Ilustrasi Polisi Cepek

 

Ingin jadi bos secara instan dengan biaya murah? Saya anjurkan Anda untuk datang ke Jakarta. Di Jakarta dengan mudah Anda akan jadi bos dengan biaya cukup seribu rupiah! Kalau tidak punya uang seribu rupiah maka koin 500 atau bahkan 100 rupiah pun jadilah. 😀

Bagaimana caranya? Melintaslah di jalanan di Jakarta dengan mobil pribadi (atau taxi juga bisa) dan jika kebetulan Anda hendak berbelok atau berputar maka Anda akan menemui orang-orang yang akan membantu Anda menjadi ‘Boss’. Mereka adalah para pemuda yang dengan gagah berani dan dengan penuh kesungguhan bekerja untuk mencegat kendaraan dari lain jurusan agar kita bisa lewat di belantara lalulintas Jakarta yang sungguh ruwet tersebut.

Pekerjaan mereka adalah membantu mengatur lalu lintas yang lewat dengan mengatur kapan kendaraan dari berbagai arah untuk lewat. Orang-orang menyebut mereka sebagai ‘Polisi Cepek, One Hundred Rups Cop’. Dan untuk melakukan tugas mulia tersebut kita cukup memberi mereka sekeping uang koin senilai berapa pun, cepek pun Oklah! Mereka bahkan tidak pernah memaksa atau memelototi kita jika kita tidak memberi mereka apa-apa. Mereka akan tetap melaksanakan tugas mereka dengan sukacita dan penuh dedikasi.

Apa hubungan mereka dengan keinginan kita untuk menjadi ‘Boss’…?! Maksudnya adalah jika Anda memberi mereka balas jasa seribu rupiah atau bahkan lima ratus rupiah maka mereka akan mengucapkan, “Terima kasih, Boss…!” dengan senang hati. Jadi dengan sekeping uang koin yang sungguh tidak ada artinya bagi Anda mereka akan melakukan pekerjaan untuk membantu Anda bisa lewat dengan mudah di belantara lalu lintas Jakarta dan menyebut Anda sebagai “Boss…!”. It’s so cheap to become a boss in Jakarta! 😀

Pagi ini saya kembali melewati jalan-jalan di Jakarta yang padat dan ‘ngruwel’ seperti cendol Majalengka tersebut dan setiap kali melewati tikungan atau belokan maka kendaraan saya dibantu oleh para pemuda ‘Polisi Cepek’ tersebut agar bisa lewat. Tentu saja ini pekerjaan yang penuh resiko. Kita tidak pernah tahu apakah para pengemudi di Jakarta yang tentunya lebih sangar ketimbang pengemudi di daerah lain sedang berkonsentrasi penuh atau tidak pada kendaraan mereka dan bisa saja mereka menyeruduk para pemuda gagah berani yang sedang menyetop kendaraan mereka tersebut. Dan jika itu yang terjadi maka jelas mereka akan celaka dan tidak akan mendapat santunan asuransi dari perusahaan asuransi mana pun untuk menutupi biaya perawatan medisnya. Saya bahkan yakin tak kan ada perusahaan asuransi mana pun yang mau menerima mereka sebagai klien. Pekerjaan tersebut terlalu berresiko dan lagipula para pemuda gagah berani dan penuh dedikasi tersebut tentu tidak akan mampu membayar premi asuransi yang paling murah pun. Jadi pekerjaan sebagai ‘polisi cepek’ tersebut sebenarnya adalah pekerjaan yang beresiko tinggi tapi tidak menjanjikan imbalan yang memadai sama sekali. Tapi toh dimana-mana bermunculan para pemuda di sekitar lokasi keruwetan yang akan turun tangan membantu polisi untuk mengatur lalu lintas. Terus terang saya kagum pada mereka. Rasa hormat saya untuk Anda, wahai para pemuda Polisi Cepek. You got my admiration!

Ingat bahwa pekerjaan mulia ini jelas tidak menjanjikan imbalan yang memadai dan jenjang karir sama sekali. Tidak ada SK dan ‘reward’ sama sekali. Pekerjaan ini bahkan dianggap sebagai pekerjaan yang rendah dan hanya pengangguran tak berdaya yang mau mengambilnya.

Memang benar bahwa para pemuda tersebut adalah para pengangguran lokal yang mungkin terpaksa melakukan pekerjaan tersebut karena tak ada peluang lain yang bisa mereka masuki. Tapi ingat bahwa keputusan untuk melakukan pekerjaan sebagai ‘One Hundred Rups Cop’ ini sungguh merupakan sebuah terobosan besar bagi mereka dibandingkan mereka hanya duduk termenung saja di rumah. Dengan bekerja demikian maka mereka sudah terhindar dari menjadi preman jalanan atau pelaku begadangan yang suka mabuk-mabukan. Bagaimana mungkin Anda bisa begadang dan mabuk-mabukan jika keesokan harinya Anda harus ‘makarya’ di jalanan dengan tuntutan kesehatan fisik dan mental yang prima? Hanya pemuda yang menjaga kesehatan fisik dan mentalnya yang dapat melakukan tugas tersebut dengan baik dan hanya pemuda yang telah berhasil mengalahkan rasa malasnya yang mampu memutuskan untuk melakukan pekerjaan tersebut. Tidakkah itu luar biasa…?! (Oh my…! Tiba-tiba saya teringat pada ribuan sarjana yang memilih menganggur di rumah ketimbang melakukan pekerjaan apa saja yang bernilai bagi lingkungannya.)

Satu lagi kekaguman saya pada para pemuda ini adalah bahwa mereka mampu menjaga emosi mereka untuk tetap stabil dalam terpaan situasi dan suasana kerja yang luar biasa menekannya. Coba bayangkan situasinya! Untuk bisa ‘berkarir’ seperti mereka Anda mesti bekerja di tengah jalan yang paling padat di kota Jakarta. Terik matahari Jakarta akan menerpa wajah dan tubuh Anda tanpa kenal ampun sehingga sun block lotion seampuh apa pun pasti akan menyerah. Kemudian bayangkan asap knalpot dari berbagai jenis kendaraan yang juga tanpa ampun akan harus Anda hisap ke dalam paru-paru Anda sepanjang hari karena Anda tidak menggunakan masker apa pun. Raungan suara knalpot dan klakson yang marah karena dihentikan secara tiba-tiba datang bagai gelombang pasang yang tiada hentinya. Dan Anda harus tetap tersenyum ramah kepada para pengemudi agar mereka sudilah kiranya melemparkan keping logam tak terpakai mereka untuk mereka kumpulkan sekeping demi sekeping agar mereka bisa makan hari itu. Anda merasa sanggup melakukan tugas mulia mereka tersebut? If you think so, saya dengan senang hati akan menguji seberapa tangguh Anda dibandingkan mereka! Sini kucoba…!

Itu juga belum seberapa. Tugas utama mereka adalah dengan gagah berani menyodorkan tubuh mereka untuk menghadang mobil dan kendaraan lain yang melintas dari arah lain agar mereka berhenti dan kendaraan kita bisa lewat dengan mudah. Resiko disruduk oleh kendaraan yang meluncur kencang sampai klenger jelas besar. Cacat dan maut tarohannya. Meski demikian mereka melakukan ini dengan penuh semangat dan dedikasi yang tinggi meski imbalannya cuma uang koin yang biasanya kita lemparkan begitu saja karena tidak ada nilainya bagi kita. Itu pun mereka lakukan dengan bonus tambahan ucapan terima kasih dan panggilan ‘Boss’ pada kita yang pagi itu saya dengarkan bak musik di telinga saya. “ I am a Boss…! Di Jakarta pula”, demikian pikir saya sambil merasa bangga karena telah memberi mereka uang seribu rupiah. Seribu rupiah dan saya dipanggilnya boss! Luar biasa…!!

Diam-diam saya mencoba untuk menghitung berapa penghasilan mereka dengan berjibaku seperti itu. Saya perhatikan bahwa tak ada pengemudi sepeda motor yang memberi mereka ‘honor’ membantu menghentikan kendaraan tersebut. Mereka terlalu sibuk untuk sekedar merogoh ke kantong untuk mencari uang koin yang terselip di kantong. Pengemudi kendaraan umum juga hampir tidak pernah memberi uang pada mereka karena mereka dianggap sebagai ‘kolega’. Bukankah mereka juga mencari nafkah di jalan seperti mereka dengan mengumpulkan rupiah demi rupiah? Mereka memiliki toleransi yang tinggi pada ‘kolega’nya tersebut. No need to givelah!

Jadi tinggal para pengemudi mobil pribadi yang bisa diharapkan untuk menunjukkan belas kasihan mereka untuk menghargai pekerjaan mereka yang sungguh mulia tersebut. Cukup dengan uang koin kembalian belanja yang mungkin tidak ingin kita simpan di kantong. Itu pun mereka tidak memaksa. Kalau kita tidak punya uang koin maka mereka juga tidak akan menunjukkan wajah mendongkol. Kalau ada seratus mobil pribadi yang mau memberi mereka ‘honor’ dengan rata-rata lima ratus rupiah per mobil maka penghasilan mereka adalah sekitar 50 ribu sehari. Dan itu mesti mereka bagi berdua atau bertiga sesuai dengan jumlah tim yang terlibat dalam tugas mulia tersebut. Jadi kalau mereka bekerja bertiga dalam tim maka maksimal mereka akan dapat 20 ribu rupiah bekerja seharian bertarung di jalanan Jakarta dalam kondisi yang begitu penuh tekanan dan resiko!

Membayangkan ini tiba-tiba saya merasa kecil dan malu membandingkan keikhlasan mereka dalam bekerja dengan diri saya. Saya tiba-tiba merinding karena merasa kalah jauh dalam soal keikhlasan bekerja dibandingkan mereka, para pemuda yang penuh dedikasi ini. Padahal gaji tetap saya sudah dapat tapi kalau melakukan pekerjaan ekstra dan tidak dapat honor marahlah saya. Malu benar saya membandingkan diri soal keikhlasan dengan mereka! Dengan sekeping koin mereka melakukan pelayanan yang sepenuh hati dan wajah ceria agar kita bisa melewat belantara lalu lintas yang tak kenal ampun tersebut. Mereka melakukannya dengan penuh keikhlasan dan tanpa menuntut keadilan kepada siapa pun. Mereka menjalani hidup mereka dengan penuh optimisme bahwa akan ada pengemudi yang akan menyodorkan sekeping koin pada setiap kali mereka berjibaku menghentikan kendaraan yang melaju.

Kalau sudah begitu ingin rasanya saya melewati tikungan tersebut kembali dan memberi mereka jumlah uang yang lebih besar, umpamanya lima ribu rupiah, dan saya yakin akan mendengar ucapan terima kasih yang lebih tulus dan ekspresi wajah yang lebih riang dari mereka. Jika saya beruntung mungkin saya akan melihat ekspresi wajah heran dan anggukan kepala yang lebih dalam dan perasaan senang dari wajah mereka.

Saya kemudian membayangkan bagaimana jika saya memberi mereka uang 10 ribu rupiah, 20 ribu rupiah, 50 ribu rupiah atau … uang merah 100 ribu rupiah! Bagaimana ya kira-kira perasaan mereka…? Mereka mungkin akan menjadikan hari itu sebagai hari yang paling beruntung dalam ‘karir’ mereka sebagai ‘One Hundred Rups Cop’. Hari itu akan mereka kenang dengan sukacita dalam hidup mereka! Itu akan menjadi rejeki yang sama sekali tidak mereka duga dan harapkan dalam catatan karir mereka se umur hidup. Kalau sehari-hari mereka mengharapkan uang ‘cepek’ dan jika mereka mendapat uang ‘cepek jing’ maka itu artinya 1000 X dari apa yang rutin mereka terima. Bayangkan kalau kita mendapatkan honor atau gaji 1000 X dari biasanya! Anda mungkin akan sujud syukur berkali-kali karena senangnya!

Jakarta, 14 Oktober 2010
Satria Dharma

Iklan