Fernando Alonso. Google.com

Saya sedang mengerjakan tugas rutin saya (membuka dan membalas email) ketika Tara, anak bungsu saya muncul di ruang komputer dan berkata,”Pak, Mas Alif nggak masuk sekolah.”. Alif itu sepupunya yang satu sekolah dengannya dan ia biasanya ikut dengan Alif berangkat mau pun pulang sekolah. Kebetulan Alif tinggal satu jalan dan jaraknya hanya beberapa rumah dari rumah kami.
Karena tak ada antaran pagi itu maka mau tak mau saya harus mengantarkan Tara ke sekolah. Komputer kutinggalkan dan segera berkemas. Ketika mobil mulai meluncur kuperhatikan jam penunjuk waktu di dashboard. 7:05.

“Jam berapa sekolahmu masuk, Nak?” tanyaku

“Gak tahu. Jam 7:15 barangkali.” jawabnya tak yakin. Ia tak pernah memperhatikan jam berapa sekolahnya mulai karena ia tidak pernah terlambat masuk sekolah.

“Kenapa Mas Alif gak masuk hari ini? Sakitkah” tanyaku.

“Nggak. Mau bolos aja.” Jawabnya.

“Soalnya semua orang libur jadi dia juga mau libur.” Tambahnya seolah tahu bahwa saya akan menanyakan hal ini.Saya lalu ingat bahwa kakaknya, Yufi, libur hari ini.

Saya baru ingat bahwa hari ini adalah peringatan hari wafatnya Isa AlMasih yang disebut sebagai hari Paskah oleh umat Nasrani dan ini adalah hari libur nasional. Tapi sekolah anak saya tidak libur karena sekolahnya adalah sekolah SDIT yang memang tidak pernah ikut libur jika peringatan hari agama lain (Oh…Toleransi! Dimana kau…?!).

Saya jadi ingat percakapan saya dengan beberapa saudara saya soal liburan anak-anak yang tidak sama. Beberapa anak kami bersekolah di sekolah SDIT dan lainnya di sekolah negeri. Sekolah Islam biasanya tidak ikut meliburkan siswanya pada hari peringatan agama lain (utamanya sekolah Tara). Beberapa orang di antara kami mulai ‘ngomel’.

`‘Kok gak mau toleransi sih…?!’ (Mungkin maksudnya ‘kok ngrepotin sih…?!’ Kita kan mau liburan bareng semua anak-anak. Mana bisa kalau hari libur nasional aja gak kompak…?!)

Adik saya langsung menjawab, ‘Sama aja. Tuh sekolah Kristen juga gak libur kalau hari peringatan agama Islam.”

“Jadi ini pembalasan nih ceritanya,” sahutku membumbui.

“ Ya balas dong…!” jawab yang lain dan kami pun tertawa berderai-derai. Dan saya teringat siswa-siswa Finlandia yang hari sekolahnya jauh lebih pendek daripada siswa kita tapi tetap mendapatkan pendidikan dengan kualitas terbaik di dunia.

Mobilku melaju dengan mulus di jalan yang lengang. “What a relieve…!” pikirku. Saya suka senewen kalau lihat kendaraan berhimpitan di jalan dalam keadaan saya terlambat. But not this morning.
Tara kuturunkan di sekolahnya yang masih sepi dan kembali bablas pulang. I feel like driving a Ferrari! Jalanan sekolahnya yang biasanya kram tiba-tiba lengang (dan saya melaju melewati tikungan demi tikungan, lap demi lap). Saya tiba di rumah kembali pada jam 7:34.

“Whaaat…!” Cepat sekali!” Biasanya saya butuh waktu dua kali lipat untuk keperluan tersebut. Ini catatan waktu terbaik saya selama mengantar Tara ke sekolah selama ini. Ini rekor baru yang saya pecahkan sendiri. Apakah saya telah menjadi Fernando Alonso pagi ini?

Balikpapan, 22 April 2011

Iklan