Yufi, Yubi dan FarrelSaya hendak memanasi mesin mobil ketika melihatnya di depan pagar rumah saya. Ia sedang berjongkok menggores-gores sesuatu di tanah. Di punggungnya ia membawa tas sekolah. Tapi ia tidak mengenakan seragam sekolah saat itu.
“ Hai Adul! Kamu tidak sekolahkah…?!” Tanya saya. Saya biasa memanggilnya “Adul” seperti semua tetangga lain (meski kemudian saya baru tahu bahwa ia punya panggilan lain di sekolah).
“Tidak Pak. Saya bolos, Pak.” Jawabnya singkat dan meneruskan pekerjaannya menggores-gores.
Bolos…?! Saya langsung terkesiap. Anak sulung saya paling kerap membolos dulu dan itu membuatnya diganjar tidak naik kelas. Tingkat bolosnya sudah begitu tinggi sehingga bahkan status orang tuanya dan hubungan baik dengan kepala sekolah tetap tidak bisa membantunya untuk naik kelas. Lagipula kami orang tuanya memang tidak berniat untuk ‘membantu’nya naik kelas dengan cara apa pun. Sudah menjadi prinsip kami bahwa setiap anak harus menerima konsekuensi dari tindakannya sendiri. Jika membolos membuatnya tidak bisa naik kelas so be it!

Dulu ketika SMA saya juga seorang kampiun membolos dan saya hampir dicoret dari sekolah karenanya. Waktu kuliah di PGSLP saya juga sedang tergila-gila kemping dan naik gunung sehingga juga hampir dicoret dari daftar nama mahasiswa PGSLPYD karena terlalu sering membolos. Nyaris saja saya tidak jadi guru karena membolos! Membolos ini mejadi kosakata yang terasa SARA di telinga saya saat ini. Karma sudah turun dan saya terima dengan tidak naik kelasnya anak sulung saya karenanya.

Saya segera menghidupkan mesin mobil dan kembali pada Adul.
“Kenapa kamu bolos, Adul?” Saya mengelus rambutnya. I masih tetap duduk berjongkok. Adul adalah seorang anak kelas 4 SD yang periang dan selalu menegur kami jika lewat di depan rumah dengan sopannya. “Mari… Pak! Mari… Buk!” selalu begitu sapanya jika melihat kami. Rumahnya sekitar 100 meter dari rumah kami dan setiap hari ia selalu lewat depan rumah kami. Tak pernah ia lupa untuk menyapa kami jika kami berpapasan dengannya. Hanya Adul (dan kakak perempuannya juga) yang begitu. Such a nice kid. Dan ia membolos, katanya!
“Saya ada masalah di sekolah, Pak.” Katanya tanpa ragu.
“Masalah…?! Masalah apa, Dul?” Kalau seorang anak punya masalah sampai membolos maka tentunya itu adalah masalah yang berat baginya. Saya dulu membolos hanya karena bosan duduk berjam-jam mendengarkan guru yang tidak pernah melihat kami sungguh-sungguh. Mereka lebih suka menatap papan tulis, atau tembok kelas, dan menghindari tatap mata dengan kami. They didn’t look at our eyes! Bagaimana mungkin saya tahan duduk berjam-jam di kelas dengan guru yang berbicara pada dirinya sendiri seperti itu? (Ah…! Jangan percaya. Saya hanya cari alasan untuk membenarkan diri saya untuk membolos. As usual)
“ Saya punya tunggakan uang tiga buku dan saya tidak bisa membayarnya.”
Can you believe it? Adul yang kelas 4 SD itu punya tunggakan uang buku dan itu membuatnya tidak berani bersekolah (atau mungkin tidak ‘boleh’ bersekolah, who knows)?
Tentu saja saya tidak terlalu naïf untuk mempercayai hal semacam itu. Beberapa anak biasa membuat cerita imajinatif yang akan menguntungkannya secara pribadi. Apalagi katanya harga buku yang ditunggaknya itu hanya Rp.30.000,-. Adul tahu bahwa uang sekian itu dengan mudah meluncur dari dompet saya. Tapi tidak saat ini.

Adul memang berasal dari keluarga miskin dengan orang tua yang tidak punya pekerjaan tetap tapi punya ‘kekayaan’ enam orang anak dimana Adul adalah anak ketiga. Kakak-kakaknya juga ‘tak karu-karuan’ sekolahnya juga dan para tetangga yang sering membantu mungkin sudah bosan mendengar the same story over and over again dan menganggap bahwa mereka memang tidak punya semangat untuk bersekolah. Mereka berhenti berharap pada keluarga tersebut.

Tapi saya tidak bisa bersikap acuh tak acuh terhadap masalah bolosnya Adul ini. Pertama karena ia duduk di depan pagar rumah saya, kedua anak saya yang suka bolos dulu justru tidak pernah datang pada saya ketika ia membolos dan dapat masalah dengan sekolahnya, ketiga, ia selalu lewat di depan rumah saya dan mengucapkan salam “Mari..Pak! Mari…Buk!” yang menyenangkan itu. Ada beberapa alasan lain tapi mungkin tiga alasan itu cukup untuk membuat saya merasa perlu membantunya. Jadi saya putuskan untuk mendatangi sekolahnya dan membereskan masalahnya. Lha wong cuma 30 ribu aja kok!.

Tapi bukankah lebih mudah memberikan uang 30 ribu kepada Adul dan membuatnya merat dari pagar rumah saya? Ya, memang. Tapi seperti yang saya sampaikan, saya tidak senaif itu. Saya ingin membuktikan bahwa masalah Adul membolos adalah karena tunggakan uang buku dan bukan karena ia ingin memiliki 30 ribu tersebut. Lagipula siang ini waktu saya sedang longgar.

Jadi siangnya saya minta Adul datang lagi ke rumah. Ia memang sekolah masuk siang dan jika ingin menemui gurunya ya mesti datang siang.
Begitulah…!
Saya mengajak Adul ke sekolahnya yang hanya berjarak 400 meter dari rumah saya dan begitu masuk sekolah ternyata teman-temannya langsung bergerombol menyambutnya dengan pertanyaan atau tepatnya pernyataan, ”Lama sekali kamu nggak masuk Majid!” Jadi nama sekolahnya adalah Majid (dan bukan Adul). Rupanya ia termasuk seorang anak yang populer juga di sekolah kecil ini!

Kepala sekolah tidak ada jadi saya ditemui oleh Ibu Mariana, Wakasek SD di mana Adul atau Majid bersekolah. Begitu masuk ruang dan melihat Adul ia langsung berseru, “Hei Majid! Kemana saja kamu selama ini kok tidak bersekolah…?!” Dan ia langsung nerocos soal bolosnya si Majid. Jadi benar bahwa ia, si Adul alias Majid, membolos selama ini.

Dari cerita Wakasek dan para guru saya kemudian diberitahu bahwa Majid ini sudah berbulan-bulan tidak bersekolah. Berbulan-bulan…?! Seringkali para gurunya menemuinya mengenakan seragam sekolah tapi ia tidak sampai di sekolah. Empat kali sudah Ibu Mariana mendatangi rumahnya tapi itu tidak membuat Majid (atau sebaiknya kita sebut ia dengan Adul Majid) jera dan mau bersekolah dengan rajin. Orang tuanya pun sudah tak sanggup lagi menanganinya. Klasik! (Mungkin semacam sonatanya Chopin?).

Sepanjang celoteh para guru di ruang guru yang sempit itu Adul Majid hanya diam saja (Lha mau ngapain lagi…?!). Saya tak tahan mendengarnya (meski para guru masih ingin menembakkan mitraliur kekesalan dan kejengkelannya pada Adul Majid si Pembolos ini). Jadi saya sampaikan bahwa saya ingin mengantarnya agar ia bisa sekolah lagi. Tentu saja ia tidak bisa naik kelas empat (seperti pengakuannya) karena ia bahkan tidak pernah ikut ulangan semester yang mana pun. Tapi kelas tiga pun OK lah untuk seorang Adul Majid yang suka membolos tersebut. Para guru setuju (“Kami tidak punya hak untuk mengeluarkan siswa dari sekolah”, kata Bu Mariana sendiri. Glad to hear that!).

Sebelum pulang saya berikan kartu nama IGI saya. “Tolong beri tahu saya jika ada ‘masalah’ apa saja tentang sekolah si Majid ini.” Saya sengaja menekankan intonasi saya pada kata ‘masalah’ agar mereka tahu bahwa I mean it. Saya teringat lagi pada 30 ribu trsebut.
Karena si Adul Majid ini sudah berseragam putih merah dan membawa tas (entah apa isinya) maka ia kami minta untuk langsung masuk ke kelas.

“Bersekolahlah, mulai hari ini!” pesan saya padanya dan meninggalkannya tanpa menoleh lagi.
Bagaimana dengan masalah 30 ribu tersebut? Forget it! Sudah saya katakan bahwa saya sedang tidak bermurah hati saat ini. Terutama karena ia MEMBOLOS!

Balikpapan, 3 Agustus 2010.
Satria Dharma