat waktu. Tapi kami tidak cemas karena kami punya cukup waktu untuk pindah ke pesawat Lion air lainnya di Soekarno Hatta nanti. Pesawat ke Changi akan berangkat dengan jadwal jam 11:20. Jadi kalau kami tiba di Soekarno Hatta jam 9:30 pun kami masih punya waktu sekitar dua jam sebelum berangkat ke Changi.

Kami mendarat di Bandara Soekarno Hatta pada jam 9:30 WIB dan segera mencari bis shuttle menuju terminal II E sebagai terminal keberangkatan internasional. Pintu masuk penuh tertutup oleh kerumunan calon penumpang yang nampaknya penumpang yang akan melakukan umrah. Hal itu bisa dilihat dari pakaian seragam mereka. Kami harus bersusah payah untuk menyibakkan mereka agar bisa masuk.

Dengan cepat kami melakukan proses check-in dan mendapat kursi di no 22 B dan C. Kami juga langsung membayar airport tax sebesar 300 rb utk 2 orang. Untuk melalui pintu imigrasi kami ditanyai apakah kami punya NPWP atau tidak. Jika tidak kami akan dikenai biaya fiskal sebesar 2,5 juta per orang. Tapi karena saya punya NPWP maka saya tinggal minta stempel bebas fiskal di loket imigrasi. Untuk masuk ke ruang tunggu kami harus melewati pemeriksaan paspor dan harus mengisi formulir Kartu Keberangkatan dan Kedatangan.

Kami masuk ke ruang tunggu E 4 dan tak lama kemudian kami diminta untuk naik pesawat. Pesawat Lion Air JT 0154 melakukan take-off pada jam 11:45. Di atas pesawat kami disodori formulir isian untuk melewati imigrasi Changi nantinya. Menurut pemberitahuan pramugari lama penerbangan adalah sekitar 1 jam 30 menit. Jadi kalau tidak ada halangan maka kami akan mendarat di Changi pada jam 2:15 waktu Singapura. Dengan segala urusan antri di imigrasi,tukar uang dolar Singapore dan tanya-tanya di Singapore Visitors Center dan lain-lain kami harapkan sudah meluncur ke Little India untuk menuju ke hotel kami di Hotel 81 Dickson di jalan Dickson Road sekitar jam 3. Menurut petunjuknya kami bisa menuju ke sana dengan naik MRT ke Bugis MRT Station. Dari sana kami bisa berjalan kaki sekitar 5 atau 10 menit menuju hotel.

CHANGI

Kami mendarat tepat waktu dan segera masuk ke Terminal 1 Bandara Changi melalui belalai gajah. Bandara Changi masih tetap terasa megah dan mewah seperti dulu. Karena tidak membawa bagasi maka kami langsung menuju pemeriksaan imigrasi yang untungnya pada saat itu tidak sibuk. Dengan cepat kami keluar dari pemeriksaaan imigrasi dan barang bawaan. Pertama-tama yang kami tuju adalah tempat penukaran uang. Begitu keluar kami langsung melihat tempat penukaran uang dan segera mengeluarkan uang sebanyak 2,5 juta rupiah dan mendapat uang Singapore sebanyak Sing $ 377,50. Ini berarti 1 Sing nilainya Rp.6.622,-, lebih murah daripada terakhir kami membeli dollar Sing.

Selain tukar uang kami juga membeli kartu perdana Singtel sebesar 28 dollar dan ketika dipasang ke HP Ika ternyata lama baru bisa berhasil. Ini memakan banyak waktu kami yang ingin segera keluar dari Changi.

Setelah selesai kami langsung menuju Singapore Tourist Center untuk membeli Singapore Tourist Pass, kartu voucher transportasi. Tapi ternyata adanya di Terminal 2 dan kami harus lari-lari ke terminal 2. Dan karena tidak tahu jalan kami jadi bertanya-tanya sepanjang perjalanan kesana. Ternyata kami harus naik Sky Train yang hanya sekitar 1 menit perjalanan.

Di Terminal 2 kami mendatangi Singapore Tourist Centernya dan membeli Singapore Tourist Pass, sebuah kartu pembayaran transportasi MRT dan bus yang berlaku 3 hari dengan harga Sing $ 34 per orang. Dengan kartu tersebut kami akan bebas menggunakannya naik kereta MRT atau bis kemana saja.

Selesai dari sana kami lalu menuju ke stasiun MRT Changi untuk menuju Bugis MRT Station. Kami berhenti dulu di Tanah Merah Station dan kemudian ambil MRT jurusan Joo Koon. Di Bugis Station kami kemudian berhenti dan mulai mencari Dickson Street.

Meski kami telah mendapat peta kota Singapore dan beberapa petunjuk lain di Changi tapi tetap saja kami kesulitan membaca peta tersebut karena kami tidak tahu arah dan tempat sama sekali. Akhirnya kami tanya lokasi Little Indian dan diberi arah. Kami berjalan melewati Serangon Road dan Sin Lim Square. Sebetulnya lebih dekat lewat Buffalo Road dan masuk ke Upper Dickson Road. Jadi kami berputar dan bahkan masuk ke jalan Rochor.

HOTEL 81 DICKSON

Singapore, June, 2010

Kamar di Dickson Hotel

Setelah menemukan Hotel 81 kami langsung check-in dan mendapat kamar 415. Saya harus membayar sebesar Sing $180 untuk dua malam dengan kamar Superior termasuk tax. Meski demikian jangan bayangkan kamarnya adalah superior karena ternyata kamarnya kecil dan bahkan tak ada kulkasnya. Saya tertarik mengambil kamar ini karena melihat di internet seolah kamarnya besar. Saya jadi heran bagaimana cara mereka mengambil gambar sehingga seolah besar dan sangat luang. Fasilitas kamar ada pemanas air, kamar mandi dengan shower dengan air panas, layar TV ukuran 32, pemasak air dan kopi instan, dan ranjang ukuran King. Kami sholat dengan mengira-ngira arah kiblat.

Kami masuk kamar sudah jam 5 jadi setelah beristirahat sebentar kami segera keluar untuk mencari informasi tentang Duck Tours dan Singapore Flyer. Oleh petugas hotel yang nampak tidak begitu informatif kami diminta untuk ke Suntec City.

TRAVELLING

Singapore, June, 2010

Singapore Art of Museum

Dengan berbekal peta kami berjalan menuju National Museum dulu. Singapore National Museum tidak terlalu jauh dengan berjalan kaki. Ketika sampai disana ternyata sudah hampir jam 6 dan jika jam 6 tiket masuk museum gratis. Kami berfoto-foto di depan museum sampai jam 6. Meski gratis tapi ternyata museum yang khusus untuk sejarah Singapore sudah ditutup dan kami hanya bisa menikmati gallery fashion dan wayang (maksudnya film). Saya agak menyesal juga karena saya ingin melihat museum sejarah Singaporenya. Saya dulu sangat menikmatinya dan saya pikir Ika tentu juga akan senang melihatnya.

Singapore, June, 2010

My Mother, Affandi, 1941

Selepas dari Singapore National Museum kami kemudian ke Singapore Art Museum yang hanya berseberangan jalan dengan Singapore National Museum. Disitu kami menikmati berbagai lukisan yang menceritakan ttg seni lukis yang pernah popule di Singapore. Ada beberapa lukisan dari pelukis terkenal Indonesia seperti Affandi, Basuki Abdullah dan Hendra. Tapi nampaknya lebih banyak pelukis dari Vietnam yang ada di galeri tersebut. Salah satu lukisan yang menarik perhatian saya adalah lukisan Affandi dengan judul “My Mother” yang dilukisnya pada tahun 1941. Anehnya, lukisan yang sama ternyata dipamerkan di Hotel Atlet Century dan dijual dengan harga 750 juta! Mana yang asli, yang ada di Singapore Art Museum atau yang di Hotel Century? Ketika saya tanyakan ke penjaga pameran katanya semua lukisan yang dipajang di pameran tersebut asli, ada sertifikatnya, dan dijamin oleh dua kurator. Apakah mungkin Singapore Art Museum mengoleksi karya repro? Kami mengetahui ini karena kami kebetulan menginap di Hotel Atlet Century di mana pameran lukisan tersebut diadakan.

Selesai dari Singapore Art Museum kami berjalan tertatih-tatih lagi mencari arah ke Suntec City dengan melalui jalur jalan Bencooleen dan tembus ke jalan Bras Basah. Karena punya voucher bis maka kami mau coba naik bis dan bertanya pada orang yang juga sama menunggu bis. Dengan penuh perhatian ia mencarikan arah jalan bis ke Suntec City dan ternyata ada beberapa bis yang bisa kesana. Ada No 111, 106, dan beberapa lagi. Ketika bis 106 tiba kami langsung naik. Untuk naik bis kami harus Tap-in dan Tap-out, artinya menempelkan kartu voucher kami pada saat naik dan pada saat turun. Meskipun kartu kami adalah kartu bebas pakai tapi kalau tidak ditap-out rasanya seperti orang bodoh. 🙂

Singapore, June, 2010

Bencoolen Street

Kami tiba di Suntec City yang ternyata adalah mall yang sangat besar. Segera kami temui petugas yang menjual voucher untuk Singapore Flyer dan Duck Tour. Tapi ternyata sudah tutup dan kami diminta untuk ke depan Hotel Pan Pacific. Karena tidak tahu jalan ya kami putuskan untuk beli besoknya saja di tempat yang sama. Kami jalan-jalan di Suntec City beberapa saat dan setelah itu memutuskan untuk ke Little India dan Mustafa Center.

Untuk menuju ke Little India dan Mustafa Center kami harus naik MRT dari Promenade. Kami berjalan dari Suntec City Tower dan mampir sebentar di Fountain of Wealth yang merupakan air mancur terbesar katanya.

Untuk menuju Little India dari MRT Promenade sebetulnya memutar karena kami harus ke Serangoon dulu dan ganti MRT jurusan Harbour Front dan berhenti di Little India. Artinya kami harus naik turun stasiun. Ketika sampai di Promenade ternyata MRT-nya sudah menunggu dan saya segera meloncat ke dalam MRT. Tak tahunya Ika tertinggal karena tidak segera meloncat seperti saya. Akhirnya saya berangkat sendirian dengan Ika tertinggal di Promenade.

Saya mencoba menelponnya melalui nomor Singtelnya tapi tidak diangkat. Setelah berkali-kali menelpon dan diangkat ternyata itu telpon seorang teman di Kemendiknas. Rupanya ia tadi menelpon saya sehingga nomornya keluar tapi tidak tertulis namanya.

Setelah mencari nomor HP Singtel Ika barulah saya bisa menghubunginya. Ia sudah di MRT dan segera tiba katanya. Tak lama kemudian MRT tiba dan ia keluar persis di tempat saya menunggu. Rupanya ketika ia hendak masuk pintu MRT di Promenade tadi sinyal peringatan kereta sudah berbunyi dan ia tidak berani melompat ke dalam MRT. Ini pengalaman berharga bagi kami agar selalu masuk bersamaan. Bayangkan jika seandainya kami bersama anak-anak dan salah seorang anak kami yang tertinggal!

Dari stasiun MRT Little India kami berjalan ke komplek perkampungan Little India yang unik tersebut. Rasanya seperti di Malioboro tapi dengan suasana India. Sepanjang perjalanan kami membaui aroma rempah-rempah khas India. Persis seperti yang dijelaskan dalam bukunya Cynthia Kaunang.

Kami berjalan terus sampai ke Mustafa Center, toko pusat belanja serba ada yang buka 24 jam! Toko ini menjual segala macam dengan harga murah karena dijual dengan sistem obral. Benar-benar konsep yang berbeda dengan yang ada di Indonesia.

Dari Mustafa Center kami berjalan kaki lagi menuju penginapan kami dengan menggunakan peta yang kami miliki. Karena suasananya baru maka kami merasa senang saja berjalan kaki. Padahal kaki kami rasanya sudah capek sekali. Sampai di hotel kami segera sholat dan tidur. Saya masih sempatkan mandi dengan air hangat (air panas kata Ika). Aaaahhh… nyaman!

Kamis, 3 Juni 2010

Karena kaunter tour untuk Ducktour buka pada jam 9:30 maka kami berupaya untuk berangkat lebih awal. Paginya kami telah mencoba untuk mempelajari peta yang kami miliki dengan tekun. Kami mencatat kemana saja arah yang harus kami tuju dan lewat rute mana saja. Apa saja nama jalan yang harus kami lewati dan apa tanda-tanda yang perlu kami perhatikan.

Singapore, June, 2010

Duck Tour

Keluar dari Hotel kami segera menuju ke Jalan Besar (nama jalannya memang Jalan Besar) yang merupakan terusan dari jalan Bencoolen. Kami melihat bahwa ada stasiun bis di seberang jalan kami. Di stasiun bis tersebut kami melihat jalur-jalur yang dilaluinya. Ternyata ada bis no 857 yang melalui Suntec City. Jadi kami naik bis tersebut dan menghemat waktu dan tenaga kami. Sambil menunggu bukanya kaunter Ducktour pada jam 9:30 kami sarapan Yong Taofu yang merupakan favorit kami kalau ke Ambassador di Jakarta. Kami sengaja pesan satu porsi karena sebelumnya saya sudah makan satu batang coklat Knickers yang saya beli di Mustafa Center kemarin. Satu batang coklat Knickers memberi saya cukup kalori pagi itu.

Ketika kami balik ke kaunter Ducktour ternyata sudah buka dan kami memperoleh jadwal tour yang jam 11.01. Jadwal yang jam 10.01 sudah penuh. Nampaknya tour ini sangat populer karena meski setiap jam ada 2 group tapi toh penuh terus. Singapura benar-benar sudah menjadi pusat turisme dunia. Tak satu pun di antara kelompok saya yang orang Indonesia. Sebagian besar dari India dan Korea. Supaya mendapat diskon saya membeli paket tur Ducktour dan Singapore Flyer sekalian.

Karena kami punya waktu satu jam sebelum berangkat maka kami jalan-jalan di Suntec Mall dan melihat barang-barang elektronik yang dijual. Kami kagum dengan barang-barang yang dijual karena merupakan barang-barang high-tech dan high quality. Tentu saja harganya juga high-price!

DUCKTOUR

Pukul 9:50 kami sudah berbaris di depan petugas travel yang kemudian menjelaskan tentang tour kami itu. Bersama kami ada rombongan anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Mereka brangkat bersama guru-guru mereka. Tapi mereka berangkat dengan Group I sedangkan kami di group 2. Bersama kami adalah turis-turis keluarga dari India dan Korea.

Perjalanan Ducktour ini menggunakan kendaraan amfibi yang bisa melalui darat dan sungai. Dari sungai kami bisa melihat kota Singapore dari sisi yang berbeda. Saya sangat terkesan melihat pembangunan Singapore Integrated Building atau apa begitu yang merupakan hotel, mall, tempat pertemuan dan sekaligus kasino! Kasino ini nampaknya memang untuk turis non-Singapore karena penduduk Singapore harus membayar 100 dollar jika ingin masuk tempat tersebut. Dengan cara demikian pemerintah Singapore ingin membatasi penduduk yang ingin berjudi (padahal penduduk Singapura suka sekali berjudi di Batam!).

SINGAPORE FLYER

Singapore, June, 2010

Singapore Flyer

Salah satu tempat yang ingin kami kunjungi kali ini adalah Singapore Flyer. Meski telah berkali-kali ke Singapore tapi saya belum memiliki kesempatan untuk menaikinya. Singapore Flyer ini adalah wahana rekreasi baru dan ketika terakhir kali saya ke Singapore wahana ini sedang diperbaiki karena ada kemacetan. Singapore Flyer adalah tempat untuk melihat Singapore dari udara dengan menggunakan kapsul yang berputar seperti roda. Satu kapsul bisa memuat sekitar 20-an orang tapi waktu itu hanya diisi oleh kami berdua dan pengunjung lain yang bersama kami diminta untuk naik kapsul berikutnya. Mungkin karena tidak terlalu banyak pengunjung pada hari itu. Singapore Flyer adalah salah satu landmark kota Singapore dan tingginya mencapai sekitar 170 merer. Di tempat teratas dari kapsul tersebut kita bisa melihat Malaysia dan Indonesia. Pemandangan kota Singapore sangat spektakuler dlihat dari Singapore Flyer ini. Sebelum naik Singapore Flyer ini kami difoto dan ketika turun fotonya bisa kami beli dengan harga yang cukup mahal. Tapi hasil fotonya sangat bagus dan sangat sayang kalau tidak kami ambil. Saya bahkan mengambil 2 dari 6 disain yang ditawarkan.

Turun dari Singapore Flyer kami kemudian berjalan kaki lagi menuju stasiun bis dan naik bis kembali ke Little Indian. Jadwal kami selanjutnya adalah menikmati Night Safari yang akan mulai pada jam 6 sore. Oleh petugas turnya kami diminta untuk siap di Suntec City pada pukul 5:50. Hari masih siang jadi kami masih sempat untuk jalan-jalan di Little indian dan Mustafa Center. Kali ini kami masuk ke Pintu 4 yang dipenuhi dengan dagangan parfum, barang-barang elektronik, tas-tas kulit, dan lain-lain. Saya membeli tas kecil untuk laptop ukuran 10 inch. Kata Ika harganya lebih murah daripada di indonesia. She is an expert in prices. Jadi saya ikut apa katanya saja. Saya sendiri tidak terlalu sensitif dengan harga 🙂

Kami tidak lama di Mustafa Center dan berjalan kaki kembali ke Dickson Road. Kali ini kami sudah lebih hafal jalanan menuju hotel dan tidak terlalu mengandalkan peta yang kami miliki lagi. Kami beristirahat sejenak, mandi, sholat, dan kembali naik bis dari Jalan Besar ke Suntec City. Kami juga sudah hafal nomor bis yang menuju Suntec City (but don’t ask me now. The neccessity is over so my memory stops doing his job)

NIGHT SAFARI

Pukul 6 kami berangkat naik bis ke Night Safari. Perjalanan kira-kira memakan waktu sekitar 40 menit dan ketika kami sampai di lokasi ternyata sudah penuh dengan para turis. Di bis kami diberi tahu untuk segera menuju ampitheatre untuk menonton pertunjukan Creatures of the Night. Karena pertunjukan baru akan dimulai pada pukul 7:30 maka kami mengantri lagi untuk masuk ke ampitheatre yang tidak terlalu besar tempat di mana pertunjukan akan dilangsungkan. Sebelum waktu pertunjukan dimulai ampitheatre telah penuh. Nampaknya Night Safari adalah tur yang sangat populer karena selalu penuh ampitheatre dengan cepat terisi penuh.

Pertunjukan Creatures of the Night ternyata sangat sederhana. Seekor musang besar turun dari tali yang melintang di atas penonton, seekor hyena melintas di gundukan tanah di tengah ampitheatre yang didesain seperti bukit kecil sambil menarik batang pohon untuk menunjukkan kekuatan giginya yang diberitakan mampu mengkerkah kepala gajah sekali pun, musang yang bisa mencium aroma buah anggur dan seekor ular phyton besar yang dililitkan di leher seorang penonton relawan. Nothing special tapi mampu dikemas dengan baik untuk menjadi tontonan.

Di luar ada pertunjukan permainan sembur api yang biasa kita tonton. Tapi kali ini diselingi dengan tari-tarian. Selain itu ada perjalanan naik kereta untuk melihat binatang-binatang di habitat mereka. Tentu saja suasananya gelap gulita kecuali di beberapa tempat yang diberi sedikit penerangan. Ini adalah ‘Night Safari’ jadi suasananya tentu saja gelap gulita. Jika Anda mengira bahwa Anda akan mengalami sebuah perjalanan safari macam di Afrika Anda tentu salah kira. It’s far from dangerous or even adventurous. Ini perjalanan hiburan yang lebih cocok untuk anak-anak ketimbang mereka yang ingin merasakan aliran adrenalinnya menderas karena petualangan.

Pukul 9:30 kami sudah kembali ke bis yang mengantar kami dan menunggu penumpang yang lain. Kami dibawa kembali ke Suntec City tapi kami minta berhenti di Bencoolen Street. Dari situ kami berjalan kaki menuju hotel kami yang jalannya sudah kami perhatikan di peta. Sebetulnya tinggal lurus saja dan kami akan sampai ke Jalan Besar dimana Dickson Street berujung. Tapi Ika menjadi bingung dalam perjalanan dan menyuruh balik ketika menemui Rochor Street. Ketika kami balik dan semakin bingung baru kami lihat lagi petanya. Ternyata kami memang masih harus berjalan terus melintasi Rochor dan sampai di Jalan Besar. Walhasil kami capek juga ketika sampai di hotel.

Sebelum tidur saya mempelajari lagi peta yang kami miliki dan mencari jalan untuk menuju ke Singapore Discovery Center dan Singapore Science Center untuk tujuan perjalan esoknya. Saya sudah pernah mengunjungi kedua tempat ini sebelumnya dan saya ingin Ika mengunjunginya juga. Kedua lokasi tersebut berada di wilayah Timur kota Singapore dan bisa ditempuh dengan MRT jurusan Joo Koon (bacanya ‘jukun’ dan kami plesetkan menjadi ‘jukun beranyak’ seperti kalau mengucapkan ‘jalan becyek tidak ada ojyek, dan setelah itu kami tertawa bareng-bareng). Untuk itu kami harus mencari stasiun MRT di Bugis (Bugis MRT Station) yang jaraknya cukup dekat dari hotel kami. We should not get lost or even confused this time since it is so easy to find and so close, pikir saya.

Jum’at, 4 Juni 2010

Singapore Discovery Center dan Singapore Science Center.

Bangun pagi sarapan kopi instan yang disediakan hotel plus coklat Snickers beli sendiri di Mustafa kemarin kami pun siap berangkat ke Discovery Center di ‘Jukun Beranyak’. Dengan mudah kami menemukan Bugis MRT Station dan turun mencari kereta yang menuju arah Joo Koon. Stasiun penuh sesak karena mereka dalam perjalanan menuju kantor. Ini hari kerja dan kereta benar-benar penuh sesak. Kami terpaksa melewatkan kereta pertama karena sesaknya dan menunggu kereta berikutnya yang tiba setiap 4 menit. Tentu saja interval ketibaan kereta berbeda-beda dan kita bisa melihatnya di papan informasi yang tersedia sejak kita masuk stasiun.

Singapore, June, 2010

Discovery Center

Ketika kereta berikutnya tiba, dan ternyata juga hampir sama sesaknya, kami pun mendesak masuk. Untungnya suasana berdesakan tersebut tidak berlangsung lama karena sebagian besar dari penumpang turun di pusat perkotaan dan perkantoran yang terletak di tengah kota Singapura. Joo Koon itu ujung stasiun MRT di sebelah Timur kota Singapura. Kami bahkan bisa mendapatkan tempat duduk setelahnya.

Turun di Joo Koon kami mulai mencari-cari arah ke Discovery Center. Kami sempat salah ambil arah dan setelah bertanya akhirnya menemukan arah menuju Discovery Center. Menurut buku panduan jarak dari stasiun Joo Koon ke Discovery Center hanya 10 menit. Tapi itu kalau kita berjalan secepat orang Singapore yang memiliki ilmu ginkang (meringankan tubuh) yang tinggi dan sudah tahu arahnya. Jika Anda berjalan ala Indonesian Style dengan mencari-cari arahnya maka silakan mengalikan waktunya dua kali lipat. 🙂 Saya sendiri terbiasa jalan dengan cepat dan setengah berlari ala Singaporean. Tapi Ika protes karena ia tidak bisa mengejar kecepatan saya. Lagipula kami sedang tur gitu loh! Masak jalannya kayak orang mau berangkat kerja! 🙂

Discovery Center adalah semacam museum atau tempat anak-anak untuk mengenal ilmu pengetahuan terapan yang menarik untuk diketahui. Jadi sekali lagi, Singapura adalah kota rekreasi yang sangat menarik bagi anak-anak. Dan tentulah orang tua akan menemani anak-anak mereka dan tidak mungkin anak-anak tersebut mendatanginya sendiri. Dengan cara demikian Singapura berhasil menggaet jumlah wisatawan lebih banyak ketimbang Indonesia karena pariwisata mereka ‘ramah anak’. Jika Anda membawa anak Anda berlibur di Singapura maka Discovery Center ini tidak boleh dilewatkan. Orchard dan daerah perbelanjaan sekitarnya sama sekali tidak kami datangi kali ini karena tema perjalanan kami kali ini adalah lebih kepada cultural and educational. No shopping! (tapi diam-diam istri saya membawa tas plastik besar lipat dalam kopor kecilnya dan ta da…! tas itu menjadi tempat belanjaannya selama transit sehari di Jakarta. Saking berat dan besarnya akhirnya tas plastik tersebut mesti masuk bagasi. Never believe a woman about a promise of not shopping. They will find a way to break it). 🙂

Dari Discovery Center kami kemudian kembali ke Joo Koon MRT Station untuk menuju ke Singapore Science Center yang terletak di East Jurong, beberapa stasiun saja dari Joo Koon. Kami mendapatkan brosur yang menjelaskan dengan detil kemana kami harus menuju dan naik apa ke Science Center tersebut. Dari stasiun MRT kami harus turun ke stasiun bis East Jurong dan naik bis no sekian dan turun di Science Center. Karena kami punya voucher transpor MRT dan bis maka kami dengan bebas bisa menggunakannya.

Singapore Science Center

Seperti namanya Singapore Science Center ini berisi pengetahuan tentang sains yang ditujukan bagi anak-anak, pelajar dan masyarakat umum. Banyak sekali ilmu pengetahuan umum yang disajikan dalam ruang yang tidak terlalu besar tersebut dengan cara yang menarik dan menyenangkan. Tempat ini juga tempat untuk memajang hasil lomba penulisan karya sains siswa-siswa Singapore. Jadi setiap tahun ada pameran hasil karya terbaik (Merit Award) dari siswa Singapore yang dipajang disitu. Tentu saja ini menarik jika kita bandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Kemendiknas. Jika Anda masuk ke kantor Kemendiknas di Senayan Anda akan disuguhi foto-foto siswa Indonesia yang memenangkan berbagai lomba tingkat internasional yang dipasang di pilar-pilar gedung. Ini bagus karena merupakan upaya untuk menghargai para pemenang olimpiade sains dengan harapan agar siswa lain juga tergerak untuk melakukan prestasi yang serupa. Tapi mungkin akan lebih baik jika bukan hanya fotonya yang dipajang tapi karya apa yang telah dihasilkannya sehingga siswa dapat melihat seberapa berat upaya yang telah mereka lakukan sehingga mereka bisa memenangi lomba berskala internasional tersebut.

Salah satu hal yang menarik dari Singapore Science Center adalah SAFTI Tour, sebuah tur singkat mengelilingi kompleks pendidikan militer Singapore. Saya tertawa geli mengetahui hal ini. Kalau di Indonesia kita selalu dibuat ‘ngeri’ jika melalui kompleks militer tapi sebaliknya Singapore menjadikannya dagangan turisme! 🙂 Tentu saja kami tidak turun dari bis dan hanya mengelilingi kompleks pelatihan militer mereka. Kami bertemu dengan beberapa siswa pelatihan militer tersebut dan wajah mereka sungguh imut-imut kalau dibandingkan dengan militer Indonesia yang cenderung bertampang serius. Para siswa militer tersebut melambai-lambaikan tangannya pada bis kami yang kebetulan pada saat itu dipenuhi oleh rombongan tur anak-anak TK. Dengan ceria sang guide menceritakan tentang kompleks militer tersebut dengan cara yang sangat akrab sehingga para siswa militer tersebut disebutnya sebagai ‘Koko’ (kakak). Tak ada kesan seram yang ingin ditunjukkan pada kompleks militer tersebut.

Dari sini saya berpikir apakah ada kompleks militer lain selain disini, sebuah kompleks militer yang lebih serius dan canggih. Saya berkali-kali mendapat berita bahwa Singapura memiliki pasukan militer yang tangguh, utamanya air force, yang katanya bahkan terbaik di Asia Tenggara. Indonesia pun katanya bisa dilumat dengan cepat jika seandainya terjadi perang antara Indonesia dan Singapura. Singapura memiliki jumlah pesawat tempur canggih yang lebih banyak daripada Indonesia dan dengan mudah Singapura bisa menghancurkan obyek-obyek vital Indonesia jika terjadi perang (katanya!).

Di Singapore Science Center memang ditunjukkan beberapa virtual game peperangan udara dengan contoh pesawat tempur canggih yang dimiliki Singapore. Dan remaja-remaja Singapore benar-benar suka memainkan game tersebut. Tapi apa yang saya lihat sungguh berbeda. Suasana di SAFTI benar-benar ‘ramah’ dan tidak menunjukkan kesan kecanggihan peralatan tempur apa pun.

Saya lantas ingat olok-olok teman saya tentang seandainya terjadi ‘perang’ dengan Singapura ini. Katanya Singapura itu begitu kecilnya dibandingkan dengan Indonesia sehingga ia tidak perlu ditembak atau diserang dengan menggunakan senjata-senjata canggih tapi Singapura cukup dikencingi oleh penduduk Indonesia beramai-ramai maka Singapura akan tenggelam! 🙂 Tentu saja ini olok-olok yang berlebihan tapi saya juga memperoleh informasi bahwa orang Singapura itu tidak memiliki jiwa militeris sehingga kalau memang seandainya ada perang maka mereka akan ‘mengontrak’ tentara bayaran dari berbagai negara untuk melakukan tugas tersebut. Pekerjaan tersebut akan mereka ‘outsourcing’kan ke pihak-pihak yang benar-benar ahli di bidangnya, termasuk tentara bayaran. 🙂

Karena siang itu kami harus check-out maka kami tidak berlama-lama di Singapore Science Centre dan segera kembali ke East Jurong MRT Station menuju Bugis MRT Station. Dari Bugis kami jalan kaki lagi ke hotel agar kami bisa mengingat jalan-jalan yang kami lalui dengan baik.

Tiba di hotel kami segera mandi dan turun untuk check-out. Sholat kami tunda karena kami masih punya banyak waktu sedangkan waktu check-out kami sudah lewat. Ternyata kami terlambat 1 jam untuk check-out dan didenda Sing $10! Kena juga kami dengan motto ‘fine’ yang ada di Singapore. Singapore is truly a ‘fine’ city! Telat satu jam di hotel kena denda. Di Indonesia tak ada hotel yang ‘sekejam’ itu.

Sebetulnya pesawat kami ke Jakarta masih lama. Jadwal kami adalah jam 7 malam dan kami punya banyak waktu. Tapi Ika ingin berlama-lama di Changi karena katanya ada toko yang jual sepatu dan sandal Croc obral di Changi. Saya heran juga kenapa Ika suka dengan sandal Crocs. Menurut saya sandal Crocs itu very expensive but looks stupid. 🙂

Dengan naik MRT dari Bugis kembali kami menuju ke Changi. Kami turun di Tanah Merah dan kemudian mengambil MRT jurusan Changi. Sebelum pukul 3 kami sudah tiba di Changi. Kami segera menukarkan voucher Singapore Pass kami dan mendapat pengembalian Sing $10 untuk masing-masing kartu. Tujuan berikutnya adalah makan!

Karena ingin cari makan murah maka kami menuju ke kantin karyawan yang berada di lantai bawah. Disamping variasinya juga lebih banyak harganya juga jauh lebih murah ketimbang di resto yang ada di ruang tunggu bandara Changi. Bagi yang sering lewat Changi kantin ini tentu sudah diketahuinya dan biasanya lebih disukai ketimbang makan di ruang keberangkatan.

Setelah makan kami naik ke Terminal 1 dan cari mushola. Tadi kami tidak sempat sholat karena kuatir kena denda (dan ternyata tetap kena denda!). Ternyata tak ada mushola di luar atau ruang keberangkatan. Mushola hanya disediakan di ruang tunggu dalam setelah kita check-in. Padahal pesawat kami masih nanti jam 7. Kami baru boleh check-in 2 jam sebelumnya atau jam 5.

Tapi saya coba-coba check-in dan memang benar kami ditolak belum bisa check-in. Tapi oleh seorang petugasnya saya diberitahu bahwa saat ini ada pesawat Lion yang ke Jakarta dan akan segera berangkat. Kebetulan ada kursi kosong dan jika saya mau saya bisa masuk saat itu juga. Tapi kami harus segera menuju ruang tunggu dalam karena pesawat akan segera berangkat. Tanpa berpikir lama kami kemudian sepakat untuk pulang lebih awal. Kami bisa beristirahat lebih awal di Jakarta. Karena belum sempat sholat kami akhirnya sholat di atas pesawat saja seperti para musafir haji dan umroh. 🙂

Tak lama kemudian kami sudah berangkat dan tiba di Jakarta ketika masuk maghrib.

Karena capek tidur di hotel Dickson yang kecil saya kemudian ingin menebusnya dengan tidur di hotel yang berkamar besar. Dan tak ada yang bisa mengalahkan hotel Atlet Century dalam soal besarnya kamar! 🙂

Di airport saya kemudian membeli voucher untuk menginap semalam di Century. Karena kamar Superior kosong maka saya minta Deluxe dengan harga Rp.660.000,- room only. Jadi harganya ya kira-kira sama dengan tarif hotel Dickson yang kamarnya kecil tersebut. Kami memang tidak perlu sarapan paginya. Soal makan memang paling enak cari di luar. Mall Fx yang khusus untuk makan hanya beberapa meter dari hotel.

Ketika kami masuk kamar ternyata interior hotel Atlet Century sudah berubah samasekali baru. Kamarnya tetap luas (dua kalinya Dixkson di Singapore) dan interiornya sungguh mewah (apalagi setelah menginap di Dickson). Kami sungguh menikmatinya. Ini ‘pembalasan dendam’ setelah dua malam menginap di hotel yang kecil! 🙂

Seperti yang telah saya sampaikan, meski hanya sehari di Jakarta tapi Ika tidak melewatkan kesempatan tersebut untuk belanja. Saya tidak perlu ikut menemaninya karena Dewi, adiknya yang tinggal di Jakarta, dengan senang hati mengantarnya. Walhasil, kami pulang dengan membawa tambahan bagasi yang bukan hanya besar tapi juga berat. Entah apalagi yang diborong oleh Ika kali ini.

Kami sampai di Balikpapan dan masih sempat menikmati suasana ‘malming’ di Balikpapan. ‘Malming’ itu singkatan dari ‘malam Minggu’. Kami sungguh puas dengan perjalanan kami tersebut meski kami jauh lebih boros dari budget yang dikatakan Cynthia Kaunang yang bisa bepergian ke Singapura dengan biaya hanya 500 ribu tersebut. Perkiraan saya kami menghabiskan sepuluh kali lipatnya. 🙂 No problem. Yang penting kami puas berjalan kaki (kedua telapak kaki saya sampai melepuh karena menggunakan sepatu yang solnya tipis untuk berjalan selama beberapa hari tersebut. But it’s worth it!).

Setelah ini kami harus mulai memikirkan perjalanan liburan anak-anak kami. Another trip, guys! 🙂

Satria Dharma
Lion Air, Perjalanan Balikpapan – Surabaya, Sabtu 12 Juni 2010.