Dwilogi Andrea Hirata

Ciri khas Andrea Hirata adalah bercerita dg gaya karikatural. Semua karakter, scene dan situasinya adalah bentuk karikatural.

Contoh karakter yang dibuat karikatur adalah sbb:
– Ikal – lulusan S2 kerja sebagai jongos warung kopi.
– Pengangguran Detektif M Nur dan burung merpatinya Jose Rizal.
-Preman Cebol- preman penguasa pasar yg ditakuti tapi ternyata sangat pendek dan tingginya hanya 90 cm.
– Paman Ikal pemilik warung kopi yg memiliki kepribadian ganda yg bisa dengan cepat berubah pikiran bergantung pada situasi. Pada akhir cerita dikatakannya bahwa sang Paman ini mencalonkan diri menjadi anggota DPRD.
– Enong atau Maryamah – penambang timah lepas yg mampu menguasai jurus catur Anatoly Karpov dalam jangka waktu singkat.

Keseluruhan cerita dan karakter adalah hasil karya imajinatif meski dikatakan oleh Andrea memiliki rujukan. Sama dengan buku Laskar Pelangi, karakter Ibu Muslimah, (begitu juga Lintang, Aling, dll) di buku hampir sepenuhnya hasil imajinasi Andrea ttg sosok guru yg sangat ideal meski tokoh Ibu Muslimah sendiri adalah nyata. Karakter dalam buku dikembangkannya sedemikian rupa sehingga begitu hidup dan memukau.
Tokoh-tokoh dalam dwilogi ini dikatakannya juga bersumber pada tokoh dalam kehidupan nyata yg kemudian diangkatnya dalam novel yg sepenuhnya imajinatif dan karikatural.
Andrea menyusun plot ceritanya secara scattered dan lepas. Ia memotret tokoh dan situasi kemdian menyusunnya seperti mozaic. Tokoh dan situasi yg ditampilkannya terkadang hampir tak ada hubungannya dengan tema utama, yaitu pertarungan catur antara Maryamah, sang penambang timah yg sebelumnya tak pernah tahu permainan catur lantas diubah menjadi raksasa catur berkemampuan hebat ala Anatoly Karpov berkat kerjasama orang-orang yg bersimpati pada kisah hidup dan perjuangannya, melawan Matarom, sang tokoh antagonis kampiun catur di Belitong yg telah membuat hidup Maryamah susah karena perlakuan buruknya ketika menjadi suami Maryamah. Jadi ini kisah pembalasan dendam dan perjuangan seorang wanita penambang timah lepas yg selama hidupnya menderita utk bisa muncul sebagai pemenang, dalam catur dan kehidupan. Dan itu semuanya dilukiskan dengan indah secara karikatural!

Meski menyindir dan mengolok-olok tapi Andrea tidak lantas menjadi sarkastik. Ia menyindir dengan begitu halusnya sehingga hanya orang dengan sakit gila nomor sekian yg merasa disakiti oleh olok-oloknya. 🙂 Sama dengan orang yg tersinggung karena karikatur. Berikut ini contohnya.

‘Maka, padi mendidik orang menjadi penyabar, timah mendidik orang menjadi pelamun, dan uang mendidik orang menjadi serakah.
Lantaran banyak melamun, orang Melayu menjadi pintar. Jika timah tak kunjung ditemukan dan frustasi, serta tahu tak baik menyalahkan Tuhan, maka pemerintahlah yg menjadi sasaran kekesalan. Semua ini menjawab pertanyaan mengapa warung kopi selalu ramai dan pembicaraan di sana selalu tentang pemerintah yang tak becus.’

Bayangkan betapa imajinatifnya ia dalam menyindir! 🙂

Coba lagi resapi caranya menyindir dalam paragraf ini.

‘Paman seketika bangkit.
‘Na! Inilah akibat buruknya pendidikan! Bicara sekehendak hati saja, tidak pakai akal!”
Namun tak perlu waktu lama, tiga hari setelah Paman menuduh menteri pendidikan yg tidak-tidak itu, kualat pun berlaku. Ia kena penyakit kandung kemih yg aneh. Jika tertawa keras, berteriak, atau bersin, selangkangnya ngilu sehingga setiap kali tertawa, berteriak, atau bersin dia harus memegangi selangkangnya untuk menahan sakit.
Dari situasi ini, segera kutarik pelajaran moral nomor dua puluh satu bahwa tulah menteri pendidikan lebih tinggi dari tulah presiden.’

Halus dan canggih kan! 🙂

Tapi dari itu semua kehebatan Andrea adalah dalam membuat parodi. Ia bisa menceritakan kesulitan hidup dengan cara yg sangat jenaka. Berikut contohnya.

‘Pendulang timah tradisional selalu pensiun dini seperti direktur BUMN. Bukan karena mereka telah kebanyakan duit, bosan rapat, atau ditalak pemerintah, melainkan karena tubuh mereka soak sebelum tua. Radang sendi, penyakit kaki gajah, penyakit kulit yang aneh karena virus lumpur, paru-paru yg hancur karena selalu menahan dingin dengan terus menerus merokok, dan lantaran miskin, rokok yang dibeli adalah rokok murah sekali yg tak keruan asal muasalnya, lalu dirampas arus, ditimpa longsor, diisap pasir hidup, disambar petir, dililit ular, atau ditelan buaya mentah-mentah, adalah bentuk-bentuk tragis dari berakhirnya karir mereka yg singkat dan agung’

Karir yang singkat dan agung, katanya…!:-)

Begitulah cara Andrea menyampaikan fakta-fakta kehidupan yg kejam. Dibikinnya seperti karikatur sehingga, meski kita bisa merasakan kepedihan tersebut, kita tidak dibiarkannya larut dalam kecengengan. Itu inti dari filosofi hidup Andrea melalui Ikal. Hadapi kesulitan hidup dengan tabah dan tawa. Buatlah penderitaan hidupmu menjadi olok-olok sehingga meski pun perih tapi kau justru bisa terpingkal-pingkal memahami ironinya.

Kemampuan menuliskan ironi menjadi lelucon canggih seperti ini sungguh merupakan keahlian yg langka. Saya ramalkan Andrea akan menjadi penulis fenomenal kelas dunia sebagaimana Khaleed Hosseini dengan “Kite Runner”-nya.

Meski hampir sepanjang cerita Andrea berolok-olok, seperti mengolok-olok ungkapan terkenal ‘Carpe Diem’ menjadi ‘diam itu emas’ tapi ia memiliki ketelitian dan keahlian dalam menyelipkan penggalan info yg hanya dimengerti oleh orang-orang tertentu, umpamanya ketika menyatakan ‘Salvador Dali telah melihat waktu dapat meleleh’.

Mereka yang tidak mengenal nama Salvador Dali tentu tak paham maksud dari kalimat tersebut dalam paragraf filosofis tentang ‘Waktu yang Hakikat’. Tapi bagi yg mengenal Salvador Dali dan karya fenomenalnya lukisan jam dinding yg meleleh tentu tahu apa yg dimaksud oleh Andrea ini.
Kalimat-kalimat Andrea penuh dengan metafora yg indah. Coba resapi ini.

‘Bagi para pesakitan,waktu adalah musuh yang mereka tipu saban hari dengan harapan. Namun, di sana, di balik jeruji yang dingin itu, waktu menjadi paduka raja, tak pernah terkalahkan’

Setiap kalimat yg ditulis oleh Andrea dalam dwiloginya ini adalah mozaik yg indah dan berkilau dalam setiap kepingnya.

Jadi tunggu apa lagi? Segera ke toko buku, beli bukunya (jangan nyolong), dan nikmati karya luar biasa Andrea Hirata ini.

Salam
Satria Dharma
http://satriadharma.com/