Al-Kahfi [18:29] Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”.

Dear all,
Bacaan Al-Qur’an saya tiba pada ayat ini tadi dan saya ingin berbagi pemikiran dengan Anda tentang ayat ini. Ayat ini mengandung sebuah konsep tentang ‘Free Will’, yaitu kebebasan memilih bagi manusia. Manusia TIDAK dipaksa untuk beriman, apalagi beragama. Jadi kalau ada orang yang memaksa seseorang untuk beriman atau memeluk agama tertentu maka itu BERTENTANGAN dengan ketentuan Allah pada ayat ini.
‘biarlah ia kafir.’ Demikian firman Allah mengenai orang yang ingin kafir. Tak usah kita memaksa-maksanya untuk beriman apalagi mengikuti ritual orang beriman.
Ayat ini kembali menarik perhatian saya karena kemarin saya didatangi saudara saya dengan menyampaikan berita,:”Ternyata si anu tidak pernah puasa selama ini! Ia tidak pernah sahur dan kalau siang ya tetap merokok.”
“Oh ya…!” kata saya. Dan tiba-tiba melintaslah ayat tentang berpuasa di kepala saya.
“Tidak ada kewajiban untuk berpuasa baginya.” Jawab saya.
Tentu saja saudara saya itu bengong melihat kakaknya ngomong begitu. 😀 Lalu saya bacakan ayat tentang kewajiban berpuasa tersebut.
AlBaqarah [2:183] “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”
“Jadi hanya orang beriman yang diwajibkan berpuasa,” sambung saya. “Tak ada kewajiban berpuasa bagi orang yang tak beriman.”
“Lho…, orang Islam kan wajib berpuasa!” protesnya.
“Kamu mau menentang ayat tersebut?!” goda saya. Dan ia pun terdiam.

Allah tidak memaksa manusia untuk beriman. Silakan manusia memilih, mau beriman atau kafir.
Nabi juga tidak pernah diminta untuk memaksakan ajarannya pada manusia. Jadi kalau ada manusia yang memaksa seseorang beriman maka ia telah melanggar ketentuan Allah itu sendiri (tapi kalau ada manusia yang memaksa seseorang untuk keluar dari keimanannya maka ia telah melanggar HAM).
[18:29] Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”.
Tapi ayat tersebut tidak berhenti disitu. Ada terusannya. Lengkapnya adalah sbb :
[18:29] Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

Setelah menjelaskan bahwa tidak ada paksaan dalam keimanan ayat tersebut ditutup dengan ancaman bagi orang yang zalim. Siapa orang yang zalim itu? Didalam Al-Qur’an zalim memiliki beberapa makna, diantaranya dalam beberapa surah sebagai berikut:

  • Al Baqarah 165 dan Huud 101, orang-orang yang menyembah selain Allah.
  • Al Maa-idah 47, karena menuruti hawa nafsu dan merugikan orang lain.
  • Al ‘Ankabuut 46, Yang dimaksud dengan orang-orang yang zalim pada ayat ini adalah orang-orang yang setelah diberikan kepadanya keterangan-keterangan dan penjelasan-penjelasan dengan cara yang paling baik, mereka tetap membantah dan membangkang dan tetap menyatakan permusuhan.

Apakah artinya ini? Mengapa setelah Tuhan membebaskan manusia untuk memilih kemudian diteruskan dengan ancaman? Tidak konsistenkah Tuhan dengan kebebasan yang Ia berikan tersebut?
Tidak demikian. Artinya, meskipun manusia itu BEBAS memilih apakah ia akan beriman atau kafir tapi manusia TIDAK BEBAS dari KONSEKUENSI dari pilihannya. Bahkan dalam hidup ini tak ada PILIHAN apapun yang tak ada konsekuensinya. Semua ada konsekuensinya. Kalau Anda memilih memarkir kendaraan Anda di tempat larangan parkir maka Anda akan ditilang. Kalau Anda memilih ngemplang pajak maka ada konsekuensinya. Bahkan kalau Anda memilih untuk tidur terus pada saat mestinya bangun untuk berangkat bekerja juga ada konsekuensinya.

Apakah manusia akan PROTES kalau ia ditilang ketika memarkir kendarannya di tempat larangan parkir? Apakah manusia akan protes kalau kena denda berlipat-lipat gara-gara ngemplang pajak? Apakah manusia akan marah pada bosnya ketika dikenai sanksi karena mangkir kerja? Apakah mereka ini akan mengatakan bahwa pemerintah tidak adil dan sewenang-wenang terhadapnya karena ditilang dan didenda? Apakah karyawan ini akan mengatakan bosnya sewenang-wenang ketika ia kena sanksi karena mangkir kerja? Tentu saja tidak. Manusia MENERIMA itu sebagai KONSEKUENSI dari perbuatannya.

Mengapa demikian? Ya karena mereka sudah diberitahu (dan sudah menerima) sebelumnya apa konsekuensi dari ini dan itu dan jika mereka tetap memilih melanggar maka mereka juga harus menerima hukuman dari pelanggaran tersebut. That simple!
Jika ada larangan maka ada sanksi atau hukuman. Jika ada ketaatan pada perintah maka akan ada ganjaran. Kita menerima ini hampir sebagai sebuah keniscayaan. Kita tidak akan berkata,:”Pemerintah tidak konsisten! Bikin jalan kok terus bikin rambu-rambu! Semestinya kalau bikin jalan ya nggak usah pakai rambu-rambu.”

Sumprit saya tidak pernah bertemu dengan orang yang sebahlul ini. 😀 Sebaliknya, begitu jalan selesai dibuat orang-orang lalu mendesak agar rambu-rambu jalan segera dibuat agar mereka bisa selamat melewati jalan tersebut.
Tidaklah mungkin kita berkata,:” Saya tidak mau menerima aturan larangan parkir ini. Saya tidak setuju dengan aturan goblok ini dan saya juga tidak mau ditilang.” Boleh saja bicara begitu tapi polisi akan tetap menilang Anda meski pun Anda mengatakan ‘SAYA MENOLAK ATURAN INI!’. Anda boleh menolak tapi konsekuensi akan tetap dikenakan pada Anda.
Sedangkan melawan polisi yang menegakkan aturan dan hukum lalulintas saja kita tidak bisa kok. 😀

Begitu juga manusia yang memilih kafir nantinya di akhirat. Mereka tidak akan mengatakan bahwa Allah telah berlaku tidak adil dan sewenang-wenang terhadapnya karena dimasukkan neraka. Mereka tentu saja menyesal telah masuk neraka dan bahkan minta diberi kesempatan ulang untuk balik ke dunia. Tapi tentu penyesalan tersebut tidak ada gunanya.
Tentu saja ada manusia-manusia yang selalu berupaya untuk melanggar aturan di dunia ini dan berharap tidak kena konsekuensi. Ia mungkin bisa lolos dari konsekuensi di dunia tapi tak mungkin ia akan lolos dari konsekuensi di akhirat nanti.
Maka benarlah pernyataan Tuhan sebagai berikut :
“Dan sekali-kali Tuhanmu tidak akan berbuat zalim kepada hamba-Nya.” (Q.s. Fushshilât: 46).
“Dan Aku sekali-kali tidak akan berbuat zalim kepada manusia.“ (Q.s. Qaf: 29).

Balikpapan, Ramadhan hari ke 15, 1431 H
Satria Dharma