Tiga dari sepuluh tukang ojek di Jakarta adalah sarjana,

Pangkalan Ojek. padang-today.com

Anda pasti tahu apa itu ‘Tukang Ojek’. Gak mungkin nggak tahulah! Siapa tahu jika Anda seorang sarjana di Jakarta Anda justru salah satu ‘tukang ojek’ tersebut. Hehehe…! Saya baru tahu apa itu ‘tukang ojek’ setelah lulus SMA dan ‘merantau’ ke Lombok. Bukan ‘merantau’ sebenarnya. Cocoknya ya jalan-jalan gitu. Tapi kalau pakai istilah ‘merantau’ kok kayaknya keren gitu lho!

Saya dulu tinggal di Surabaya, di Jalan Darmokali. Sebetulnya dulu daerah ini tidak masuk bagian kota Surabaya dan disebut Wonokromo. Jadi dulu Surabaya dan Wonokromo itu dianggap dua daerah yang terpisah. Padahal Wonokromo itu hanya sebuah wilayah tak seberapa luas dan merupakan terusan dari jalan Raya Darmo, jalan kota paling prestisius dulu (sampai sekarang rasanya). Hanya orang-orang kaya raya yang tinggal di jalan Raya Darmo.

Saya punya teman SD yang tinggal persis di depan lapangan Taman Bungkul, Raya Darmo. Jelas bahwa keluarganya kaya raya. Bukan hanya itu, ia juga cantik, berkulit putih bersih, ramah, menyenangkan, dan sangat pemurah. Ketika kami masih ke sekolah naik ‘Merci kil’ alias jalan kaki, mereka bersaudara sudah diantar naik Merci (Mercedes Benz) beneran ke sekolah. Sekolah kami namanya SD TPPNU di A Yani dan sekarang telah berubah nama menjadi TPS Khadijah. Waktu SMP kami berpisah sekolah tapi sesekali saya masih mampir ke rumahnya. Pulang sekolah saya sering jalan kaki dari SMPN 2 Surabaya yang terletak di jalan Kepanjen yang dekat Tugu Pahlawan tersebut ke rumah saya di Darmokali. Tentu saja itu jarak yang jauh untuk dilalui sambil jalan kaki oleh anak SMP. Delapan kilometer, rek! But I had no choice. Tak selalu ada ongkos transport untuk saya ke sekolah dan berjalan adalah solusi yang sehat sekaligus melelahkan.

Karena rumah teman saya tersebut berada di jalur ke sekolah SMP saya maka sesekali sepulang sekolah saya mampir ke rumahnya sekedar untuk minum air kerannya. Sekalian juga mendinginkan kaki saya yang menderita karena harus memakai sepatu karet. Air kerannya sueger lho…! Tapi biasanya saya dilarang minum air kerannya sama teman saya kalau dia sedang ada di rumah. Saya diminta untuk ambil air ‘surgawi’, yaitu air es dari kulkasnya. Keluarga kami tidak punya kulkas waktu itu sehingga air es dari kulkas di terik matahari yang membakar ubun-ubun sungguhlah sebuah air surgawi laiknya bagi saya. Lha wong air kerannya saja sudah uenak dan sueger lho…! Opo maneh air es dari kulkas abu-abu yang lebih tinggi daripada saya itu. Isinya macam-macam di kulkas itu tapi tidak akan saya jelaskan pada Anda. Bikin Anda ngiler saja. Biar saya saja yang ngiler.

Tentu saja saya naksir pada teman saya tersebut. Gak mungkin nggaklah. Bayangkan,…! Udah cantik, kulitnya putih mulus, matanya bulat cemerlang, ramah, sikapnya menyenangkan, kaya raya dan sering menraktir saya di kantin sekolah lagi..! Kurang apalagi coba…?! Pokoknya diambil semua dah!

Apakah ia juga naksir saya…?! Itu yang masih menjadi misteri bagi saya sampai sekarang. Soalnya saya tidak berani mengutarakan perasaan saya padanya (kalau nggak berani ‘mengutarakan’ ya ‘diselatankan’ aja, Bro…! demikian kata hati saya yang lain.). Mana saya berani menyampaikan perasaan saya sedangkan saya hanya ‘semut merah’ sedangkan ia ‘gajah’ (begitu kata Meggy Z, almarhum). ‘Kau si raja harta Ku raja sengsara” (lirik lengkapnya sila klik ke di sini). Menurut rumor sebetulnya si do’i juga naksir saya. Tapi sumber rumor ini yang gak jelas meski sudah saya ubek ke sana ke mari (Sial…!).

Lagipula Anda tentu tidak percaya kalau ternyata si do’i naksir saya. Anda tentu tidak rela kalau saya bahagia dan mendapat durian runtuh. Jadi lupakan saja soal taksir menaksir ini. Tak ada gunanya membuat Anda iri.

Sekarang teman saya sudah tidak tinggal di situ lagi. Sudah ikut suaminya tentunya (gak mungkin ikut saya kan. Lha wong bukan istri bukan sanak dengan saya). Rumah itu juga sudah dijual dan mungkin sudah jadi perkantoran. Entah di mana ia dan saudara-saudaranya tinggal kini. Tapi bagaimana pun… saya punya kenangan dengan rumah tersebut. Oh air surgawiku…! Entah berapa harga jual rumah itu. Tentunya muahal banget yak! Saya ingat ada seorang teman lain yang juga tinggal di jl Raya Darmo persis di sebelah masjid Al-Falah. Rumahnya mah jelek aja menurutku tapi suatu ketika katanya rumahnya mau dijual seharga 100 juta. ‘Seratus juta…?! Hah…!! Gak salah tah…?!’

Mohon dipahami dulu mengapa saya terkejut dengan angka tersebut. Pada saat itu rumah kami di Darmokali pernah mau dijual oleh ortu saya dengan harga hanya 10 juta, dan tidak laku-laku! Bagi saya uang sepuluh juta waktu itu ‘unthinkable’, gak bisa membayangkan berapa banyaknya. Pokoknya uakeh bleh…! Mungkin saking banyaknya sepuluh juta itu sehingga rumah saya dianggap tidak sebanding dengan uang sebanyak itu. Mungkin juga karena ada salah satu anaknya ortu saya yang “berkhianat’ dan berdoa agar rumah itu tidak laku. Lha kalau laku trus kami ini mau ditarok di mana…?! Tidur di Masjid Al-Falah…?! Sing bener ae, rek…! Sesekali mah oke tapi kalau setiap hari tidur di masjid pastilah kami jadi soleh semuanya. Lha wong tidak semua nabi anaknya soleh. Ada juga yang ‘mblunat’ kayak anaknya Nabi Nuh dan Nabi Yaqub itu.

Jadi seratus juta yang disebutkan oleh teman saya itu saya anggap sebuah impian di siang bolong alias nglindur alias perkataan orang yang sudah tidak bisa membedakan antara yang nyata dan yang khayal. Kalau orang miskin seperti saya nglindur dan suka berkhayal sih pantes-pantes aja. Namanya aja orang miskin. Tapi dia kan termasuk ‘wong eneng’ alias berpunya. Mosok masih suka berkhayal laiknya orang miskin. Gak pantes bin wagu tentu saja.

Tapi teman saya ternyata serius. Katanya sudah ada beberapa orang yang datang untuk melihat-lihat rumahnya (yang gak bagus-bagus amat itu. Tapi ssst..! jangan bilang-bilang. Soalnya dia jengkel ketika saya bilang “Gak kebanyakan tah harga seratus juta itu…?! Lha wong rumah gak seberapa mewah aja kok.” Sebetulnya saya mau bilang ‘omah elek’ tapi gak jadi karena kurang elok menurut tatakrama dan sopan santun pertemanan) ”. Dia lantas bilang bahwa rumahnya itu di jalan Raya Darmo (bener sih tapi kan gak bagus-bagus amat kan?!) dan katanya rumah di jalan Raya Darmo itu memang segitu pasarannya. Saya sungguh naif waktu itu dan tidak tahu bahwa rumah meskipun gak bagus-bagus amat tapi kalau terletak di jalan Raya Darmo maka harganya bisa 10 X lipat dari rumahku yang terletak di jalan Darmokali, yang hanya beberapa ratus meter jaraknya dari rumahnya tersebut. Padahal rumahku itu sungguh indah dan nyaman bagiku (sudah saya bandingkan dengan rumah teman-temanku lainnya yang tinggal di Darmorejo yang masuk gang-gang tersebut. Kata teman saya, yang tinggal di gang, rumah saya itu termasuk ‘loji’.

Saya sebenarnya tidak tahu apa ‘loji’ itu tapi saya simpulkan pastilah sesuatu yang ‘bagus’, ‘hebat’ dan ‘nyaman’ karena teman saya mengatakannya sambil menampakkan wajah iri berat. Tahu bagaimana ekspresi orang yang terkena serangan ‘iri berat’…?! Saya tahu.)

Apakah saya iri berat ketika teman saya yang di Raya Darmo bilang bahwa rumahnya berharga 100 juta?! Kayaknya sih iya. Tapi saya ini kan pandai menyembunyikan perasaan sehingga ia tidak tahu atau paling tidak, tidak yakin, apakah saya iri berat atau tidak. Kalau sekedar iri, ya jelaslah ia tahu. Soal berat dan ringannya yang ia tidak tahu. “Seratus juta…?! Puih…! Rumah jelek gitu mau dihargai seratus juta…!”
Lho…lho…lho…! Sik talah. Saya ini sebetulnya mau cerita tentang apa sih kok jadi lari ke masalah harga rumah…?! Lha mau cerita tentang ‘tukang ojek’ kok malah mblakrak ke mana-mana.

Tukang Ojek.

Saya dulu tinggal di Surabaya, di jalan Darmokali. Dan setahu saya sampai saat ini tak ada tukang ojek yang beroperasi di daerah saya. Kalau mau butuh transportasi ya naiklah becak, bemo, atau taksi. Tak ada yang namanya ojek di daerah Darmokali. Saya baru tahu apa itu tukang ojek ketika saya jalan-jalan ke rumah seorang keluarga saya di Selong, Lombok Timur. Saya memang suka ‘merantau’ eh! mblakrak ke mana-mana waktu masih muda (sekarang mah sebenarnya juga masih muda tapi sering gak kuat lagi melakukan hal-hal yang dulunya mudah saya lakukan). Dan karena saya punya famili di Lombok maka ke sanalah kaki saya melangkah (pokoknya kalau ada bau-bau famili dikit aja pasti kusatroni rumahnya.

Lumayan buat tujuan jalan-jalan Si ‘Jalenjeng’, alias si ‘tukang jalan’). Setelah sampai di Bali saya lalu ke Pelabuhan Padangbai dan dari Pelabuhan Padangbai saya naik ferry ke Pelabuhan Lembar di Lombok. Dari Pelabuhan Lembar saya naik bis ke Selong.

Singkat cerita (perjalanan rincinya gak usah kuceritain. Nanti Anda iri mengetahui bahwa betapa saya bersenang-senang selama dalam perjalanan) saya tiba di kota Selong. Selong ini adalah ibukota Lombok Timur di mana seorang paman saya tinggal dan menjadi anggota DPRD. Selain menjadi anggota DPRD beliau juga seorang pengusaha pom bensin di Selong. Tentu saja beliau orang kaya dan terkenal di Selong.
Sebetulnya saya tidak tahu di mana tepatnya paman saya itu tinggal di Selong tapi bagi saya fakta bahwa paman saya itu seorang anggota DPRD dan punya pom bensin sudah cukup untuk menjadi informasi penting untuk menemukan rumahnya. Gak perlu GPS-GPS-an! I will surely find him.

Jadi begitulah…! Begitu saya turun dari bis tiba-tiba saya diserbu oleh beberapa orang sambil mengatakan

‘Saya antar…! Saya antar…!” Hah..! baik banget nih orang Selong’, pikir saya.

“Mau ke mana, Mas?” tanya salah seorang di antara mereka.

“Mau ke rumah Pak Juwayni. Tahu nggak? Yang anggota DPRD itu lho!” jawab saya

“Tahu…tahu…! Ayo saya antar!’

“Gila..!’ kata saya dalam hati. ‘Begitu tenarnya paman saya satu ini sampai SEMUA orang di situ kenal dengannya dan BERSEDIA MENGANTARKAN ke rumahnya. ‘Apakah suatu saat saya juga akan bisa setenar paman saya ini?’ demikian kata hati saya lebih gila lagi.

Dan begitulah…. . Saya diantarkannya sampai di depan rumah paman saya itu. Saya turun dari motornya, tak lupa mengucapkan terima kasih dan segera masuk rumah.

Seisi keluarga sedang berada di rumah karena waktu itu menjelang isya’. Saya langsung terlibat dalam cerita yang asyik dengan keluarga famili saya tersebut sampai tiba-tiba tante saya bertanya.

“Tadi kamu naik ojek ya..?!”

“Ojek…?!(what the hell is ‘Ojek’ anyway? Mana ujyan ga ada ojyek, becyek becyek) Nggak tuh..! Saya naik motor tadi.” Jawab saya agak heran.

“ Iya. Naik motor ojek…?!” tanya tante saya lebih lanjut. “Apa tadi sudah dibayar…?!”

Sampai di situ pun saya belum juga paham apa yang dimaksud dengan ‘ojek’ tersebut. Ketika dijelaskan apa itu motor ojek barulah saya sadar. Rupanya pengendara motor yang mengantarkan saya tadi adalah seorang pengantar transportasi berbayar dan bukan ‘warga Selong yang baik hati’ dan karena mengenal baik paman saya. Sungguh naif senaif-naifnya saya ini (untung gak ikut bandnya)! Rupanya selagi saya ngobrol asyik dengan keluarga paman saya si tukang ojek menunggu dengan sabarnya di luar dan mengira saya sedang mengambil uang pembayaran untuknya. Saya yang tidak tahu dan mengira bahwa ia mengantarkan saya karena kebaikan hati seorang warga kampung yang tulus suci-murni telah membuatnya menunggu cukup lama di luaran. Ternyata anak Surabaya yang sok petualang ini bahkan tidak tahu apa itu ‘tukang ojek’…! Ngisin-isini..!

Itu perkenalan pertama saya dengan profesi tukang ojek. Saya tidak tahu apakah tukang ojek di Selong sekarang juga sudah banyak yang sarjana seperti di Jakarta atau tidak. Tapi saya yakin bahwa profesi itu masih lestari di sana. Mungkin suatu kali ada sarjana di Selong yang tertarik untuk menekuni profesi tukang ojek ini. Mudah-mudahan…!

Balikpapan, 23 April 2011
Satria Dharma