Keceriaan siswa SPH. Dok. bmh.or.id

Road Show, Imdaad Pun Sumbangkan Cincin Berliannya

Bagaimana kiat Pondok Pesantren Hidayatullah untuk mengelola sebuah sekolah bermutu tinggi tanpa mengenakan biaya kepada peserta didiknya? Pendidikan bermutu tinggi jelas membutuhkan biaya dan sumber daya lain yang tidak kecil. Darimana semua itu diperoleh?

Pondok Pesantren (PP) Hidayatullah percaya bahwa pada hakikatnya setiap manusia itu diberi kapasitas dan keinginan untuk berbuat baik. Dalam diri setiap manusia ada elemen kebaikan yang bila digugah akan bangkit menjadi karya nyata.
Berbekal keyakinan inilah maka PP Hidayatullah melalui Baitul Maal Hidayatullah (BMH) lalu mencari dukungan kepada semua pihak untuk membantu terwujudnya visi dan misi Sekolah Pemimpin Hidayatullah (SPH) ini. Bagaimana saya tertarik untuk terlibat langsung pada program ini bisa dilihat pada tulisan saya di http://satriadharma.com/index.php/2010/07/31/mustaqim-dan-sekolah-pemimpinnya/.

Saya kemudian mengajak semua teman-teman saya untuk turut terlibat dalam mengembangkan Sekolah Pemimpin ini dan memutuskan untuk berkomitmen penuh menjadikan sekolah ini sebagai sebuah Model Nasional Pengembangan Sekolah Bermutu Berbasiskan Pondok Pesantren. Jika pola ini berhasil maka akan kami sebarkan, khususnya pondok pesantren yang jumlah ribuan di Tanah Air ini.

Sejak awal dicetuskannya ide Sekolah Pemimpin ini maka tidak ada hari tanpa upaya untuk menyosialisasikan program besar ini ke semua pihak. Semua lini berupaya untuk melakukan road show kemana-mana untuk mendapatkan dukungan. Jika setiap orang yang ditemui bersedia mendoakan kemudahan bagi sekolah ini saja, maka doa tersebut akan naik ke langit ke Pemilik alam semesta ini.

ROAD SHOW

Untuk menyebarluaskan pemahaman secara langsung tentang program ini SPH mengadakan acara open house dengan mengundang para stakeholders pendidikan di sekitar Gunung Tembak, termasuk dunia usaha dan dunia industri (DUDI) yang berada di sekitar lokasi sekolah.

Dari acara tersebut masyarakat kemudian mengenal sekolah ini yang kemudian turut membantu, baik itu berupa dana atau pun barang dan jasa lain. Dalam acara itu, Walikota Balikpapan H Imdaad Hamid menyumbangkan sebuah cincin berliannya seharga Rp 15 juta untuk dilelang pada umum.

Bahkan acara open house itu sendiri sepenuhnya mendapat sumbangan dari warga Balikpapan yang ingin terlibat dan berkontribusi pada berdirinya sebuah sekolah yang luar biasa ini.

Selain open house untuk mengenalkan sekolah ini secara umum dan mendapatkan dana, upaya road show juga dilakukan untuk mendatangi kelompok-kelompok masyarakat yang diharapkan dapat turut serta berpartisipasi untuk mewujudkan mimpi besar sebuah sekolah unggul bagi warga miskin ini. Audiensi ke DPRD, kunjungan ke media, mendatangi kelompok-kelompok pengajian, komunitas perbankan, komunitas MIGAS, dunia usaha dan industri tengah dirancang agar bisa dilakukan secara kontinu. Dengan cara ini maka program community based participation benar-benar bisa dilaksanakan. Ini adalah sebuah terobosan untuk memperkuat peran masyarakat dalam peningkatan mutu pendidikan.

ORANGTUA ASUH

Salah satu terobosan lain dari Sekolah Pemimpin adalah Program Orangtua Asuh. Dalam kesempatan bertemu dengan kelompok masyarakat didorong agar mereka bersedia mengasuh satu atau beberapa siswa miskin dengan jalan menanggung pembiayaan asrama dan pendidikan mereka.

Dengan jumlah penduduk sebanyak lebih dari setengah juta orang di Balikpapan rasanya tidak sulit untuk mencari orangtua asuh bagi sekitar 50 siswa miskin yang mau benar-benar menyantuni mereka. Orangtua asuh ini diharapkan bersedia mengenalkan kehidupan sehari-harinya kepada anak asuhnya dengan sesekali mengajak mereka berkunjung dan tinggal di rumah mereka. Diharapkan interaksi yang terjalin antara orangtua dan anak asuh akan memberikan pengalaman berharga dan semakin menumbuhkan empati bagi kedua belah pihak.

TANTANGAN

“Educational change depends on what teachers do and think – it’s as simple and as complex as that.” Demikian kata Fullan The New Meaning of Educational Change, 3rd ed. Fullan (2001:115).

Tantangan terbesar dari program Sekolah Pemimpin ini sebenarnya adalah pada mutu pendidikannya itu sendiri dan ini sangat bergantung pada kualitas manajemen sekolah dan para guru pengasuhnya. Pembaharuan pendidikan yang dilakukan tidak dapat dipraktikkan jika pengetahuan pada tingkat pelaksana itu sendiri terbatas.

Guru adalah kunci dari pendidikan. Sebagai contoh, metoda CBSA yang digunakan untuk meningkatkan critical thinking, merangsang intrinsic motivation dan memberikan kemungkinan daya ingat yang lama pada diri siswa memerlukan persyaratan kualitas guru tertentu untuk bisa diimplementasikan.

Seperti yang dikatakan oleh Fullan, sekolah baru akan efektif apabila (1) kita merekrut orang-orang terbaik untuk menjadi guru, dan (2) lingkungan kerja guru dibuat nyaman dan kondusif untuk bekerja dan mendorong mereka untuk berkarya agar mereka tidak loncat mencari pekerjaan lain.

Oleh sebab itu Sekolah Pemimpin memang harus merekrut guru-guru paling berbakat dan paling dedikatif yang bisa diperolehnya dan membuatnya senang bekerja di lingkungan pondok. Saat ini memang sudah ada pengajar yang mendapat pelatihan intensif oleh konsultan pendidikan yang datang secara rutin ke SPH. Upaya untuk memperoleh guru-guru paling berbakat dan paling dedikatif memang menjadi tugas yang tidak pernah berhenti.

Guru-guru ini kemudian harus terus menerus diberi pelatihan untuk mengembangkan keilmuan maupun pengalaman mereka dalam mengajar di kelas dengan menggunakan pendekatan-pendekatan terbaik yang ada di dunia belahan lain.

Oleh sebab itu SPH akan bekerjasama dengan lembaga-lembaga yang berkonsentrasi pada pengembangan profesi guru agar mutu guru yang dimilikinya akan tetap terjaga.

FASILITAS

Fasiilitas pendidikan jelas penting bagi sekolah yang bermutu. Saat ini SPH telah memiliki ruang belajar, asrama, perpustakaan, lapangan olahraga, dan laboratorium computer. Masih banyak fasilitas lain yang diperlukannya agar dapat sesuai dengan visi yang hendak dicapainya. Asrama dan ruang belajar jelas tidak akan memadai lagi tahun mendatang sehingga memerlukan tambahan. Paling tidak SPH juga memerlukan indoor sport facilities dan ruang kesenian dan ketrampilan jika ingin menjadi sekolah dengan pembinaan olahraga, seni dan ketrampilan yang terbaik di Kalimantan.

Masih banyak tantangan di masa depan untuk kita semua! (bersambung)

Artikel ini juga diterbitkan di Kaltim Post

Iklan