Ilustrasi. Google.com

Seingat saya selama hidup saya pernah dua kali melamar pekerjaan dan ikut tes. Dua-duanya saya diterima.
Pertamakali bekerja sebagai guru SMP di Caruban, kota kecil dekat Madiun saya tidak perlu melamar. Saya ditempatkan di sekolah itu sesuai dengan ikatan dinas yang harus saya penuhi karena ikut program Tunjangan Ikatan Dinas dari program PGSLPYD. PGSLPYD itu singkatan dari Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama Yang Disempurnakan dan merupakan program pendidikan guru setara Diploma 1 yang nantinya lulusannya akan ditempatkan sebagai guru SMP di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Begitu lulus kuliah dari jurusan Bhs Inggris saya langsung mendapat penempatan di Caruban. Sebuah kota kecil yang susah payah harus saya cari di peta Jawa Timur.

Saya tidak langsung berangkat untuk memenuhi kewajiban saya meski SK PNS saya sudah turun. Terus terang saya tidak ingin untuk berangkat pada awalnya karena menjadi guru PNS, apalagi ditempatkan di sebuah kota kecil yang belum pernah saya injak sebelumnya, sungguh bukan tujuan hidup saya. Ogah rasanya saya menjadi guru. Sebagai anak muda kota metropolis macam Surabaya karir sebagai guru sungguh tak menarik samasekali. Di kepala saya waktu itu saya masih berharap bisa jadi seorang psikolog, wartawan atau guide yang bisa melancong ke mana-mana tapi malah dibayar.

Jadi guru…?! Puih…! Nehi lah yaow…! Saya mau ikut program TID dari PGSLPYD hanya karena tertarik pada uang tunjangan dinasnya yang lumayan besar bagi saya waktu itu yang saya peroleh setiap tiga bulan tersebut. Lagipula perkuliahannya saya anggap sebagai kursus bahasa Inggris gratis saja!

Tapi ketika ayah saya mengingatkan bahwa saya mesti memenuhi kewajiban saya sesuai dengan janji saya pada awal menerima program tersebut maka saya seperti tersentak menyadari bahwa saya sudah teken kontrak dan saya memang harus memenuhi kewajiban saya untuk mengajar selama minimal 2 (dua) tahun setelah ditempatkan. Bagaimana pun saya telah makan uang negara dan telah berjanji untuk memenuhi kewajiban sebagai penerima tunjangan ikatan dinas selama dua tahun. Setelah itu terserah saya kalau mau keluar dari pekerjaan tersebut dan mencari pekerjaan lain. Tanggung jawab adalah sesuatu yang diajarkan secara sungguh-sungguh oleh ayah saya dan saya harus bertanggungjawab atas tunjangan ikatan dinas yang sudah saya terima selama setahun penuh sebelumnya. Saya tidak ingin ketulahan karena makan uang negara dan tidak memenuhi kewajiban

Jadi saya berangkat mengajar di Caruban dan menjadi guru dengan status PNS. Dalam hati saya bertekad untuk keluar dari pekerjaan ini setelah menyelesaikan kewajiban kontrak saya mengajar selama dua tahun. Setelah itu ‘Good Bye…!’. Saya mau cari pekerjaan lain yang lebih asyik.

Jadi saya kemudian bekerja menjadi guru bahasa Inggris di Caruban, sebuah kota kecil yang ternyata memberi begitu banyak kesan dan bekal hidup pada hidup saya kemudian. Di kota kecamatan ini saya tumbuh menjadi seorang dewasa setelah menjadi guru selama dua tahun. Saay merasa beruntung bahwa saya bisa mendapatkan pengalaman bekerja yang sangat berkesan di kota kecamatan ini. Banyak teman-teman saya yang tidak jelas hidupnya dan mencari-cari pekerjaan untuk kehidupannya. Saya tak perlu melamar untuk bekerja disitu.
Dua tahun kemudian saya kembali ke Surabaya karena saya ikut tes untuk kuliah lagi dan diterima di IKIP untuk jurusan yang sama, Bahasa Inggris. Tapi saya tetap mengajar sebagai guru PNS di Surabaya. Pekerjaan sebagai guru ternyata sangat menyenangkan dan penuh tantangan. This is a real job for a real man. 😀

Sejak itu saya mengajar di banyak tempat baik itu sekolah atau pun kursus. Tapi saya tak pernah melamar. Saya yang diminta untuk mengajar di sekolah atau tempat kursus tersebut. Saya tidak tahu bagaimana rasanya melamar pekerjaan saat itu.

Melamar pekerjaan pertama kali saya lakukan ketika ada lowongan di sebuah perusahaan komputer (saya lupa namanya) di Surabaya . Waktu itu saya sudah jadi ronin. Artinya saya sudah tidak bekerja pada sekolah tertentu meski masih berstatus PNS. Saya sedang kena tindakan indisipliner karena menolak untuk dipaksa jadi anggota Golkar. 😀 Meski demikian saya masih berstatus PNS dan gaji saya masih diantar ke bimbingan belajar di mana saya bekerja.

Entah di mana saya melihat lowongan pekerjaannya tapi saya tertarik untuk melamar ke perusahaan komputer tersebut. Komputer masih sangat jarang dan program yang digunakan masih Word Star dan Lotus. Saya melamar ke perusahaan tersebut karena tidak ada persyaratan usia, tidak ada persyaratan jurusan tertentu yang boleh melamar dan syaratnya hanya lulusan sarjana dengan IP minimal 3. Kebetulan IP saya mencukupi untuk melamar. Saya mengirim lamaran dan mesti ikut tes. Kebetulan testnya hanya test psikologi dan test bahasa Inggris. Psikotestnya tidak mudah dan membuat saya berkeringat dingin tapi tes bahasa Inggrisnya jelas ‘piece of cake’ bagi saya. Bahkan saya bisa tunjukkan soal yang salah pada petugas yang menjaga tes kami dan ia tidak bisa berbuat apa-apa katanya.

Ketika diumumkan ternyata nama saya masuk dalam jajaran pelamar yang diterima meski berada di urutan bawah. Ada sekitar 8 orang dari puluhan peserta test yang diterima. Di urutan atas ternyata saya melihat nama mantan siswa saya dari Caruban. Nurul Mustofa, namanya. Ia lulusan terbaik di angkatannya dan akhirnya diterima di ITS. Di ITS pun prestasinya menonjol. Jadi saya sama-sama diterima dengan bekas siswa saya untuk mendapatkan pelatihan selama seminggu penuh sebelum benar-benar bisa diterima bekerja di perusahaan tersebut. Nurul Mustofa ternyata diterima bekerja di bank dan ia akhirnya tidak muncul untuk ikut pelatihan.

Sayang sekali bahwa ternyata saya tidak bisa mengikuti pelatihan marathon selama seminggu berturut-turut mulai pagi sampai sore dengan materi yang begitu berat. Saya meninggalkan satu hari pelatihan dan dengan terpaksa dicoret dari daftar. Jadi meski lolos tes ternyata saya tidak diterima karena tidak mengikuti proses pelatihan dengan penuh. Meski demikian saya diberi honor karena telah mengikuti proses tersebut. 😀 Not bad. Ini pengalaman yang menarik bagi saya.

Melamar kedua kalinya saya lakukan ketika kakak ipar saya memberitahu bahwa ada lowongan di perusahaan tempatnya bekerja di PT Badak NGL Co Bontang. Lowongan yang ada adalah untuk guru bahasa Indonesia di Bontang International School. Syaratnya adalah lulusan bahasa Inggris dan punya pengalaman mengajar lima tahun. Saya punya keduanya. Saat itu saya sudah mengajar selama 12 tahun.
Begitu saya diberitahu tentang lowongan tersebut saya langsung merasa bahwa saya akan diterima dan saya akan tinggal di Bontang setelah itu. Saya sungguh heran dengan firasat tersebut padahal mengirim lamaran saja belum. Tapi firasat saya sungguh kuat dan saya sangat mempercayai firasat saya tersebut.

Semula saya ragu-ragu untuk melamar karena pekerjaan saya di Bimbingan Belajar ASG sangat bagus. Saya adalah salah seorang pemilik dari usaha ini dan saya memegang jabatan sebagai direkturnya disitu. Kami juga baru saja mengembangkan cabang-cabang kami ke lima kota di Jawa Timur. Kami punya cabang di Mojokerto, Kediri, Madiun, Pamekasan, dan Gresik. Semua cabang berjalan dengan baik dan saya sangat sibuk.

Tapi saya bosan dengan pekerjaan tersebut. Rasanya seperti berjalan di rolling wheel di mana kita melakukan hal yang sama hari demi hari dan tidak melakukan kemajuan. Mungkin karena dua rekan saya tidak terlalu aktif dan saya yang menjalankan bimbingan tersebut secara penuh maka saya merasa lelah psikologis dan pingin melakukan sebuah hal baru. Lagipula prospek mengajar di lingkungan yang samasekali berbeda dengan apa yang telah pernah saya ikuti selama ini juga menggoda. Mengajar di sekolah internasional artinya bergaul dengan ekspatriat dan tentunya akan sangat baik bagi peningkatan kemampuan saya dalam berbahasa Inggris. Lagipula renumerasi dan fasilitas yang ditawarkan jelas sangat bagus.

Akhirnya saya mengirim lamaran ke Jakarta, di mana kantor pusat perusahaan tersebut berada.

Tak lama kemudian datang panggilan untuk tes berupa wawancara langsung dengan bule kepala sekolah Bontang International School. Tak ada tes tertulis dan itu satu-satunya tes yang ada. Jika wawancara berhasil maka that’s it.

Ketika saya sampai ke kantor PT Badak NGL Co di Gedung Nusantara lantai 9 ( (kalau tidak salah ingat) yang berada persis di depan bundaran Hotel Indonesia, para pelamar yang dipanggil telah memenuhi ruangan. Dari hasil pengamatan saya nampaknya hanya saya satu-satunya pelamar yang datang dari Surabaya. Semua pelamar lainnya berasal dari Jakarta dan Bandung. Meski banyak orang dalam ruangan tunggu tersebut tapi suasananya hening karena semua orang berdiam diri sambil menunggu giliran untuk dipanggil wawancara. Sungguh sebuah suasana yang menekan dan tidak nyaman.

Disini sifat usil saya muncul.

Setelah berbasa-basai menanyakan darimana asal mereka dll ke setiap orang saya kemudian mengajak bicara mereka semua dengan kalimat pembuka,”Tahu nggak kalian bahwa hanya satu orang di antara kita yang akan diterima untuk pekerjaan ini?” Tentu saja pertanyaan atau tepatnya pernyataan ini menarik bagi mereka.

“Iya sih! Dengar-dengar memang hanya satu yang diterima.” Sahut salah seorang di antara mereka.

“OK kalau begitu. Tapi… tahukah kalian bahwa SAYA-lah yang akan diterima untuk pekerjaan ini..?!”

Tentu saja pertanyaan atau pernyataan ini mengejutkan mereka. Mereka semua memandang saya dengan ragu-ragu apakah saya serius atau tidak. Tapi ketika mereka melihat saya tersenyum-senyum akhirnya mereka sadar bahwa saya sedang menggoda mereka. Dan mereka pun tertawa sehingga suasana kaku sebelumnya mencair.

“Kok yakin kalau Anda yang diterima…?!” salah seorang di antara mereka akhirnya menimpali seloroh saya.

“Tentu saja saya yakin bahwa sayalah yang akan diterima karena saya sudah menemui saingan-saingan saya, yaitu kalian semua dan setelah saya perhatikan nampaknya kalian tidak cukup punya kepercayaan diri untuk diterima. Coba lihat..! Sejak tadi kalian semua duduk termenung dengan wajah tertekan. Tak ada nampak ciri-ciri seorang pemenang yang gembira dan optimis dari wajah tersebut.” Tandas saya sambil tertawa kecil.

“Sok lu…!” sahut seseorang dari mereka dan suasana pun menjadi lebih cair. Paling tidak saat itu kami kemudian ngobrol dan merasa lebih akrab sehingga suasana tidak lagi menekan. Satu demi satu peserta tes dipanggil dan pulang setelah diwawancara. Saya tidak tertarik untuk bertanya apa jenis pertanyaan yang dilontarkan tapi kata seorang pelamar ia ditanya apakah mampu menghadapi anak-anak bule yang nakal dan bagaimana caranya untuk menghadapi mereka.

Ketika saya dipanggil untuk wawancara saya segera masuk ruangan dengan tampang riang dan senyum terkembang. Si pewawancara adalah seorang bule Kanada berbadan besar yang sudah berumur. Meski bercambang penuh tapi ia nampak ramah. Saya mengeluarkan senyum saya yang paling ramah, mengulurkan tangan dengan penuh percaya diri dan mengucapkan,

”Hallo…! Nice to meet you Sir. My name is Satria.” . Ia menjawab dengan ramah pula dan meminta saya duduk.

Setelah beberapa pertanyaan tentang pribadi dan pekerjaan sebelumnya yang saya jawab dengan singkat dan padat kecuali yang membutuhkan penjelasan ia tiba-tiba bertanya apakah saya siap menghadapi anak-anak nakal. Ia kemudian menjelaskan bahwa anak-anak yang bersekolah di Bontang International School adalah anak-anak bule yang manja-manja. Mereka juga bisa sangat bandel dan kita mesti bisa menghadapi mereka dengan bijak. Ini anak-anak bule nakal yang tentu saja tidak bisa kita intimidasi untuk takut pada guru karena orang tua mereka, yang merupakan para petinggi di perusahaan, tentu tidak akan senang jika anak-anak mereka diintimidasi.

“I don’t think I will have problem with them.” jawab saya singkat. Jawaban ini meluncur begitu saja dari mulut saya seolah ia telah ada di kepala saya sejak lama dan sudah menunggu lama untuk keluar.

“Kenopo peno kok rumongso yakin iso ngadepi cah-cah bule sing nakal kuwi?”tanyanya dalam bahasa Inggris tentunya.

“Because I love children and they will know that I love them.’ jawab saya lagi. Ini juga jawaban yang saya tidak tahu darimana asalnya tapi tiba-tiba saja ia meluncur dari mulut saya. “Sok lu…!” dalam hati saya tiba-tiba. Tapi suara itu tidak saya perdulikan. Tampang tetap saya stel yakin dan penuh percaya diri. Saya upayakan agar senyum saya tetap tertinggal di wajah saya. Hanya itu jawaban saya tapi nampaknya Pak Kepala Sekolah ini puas dengan jawaban saya dan ia menyatakan wawancara selesai dan ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Saya menggenggam tangannya dengan kuat dengan wajah gembira dan senyum terkembang. Persis gaya seorang pebisnis sukses yang berhasil memenangkan kontrak ratusan juta dollar. Atau paling tidak begitulah yang ingin saya kesankan. Wawancara saya ternyata singkat saja dan jauh lebih singkat ketimbang teman-teman yang lain.

Ternyata apa yang saya sampaikan pada para peserta tes benar. Hanya saya dari pelamar untuk jadi guru sekolah internasional tersebut yang lolos dan ternyata masih ada satu tes lagi dan itu harus diadakan di Bontang. Jadi saya berangkat ke Bontang beberapa waktu kemudian. Tapi perjalanan kali ini dibiayai oleh perusahaan. Saya sungguh senang bisa bepergian ke Bontang naik pesawat dari Surabaya – Balikpapan – Bontang pulang pergi tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. Kalau pun saya gagal kali ini perjalanan ini sudah cukup membayar pengorbanan saya rasanya.

Saya berangkat bersama dua orang lagi dari departemen lain yang diterima. Mereka berdua semuanya dari Jakarta. Tesnya hanya tes kesehatan dan kami bertiga bisa melewatinya dengan baik.

Jadi itu awal saya bekerja di Bontang International School mengajar anak-anak bule mulai dari Pre K sampai G-7. Ji Seven itu singkatan dari Grade Seven alias klas 1 SMP. Pre K artinya pre-kindergarten atau anak-anak Pra TK. Jadi sejak itu saya ngurusi anak-anak yang sebagian masih pakai pampers ke sekolah! Tapi seperti janji saya pada pak kasek saya mencintai siswa-siswa saya, bule-bule kecil yang imut-imut tersebut, dan mereka juga ternyata mencintai saya sebagai guru mereka.

Satria Dharma
Balikpapan, 6 April 2011

Iklan