Anda boleh tertawa. Anda boleh mengernyitkan kening. Anda mungkin mengira ini lelucon Srimulatan terbaru. Tapi ini adalah tulisan di sebuah poster besar yang terpampang di sebuah sekolah di Indonesia. Beberapa teman telah mencoba untuk menganalisis kemungkinan apakah ini hanyalah trik photoshop untuk sekedar ‘jokes’ dan tiba pada kesimpulan bahwa tidak ada trik pada foto poster tersebut. It’s no joke at all. It’s real. Sebuah sekolah di Indonesia yang ingin memberikan motivasi kepada siswa-siswanya untuk menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari berinisiatif untuk membuat poster besar di sekolahnya dengan kata-kata mutiara yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris seperti itu. Selain ‘No Learning No Day’ masih ada kata mutiara yang lain seperti
– Sekolah Tempat Menuntut Ilmu Perpustakaan adalah Tempat Membacaku
“School Place of Studying, Library of Place of Reading Me”
– Capailah Cita-citamu Setinggi Langit
“Reachs you aspiration is sky high.”
– Aku Malu Datang Terlambat
“I am ashamed come is overdue”
– Malu dong Tidak Mengerjakan PR
“Shame doesn’t do homework”
– Sopan Santun Ciri Orang Berilmu
“Bookins people characteristic manner.”
http://mail.google.com/a/igi.or.id/#inbox/12aeae526de589cf

Mungkin kita tertawa membaca bahasa Inggris seperti ini tapi kemudian tentu kita akan bertanya-tanya dalam hati mengapa hal ini bisa terjadi. Sebagai seorang mantan guru bahasa Inggris terus terang saya sangat terpukul dengan fakta semacam ini. Sebegitu parahkah pengetahuan dan ketrampilan berbahasa Inggris kita sehingga bahkan sebuah sekolah yang berada di kota besar yang semestinya para gurunya pernah belajar bahasa Inggris sampai tingkat minimal D-1 (untuk SD), yang berarti telah belajar bahasa Inggris selama minimal 7 tahun, toh membuat terjemahan dalam bahasa Inggris yang bikin perut kita mulas.

Ini adalah masalah serius. Terutama karena pemerintah sedang gencar-gencarnya menyebarkan virus RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) yang mewajibkan para guru di sekolah RSBI ini menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di kelas. Guru-guru di sekolah RSBI mesti menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar dalam mengajarkan pelajaran Matematika dan IPA agar Kita tidak pernah tahu seperti apa praktek ‘nginggris’nya para guru kita di kelas-kelas tapi poster tersebut memberikan peringatan keras betapa parahnya sebenarnya kondisi guru kita dalam berbahasa Inggris. And yet we believe we can force our teachers to teach in English. Padahal tak pernah ada studi atau minimal tes kecil-kecilan untuk mengetahui seberapa cakapkah sebenarnya para guru kita dalam berbahasa Inggris sehingga kita minta mereka untuk menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar mereka dalam mengajar di kelas.

Sejak awal program RSBI ini sudah dikecam habis-habisan karena menggunakan asumsi yang bukan hanya salah tapi memang tidak masuk akal. Tapi toh dipaksakan. Kami di IGI (Ikatan Guru Indonesia) bahkan telah membuat Petisi untuk Menghentikan Program RSBI ini.

Jika sebuah sekolah (anggap saja tingkat SD) mampu melakukan kesalahan sefatal itu maka itu menunjukkan bahwa tak satupun guru (termasuk kepala sekolahnya) yang mampu mendeteksi kesalahan dalam penggunaan bahasa Inggris sampai tingkat paling kacau seperti itu. Jangankan lagi menggunakan bahasa Inggris untuk percakapan sehari-hari, bahkan untuk mendeteksi kesalahan berbahasa Inggris yang paling kacau pun saja pun mereka tak mampu. Padahal untuk mengajar di kelas dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris adalah sebuah ketrampilan yang sangat tinggi dan hanya bisa dilakukan dengan baik oleh guru-guru yang benar-benar terlatih untuk itu. Bahkan guru-guru bahasa Inggris di sekolah-sekolah kita tidak memiliki kecakapan setinggi itu. Bayangkan kalau para guru bidang studi lain mesti mengajarkan materinya dalam bahasa Inggris! Maka tak salah jika yang kita peroleh adalah bahasa Inggris ‘No Learning No Day’ seperti itu dan ini yang hendak kita taburkan dan semaikan kepada siswa-siswa kita di seluruh Indonesia demi internasionalisasi pendidikan.

Melihat kondisi sekolahnya tak mungkin ini sekolah di pedalaman atau di tempat terpencil karena poster itu sendiri pun dibuat dengan menggunakan papan yang didesain dengan bagus. Jika ini adalah sekolah SD di kota dengan kepala sekolah yang tidak mungkin hanya berpendidikan D-1 tapi mampu membuat kesalahan berbahasa Inggris sefatal ini maka silakan membuat kesimpulan seberapa besar kemungkinan program RSBI dijalankan di SELURUH INDONESIA. Ingat bahwa tidak ada studi atau test bagi para guru dari sekolah RSBI tersebut. Mereka dipilih berdasarkan penilaian apakah sekolah tersebut sekolah favorit atau bukan. Hampir seluruh sekolah RSBI adalah sekolah-sekolah favorit di setiap daerah. Sekolah favorit diasumsikan sebagai sekolah terbaik di setiap daerah dan sekolah favorit mestinya punya guru-guru paling berkualitas di antara yang lain. Asumsi di atas asumsi dan tak ada satu pun yang mencoba untuk benar-benar menguji asumsi tersebut.

Dan kini kita disodori oleh poster-poster berbahasa Inggris tersebut!
Kalau ini tidak membuat kita merasa perlu untuk merasa cemas maka sungguh dunia pendidikan kita sudah berada di ujung tanduk.

Balikpapan, 8 September 2010
Satria Dharma